Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 50: Pesanan Callie Kedua


__ADS_3

[Nama Pelanggan: Callie Ava]


[Permintaan: Menyewa pacar yang bisa diajak jalan-jalan ke mall dan mengabiskan waktu berdua bersama-sama.]


[Syarat Pesanan: Tinggi 182 cm, Temperamen Lembut, Wajah Tampan Dasar, Tubuh Kalistenik, Kulit Bersih dan Putih, Keterampilan Komunikasi Master, Keterampilan Bahasa Inggris Master, Pisang 30 cm, Sentuhan Nyaman, Ciuman Master, Pelukan Menenangkan, Menggambar Realistis Master, Krav Maga Master, Bermain Gitar Master.]


[Waktu sewa: 15 jam]


[Pembayaran: 950.000 rupiah]


[Apakah Anda menerima permintaan sewa ini?]


"Untuk apa bertanya? Jelas, aku menerima pesanannya!"


Tak perlu ditanyakan lagi, Vino sangat menerima permintaan pelanggan ini, terlebih pelanggannya adalah wanita yang pernah dilayani.


Vino menjadi penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada wanita yang sudah sangat dewasa.


Pasti sudah banyak sekali peristiwa yang terjadi pada Callie dalam beberapa hari tanpanya. Vino sedikit merasa rindu dengan wanita dewasa dan besar itu.


Akan tetapi, Vino harus mengirim pesan terlebih dahulu kepada Monika, takut ada sesuatu hal yang penting terjadi padanya.


Pasalnya, beberapa panggilan telepon dilakukan Monika, terlihat penting dan genting.


Setelah mengirim pesan, perubahan terjadi pada tubuh Vino, sesuai dengan permintaan yang dipesan oleh Callie.


Ada beberapa keterampilan tambahan yang membuat bayaran bertambah.


Seharusnya, Callie tak merasa berat dengan biaya pemesanan pacar sewaan kali ini. Wanita dewasa itu orang kaya.


Semua kriteria yang diminta Callie sudah ada di dalam tubuh Vino, kini dia telah menjadi seorang pria yang diinginkan Callie.


"Sudah waktunya pergi. Sistem, tolong kirim titik koordinat pelanggan!"


Berdiri dengan pakaian semi-formal yang dibelikan Callie, penampilan Vino siap disuguhkan kepada Callie, pelanggan pertamanya.


Sebuah cahaya muncul di sekitar tubuhnya, seluruh sosok Vino menghilang dari kamar.


Begitu tiba di titik koordinat, Vino tersadar dirinya sudah ada di suatu ruangan yang memiliki wewangian khas menyenangkan hidung.


Wangi ini sudah dipastikan berasal dari wanita karena tercium lembut dan manis. Berbeda sekali dengan wangi pria yang tercium keras dan segar.


Setelah melirik sudut ruangan, baru tahu dirinya sekarang sedang berada di dalam kamar.


"Vino!"

__ADS_1


Suara wanita dewasa yang terdengar keras memasuki telinga Vino.


Sebelum Vino bisa melihat siapa yang memanggilnya, sebuah pelukan menangkap tubuhnya disertai dengan perasaan lembut dan hangat.


Menurunkan matanya, bisa dilihat dengan jelas Callie memeluk tubuhnya dengan pelukan begitu erat.


Mengetahui Callie pelakunya, kedua tangan Vino membalas pelukannya dengan kenyamanan yang tak tertahankan.


Sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu, hari berjalan begitu lama, seakan telah terjadi beberapa minggu yang lalu, padahal baru beberapa hari saja.


Vino menggendong tubuh Callie, membawanya ke ruang keluarga dan duduk di sofa.


Tubuh Callie diletakkan di atas pangkuannya sambil mengelus punggung wanita ini. Vino bisa merasakan tubuh Callie tersentak beberapa kali, disertai lirih tangisan di dalam pelukannya.


"Callie, mengapa kamu menangis?" tanya Vino usai melepaskan pelukan pada tubuh Callie.


Terlihat Callie meneteskan air mata sambil menatap wajah Vino, perasaan sedih bersemayam di dalam matanya.


Bibir bawah Callie bergetar, wajahnya benar-benar tidak bisa ditahan lagi untuk menangis.


Refleks Vino memeluk Callie kembali dan mencoba menenangkannya.


"Aku di sini, jangan menangis, aku akan memperbaiki semua kesedihan yang kamu alami," ucap lembut Vino pada Callie sambil mengusap rambutnya.


Hati Callie berangsur-angsur membaik, tangisannya berkurang dengan tubuh yang tak lagi tersentak hebat.


Dengan sesak di dadanya, Callie berkata, "Ak–aku ... aku rindu ka–kamu, Vino."


Sepuluh jari Callie meremas baju Vino, melampiaskan kerinduannya usai tidak ditemani Vino lagi.


Tangisan berhenti di beberapa menit berikutnya, Callie memberanikan diri menatap Vino dengan tatapan yang penuh keengganan.


Tampaknya Callie sedang membayangkan Vino menghilang lagi.


Sentuhan nyaman dan pelukan menenangkan sungguhan efektif pada seorang wanita. Callie tidak menangis terlalu lama.


"Kamu tahu? Aku benar-benar merindukan kamu. Tidak tahu mengapa, tanpa kamu aku merasa sangat kesepian," kata Callie dengan bibir yang menekuk. "Kamu jarang membuka aplikasi, bahkan pesanku lama dibalas."


Rasa canggung muncul di wajah Vino, lupa dirinya membuka aplikasi Rental Boyfriend untuk memeriksa pesan dari pelanggan.


Vino masih belum terbiasa dengan aplikasi itu sehingga dia lupa untuk membuka dan melihat pesan yang masuk.


Apalagi, nada dering notifikasi pesan tidak diaktifkan yang membuat aplikasi itu tersamarkan lagi.


"Maaf, aku lupa. Mulai sekarang kita akan menghubungi satu sama lain melalui media sosial lain saja. Aku masih asing membuka aplikasi tersebut," balas Vino sambil menyeka jejak air mata di pipi putih Callie.

__ADS_1


Kedua mata Callie melengkung dengan senyuman lembut terukir di mulutnya, mengangguk pelan menunjukkan dirinya mengerti.


Kejelasan yang Vino berikan membuat dia merasa lega.


Setelah wajah Callie kembali bersih dan bebas dari air mata, dia menarik Vino untuk ke ruang makan, di atas meja sudah dihidangkan banyak sekali makanan.


Makan malam yang disuguhkan Callie bertema western, terdiri dari steak ayam dan daging sapi, burger mewah, lasagna, dan makanan yang lain.


Dengan gerakan tangan Callie, tubuh Vino diperintahkan untuk duduk. Kedua tangan Callie memegang bahu Vino, kemudian dia mencium pipi Vino dengan rasa cinta yang jelas dirasakan.


Saat ini, Vino terasa sedang dilayani oleh seorang istri. Celemek makan saja dipakaikan Callie sebelum makan.


Tidak sampai di situ saja, Callie bahkan menyerahkan beberapa lauk dan ditaruh di atas piring milik Vino. "Ini semua buatanku, aku harap kamu menyukainya."


Vino terasa tersanjung dengan semua usaha Callie ini. Cukup melelahkan membuat banyak sekali hidangan masakan sendirian.


Di luar pengetahuan tentang rasanya, Vino sangat menghargai makanan yang dibuat Callie.


Dengan rasa ingin tahu dan juga lapar mendadak, tangan Vino mengambil garpu dan pisau mencoba mencicipi sepotong daging sapi yang dimasak Callie.


Begitu daging masuk ke dalam mulut Vino, rasa manis, gurih, dan sedikit pedas pada tertangkap di lidah Vino, dengan tekstur lembut dan juicy pada dagingnya makanan ini terbilang enak.


Vino tersenyum mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Melihat reaksi Vino yang menampilkan senyuman, tidak tahan Callie menanyakan tentang rasanya. "Bagaimana? Kamu suka steak yang aku buat?"


"Aku sangat suka. Masakanmu enak, dagingnya meleleh saat bersentuhan di dinding dan lidah mulutku," ucap Vino dengan kejujurannya. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya, makanan ini disukai Vino.


Hati Callie menjadi berbunga-bunga ketika mendengar tanggapan Vino, merasa berhasil sudah membuat masakan ini.


Dengan begitu, beberapa masakan diambilkan Callie untuk Vino cicipi lagi sebelum dihabiskan semuanya.


Namun, ada sesuatu yang membuat Vino heran.


Masakan di malam ini banyak yang terbuat dari olahan daging.


"Apakah kamu menyukai rasa daging yang aku buat di beberapa masakan ini?" Duduk di samping Vino, tangan nakal Callie berulah, menyentuh dagu Vino dengan lembut dan menatapnya dengan lekat.


Vino tersenyum dan mengangguk. "Aku suka, semuanya enak."


Jujur saja, makanan yang dibuat Callie malam ini tak ada yang gagal, semua lezat tanpa ada banyak kekurangan.


Di bawah tatapan mata Vino, tangan Callie tiba-tiba memegang bagian bawah tubuh Vino, tepatnya di tempat pisang goreng milik Vino diletakkan.


"Kalau begitu ... habis ini giliran kamu yang memberi aku dagingmu untuk dicicipi dan dimakan," kata Callie dengan mata yang seduktif.

__ADS_1


Melihat tingkah Callie, hati Vino merasakan sesuatu yang luar biasa akan terjadi. "Itu, apa maksudnya?"


__ADS_2