
"Jangan terlalu formal, sudah menjadi keharusan kita sebagai manusia untuk saling menolong. Kamu sudah tidak apa-apa, kan?" Vino berkata sambil tersenyum ramah kepada Sarah.
Monika ikut melemparkan senyuman dan mengangguk, kemudian menambahkan, "Benar, aku sebagai seorang wanita juga harus membantumu yang juga seorang wanita. Aku ikut senang kamu terlihat lebih baik."
Mendengar ucapan mereka berdua, Sarah meneteskan air mata karena terharu dengan kebaikan keduanya yang telah rela mengeluarkan tenaga, waktu, dan uang demi dirinya sendiri.
Sarah tak tahu harus bagaimana untuk membalas budi mereka berdua, tetapi akan Sarah usahakan membalas kebaikan mereka berdua yang sudah mengubah hidupnya.
Mata Sarah mulai dibanjiri oleh air mata, mulutnya sedikit bergetar memandang Vino dan Monika.
"Aku sangat berutang budi kepada kalian, ak–aku bersyukur bi–bisa bertemu dengan ka–kalian, kalau saja aku tidak —"
"Sudah-sudah." Monika bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Sarah.
Vino awalnya ingin memeluk Sarah, tetapi dicubit oleh Monika dan dipelototi dengan mata yang menyeramkan.
Jadi, Vino mengalah dan membiarkan Monika yang menenangkan Sarah.
Terasa sedikit iri di dalam hatinya, tetapi Vino tidak mempermasalahkan itu.
Setelah hati Sarah tenang, Monika mengantarkan Sarah pulang yang ternyata rumahnya tidak begitu jauh dari mall ini.
Dengan begitu, Monika meminta izin kepada Vino untuk memulangkan Sarah ke rumahnya.
Membawa Sarah ke rumahnya akan memakan waktu sekitar 10 sampai 15 menit lamanya.
Tentunya Vino memperbolehkan mereka pergi. Sebelum itu, Sarah sempat meminta nomor telepon Vino dan Monika untuk berjaga-jaga.
Tidak ada perasaan berat untuk menyerahkan nomor telepon pada Sarah, bersama-sama mereka berdua mengirimkan nomor kepada Sarah.
Vino ikut senang melihat seseorang yang depresi sepertinya dahulu mulai keluar dari dunia abu-abu.
Mengetahui ini, Vino menjadi bersemangat dalam menjalani hidup, lebih menghargai masa-masa indah ini sebaik mungkin.
Tidak sampai 15 menit berselang tanpa Monika, sosok cantik wanita tersebut datang di depan Vino yang sedang duduk di meja restoran luar mall.
Restoran tempat di mana mereka bertiga makan, Vino belum pergi ke mana-mana, dan tetap di kursinya.
"Apa kamu merindukan aku?" tanya Vino sambil memegang kedua tangan Monika.
__ADS_1
Monika yang mendengar ini segera melepaskan tangan Vino dan memalingkan pandangannya, menjawab dengan sedikit mendengus, "Siapa juga yang merindukanmu? Aku sama sekali tidak rindu kepadamu."
"Baiklah, aku pergi saja kalau begitu." Vino bangun dari kursi hendak pergi.
Namun, tangan Monika menyambar tangan Vino dan menahannya agar tidak pergi.
Merasakan ini, Vino melirik ke belakang dan melihat Monika dengan wajah yang merah tengah memandangnya. "Vino, jangan bercanda seperti itu. Aku akan memukulmu sungguhan."
"Eh, aku tidak jadi pergi."
Melihat penampilan Monika dalam mode siap bertempur, lebih baik Vino kembali ke kursinya dan duduk dengan baik, seperti anak kecil yang baik.
Kebetulan sekali mereka melihat ada alat musik piano tidak jauh dari pintu utama di lantai dasar.
Monika masih ingat dengan pesanannya yang meminta Vino bisa bermain piano.
Sama sekali Monika tidak percaya Vino bisa bermain alat musik piano. Namun, pemandangan yang sedang dilihatnya sekarang menampik pemikirannya.
Di depannya sekarang, Vino sedang fokus bermain alat musik piano untuk memainkan sebuah lagu favorit Monika.
Jari-jari Vino sangat lembut dan natural saat menekan tuts piano dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tidak ada nada yang salah. Semua tangga nada dilakukan oleh Vino dengan tepat tanpa miss atau atau salah tekan.
Tak sedikit yang merekam adegan Vino yang menakjubkan dan memukau semua orang.
Sebagai wanita yang cukup dekat dengan Vino, Monika benar-benar terkejut mengetahui keahlian Vino ini.
Pria tampan yang akhir-akhir ini begitu dekat dengannya menyembunyikan kehebatannya begitu dalam.
Pipi Monika memerah ketika melihat Vino memainkan piano sesekali melirik wajahnya.
"Bagaimana dengan cara bermain pianoku? Apakah itu bagus? Kamu menyukai lagu yang aku bawakan?" Vino berdiri di depan Monika dengan bertanya dengan pandangan mata yang ingin tahu.
Melirik wajah Vino yang menjadi lebih tampan, Monika mengangguk kecil dengan pipi yang memanas.
Melihat tanggapan Monika yang malu-malu, wanita yang galak ini menunjukkan sisi lembutnya kembali, membuat Vino tidak tahan untuk tidak menggendongnya sambil memeluk.
Monika terlalu malu saat digendong Vino dengan gaya bridal. Segera dia melingkari leher Vino dan membenamkan wajahnya di dada bidang Vino yang kuat.
Di bawah tatapan semua orang, Vino keluar dari mall sembari menggendong erat Monika menuju ke suatu tempat. Meninggalkan seruan cemburu, iri, dan senang orang-orang di belakang.
__ADS_1
Sambil berjalan, Vino mulai menampilkan keahliannya dalam membuat musik memakai mulutnya sendiri alias beatbox.
Ketukan dan suara unik yang menyerupai alat musik keluar dari mulut Vino.
Mereka berdua pergi dari mall, menuju sebuah taman yang terkenal karena letaknya dekat dengan tempat tinggal Presiden Amerika sebelumnya, yaitu Taman Menteng.
Tidak terasa mereka berdua sampai di Taman Menteng setelah Vino mengendarai sepeda motor sambil melantunkan musik dari mulutnya.
Monika sangat menyukai pria yang bisa beatbox karena menurutnya itu sangat keren.
Tanpa perlu disuruh, Monika memeluk Vino dengan sendirinya, bahkan memeluk sambil mengelus perut Vino yang penuh otot kuat.
Kesan wanita galak yang muncul di awal pertemuan perlahan menghilang usai mereka menjalankan hubungan pacaran yang sesaat ini.
Di tempat bermain anak-anak di Taman Menteng, mereka berdua bermain perosotan layaknya anak kecil yang duduk di bangku SD.
Tertawa bersama tanpa adanya beban.
Langit berubah menjadi gelap selama mereka bermain-main di tempat bermain anak-anak.
Mereka sadar dan pergi ke kafe tempat mereka berdua pernah meminum kopi kemarin.
Kedatangan keduanya ditatap oleh para pengunjung yang sudah ada di sana untuk sekadar menongkrong atau meminum kopi dengan santai.
Beberapa ada yang masih mengenali Vino dan Monika, mereka berdiskusi dengan suara bisik-bisik, tetapi masih bisa didengar oleh telinga keduanya.
"Aku masih tidak menyangka kamu memenuhi seluruh persyaratan yang aku mau. Kamu sungguh tersembunyi, aku berasumsi kamu memiliki banyak sekali bakat yang tidak kamu tunjukkan padaku," kata Monika sambil menatap Vino di depannya.
Vino mengaduk kopi dan tersenyum mendengar perkataan Monika, kemudian dia mengarahkan pandangannya ke wajah Monika. "Sebenarnya, aku bisa menjadi seorang pria yang kamu mau. Asalkan kamu mau membayar atas semua persyaratan dan permintaan yang telah kamu pesan di aplikasi."
"Kalau aku ingin pria yang bisa silat, mengendarai mobil drift, seorang CEO dan Mafia, apakah kamu mampu seperti itu?"
"Ya, asalkan kamu mau membayar semua permintaan yang dipesan olehmu sendiri. Makin banyak dan tinggi permintaan atas kriteria pacar yang kamu inginkan, makin banyak uang yang kamu bayar. Sangat sulit untuk mewujudkan kriteria yang sesuai, aku harus benar-benar berlatih dan belajar," terang Vino dengan sungguh-sungguh.
Monika mengangguk mengerti dengan ucapan Vino.
Di sana mereka menghabiskan waktu sampai waktu pesanan sewa habis. Selepas dari itu, mereka pulang di jam 8 malam karena Monika harus kerja di besok harinya.
[Ding! Pesanan Berhasil Diselesaikan! Silakan memilih satu hadiah permanen!]
__ADS_1