
Suara wanita yang sudah familier di telinganya terdengar dari belakang, Vino berbalik dan menemukan seorang wanita yang berseragam polisi wanita.
Ekspresi Vino menjadi malas ketika melihat wanita ini karena sebentar lagi masalah akan datang.
"Aaa!"
Benar saja, baru saja Vino melihat polisi wanita ini, kaki polisi wanita yang baru saja melangkah itu tergelincir karena sepatunya yang licin.
Dengan reaksi tubuh Vino yang cepat, tubuh polisi yang hendak menghantam lantai langsung ditangkap oleh kedua tangan Vino.
Nyaris kepala belakang polisi wanita itu membentur lantai yang keras. Jika itu terjadi, kemungkinan besar akan gegar otak.
"Kamu?"
Pupil mata polisi itu mengerjap tak percaya menatap wajah Vino yang begitu dekat dengan wajahnya sendiri.
Posisi keduanya sangat ambigu, keduanya terbaring di udara, tangan kanan Vino menopang tubuh polisi wanita, dan tangan kiri Vino menahan beban keduanya yang hampir mengenai lantai.
Mirip seperti posisi sedang push up satu tangan, tetapi ada beban manusia di tangan kanan Vino.
Tubuh bagian bawah mereka bersatu karena terlalu dekat, membuat polisi wanita makin tersipu.
Hidung mancung dan kecil polisi wanita itu menghirup aroma wangi yang sangat nyaman dari wajah Vino, ini benar-benar membuatnya tak tertahankan.
Wajah polisi wanita itu merah sepenuhnya.
Setalah itu, kedua tangan polisi wanita itu mendorong tubuh Vino dengan niatan untuk menjauhkannya dari tubuhnya.
Akan tetapi, polisi wanita ini lupa bahwa tangan kanan Vino masih memeluk tubuhnya sehingga ketika Vino terhempas jatuh lantai di samping, tubuhnya ikut terbawa dan membuat keduanya makin dekat, bahkan menempel.
"Aduh!
Posisi mereka berubah, sekarang tubuh polisi wanita itu ada di atas tubuh Vino.
Dahi polisi wanita itu menabrak dada keras Vino, kemudian dia mendongak untuk melihat apa yang telah terjadi.
Begitu mendongak, wajah tampan Vino terlihat begitu dekat, kedua matanya yang jernih itu menatap polisi wanita dengan perasaan cemas.
Tidak tahan dengan pandangan mata pria ini, polisi wanita itu menahan perasaan malunya, dan mencium bibir Vino sekilas lalu bangkit dari tubuh Vino.
Vino terkejut dengan tindakan polisi wanita itu, menyentuh bibirnya yang telah dicium secara inisiatif oleh polisi wanita galak ini.
"Apa yang kamu lakukan di sana? Sini, ikut aku!"
Dengan wajah yang samar-samar memerah, polisi wanita itu menarik Vino dari lantai depan kantor polisi, kemudian membawanya paksa ke tempat parkir polisi di bawah tatapan para polisi dan polwan yang ada di sana.
__ADS_1
Mereka semua tersenyum penuh makna, polwan galak ini akhirnya menemukan seseorang yang disukainya.
Polisi wanita memegang tangan Vino dengan paksaan, menyuruh Vino naik ke atas sepeda motor Yamaha R6 di jok belakang.
Dengan tarikan gas yang kuat, sepeda motor itu melaju cepat meninggalkan kantor polisi dan para polisi yang tercengang.
"Apakah Monika segalak itu?"
"Monika sangat berani! Wanita yang mengerikan!"
"Pria yang beruntung, semoga dia baik-baik saja bersama Monika."
"Monika ternyata memiliki perasaan terhadap pria."
"Benar-benar wanita tomboi. Semoga mereka berdua bisa bersama, aku tidak mau menjadi bahan omelannya lagi."
"..."
Semuanya tidak menyangka Monika akan seberani itu membawa seorang pria ke atas sepeda motornya.
Di jalan raya Jakarta Pusat, sepeda motor berwarna putih melesat cepat di antara kendaraan mobil yang padat.
Monika mengendarai sepeda motor dengan keseriusan yang tinggi. Matanya yang tajam itu sesekali bergetar ketika ada polisi tidur di jalan.
Suara Monika yang kesal dan malu terdengar di telinga Vino, kemudian Vino melepaskan pelukannya pada pinggang ramping Monika.
Pada saat ini, Vino duduk di jok belakang sepeda motor, dia diboncengi oleh Monika.
Jujur saja, perasaan malu sedang dirasakan oleh Vino, tetapi perasaan takut lebih mendominasi lagi di hatinya.
Untuk pertama kalinya Vino menaiki sepeda motor sport ini. Bingung harus menopang tubuh seperti apa jika hentakan dari polisi tidur datang.
Mau tidak mau Vino memeluk tubuh Monika demi dirinya tidak jatuh dari sepeda motor.
"Maaf, aku baru pertama kali naik sepeda motor ini," kata Vino dengan wajah yang canggung dan malu.
Alis Monika bertautan, dia merasa heran dengan ucapan Vino.
Merasa ingin tahu dengan identitas Vino sebenarnya, Monika bertanya, "Memangnya kamu tinggal di Gua mana?"
"Apa?" Vino berbalik bertanya setelah mendengar pertanyaan Monika.
Pasalnya, suara Monika tidak terdengar jelas di jalan raya, banyak sekali suara raungan sepeda motor dan mobil, ditambah lagi suara bising dari klakson kendaraan yang lain.
Omong-omong, Vino tidak mengenakan helm sekarang.
__ADS_1
"Kamu dari Gua mana?!" Monika bertanya sekali lagi pada Vino di belakang.
Vino mendengar pertanyaan Monika dengan jelas, tetapi tidak mengerti dengan pertanyaannya. "Gua? Aku tidak tinggal di Gua."
"Lalu, mengapa kamu belum pernah menaiki sepeda motor seperti ini?" Monika lanjut bertanya.
Dengan polosnya Vino menjawab, "Aku tidak bisa membeli sepeda motor seperti ini. Tidak ada uang."
Begitu mendengar jawaban Vino, Monika terdiam dan tidak mengobrol lagi dengan Vino.
Hati Monika timbul perasaan kasihan pada Vino, dia ingin mengabaikan perasaan ini. Pria tidak perlu dikasihani.
Lebih dari 20 menit berlalu, mereka berdua tiba di sebuah kafe di dekat mall Jakarta Pusat.
Sepeda motor R6 berhenti di tempat parkir dan Vino turun dari sepeda motor dengan keadaan yang berantakan.
Rambutnya acak-acakan tak jelas, bajunya menjadi kusut.
Belum sempat Vino merapikan bajunya, Monika menarik tangan Vino sekali lagi dan membawanya masuk ke dalam kafe yang dipenuhi oleh para pemuda dan pemudi yang memiliki gengsi tinggi.
Kedatangan seorang wanita berseragam polisi membuat semuanya terkejut.
Monika mengabaikan tatapan terkejut tersebut dan menarik Vino yang tidak ingin masuk ke dalam kafe dengan alasan belum pernah ke kafe. Dia tidak tahu cara memesannya.
Selama di Jakarta, Vino hanya minum di kosan, minum secangkir teh atau kopi instan.
Begitu Vino masuk ke dalam, keramaian yang ada di kafe langsung lenyap, digantikan oleh suasana sunyi dan sepi.
Semua mata wanita yang melihat kedatangan Vino berubah menjadi hijau. Dengan cepat mereka semua memeriksa riasan dan belahan buah melonnya, apakah sudah terlihat jelas atau belum.
Vino dibawa ke salah satu meja untuk dua orang oleh Monika dengan tatapan yang dingin.
"Minuman apa yang kamu suka?" Monika bertanya pada Vino, dia ingin memesan minuman.
Bingung dengan minuman yang ingin dipilih, Vino menjawab, "Ada kopi Perahu Api? Kopi instan itu saja."
Monika mencubit tangan Vino dan melotot ke arahnya. "Vino, aku sedang tidak bercanda."
"Maaf-maaf. Kalau begitu aku pesan satu kopi cappuccino."
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa dua kopi dingin cappuccino spesial.
Menatap Vino di depannya sambil memainkan sendok di gelas minuman, Monika membuka mulutnya.
"Vino, beri tahu aku identitas kamu yang sebenarnya."
__ADS_1