
Pemandangan pucuk keindahan dunia bisa dilihat Vino dengan mata kepalanya sendiri.
Di balik kain putih yang lembut dan halus, terdapat dua pucuk besar berwarna agak merah muda ingin keluar dari kelembutan kain.
Ukuran kaki gunung hingga ke puncaknya cukup besar, bahkan itu hampir mengalahkan milik Monika jika diterka secara dilihat oleh mata.
Pemandangan ini sangat sulit diabaikan, terlebih orang yang melihatnya ada seorang pria lurus yang normal dan anti dengan namanya pecinta sesama jenis.
Rasanya ingin sekali dipandang selamanya, kalah memang bisa, dia ingin merasakan mendaki dan mencoba buah melon Viona.
Akan tetapi, Vino menahan pikiran kotornya lantaran dia merasa kasihan dengan Viona.
Tidak baik menyerang begitu saja ketika Vonia tidur, lebih lagi secara sadar lalu memaksa untuk meminta memegang buah melonnya.
Itu masuk ke pasal pelecehan karena wanita yang dipegang tidak terima, kecuali wanitanya juga menerima dan menikmati, tidak akan ada kasus seperti itu.
"Tahan, aku harus menahan godaan ini." Vino memalingkan wajahnya ke arah pintu, membelakangi Vonia yang pingsan dalam pakaian hantu kuntilanak.
Bukan hanya buah melon saja, Vino bisa melihat ada kue apem yang gemuk dan agak kemerahan, menempel di antara dua kaki Vonia.
Keterlaluan, sama sekali tidak bisa ditahan kalau dirinya terus memandangi sosok Vonia.
Menggelengkan kepalanya tanpa daya, Vino berkata dengan pasrah, "Tidak tahu apa yang dipikirkan wanita ini sampai tidak memakai pelindung tubuh tambahan, pasti ada niatan di awal untuk mengerjaiku dan menakuti diriku, padahal aku menegurnya."
Sebelumnya, Vonia hanya mengenakan cup dan celana khusus yang begitu tipis, dan itu disadari oleh Vino.
Vonia sudah meminta maaf dan bilang tidak akan mengenakan pakaian tersebut, tetapi sekarang dia berulah lagi dengan pakaian yang lebih terbuka.
"Daripada aku diam seperti ini, lebih baik aku membuatkan teh hangat untuk Viona." Bangun dari posisi duduk, Vino berjalan ke meja kecil yang terdapat kompor kecil portabel.
Uang yang dihasilkan dari gajian, beberapa digabung untuk membeli kompor kecil ini. Vino membutuhkannya untuk memasak sesuatu.
Kosan di sini tersedia kompor oleh pemilik rumah, tetapi kompornya sudah sangat usang dan letaknya dekat dengan kamar mandi.
Mengingat ada penampakan hantu di sana, pikiran untuk memasak air di sini Vino singkirkan, lebih aman masak air di sini.
"Aku ingin memberi tahu Vonia pingsan, tetapi agak canggung. Mungkin nanti aku akan melaporkannya," gumam Vino mengenakan pakaiannya sambil menunggu air yang dimasak mendidih.
Tepat saat Vino hendak mengenakan pakaian, sesuatu tiba-tiba datang menangkap kedua kakinya.
Sontak Vino terkejut dan melihat ke arah bawah.
__ADS_1
Namun, apa yang ia lihat sangat mengejutkan, Vonia yang berpakaian seperti hantu kuntilanak telah terbangun dan sekarang sedang memeluk kedua kakinya sembari menengadahkan kepalanya melihat senjata rudal Vino yang besar.
Dengan wajah yang tercengang, Vino berkata memperingatkan Viona, "Apa yang kamu lakukan, Viona? Lepaskan kakiku, kamu tidak boleh melihat itu."
Celana yang ingin Vino pakai dipeluk Vonia sehingga tidak bisa diangkat untuk menutupi seluruh bagian senjata besar miliknya.
Setelah itu, kedua tangan Vonia dengan kekuatan yang besar mencoba merobohkan Vino dari posisi berdiri.
Merasakan ada kekuatan yang besar berasal dari pelukan Viona, mata Vino menyipit curiga ke arah Viona.
Ketika ia lihat lebih lama, sepasang mata Vonia ini terlihat berbeda dan aneh, tidak seperti yang ia lihat sebelumnya saat bertemu.
"Viona? Apakah kamu mendengarkanku?" tanya Vino dengan hati-hati sambil melambaikan tangannya ke arah wajah Viona.
Namun, Vonia tidak memberikan respons apa-apa, pandangan matanya terkunci pada senjata Vino yang besar.
Mengetahui arah pandangan Viona, sebuah tindakan terpikirkan oleh Vino, kemudian dia dengan hati-hati melepaskan pelukan Viona.
Meskipun sulit, kedua tangan Vonia terlepas karena kekuatan Vino yang besar.
Dengan cepat Vino mematikan kompor dan berlari ke tempat tidur sambil terbaring.
Vonia tidak memeluk kedua kaki Vino lagi, tetapi dia menatap dengan dekat senjata besar Vino.
Berikutnya, sesuatu yang menakjubkan dan tidak terduga terjadi pada Vino.
Dalam sekejap ruang kamar kosan Vino menjadi panas karena ada dua orang yang bertempur dengan amatiran, mencoba berbagai posisi agar nyaman saat bertempur.
Teman Vonia yang sedang berada di dalam kamar kosan prianya tidak sadar dengan hilangnya Viona.
Dia sekarang sedang melayani prianya yang baru saja pulang dari tempat kerjanya.
Vonia dan teman-teman Vonia yang lain pergi ke kamar kosan pria salah satu temannya untuk perencanaan pembuatan kostum.
Ada acara di sekitar Jakarta, acara Cosplayer yang lumayan cukup diminati orang-orang.
Mereka semua sibuk sampai tidak ingat salah satu temannya tidak ada di antara mereka.
Dua jam berlalu, di dalam kamar Vino sekarang, terlihat Vonia dan Vino sedang berpelukan sambil bertatapan satu sama lain.
Keduanya sama sekali tidak mengenakan pakaian satu helai benang pun.
__ADS_1
Bisa dilihat dengan jelas di kue apem Vonia sudah mengalir susu kental manis agak kekuningan. Namun, itu tidak mengalir dari dalam kue, melainkan dari atas kue dan sempat mengalir ke lubang kue.
"Aku ... aku tidak tahu harus berbuat apa, Vino. Ini benar-benar insiden, di awal bukan aku, aku tidak mengingat apa-apa di awal selain kamu memberi tahu tentang hantu di dekat kamar mandi," terang Vonia menjelaskan tentang yang sebenarnya terjadi.
Hati Vino sudah terbawa suasana sekali akibat efek dari pertarungan mereka.
Pengalaman pertama Vino sangat brutal dan ini paling mengesankan bagi hidupnya.
Mata Vino diselimuti kelembutan cinta, dia memegang kedua Roti'E Vonia dan menatap fokus ke mata Viona, kemudian dia berkata, "Aku tidak mempermasalahkan itu. Kamu tahu? Kamu adalah wanita pertama bagiku yang melakukan pertempuran ini."
Kedua tangan Vino mengelus punggung mulus Vonia dengan hati-hati sambil memandangi wajah Vonia yang kembali memerah.
"Vino, kamu harusnya juga sudah tahu tentang itu. Um, kamu juga adalah pria pertama yang melakukan pertempuran denganku."
Vonia terlihat malu-malu. Setelah mengatakan itu, dia memeluk Vino dengan erat.
Sudah jelas di awal, Vonia memang tersegel, memiliki kue yang bersih. Sudah bisa dipastikan wanita ini tak pernah melakukan pertempuran sendirian.
Alasan Vonia menangkap kedua kakinya di detik-detik pertempuran akan terjadi ialah sesuatu ada yang merasuki tubuh Viona.
Vino mengetahui keanehan ini dari awal. Namun, tidak disangka percobaannya akan mengakibatkan pertempuran hebat ini.
Mereka berdua melirik jam dan waktu sudah larut malam, hampir jam setengah dua belas.
Segera mereka membersihkan tubuh masing-masing dan mengenakan pakaiannya lagi.
"Aku pulang dahulu, besok aku akan memulangkan baju ini, terima kasih!" Vonia dengan malu-malu keluar dari kamar Vino dan menutup pintunya.
Pakaian yang dikenakan Vonia adalah milik Vino. Kostum hantu dilipat dan dibawa sekarang.
Vino duduk bersila dengan senyuman di wajahnya, dia seperti anak kecil yang sudah dibelikan mainan.
Berikutnya, wajah Vino berubah dengan cepat, ada sesuatu yang baru dia ingat. "Aku lupa memberi tahu tentang identitasku kepadanya!"
Status hubungan mereka berdua adalah HTS alias Hubungan Tanpa Status.
Ini adalah kesepakatan yang mereka berdua pikirkan secara singkat, tidak ada pilihan lain. Vino agak ragu dengan hubungan pacaran.
Tepat ketika Vino ingin membuka pintu untuk pergi ke kamar seberang, pintu kamar Vino terbuka dan sosok Vonia kembali sembari membawa tas wanita.
"Mereka sudah pulang, aku ditinggal."
__ADS_1