
Sudut mulut Vino terangkat mengukir lengkungan senyuman yang terlihat aneh.
Menatap senyum di wajah Vino, jantung Vonia berdegup cepat dengan tubuh yang mulai gelisah tidak karuan.
Bangun dari kasur, Vino berjalan mendatangi Vonia dan berdiri di depan wanita yang memiliki tubuh yang cukup kecil.
Tinggi Vonia sekitar 164 cm, mungkin kurang, tetapi untuk ukuran tinggi wanita, terbilang tinggi.
Terlebih Vonia ini memiliki bentuk tubuh yang ramping, tidak kurus maupun gemuk, termasuk ke kategori wanita seksi.
Tidak perlu berbicara, tiba-tiba Vonia meletakkan barang bawaannya di lantai dan memeluk Vino dengan erat.
Kelembutan dan kehangatan yang dirindukannya kembali muncul dan bisa dia rasakan lagi.
Tanpa disadari olehnya sendiri, Vonia telah kecanduan pelukan Vino. Tak bisa jauh dari Vino.
Vino membalas pelukan Viona, sampai-sampai menggendongnya dan mencium bibir basahnya yang menggoda.
Perlawanan tidak diberikan Vonia ketika Vino mencium dan menggendongnya dengan tangan yang nakal.
Keduanya sudah terjebak di dalam keindahan dan kenikmatan cinta, mereka sulit untuk menahannya lagi.
Vino segera membawa Vonia ke atas kasur, kemudian dia mulai bersiap untuk melakukan pertempuran yang kedua kalinya.
Sebelum Vino memulai pertempuran, Vonia meminta Vino untuk tidak langsung menyerang.
Vonia meminta Vino berbaring di atas kasur, ingin melakukan posisi yang pertama mereka lakukan.
Setelah dituruti permintaannya, sosok Vonia ragu-ragu, dia hanya duduk di atas perut Vino yang berotot sambil berciuman mesra.
Ciuman yang dilakukan mereka berdua dikatakan cukup lama, tembus 10 menit lamanya.
"Vino, aku tidak bisa jika kita hanya sebatas berhubungan tanpa adanya status," ucap Vonia sambil memeluk Vino dan menatap lekat wajah tampan Vino. Keduanya benar-benar berada di posisi romantis.
Perkataan Vonia membuat Vino teringat dengan awal niatnya ingin memberi tahu tentang pekerjaan yang sedang dijalaninya.
Mengelus pipi Vonia dengan sentuhan ibu jarinya, Vino melirik kedua mata Vonia dengan tatapan yang rumit, tetapi tatapan itu berubah dengan ketegasan, dan Vino membalas, "Viona, aku juga ingin berpacaran denganmu, tetapi aku ragu kamu menerima pekerjaanku sebenarnya."
"Pekerjaan? Apa sebenarnya pekerjaan yang kamu lakukan, Vino?"
__ADS_1
Vonia tersadar dengan hal ini, dia sama sekali tidak mengetahui tentang pekerjaan Vino.
Pada dasarnya, Vonia juga tidak memedulikan pekerjaan Vino, kalau memang dirinya sangat mencintai pria ini, dia tidak ragu untuk menghidupi Vino dan menafkahinya.
Dengan hati yang masih terasa rumit, Vino mencoba memberanikan diri untuk mengungkap tentang pekerjaan aslinya.
"Pekerjaan yang sedang aku jalani adalah ... menjadi seorang pacar, lebih tepatnya pacar sewaan," beber Vino dengan raut wajah yang berat.
Begitu mendengar pernyataan Vino, pupil mata Vonia melebar dan membulat, memandang Vino dengan terkejut.
Ekspresi Vonia terlihat kecewa, kemudian matanya menampilkan banyak sekali perasaan yang bisa dilihat oleh Vino.
"Maaf ...." Vino memeluk Vonia dengan permintaan maaf yang terdengar tulus.
Vino benar-benar bingung sekarang. Tidak tahu harus apa.
Tentang Sistem, tentu saja, dia tidak bisa menghentikan pekerjaan ini sama sekali. Sistem telah menjadi bagian dalam tubuh dan hidupnya sendiri.
Kini permasalahannya ada pada dia sendiri, memilih menjadikan Vonia pacarnya atau melepaskannya saja.
Sebenarnya, Vino sendiri tidak menurut Vonia menjadi pacarnya karena dia sendiri tidak berpikir layak untuk Vonia di saat pekerjaannya seperti ini.
Keputusan ada di tangan Vonia setelah Vino memberi tahu tentang pekerjaannya.
Vonia mendengar dengan jelas ucapan Vino, kini dia juga ikut merasakan kerumitan hubungan ini.
Keputusan ini sangat berat karena Vonia sendiri tidak mau pacarnya menjadi pacar orang lain. Walaupun itu hanya pacaran palsu, tetap saja ada risiko besar Vino jatuh cinta di antara pelanggannya. Mungkin yang lebih parahnya juga bisa terjadi, seperti Vino akan melakukan kegiatan pertempuran dengan wanita yang lain.
Tahu, Vonia jelas sekali tentang posisinya sekarang, cuma dia yang bisa menyelesaikan masalah hubungan ini dengan Vino. Keinginan untuk berpacaran juga datang dari diri sendiri.
Sementara itu, masalah Vino sudah dijawab bahwa dirinya tidak bisa keluar dari pekerjaan pacar sewaan karena suatu alasan yang dirahasiakan.
Sudah jelas Vino takkan bisa keluar, penyelesaian masalah ini ada di genggaman tangannya.
"Vino, aku meminta waktu untuk memutuskan tentang hubungan ini akan menjadi seperti apa. Namun, di malam ini sampai beberapa hari ke depan aku menunggu, hubungan kita menjadi pasangan tanpa status jelas akan terus berlanjut, aku ingin merasakan perasaan luar biasa itu lagi denganmu malam ini," ucap Vonia sambil memfokuskan pandangannya pada mata Vino.
Mata Vino sedikit membesar, kemudian dia merespons dengan anggukan kepala, menunjukkan dirinya mengerti.
Membuat senyuman di wajahnya, Vino menyibakkan rambut Viona, dan menyisipkan di daun telinganya. "Terima kasih, aku akan menunggu keputusanmu."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Vino meremas dua Roti'E milik Viona, membuat kegelisahan dan kecemasan di hati Vonia tertimbun oleh perasaan bahagia.
Secara inisiatif Vonia mengarahkan kue apemnya ke senjata besar Vino.
Pertempuran kembali terjadi lagi di hari yang sama dan dalam waktu yang berdekatan.
Suara aneh terdengar selama kurang lebih 3 jam hingga pukul jam 1 malam mereka selesai bertempur.
Pertempuran diakhiri dengan pelukan mesra yang dilakukan mereka berdua.
Tembakan tidak dilepaskan di dalam, melainkan di luar.
Hubungan tentang pacaran saja belum pasti, Vino tidak berani membuat perut Vonia membesar.
"Aku mencintaimu, Vino."
"Aku juga mencintaimu, Vonia."
Mereka berdua saling bertatapan sesaat, kemudian Vonia membalikkan tubuhnya ke samping searah dengan posisi Vino berbaring menyamping.
Keduanya tertidur bersama dengan pulas.
Keesokan harinya, mereka berdua bergantian mandi, Vino menjaga Vonia yang sibuk mandi, menunggunya di luar.
Beberapa kali dia ditanya oleh penghuni kamar kos tentang siapa yang ada di dalam kamar mandi, Vino menjawab bahwa pacarnya ada di dalam.
Vino tidak tahu bahwa Vonia tersipu mendengar ucapannya yang mengungkapkan orang-orang dia adalah pacarnya.
Setelah keduanya selesai membersihkan tubuh mereka, Vino dan Vonia pergi dari kosan menuju rumah Viona, tepatnya kosan Viona.
Vonia juga kos di Jakarta, tetapi dia bekerja sebagai pelayan restoran, kebetulan hari ini dia masuk siang, masih ada waktu sebelum berangkat kerja.
Sehabis mengantar Vonia pulang, Vino kembali lagi ke kosan. Namun, di jalan dia sempat berkunjung ke mesin ATM untuk mengirimkan uang 1 juta rupiah kepada orang tuanya di kampung.
Duduk di dalam kamar kosan, wajah Vino tercengang karena melihat melihat banyak panggilan telepon tak terjawab dari Monika.
Terlihat ada pesan dari Monika yang menampilkan emoticon marah.
"Sial, aku harus meneleponnya kembali." Vino sedikit panik, kemudian dia mencoba menghubungi Monika.
__ADS_1
Namun, beberapa kali panggilan dilakukan, Monika tidak mengangkat panggilan telepon karena data selulernya tidak diaktifkan.
[Ding! Sistem menerima pesanan baru dari dari seorang wanita! Harap diperiksa dan tentukan sebelum memutuskan untuk menerima!]