
Sopir ojek itu menjadi panik dan menahan tangan Vino untuk tidak pergi ke tengah tawuran.
"Mas, lebih baik kita memutar saja daripada kamu ikut tawuran."
"Lah, kamu takut?" tanya Vino sambil memiringkan kepalanya.
Mendengar pertanyaan Vino, sudut mata sopir ojek itu berkedut beberapa kali dan menjawab, "Mas, kalau mau mati jangan ajak-ajak saya. Mereka tawuran pakai senjata tajam berkarat, kalau kita tidak mati, kita sakit dahulu karena karat di senjata mereka. Lagi pula, siapa yang mau mati karena ikut tawuran?"
Tiba-tiba Vino menunjuk ke arah tawuran tengah terjadi begitu intens, suara teriakan dan seruan anak-anak remaja terdengar jelas. "Mereka, mereka semua sudah bersedia untuk mati. Oleh sebabnya, orang-orang itu mengadakan mati massal."
"Ayo naik ke jok, Mas! Jangan mengada-ada, kamu bukan manusia super yang bisa mengalahkan orang dengan mudah. Naik saja, kita akan pergi sekarang!"
Vino menggelengkan kepalanya, menolak ajakan dan pendapat tukang ojek satu ini.
Ada tujuan tersirat dari tindakan yang dipilihnya sekarang. Jadi, Vino bersikukuh untuk pergi ke tempat tawuran tersebut dan meninggalkan tukang ojek, tak lupa memberi pesan untuk menunggunya di sini. Vino berjanji remaja ini takkan ke mana-mana dan tak menyakiti tukang ojek.
Melihat punggung belakang Vino yang terlihat lebar, tukan ojek itu hanya bisa pasrah dan menggelengkan kepalanya, Mendokan supaya Vino tak kenapa-kenapa.
"Pria yang nekat."
Saat ini, Vino berjalan dengan langkah kaki yang tegas menuju ke titik berkumpulnya para remaja yang sedang bertempur, bagaikan mereka ada di abad pertengahan yang perang dengan pedang dan tombak.
Terkadang Vino berpikir kalau orang yang tawuran ini salah tahun dilahirkan. Semestinya mereka lahir di zaman dahulu di mana banyak peperangan jarak dekat, tidak ada aturan ketat soal bunuh-membunuh.
Di zaman sekarang aturan sudah ketat, tidak seperti dahulu yang lumayan longgar, terlebih di zaman peperangan berlangsung.
Melihat kedatangan Vino, kedua kubu tawuran ini sempat terdiam beberapa saat untuk melihat dari pihak mana Vino berasal.
Dengan santainya Vino menatap bocah-bocah ingusan ini yang menggenggam celurit besar, pedang buatan yang bergerigi, katana abal-abal, kayu panjang, gir sepeda atau motor yang diikat tali, dan senjata tajam yang lain.
Krak!
Suara patah berbunyi saat Vino berjalan, begitu dilihat ternyata kayu panjang yang tak sengaja patah karena diinjak oleh Vino.
Mengambil kayu tersebut, Vino mematahkan sepenuhnya menjadi dua bagian lalu melambaikan tangannya untuk mengetes lambaian kayu, apakah enak atau tidak.
Secara gerakan lambaian tangan, kayu ini cukup bagus untuk dikendalikan.
"Cukup enak untuk dijadikan senjata," Vino tersenyum sambil menatap dua kayu di tangannya.
Menatap remaja-remaja nakal yang tak tahu malu dan tak punya otak, mata Vino menjadi tajam dengan senyuman liciknya.
__ADS_1
Di detik berikutnya, Vino menendang aspal dengan kuat dan sosoknya meluncur cepat menuju ke titik tengah tawuran terjadi.
"Hajar! Anak Geng Ambatukam harus dihabisi!"
"Matilah kalian semua, Kelamin!"
"Si kelamin satu ini sangat cupu! Incar dia!
"..."
Saat Vino mendekat, seruan dan teriakan anak-anak remaja ini makin jelas, mereka menghina satu sama lain dengan ucapan yang sangat kasar.
Kehadiran Vino cukup membuat dua kubu itu berwaspada dan melihat apa yang akan dilakukan.
Tepat ketika Vino ada di antara mereka berdua, dua kayu di tangannya terayun cepat menghantam titik lemah salah satu kubu dan sekejap kesakitan dan mundur ke belakang.
"Siapa itu?!!"
Salah satu remaja dengan tubuh sedikit besar menatap Vino dengan wajah yang gusar memerah.
Vino tersenyum senang dan memiringkan kepalanya. "Aku adalah orang yang akan mengalahkan kalian semua."
Kalimat Vino membuat dua kubu remaja ini tersulut emosi dan merasa direndahkan.
"Oraa!!"
Vino ikut berteriak dan melompat ke remaja yang paling dekat dengannya.
Kedua kayu itu menjadi berbayang dan menyatu dengan kegelapan, semua titik serangan Vino tidak terlihat dan sulit ditangkis lawannya.
Tiba-tiba saja remaja itu merasakan perih di berbagai tubuhnya dan membuatnya harus menjauh dari Vino.
Sosok Vino berpindah cepat langsung menghajar leher, tangan, dan kaki salah satu remaja. Gerakannya sangat cepat dan tak bisa diprediksi.
"Aaa! Sakit!"
Remaja itu menjatuhkan celurit besar yang ada di tangannya setelah dihantam pecutan kayu Vino. Terasa perih dan nyeri, jari-jarinya seketika memerah.
Kaki Vino bergerak dan menendang senjata tajam ke suatu tempat untuk dikumpulkan.
Gerakannya yang sangat cepat membuat Vino dapat melumpuhkan remaja-remaja nakal dan tak beretika ini dalam waktu yang sebentar.
__ADS_1
Tidak perlu waktu 10 menit untuk mengalahkan mereka, waktu 7 menit saja sudah cukup dan sekitar 30 remaja berhasil dijatuhkan dengan semua senjata dilepaskan dari tangan mereka semua.
Vino berdiri di tengah-tengah banyak remaja yang terbaring kesakitan dan tak bisa berdiri lagi.
Melihat sosok Vino dengan bersenjatakan kayu, tak sengaja menciptakan mimpi buruk dari mereka semua.
Sangat mengerikan.
Puluhan remaja bersenjata tiada yang bisa melukai Vino. Sebelum mereka bisa melancarkan serangan, kedua kayu Vino sudah mendarat lebih dahulu di tubuh mereka dan rasa sakit membuat mereka kehilangan kemampuannya untuk bertarung lagi.
Pemandangan Vino melawan remaja nakal yang tawuran ditonton oleh warga sekitar, sekarang mereka tercengang dengan tubuh tak bergerak.
Tidak ada satu pun yang menyangka Vino bisa menghentikan tawuran tersebut seorang diri dan dengan cara yang ekstrem.
Sopir ojek yang menunggu di kejauhan sampai lupa caranya menutup mulut.
Ekspresinya sangat lucu begitu Vino memberikan pukulan dengan kayunya di awal pertarungan satu lawan dua kelompok.
Awalnya ia kira Vino hanya bohongan saja atau membual, melebih-lebihkan diri, ternyata faktanya berbeda.
"Hei, tolong bantu aku menangkap remaja-remaja ini, tolong bawa mereka ke kantor polisi!" panggil Vino kepada warga sekitar yang bersembunyi di berbagai tempat.
Setelah mengatakan itu, Vino pergi kembali menuju tukang ojek dengan berlari sambil melemparkan kayu ke suatu tempat.
Kayu-kayu itu jatuh tepat di tempat senjata tajam yang remaja tawuran ini pakai.
"Ayo, Mas! Kita berangkat!"
Dengan sopir ojek Vino melewati jalan yang dijadikan arena tawuran, beberapa warga mulai mengevakuasi dan memindahkan remaja nakal ini ke tempat lain.
Jalanan kembali bisa digunakan oleh mobil dan kendara lain.
Setibanya di kamar kosan, Vino berbaring santai di atas kasur sambil memandangi langit kamar.
"Hari yang melelahkan, kuharap Sistem meriliskan pesanan, aku ingin mendapatkan hadiah luar biasa lagi! ucap Vino dengan bersemangat.
Sudah dua hari sistem tidak memberikan Vino pesanan sewa pacar, rasanya seperti menjadi pengangguran selama 2 tahun.
Tidak enak sekali, Vino ingin bekerja lagi.
Tak lama berselang, sosok Vino tertidur pulas dengan mimpi indah di kepalanya.
__ADS_1
[Ding! Pesanan berhasil dirilis!]