
Mata Vino melebar, baru menyadari sesuatu tentang dirinya.
Benar, tentang penampilannya sekarang, tak sama dan bahkan jauh berbeda dengan yang aslinya.
Ibunya pasti tidak mengetahui siapa dia sekarang.
Sadar akan hal ini, Vino melepaskan pelukan pada ibunya, kemudian tersenyum canggung.
Melihat penampilan pria yang memeluknya, ibu Vino terpana sesaat sambil menahan amarah dan keterkejutannya.
"Siapa kamu? Mengapa tiba-tiba memelukku? Kamu kenal aku?" Tunjuk ibu Vino ke dirinya sendiri dengan wajah yang ingin tahu dan penuh kebingungan.
Vonia yang berdiri di belakang Vino tampak bingung, tidak mengerti mengapa ibunya sendiri tak mengenali anaknya.
"Apakah Vino salah memeluk ibu? Apa ibu orang lain yang dia peluk?" batin Vonia sambil berdiri diam di belakang Vino, menunggu perintah pacarnya.
Ekspresi Vonia tampak heran dan sangat penasaran.
Benar dengan apa yang Vino duga, ibunya tidak mengenali sosoknya yang sekarang, dan itu merupakan peristiwa yang wajar juga alami.
Murni kesalahan Vino, harusnya beri tahu kedua orang tuanya dari beberapa waktu yang lalu sebelum pergi ke kampung.
Akan tetapi, Vino ke sini saja dikarenakan suruhan orang tuanya yang mendadak.
Menggaruk pipinya yang tidak gatal, Vino termenung beberapa detik untuk menyiapkan mentalnya sebelum mengungkapkan identitasnya.
Menatap ibunya yang cukup tua, tetapi masih terlihat cantik, Vino mengembuskan napas pendek, meyakinkan hatinya dengan baik, kemudian membuka mulutnya. "Aku —"
"Hei! Segera menjauh dari istri cantikku! Jangan dekati dia!!"
Sebelum Vino bisa mengeluarkan kalimatnya, tiba-tiba suara pria dewasa cenderung ke bapak-bapak terdengar di antara telinga ketiganya.
Hampir bersamaan mereka bertiga menoleh ke arah timur, melihat siapa sumber dari suara barusan.
Begitu mereka menoleh, mereka melihat seorang pria berpakaian kotor penuh noda tanah tengah berjalan ke arah mereka bertiga sambil membawa cangkul di bahunya.
"Ayah!"
Vino tak bisa menahan diri untuk tidak memanggil sosok pria yang datang ini.
Benar, pria itu adalah ayahnya sendiri.
__ADS_1
Akan tetapi, Vino lupa belum memperkenalkan dirinya sendiri ke orang tuanya, hal itu membuat ayah dan ibunya terkejut.
"Ayah?"
Kedua orang tua Vino secara bersamaan menatap Vino dengan sorot mata terkejut.
"Anu ...."
Vino menatap ibu dan ayahnya dengan wajah yang kaku dan malu.
Berikutnya, orang tua Vino mengajak Vonia dan anaknya sendiri ke dalam rumah yang sederhana dan cenderung usang.
Di dalam ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga, Vino dan Vonia duduk di karpet lantai menghadap orang tua Vino yang sedari tadi menatap Vino dengan mata penuh kerumitan.
"Vino, ayo beri tahu ayah bagaimana caramu meningkatkan ketampanan!" Ayah Vino yang Barus berusia 49 tahun bertanya dengan penasaran.
Plak!
Tangan ibu Vino menampar bahu kanan ayah Vino dan berkata, "Apa-apaan! Kamu tidak boleh menjadi tampan! Cukup anakmu saja!"
Vonia dan Vino terkejut melihat pemandangan ini, tepatnya Vonia yang paling terkejut, Vino sudah terbiasa dengan tingkah orang tuanya sendiri.
"Aduh! Sakit, sayang .... Jangan pukul ayah," keluh ayah Vino menampilkan wajah kesakitan sambil menggosok bahunya.
Kartu itu bertuliskan identitas diri Vino yang baru, fotonya saja yang baru, isinya tidak berbeda dengan yang diketahui ibu Vino.
Tidak salah lagi, kartu identitas ini memang milik anaknya, sebagai orang tua, ibu Vino hapal dengan data diri dasar anaknya sendiri.
"Bagaimana kamu bisa setampan ini, Nak? Kamu tidak operasi plastik, kan?"
Vino tersenyum mendengar pertanyaan ibunya, mustahil sekali untuk Vino melakukan operasi plastik, tidak ada uang untuk melakukan itu, kalau pun ada, lebih baik uangnya disimpan.
Menggelengkan kepalanya, Vino membalas, "Bu, aku tidak operasi plastik, ini hasil pubertas dan kerja kerasku."
Kerja keras yang dimaksud Vino adalah usahanya dalam menunggu sistem datang.
Ibunya masih belum percaya dengan ucapan Vino, tiba-tiba ibunya bangun untuk pergi ke ruangan sebelah dan kembali membawa sebuah buku yang berisikan foto album masa kecil Vino.
"Lihat! Wajahmu memang pernah tampan saat kecil, tetapi saat masuk SMA dan SMP, wajahmu jelek dan tubuhmu menggumpal, ibu tidak menghina, memang kenyataannya seperti itu," ujar ibu Vino membuka buku album foto dan menunjukkan beberapa foto masa kecil dan remaja Vino.
Omong-omong, ibunya suka dengan kegiatan memotret sesuatu, biasanya dia suka menangkap momen-momen penting dan sesuatu yang disukainya.
__ADS_1
Meskipun tak menggunakan kamera profesional dan hanya bermodalkan kamera ponsel dengan harga 1 juta rupiah, tangkapan gambar ibu Vino termasuk bagus.
Bulan-bulan kemarin Vino memberikan uang lebih untuk ibunya membeli ponsel lebih mahal dan bagus untuk dirinya bisa melakukan hobi dengan baik.
Tak heran kalau banyak foto Vino di album ini, Vino kerap dipaksa oleh ibunya sebagai objek pengambilan gambar.
Vonia tercengang sesaat ketika melihat perubahan penampilan Vino di zaman masuk ke bangku SMP dan SMA, memang berbeda dengan saat kecil dan sekarang.
Namun, ada persamaan ketika Vino masih berumur 5 tahun dan sekarang.
Dipikir-pikir lagi, ucapan Vino dapat dimengerti, sekarang Vino telah berhasil menyelesaikan pubertasnya dengan baik, mengembalikan penampilannya yang tampan ketika masih kecil.
"Perhatikan wajahku di umur enam tahun ini, bukankah sama tampannya denganku sekarang?" Vino berkata sambil membuat pose tampan baginya.
Ibu Vino melirik Vino di depannya dan di album foto saat kecil, mencoba mencari persamaan.
Memang ada beberapa persamaan, tetapi Vino yang di depannya kelihatan sangat tampan, seperti Vino versi tertinggi dan terbaik.
Pada akhirnya, ibu dan ayah Vino mengakuinya Vino sebagai anaknya sekarang meski masih ada rasa sedikit tidak percaya.
Hal yang wajar apabila kedua orang tuanya bersikap seperti itu, semua orang pasti tidak bisa langsung memercayai anaknya berubah penampilan dalam waktu yang tidak lama.
Mereka semua mengobrol selama satu jam penuh, membahas tentang bagaimana pengalaman pekerjaan Vino dan membahas hubungan Vonia.
Ternyata ibu dan ayah Vino menyukai Vonia, ibunya berencana untuk mengajak Vonia masa bersama di malam hari.
Keduanya dipaksa oleh orang tua Vino untuk menginap di sini selama satu malam. Vino tak bisa menolak permintaan orang tuanya sendiri.
Vino bahkan tidak kuasa menolak permintaan ibunya yang menyuruh Vino menjadi artis atau model pemotretan di sore hari.
Saat ini, Vino berdiri sendiri di dekat sawah, melakukan pose tampan di ibu dan Vonia.
Ibunya sedang sibuk mengambil gambar Vino dengan wajah yang cerah dan kegirangan.
Sementara ayahnya sibuk bermain di sawah untuk mencari belut.
"Aaa! Anakku benar-benar tampan, kalau seperti ini kamu bisa menjadi seorang model terkenal!" kata ibu Vino sambil melihat hasil jepretan kameranya.
Sosok Vino memang tampak sangat tampan, mau seperti apa gayanya pasti terlihat sangat keren.
Vonia hanya bisa tersenyum mendengar ucapan ibu Vino, ternyata Vino memiliki keluarga yang lucu.
__ADS_1
Bibir Vino membentuk sebuah senyum masam, kemudian dia berjalan mendekati ibunya dan berkata, "Bu, aku diminta ke sini cuma untuk menjadi model?"
"Bukan, Nak, tetapi untuk menasihati ayahmu yang selalu mengigau ingin memiliki dua istri!"