Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 61: Melatih Dua Anak Orkay


__ADS_3

Sudah bisa dipastikan Geri adalah orang kaya. Seharusnya, uang 5 juta rupiah tak terlalu berharga baginya kalau memang menguntungkan.


Ilmu bela diri dari Vino tentunya menguntungkan Geri, ada sebuah tujuan yang Geri capai dan itu butuh bantuan dari Vino langsung.


Maka dari itu, asumsi Vino tentang uang 5 juta merupakan pengeluaran kecil bagi Geri berpotensi benar.


"Gerbang yang besar, bagaimana aku memanggil Geri di dalam? Kurasa aku harus mengirimkan pesan kepadanya," gumam Vino sambil melirik gerbang besar di depannya.


Setelah pesan itu terkirim dan diterima Geri, sebuah pesan diterima Vino yang berasal dari Geri.


Dia diminta untuk menunggu di tempatnya karena Geri akan datang menemuinya.


Menunggu lebih dari 1 menit lamanya, gerbang besar dan tinggi di depan Vino bergeser secara perlahan memberikan ruang untuk Vino masuk ke dalam.


Orang yang membuka gerbangnya adalah pria berseragam bertuliskan "Satpam" yang tampak gagah.


Tidak jauh dari gerbang, Vino menangkap sosok Geri dan Rino yang berdiri di depan halaman rumah. Keduanya telah mengenakan seragam seni bela diri berwarna putih dengan tali pinggang berwarna-warni.


Melihat pakaian keduanya hanya bisa direspons dengan gelengan kepala. Vino lupa untuk meminta mereka mengenakan pakaian olahraga biasa saja, asalkan longgar dan ketat.


Namun, itu bukan masalah, mereka sudah telanjur mengenakan pakaian tersebut, akan memakan waktu banyak kalau diganti lagi.


"Sensei! Selamat siang!"


Geri dan Rino memberikan salam hormat ala murid seni bela diri yang ada di film. Gerakannya menyatukan kedua tangan di dada dan sedikit membungkuk ke depan.


Tingkah mereka berdua terlihat agak aneh, rasanya dia ingin tertawa. Namun, Vino tak boleh menertawakan pelanggannya, takut uangnya lenyap seketika.


Vino juga ikut gerakan mereka dan memberikan salah yang sama. "Selama siang, murid-muridku!"


Wajah mereka berdua tersentak sejenak, kemudian tersenyum lebar karena kegirangan.


Menatap mereka berdua yang tampak seperti anak kecil, ingin rasanya Vino cepat-cepat pergi dari sini.


Maka dari itu, Vino mempercepat memulai latihannya agar bisa cepat pulang.


Menampilkan wajah ceria, mulut Vino bergerak dan dia bertanya, "Apakah kalian sudah siap?"

__ADS_1


"Tentu saja, pakai tanya lagi. Aku sudah siap untuk belajar Muay Thai!" jawab Geri mengangguk cepat.


Berikutnya, Vino dibawa ke sebuah ruangan di rumah mewah dan besar di depannya untuk mengajari mereka berdua teknik bertarung Muat Thai.


Rumah besar ini milik orang tua Geri.


Sulit untuk Geri dan Rino yang baru berusia 25 tahun untuk memiliki rumah mewah satu ini. Pekerjaan Geri saja memiliki gaji yang tidak begitu fantastis, tetapi sangat cukup untuk membeli mobil.


Rumah milik orang tua Rino juga besar, tetapi letaknya tidak di kompleks ini, melainkan ada di daerah kompleks yang terpisah dari kompleks ini dengan jarak 3 kilometer.


Lumayan dekat kalau ditempuh menggunakan mobil.


Di dalam sebuah ruangan yang tenang dan bersih, mereka bertiga berdiri saling berhadapan di atas matras luas.


Vino yang memiliki pengetahuan tentang banyak sekali teknik ilmu bela diri Muay Thai mulai memberi teknik dasar.


Mereka berdua harus terbiasa dengan hal-hal yang dasar, peraturan belajar juga memang seperti itu, dimulai dari yang mudah lalu pindah ke hal yang sulit.


Sesi pelatihan pertama ini berlangsung lebih dari 4 jam, dari jam 1 siang sampai jam 5 sore.


Ada waktu jeda untuk istirahat mereka berdua selama beberapa menit saja.


Wajar, mereka baru pertama kali belajar Muay Thai.


"Rumahmu sepi sekali, Geri. Kedua orang tuamu masih di luar?" tanya Vino yang cukup penasaran dengan keluarga Geri.


Pasalnya, di rumah ini dari tadi hanya ada beberapa pembantu yang lewat, itu pun jarang.


Sama sekali tidak nampak sosok kedua orang tua Geri di rumah ini.


Geri tersenyum canggung dan menjawab, "Mereka berdua pengusaha, waktu sangat penting bagi mereka berdua. Saking pentingnya, aku sama sekali tidak diperhatikan."


"Bukankah itu enak?" Vino menatap Geri yang duduk di atas sofa seberangnya.


Mereka bertiga mengobrol di ruang tamu yang mewah. Berada di sini terasa sangat luar biasa. Vino bisa mencicipi bagaimana rasanya memiliki rumah mewah.


Vino berharap Sistem bisa memberinya hadiah rumah.

__ADS_1


Kalau mengandalkan uang sewa pacar, tak ada bedanya dengan gaji seorang karyawan di luar negeri, mengumpulkan miliaran rupiah bertahun-tahun baru tercapai.


Rino mengangguk dan membalas ucapan Vino, "Memang enak, Sensei, tetapi bagaimanapun kasih sayang orang tua sangat dibutuhkan. Rasanya seperti tak memiliki orang tua."


"Walaupun kita sudah tua dan memiliki pendapatan sendiri, tetap saja, kami merindukan perasaan disayang orang tua. Kehangatan pelukan dan kehangatan uang sangat berbeda. Uang bisa didapatkan kapan saja, sedangkan orang tua sangat terbatas waktunya," tambah Geri dengan mata yang sedih.


Apa yang dikatakan keduanya benar. Keluarga memang harta berharga sesungguhnya karena terbatas dan tidak semua orang memiliki hingga dirinya tua.


Setelah obrolan singkat selama setengah jam, Vino menagih mereka uang sebesar 2 juta rupiah, harga latihan kali ini lebih mahal karena melebihi durasi latihan yang dijanjikan.


Menggertak giginya, kedua pria ini memberikan Vino 1 juta rupiah dari masing-masing mereka.


"Terima kasih. Aku bisa menjamin dalam satu bulan kalian langsung bisa menguasai teknik dasar Muay Thai," tutur Vino sambil melambaikan tangan di atas jok sepeda motor ojek online.


Geri dan Rino mengangguk, mereka percaya Vino karena cara dia melatih terbilang keras.


Kalau memukul, Vino benar-benar memukul mereka dan bukan candaan.


Ingin melawan? Mustahil untuk bisa mengalahkan Vino yang sudah menguasai seni bela diri. Tak ubahnya seperti anak kecil yang ingin mengalahkan pria berotot dalam segi fisik.


"Ya, hati-hati, jangan terlalu malam, Sensei, lebih baik langsung ke rumah, di jalan dekat sini tengah rawan tawuran," kata Rino sambil melambaikan tangannya.


Vino memberikan jempol dan mengangguk. "Oke, informasi diterima."


Setelah itu, Vino pergi meninggalkan kompleks perumahan Geri untuk pulang ke kosannya.


Akan tetapi, di tengah perjalanan, dia tiba-tiba dicegat oleh peristiwa yang terjadi di jalan sebuah perkampungan.


Terdapat 2 kawanan anak remaja yang tengah melemparkan batu dan membawa senjata tajam berkarat.


"Mas, sepertinya kita tak bisa lanjut, kita harus memutar jalan," kata sopir ojek dengan wajah yang ketakutan.


Kedua alis Vino bertemu, dia tidak suka dengan pilihan tukang ojek ini dan membalas, "Bukannya itu malah makin menjauh dari tujuan, aku makin lama tiba di rumah."


"Mau bagaimana lagi? Di depan sedang ada yang tawuran, Mas."


Vino aslinya kelelahan, ingin buru-buru pulang dan tidur di rumah, tetapi sekarang ada yang menghalangi jalannya untuk pulang.

__ADS_1


Kalau melalui jalan memutar akan lebih lama lagi. Memakan waktu dua kali lipat.


"Baiklah, aku akan membubarkan mereka semua."


__ADS_2