
Vino menatap Monika dengan bingung tak mengerti. "Identitas? Bukannya aku sudah memberikan kartu penduduk milikku?"
"Bukan itu yang aku maksud," ucap Monika sambil menahan emosi di dalam hatinya.
Pria tampan di depannya benar-benar menyebalkan, mudah sekali membuatnya merasa kesal.
Di dalam penglihatan Vino, tangan Monika bergerak merogoh saku celananya yang terlihat ketat, kemudian sebuah ponsel dikeluarkan olehnya.
Dengan jari-jarinya yang cepat, Monika menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah antarmuka aplikasi aneh.
Ketika Vino melihat dengan cermat layar ponsel Monika, manik matanya sempat membesar, kemudian dia berusaha tenang di dalam hati.
'Bagaimana bisa dia mendapatkan aplikasi itu?' gumam Vino di dalam hatinya.
Apa yang ditunjukkan oleh Monika adalah sebuah antarmuka dari aplikasi Rental Boyfriend milik Sistem. Dan di situ terdapat tampilan dari karyawan yang bernama Vino Bleki.
Beruntungnya, di situ tidak ada foto profil dari orang yang bernama Vino Bleki. Cuma ada satu pria yang ditampilkan di sana yang membuat Vino heran.
Merasa bingung dan tidak mengerti dengan bagaimana Monika bisa menemukan profilnya, padahal itu tidak bisa diakses sebelum memesan dan sudah berhubungan dengannya, Vino memutuskan untuk menanyakan ini pada developer alias Sistem.
[Ding! Jawaban yang sederhana, Monika sudah memesan Anda untuk hari besok.]
[Sistem sudah menambahkan fitur pesanan terjadwal di dalam aplikasi. Tentu, fitur pemesanan mendadak masih berlaku di waktu dan jam tertentu.]
Vino mengangguk dalam hatinya, ternyata ini ulah Sistem sendiri.
'Lalu, bagaimana caraku untuk menjawab pertanyaan polisi wanita ini, Sistem?' Vino bertanya dengan suara yang bingung dalam hati.
[Mengapa bertanya kepada Sistem? Sistem juga tidak tahu.]
Vino memiringkan bola matanya tampak kesal, suasana hatinya berubah menjadi mendung.
Ternyata Sistem bisa menjadi entitas yang tak berguna.
"Vino, mengapa kamu diam dan kesal seperti itu?"
Suara wanita yang dingin menusuk gendang telinga Vino yang sedang berinteraksi dengan Sistem.
Kesadaran Vino ditarik paksa ke dunia nyata dan dia tersenyum canggung pada Monika.
"Anu, ada seseorang yang membuatku kesal tiba-tiba, dan itu terlintas di kepalaku," kata Vino secara spontan.
"Apakah itu aku?" tebak Monika dengan cepat.
Vino menggelengkan kepalanya beberapa kali, wajahnya sedikit panik. "Bukan, itu bukan kamu."
Monika menyipitkan matanya, melihat ekspresi wajah Vino dengan hati-hati.
Melihat Monika menatapnya terang-terangan, Vino bingung harus melakukan pose apa. Jadi, dia iseng melakukan pose tampan ala kadarnya.
Mata Monika mengerjap memandang wajah Vino yang memasang mimik wajah paling tampan.
Kedua pipi Monika memerah dalam sekejap, dia benar-benar tak mengira Vino akan melakukan itu.
__ADS_1
Tatapan Vino yang menawan membuat jantung Monika berhenti berdenyut sesaat.
"Sial, apa yang kamu lakukan?!"
Tangan Monika terbang memukul bahu Vino dengan wajah yang tersipu.
"Tentu saja memasang wajah tampan, aku sedang dinilai olehmu, bukan?" Vino mengusap bahunya yang ditampar oleh Monika.
"Ingin aku masuki penjara, hah?!"
Monika mencondongkan tubuhnya dan berkata dengan suara lantang.
Untuk sementara waktu, kafe yang ramai menjadi sunyi dan sepi, seolah di dunia ini tidak ada orang.
Suaranya terdengar ke sudut kafe, membuat semua pengunjung kafe melirik ke sosok Monika dan Vino.
Di detik berikutnya, diskusi terjadi pada masing-masing pengunjung.
Melihat pemandangan ini, mereka semua tidak dapat menahan untuk tidak berkomentar, "Pasangan tampan dan cantik ini terlalu berisik."
"Polisi wanita ini ternyata galak, tetapi rasanya seru jika aku memiliki pacar seperti itu."
"Pria tampan itu sangat sabar. Coba saja pacarku sekarang seperti itu, aku pasti akan betah di dalam kamar bersama pacarku yang tampan."
"Hei, pacarmu sedang mendengarkan, sialan!"
"Kalau saja aku menjadi pria tampan itu, aku akan membawa polisi wanita ini ke dalam kamar dan aku puaskan sampai dia memohon untuk berhenti."
"..."
Apa yang mereka katakan sangat terdengar jelas dan langsung masuk ke dalam hati. Beberapa komentar mereka ada yang membuat Vino dan Monika tersipu malu.
Monika dengan cepat meminum kopinya, dan menyuruh Vino untuk menyelesaikan minumnya kurang dari 1 menit.
Setelah itu, mereka berdua pergi dari kafe usai Monika yang membayarkan minuman keduanya.
Vroom!
Cahaya lampu R6 menonjol di antara tempat parkir halaman kafe yang agak remang-remang, kemudian sepeda motor itu melaju pergi tanpa memedulikan pandangan penasaran semua pengunjung kafe.
Sepeda motor R6 membelah jalanan kota Jakarta, mengarah ke suatu pemukiman di tengah-tengah banyaknya gedung berdiri.
Dengan suara raungan sepeda motor membuat lorong gang bergema, sepeda motor R6 itu masuk ke dalam gang dan berhenti di depan halaman kecil kos-kosan Vino.
"Mengapa kamu membawaku ke kosan?" tanya Vino dengan heran sekaligus curiga.
Monika mencubit bahu Vino dan menjawab tak sabaran, "Untuk melanjutkan pembicaraan kita di kafe barusan, ayo masuk ke dalam!"
Tangan Vino ditarik oleh Monika dan mereka berdua masuk ke dalam kamar kosan Vino.
Di dalam sana, keduanya berdiri diam dengan canggung.
Mata Monika dan Vino saling bertemu beberapa saat, kemudian mereka memalingkan wajah bersama-sama.
__ADS_1
"Jangan berpikir aneh-aneh. Ingat, aku adalah polisi."
Monika berjalan ke tempat tidur lantai Vino yang sederhana.
Merasa gerah di dalam sini, Monika membuka kemeja lengan panjang abu-abu gelap di depan Vino yang berdiri tak jauh darinya, menampilkan tubuh bagian atas Monika yang ramping dan punya bumper depan sedang.
Pakaian yang dipakai Monika sekarang adalah kaus hitam polos yang ketat, sosok Monika makin cantik dengan pakaian sederhana seperti ini.
"Apa yang kamu lihat? Ingin aku pukul?!"
Tatapan Vino tertangkap oleh Monika, wanita ini punya mata yang tajam.
Vino memalingkan wajahnya, dan melirik langit-langit kamar yang terdapat sarang laba-laba. "Sarang laba-laba yang cantik."
"Um, terima kasih," ucap Monika yang tiba-tiba. Wajahnya terdapat lekukan di pipinya yang merona.
Sontak Vino menoleh ke arah Monika dengan raut wajah yang aneh. "Siapa yang memujimu? Aku sedang memuji sarang laba-laba, itu berbentuk hati." Vino sama sekali tidak bermaksud memuji Monika.
Vino memang melihat ada suatu pola sarang laba-laba pada pakaian Monika, dia tidak memujinya.
Rona merah di wajah Monika makin penuh karena alasan yang berbeda.
"Bedebah kecil! Makan ini!"
Sebuah tinju melayang ke arah sesuatu di balik celana Vino, begitu kuat dan tegas tanpa ada niatan untuk berhenti.
Vino terkejut dengan gerakan tiba-tiba Monika, dan dia terlambat mengelak.
Suara telur pecah berbunyi.
"Aarhhh!"
Beberapa menit kemudian, terlihat sosok Vino yang terbaring lemah di atas tempat tidur, kedua tangannya masih menutupi tempat di mana senjata kebanggaannya bersemayam.
"Mama, sakit sekali," lirih Vino dengan wajah yang kesakitan.
Monika duduk di samping tempat tidur dengan wajah yang bersalah. "Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud memukul milikmu."
Ucapan Monika sama sekali tidak didengar oleh Vino. Rasa sakit dihantam kepalan tangan yang keras masih bisa dirasakan oleh Vino.
Dia pikir hidupnya takkan lama lagi akan berakhir.
"Tolong katakan pada ibu dan ayahku, aku sangat mencintai mereka berdua. Selamat tinggal ...."
Setelah mengalami itu, Vino memiringkan kepalanya dengan lemah, tampak seperti orang yang telah mati.
Melihat ini, Monika menjadi panik, kemudian dia dengan inisiatif membuka celana Vino, berniat mengobati senjata Vino yang rusak.
Vino yang pura-pura mati ini terkejut dengan gerakan Monika dan berusaha untuk menghalanginya.
Namun, itu sudah terlambat, Monika sudah melepaskan senjata Vino dari sarung pelindungnya.
"Aaa!"
__ADS_1
"Jangan dibuka!!"