
Video dirinya bertarung tersebut menerima tayangan penonton puluhan ribu orang, tombol suka dari ribuan orang, dan ratusan komentar penonton.
Unggahan video tersebut mencantumkan kejadian yang sebenarnya terjadi, ini membuat Vino lega dan tenang.
Takut video itu menjadi kesalahpahaman yang dibuat-buat oleh orang yang mengunggah video ini.
Penasaran dengan komentar di video tentang dirinya, Vino melihat banyak sekali wanita yang mengomentari video ini.
Sebagian besar akun wanita yang ada di kolom komentar memuji Vino atas ketampanannya. Cuma kaum pria yang memuji betapa hebatnya pukulan ranting Vino pada tubuh preman itu.
Komentar-komentar pria Vino baca dan dia tersenyum selepas membacanya.
"Ini bayanganku ketika aku menjadi tokoh utama di dalam anime."
"Pemuda ini memiliki berkah dari Dewi Fortuna sehingga kekuatan wibu menyertainya!"
"Aku di dalam mimpi seperti ini! Sangat hebat!"
"Bayangan aku ketika aku sedang melawan penjahat yang menculik pacarku."
"Apakah pria itu intel yang melawan mafia?"
"Efek setelah maraton menonton anime Satu Potong dalam satu hari, tiba-tiba menjadi Rozo!"
"..."
Komentar-komentar yang ada di unggahan video cukup membuat hati Vino terdapat sesi candaan dan asupan tawa.
Memang mereka-mereka semua di dalam internet memiliki humor yang sama dengannya.
Beberapa candaan bisa Vino tertawakan karena memang merasa lucu.
Dengan video dirinya yang ada di Tiktod kian tersebar, Vino sedikit merasa khawatir dengan ini, tetapi dia mencoba untuk menenangkan pikirannya, bahwa ini takkan menimbulkan masalah.
Tepat ketika dirinya mencoba meyakinkan bahwa video itu tidak akan menjadi masalah, sebuah ketukan pintu terdengar memasuki telinganya.
Tok! Tok!
Vino menoleh ke samping untuk melihat ke arah pintu, kemudian dia berdiri dan berjalan menuju pintu.
Tangan Vino memegang kenop dan membuka pintunya untuk mengetahui siapa orang yang mengetuk pintunya.
Begitu pintu tersebut Vino melihat seorang wanita cantik dengan seragam polisi berdiri di depan pintunya, kemudian mengeluarkan borgol di sabuknya dan memborgol kedua tangan Vino.
"Kamu ditangkap karena laporan penganiayaan," kata wanita cantik tersebut dengan wajah yang dingin.
__ADS_1
Beberapa polisi pria muncul di belakang polisi wanita, berjalan ke Vino untuk meringkusnya.
"Apa-apaan ini?!" seru Vino dengan wajah yang tak mengerti.
'Di mana aku? Mengapa aku tiba-tiba ditangkap?' tanya Vino di dalam hatinya sambil berjalan diseret oleh beberapa polisi.
Berjalan santai dan elegan, seorang polisi wanita ini menoleh ke Vino dengan senyum di bibirnya. "Kami berhasil membengkuk kamu, Jagoan Kecil. Sebuah laporan telah kami terima atas penganiayaan seseorang, ada beberapa barang bukti untuk menguatkan kasus ini dan kamu adalah pelakunya."
Tanda tanya besar muncul di wajah Vino dengan tubuh yang sedikit tersentak.
Otak Vino langsung menghubungkan ucapan polisi wanita ini dengan preman yang dia pukul dan babak belur.
"Hei, ini bukan salahku. Dia yang lebih dahulu memukulku, mengapa aku yang ditangkap?"
Vino mencoba membela diri, tetapi tubuhnya diguncang oleh beberapa orang yang membawa dan menahannya, kode untuk berhenti berbicara.
"Berhenti berbicara! Jelaskan itu nanti di kantor!"
Suara polisi wanita terdengar marah dan dingin, punggungnya masih menghadap Vino dan terus berjalan.
Para polisi membawa Vino ke mobil polisi di bawah tatapan warga yang tinggal di dekat kosannya.
Mereka bukan orang yang melihat kejadian perkara Vino dan preman beberapa saat yang lalu. Vino tidak bisa meminta mereka untuk membelanya.
Orang-orang yang mengerumuni gang dan jalan di depan gang menjadi sangat ingin tahu mengenai siapa yang ditangkap, tetapi ketika mereka melihat sosok Vino yang sekarang, mereka semua terkejut.
Penghuni kosan juga tak membantu apa-apa karena mereka tidak tahu apa masalahnya.
Mereka bisa melihat Vino dimasukkan ke dalam mobil polisi di bawah diskusi ramai-ramai di dekat kosan Vino.
Hampir semuanya menyayangkan Vino ditangkap polisi karena dilihat dari penampilannya saja Vino tak seperti seorang penjahat.
Obrolan tentang menanyakan masalah Vino bisa didengar dari orang-orang yang berkumpul.
Warga di dekat sini mencari tahu apa yang terjadi dan apa masalah yang dialami Vino.
Tak lama kemudian, mobil polisi yang membawa Vino tersebut melaju meninggalkan warga yang dipenuhi pertanyaan di kepalanya, dan bergegas pergi kantor polisi.
Di dalam mobil polisi, tangan Vino masih diborgol didampingi oleh satu polisi yang terus-menerus menjaganya.
Sementara itu, polisi wanita yang tampak lebih tinggi jabatannya memantau dirinya melalui kaca spion di dalam.
Terlihat matanya yang cantik melirik ke arah cermin spion dan dan sorot matanya terpantul ke sosok Vino.
Pupil mata Vino bergerak dan menatap mata polisi wanita itu, di dalam hatinya dia masih merasa kesal dengan polisi-polisi yang menangkapnya, termasuk polisi wanita yang keras kepala di bangku depan.
__ADS_1
Tidak peduli dengan cantik yang ditampilkan, Vino sama sekali tak mengindahkan itu. Di dalam kepalanya hanya ada sebuah pertanyaan, yaitu mengapa dirinya yang ditangkap dan bukan preman.
"Kalian, beri tahu aku tentang atas dasar apa aku ditangkap, aku masih tidak mengerti," pinta Vino yang tidak lagi panik, kini lebih merasa kesal dan marah.
Senyum miring muncul di wajah polisi wanita itu, dan dia berkata, "Apakah kamu pelupa dan tuli? Aku sudah jelaskan barusan. Kamu tersangka melakukan penganiayaan terhadap pria bernama Herman."
"Herman?"
Vino tidak mengenal orang bernama Herman.
"Pria yang kamu pukuli di dalam video. Jangan berpura-pura tidak mengenal, Penjahat Sok Tampan. Aku jijik dengan pria yang berpura-pura kuat."
Suara dari polisi wanita ini benar-benar terdengar merasa jijik terhadap Vino.
Mendengar ucapan wanita yang menyebalkan ini, Vino cuma bisa menahan amarah di dalam dirinya.
"Secepat itu kamu menilai seseorang? Kamu polisi atau apa?" Vino menahan ucapannya sehingga tidak terdengar begitu marah.
"Banyak bicara! Diam dan bicarakan itu nanti di kantor!"
Polisi wanita itu kembali menjadi singa betina yang galak, dan ucapannya membuat polisi pria yang lain terdiam.
Vino mendecakkan lidahnya dan diam sembari melirik pemandangan jalan di luar jendela.
Setibanya di kantor polisi, Vino dimintai kartu identitas dan yang lainnya.
Namun, sebelum semuanya diperiksa, Vino ke dalam sebuah ruangan kecil di kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Orang yang mewawancarai Vino ada wanita ini.
"Coba terangkan siapa yang telah menjadi korbannya dalam peristiwa tersebut serta siapa saja yang telah melakukan penganiayaan terhadap Herman," perintah polisi wanita yang duduk di seberang meja.
Ekspresi datar dan dingin membuat Vino malas melihat wanita ini.
"Sudah aku katakan tadi, aku bukan pelaku yang melakukan penganiayaan. Herman lebih dahulu menyerangku, lihat tanganku."
Vino mengangkat tangan kirinya yang masih ada jejak sedikit memar berwarna merah dan agak ungu.
Polisi wanita itu memicingkan matanya dan melihat luka akibat benda tumpul di tangan Vino.
Brak!
Tiba-tiba pintu dibuka oleh polisi pria dan melapor. "Maaf, saya datang untuk memberi tahu bahwa kartu identitas dia tidak sesuai!"
Mata polisi wanita melebar dan dia menatap Vino menjadi merah.
__ADS_1
"Apa maksudmu menipu polisi?!!"