
"Maaf, Bu, tubuhmu terlalu dekat, buah melon milikmu menempel di dadaku," kata Vino dengan polosnya.
Ucapan Vino membuat Monika tersadar, kemudian dia memeluk buah melonnya sambil menjauh dari tubuh Vino.
Wajahnya memerah karena malu, tetapi matanya melotot ke arah Vino begitu tajam, aura orang hendak membunuh bisa dirasakan oleh Vino.
Sorot mata Monika benar-benar personal, kemarahannya kali lebih pribadi dan mendalam.
Sementara itu, Vino menatap mata Monika dengan alis mata terangkat. Tidak mengerti mengapa Monika melotot sangat marah padanya.
Padahal, Vino hanya mengingatkan saja, takut sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.
"Di mana matamu melihat barusan?!" tanya Monika memasang ekspresi marah yang besar.
"Eh?" Vino menatap Monika dengan bingung.
Vino berkata di dalam hatinya, 'Mengapa wanita ini menjadi marah? Apakah aku salah memberi tahunya tentang posisinya yang terlalu dekat tadi? Wanita ini aneh.'
Melihat Vino tidak langsung menjawab, Monika melangkah ke depan dan mendekati Vino dengan kepalan tangan yang keras.
Mata Vino menemukan gerakan Monika dan perasaan ancaman yang berbahaya muncul di tubuhnya.
Dengan cepat Vino menjawab, "Aku tidak melihat apa-apa, aku hanya melihat wajahmu yang cantik begitu dekat dari wajahku."
Tubuh Monika sedikit tersentak ketika Vino mengucapkan kata "Cantik" kepada dirinya.
Wajah merah ini bercampur ekspresi marah dan malu. Tampak imut sesaat.
Berikutnya, ekspresi beringas muncul kembali dengan hawa yang mencekam. "Jujur! Jangan berbohong kepadaku! Aku ini polisi!"
"Aku sudah jujur. Sebelumnya aku hanya melihat wajahmu dan tubuhku sendiri karena ada sesuatu yang bulat serta besar menyentuh bagian perut atasku." Vino mengangguk cepat dan mengonfirmasi jawabannya.
Namun, Vino tidak sadar bahwa ucapannya tidak membuat Monika mengampuninya, melainkan membuatnya makin marah.
"Bajingan!"
Dengan amarah yang tidak bisa lagi ditahan, Monika menggunakan gerakan silatnya untuk meninju wajah Vino tanpa ada sedikit pun keraguan.
Reaksi Vino sangat cepat, dan dia mengangkat tangan kirinya untuk menahan pukulan Monika.
Ekspresi Monika tertegun sejenak. Sayangnya, amarah masih mendominasi tubuh Monika, kemudian melancarkan serangan brutal.
Tangan kiri dan kaki kanan Monika bergerak secara bersamaan. Tangan kanan Vino ditarik ke bawah dengan kaki kanan Vino ditahan.
Gerakan Monika ini bertujuan untuk menjatuhkan Vino ke samping. Sayangnya, usaha Monika sia-sia karena tubuh Vino lebih kuat dari tubuhnya.
Vino yang melihat Monika tak bisa menjatuhkan dirinya melemparkan senyuman miring.
Ini membuat Monika menjadi lebih marah dan serangan berikutnya segera dilancarkan.
__ADS_1
Menarik tangan kanannya, pukulan demi pukulan terlontar ke tubuh Vino dengan berbagai teknik silat.
Mengandalkan kecepatan mata dan kelincahan tubuhnya, Vino menahan semua serangan Monika yang datang dari segala arah.
Mereka berdua bergerak sangat cepat, di dalam kamera CCTV hanya terlihat kedua tangan mereka berbayang tidak jelas.
Walaupun Vino terus-menerus mendapatkan serangan, posisi tubuh Monika diubah oleh Vino.
Posisi Vino yang awalnya ada di dekat tembok ruangan, kini Monika yang menggantikan posisinya sekarang.
Bam!
Tinju Monika akhirnya berhasil menembus pertahanan kedua tangan Vino, mendarat keras di perut Vino.
Alih-alih berteriak, Vino tersenyum dan berkata, "Apakah ini bisa dimasukkan ke dalam pasal penganiayaan?"
Perkataan Vino membuat mulut Monika terkunci beberapa saat.
Di dalam kepala Monika memikirkan tentang betapa kerasnya otot di tubuh Vino, memberi rasa nyeri ketika dia meninjunya.
Melirik ke CCTV, Vino mengangkat kaos hitam yang ia kenakan, kemudian memperlihatkan perutnya yang memiliki delapan bungkus otot perut, tampak kuat dan seksi.
Vino memberikan bukti bahwa di antara otot-otot perutnya terdapat bekas pukulan berwarna merah pada kulit putih yang membungkus otot.
"Pak Polisi, aku dianiaya oleh polisi wanita ini dan ada jejak pukulan di perutku sebagai buktinya. Bisakah aku melaporkan kasus ini?" ucap Vino ke arah CCTV.
Kedua pipi Monika memerah malu, tubuh Vino sangat menggoda bagi para wanita, termasuk dirinya sendiri. Akan tetapi, mendengar ucapan yang keluar dari mulut Vino memunculkan amarahnya yang agak teredam.
Monika berlari cepat menuju Vino sembari mengangkat tangan kirinya untuk menghajar wajah Vino.
Pukulan tangan Monika terbang bagai proyektil yang ditembakkan, membidik wajah Vino yang tampan.
Ketika banyak tinju tangan Monika hendak menyentuh hidung mancung Vino, kepala Vino bergerak cepat untuk mengelak.
Sebelum Monika bereaksi, kedua tangan Vino mengangkat pinggangnya, kemudian dibawa dengan cepat ke titik buta CCTV.
Serangan Vino begitu tiba-tiba, secara naluriah Monika melingkari kedua kakinya ke tubuh Vino agar dirinya tidak jatuh.
Pada saat ini, tubuh Monika disandarkan oleh Vino, kedua tangannya menahan tubuh Monika agar tidak bergerak dan tetap dalam posisi ini untuk beberapa waktu yang singkat.
Menurunkan pandangannya, Monika bisa melihat wajah tampan Vino dengan jelas. Tangan Monika tanpa sadar memegang kedua bahu lebar Vino.
Dua pasang mata saling bertatapan dengan perasaan bingung.
Posisi keduanya mirip dengan pasangan muda yang sedang bermesraan.
"Um ... bisakah kamu melepaskan aku?" Monika sangat-sangat malu sekarang.
Kemarahan yang ada di dalam hatinya benar-benar padam, kalah oleh rasa malu tak tertahankan yang melanda hatinya.
__ADS_1
Monika kalah oleh kontak fisik seperti ini, dia sangat lemah dengan tindakan Vino memeluk tubuhnya begitu panas.
Untuk sementara waktu, ruangan interogasi menjadi terasa gerah.
Vino tak bisa melepaskan Monika begitu mudah, takut polisi wanita gila ini menyerangnya lagi.
"Kamu berjanji padaku terlebih dahulu untuk tidak menyerangku secara tiba-tiba. Aku akan melepaskanmu jika kamu berjanji."
Syarat Vino langsung membuat Monika termenung, memikirkan pilihannya sendiri.
Di dalam hatinya, masih ada kemarahan terhadap Vino, marah bukan kasus, melainkan antarpribadi.
Di sisi lain, Monika sama sekali tidak bisa menahan lebih lama lagi dalam posisi yang melakukan ini.
Dengan begitu, sebuah keputusan dipilih oleh Monika.
"Ba–baik, tetapi sekarang kamu turunkan aku da–dahulu," kata Monika dengan sedikit gugup karena malu yang dirasakan.
Dengan jawaban Monika, Vino menurunkan Monika dengan hati-hati dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Tinggi Monika dan Vino selisih lebih dari 11 cm, dan Vino mengangkat tubuh Monika cukup tinggi.
Begitu Monika bisa merasakan kedua kakinya menapak ke lantai ruangan, dan tangan Vino tidak lagi mencengkeram pinggangnya, Monika merasa lega.
"Aku—"
"Kamu—"
Baru saja Monika mengangkat kepalanya untuk berbicara, kepala Vino dan Monika saling bertemu, kedua bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain.
Vino pun ingin berkata kepada Monika, tetapi bibirnya tertahan oleh sesuatu.
Pupil mata Monika dan Vino membesar secara bersamaan.
Keduanya ingin melepaskan diri masing-masing, tidak tahu mengapa itu terasa berat.
Pada akhirnya, ciuman tak sengaja ini berlanjut selama beberapa menit.
Tidak lama berselang, mereka berdua melepaskan ciuman satu sama lain, dan tidak berani melihat wajah satu sama lain.
Tangan Vino terangkat, menggaruk pipinya yang sedikit gatal. "Anu, apa aku boleh pergi sekarang?"
"Um, ya." Monika sedikit mengangguk, tatapannya masih mengarah ke bawah dengan pipinya yang memerah.
Begitu Vino mendengar jawaban Monika, dengan gegas keluar dari ruangan interogasi.
Beberapa polisi melirik Vino dan bertanya mengenai tentang polisi wanita yang ada di dalam.
Vino menjawab bahwa polisi wanita itu sedang berdiri memikirkan sesuatu, dan dia diperbolehkan pulang oleh mereka semua karena identitas tersangka telah dicabut.
__ADS_1
"Hari yang begitu panjang ... bibir polisi wanita itu cukup manis. Hehehe ...."