Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 45: Perkelahian Damai


__ADS_3

Sebuah pukulan terbang dengan cepat, membidik ke wajah Vino yang sedang tertawa.


Di detik berikutnya, bantalan jari kepalan tangan itu berhenti di jarak 3 cm dari hidung Vino.


"Sakit!"


Pria yang ingin memukul Vino dengan cepat menarik tangannya kemudian memegangi paha kaki kirinya dengan kesakitan.


Dengan menyunggingkan senyum di wajahnya, Vino menurunkan kakinya sambil menggelengkan kepala.


"Begitu saja."


Vino menendang paha kiri pria itu untuk menahan langkah kakinya sekaligus memberhentikan pukulannya.


Tidak perlu teknik seni bela diri untuk melakukan itu, Vino melakukannya secara naluriah dengan reaksi yang cepat.


Melihat pria itu kesakitan, Vino sama sekali tidak peduli dan berjalan menuju Monika dan Sarah yang menatapnya dengan cemas.


Beberapa orang di gym sudah mengamati dan memperhatikan konflik antara Vino dengan dua pria ini.


Mereka tidak percaya Vino bisa bertarung dan melakukan seni bela diri.


Apa yang dilakukan Vino tidak salah karena murni untuk membela dirinya. Kalau memang digunakan untuk menganiaya, Vino harusnya memberikan luka ke pria itu lagi dengan memukulnya.


Namun, Vino hanya berjalan dan meninggalkan pria itu.


"Bedebah!"


Sebuah suara muncul di belakang Vino, teman pria yang ditendang oleh Vino itu berlari sambil mengangkat tinjunya ke belakang.


Vino berbalik dengan cepat, dan melihat pria itu sudah dekat dengannya.


Dengan kuda-kuda singkat, ujung kaki kanan Vino dinaikkan menunjuk ke perut pria itu dan mendorongnya ke belakang.


Gerakan Vino yang cepat membuat pria itu tidak bisa menahan efek dorongan Vino dan tubuhnya mundur beberapa langkah.


Sebelum pria itu bereaksi, Vino sudah muncul di hadapannya sambil mengayunkan kaki kiri menyamping ke arah lutut.


Bam!


Sontak pria itu berlutut terkena hantaman tendangan Vino. Perasaan sakit muncul di kakinya membuat wajah pria itu membiru.


Begitu mendongak, pria tersebut melihat sosok Vino berdiri di depannya, dengan mengarahkan lutut kaki ke wajahnya.


Kepanikan muncul di wajah pria itu dalam waktu kurang dari satu detik.


Dia tahu bahwa wajahnya bentar lagi dihantam oleh lutut yang mengerikan ini.


Namun, lutut yang mengarah ke wajahnya tiba-tiba membelokkan arah ke samping sehingga pria itu hanya mendengar suara angin yang lewat di telinganya.

__ADS_1


Plak!


Sebuah pukulan tangan menyambar ke daerah samping leher pria yang berlutut itu.


Dalam sekejap kesadaran pria itu menghilang, tubuhnya perlahan menjadi miring ke samping dengan mata yang tertutup.


Untungnya, Vino menahan tubuh pria ini agar tidak jatuh dan membaringkannya di lantai dengan hati-hati.


Pria yang ditendang kakinya oleh Vino terkejut melihat aksi bertarung yang ditampilkan barusan, kakinya bergetar dan dia berlutut dengan kedua kakinya menatap Vino penuh ekspresi ngeri.


"Aku ... minta maaf!!" Pria tersebut meminta maaf pada Vino sambil memberikan gerakan sujud.


Vino terkejut dengan tindakan pria ini, dia tidak menyangka pihak lain akan runtuh seperti itu. Ia kira kedua pria yang ingin bertarung dengannya ini akan terus keras kepala dan memiliki niat untuk terus melanjutkan pertarungan.


"Ya, aku terima permainan maafmu."


Setelah kata-kata Vino keluar, sosok Vino berbalik dan terus berjalan mendekati Monika dan Sarah.


Usai pertarungan yang berlangsung mendadak tersebut, kehadiran Vino di gym ini terasa salah.


Pasalnya, banyak sekali pria berotot besar yang mendekati Vino untuk minta diajarkan caranya bertarung.


Gerakan yang sempat Vino tampilkan barusan adalah gerakan teep dorong dan tendangan samping yang ada di dalam teknik bela diri Muay Thai.


Semua gerakan yang Vino lakukan tampak indah dan tidak kaku, itu mengalir begitu saja. Wajar saja, keterampilan Muay Thai yang Sistem berikan sudah mencapai tingkat Master.


Bisa saja Vino membuka Dojo atau perguruan Muay Thai di sini dengan keahliannya. Sayang sekali, keterampilan seni bela diri Muay Thai ini hanya pinjaman dari Sistem dan akan dikembalikan setelah pesanan selesai.


"Bang, tolong ajari aku seni bela diri!"


"Aku tidak membuka perguruan."


"Aku mohon! Ajari aku seni bela diri Muay Thai!"


"Aku bukan seorang guru seni bela diri."


Pada saat ini, Vino menolak permintaan dari dua pria yang menghinanya yang memohon diajarkan teknik seni bela diri Muay Thai.


Benar, kedua pria ini meminta maaf dan tiba-tiba berubah menjadi pria kecil yang memohon hingga menunduk 90 derajat kepada Vino.


Sayangnya, permintaan mereka ditolak oleh Vino karena dia tidak merasa dirinya seorang guru. Apalagi, tidak butuh murid seperti mereka yang sudah menghinanya.


Tidak peduli berapa kali Vino tolak, kedua pria ini terus memohon dengan berbagai gaya.


Vino mengabaikan mereka berdua, dan fokus push-up menggunakan satu tangan dengan tubuh terangkat ke atas.


Tubuh Kalistenik bergabung dengan tubuh powerlifter sangat luar biasa rasanya. Vino bisa mengangkat seluruh tubuhnya hanya dengan menggunakan 3 jari tangan kanannya.


Push-up satu tangan dengan beban seluruh tubuh tanpa menapakkan kakinya sudah menjadi makanan sehari-hari kalau memang Vino memiliki tubuh powerlifter.

__ADS_1


Kedua pria yang berotot ini telah membersihkan gym dan membuang bajunya yang terkena muntahan sendiri.


Namun, mereka berdua tidak ingin pulang dan masih bersikukuh meminta Vino untuk mengajarkan mereka ilmu seni bela diri.


Sudah hampir setengah jam mereka memohon.


Pemandangan mereka ditonton oleh beberapa pengunjung gym.


"Tolong ajari aku! Aku akan membayar setiap sesi latihan!"


"Aku tidak—berapa rupiah yang kamu sanggupi?"


Vino langsung.engganti kalimatnya begitu mendengar permohonan pria ini. Masalah uang, Vino sedang membutuhkannya sekarang.


Melihat sikap Vino yang berbeda, pria ini sedikit terkejut, kemudian menggerakkan giginya. "Satu dalam sekali latihan!"


"Oke, aku hanya bisa melatih kalian berdua tiga kali dalam seminggu." Vino tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.


Mendengar ini, mereka berdua melirik satu sama lain. Keduanya saling meminta pendapat dengan masalah ini.


"Sepakat! Namun, kami berdua patungan lima ratus ribu per latihan, hasilnya menjadi satu juta." Kedua pria itu berjabatan tangan dengan Vino dengan tegas.


"Tak masalah. Atur saja tempatnya, aku akan datang setiap hari Selasa, Kamis, dan Minggu. Jadwal bisa diubah oleh kalian."


"..."


Monika dan Farah yang selesai melakukan olahraga mengecilkan perut terkejut dengan mereka bertiga yang menjadi akrab.


Jelas-jelas sebelumnya mereka saling bertarung.


Mendengar ucapan Vino dan kedua pria itu, Monika tersenyum tanpa daya, ternyata ada bisnis di antara mereka.


"Senang berbisnis dengan kalian berdua." Vino tersenyum senang sambil menggoyangkan tangannya. Tatapan Vino terlihat tajam dan menusuk. Membuat keduanya terasa ditekan.


"Senang berbisnis dengan Anda, Guru!"


Keduanya melemparkan senyuman dengan hati yang agak sedikit enggan.


Pria yang mereka benci sekarang menjadi gurunya sekarang. Mengingat kembali tentang keinginannya menjadi kuat, mereka harus meredamkan gengsinya.


Setelah kesepakatan itu, mereka berdua memberikan nomor telepon kepada Vino, kemudian pergi meninggalkan gym.


Vino, Monika, dan Sarah pergi dari mall karena sudah terlalu lama di sini.


Mereka bergegas pergi ke restoran untuk mengisi kembali energinya.


Monika wanita yang penuh persiapan, dia membawa dua handuk, satu untuk Vino dan Monika, dan satunya lagi untuk Sarah.


Sehabis olahraga tubuh terasa lengket dan perlu dibersihkan.

__ADS_1


"Anu, terima kasih banyak sudah mengubah hidupku!"


__ADS_2