
Sosok Vino begitu panik, gerakannya tergesa-gesa seperti orang yang sedang dalam keadaan bingung habis mendapatkan masalah.
Ya, sekarang Vino memang sedang mendapatkan masalah.
Mengambil tasnya yang tergantung, Vino memasukkan beberapa barang berupa satu set pakaian ganti, alat pengisi daya ponsel, alat mandi, dan beberapa barang penting lainnya.
Gerakan tangan Vino begitu cepat, kurang dari 5 menit semua barangnya sudah disimpan dengan rapi di dalam tasnya.
Setelahnya, Vino mengambil ponsel sambil mengenakan pakaian rapi dan bersih, mencari nomor Monika dan Vonia untuk mengirimi pesan kepergiannya, ditakutkan mereka datang ke kosan di saat dirinya pergi.
"Oke, saatnya pergi," kata Vino melihat penampilannya di depan cermin.
Sosoknya yang sekarang jauh sekali perbedaannya dengan tampilan dia sendiri di masa sebelum kedatangan Sistem.
Penampilannya menjadi jauh lebih tampan dari sebelumnya, bagai tanah dan langit perbedaannya.
Jika dahulu dirinya seorang pria pecundang yang biasa saja, gendut, pecundang, dan jelek. Kini Vino telah berubah menjadi seorang pria tampan, pemberani, kuat, berotot, tinggi, dan menawan.
Dihitung-hitung sudah ada 3 wanita yang Vino berikan tanda kepemilikan eksklusif, yaitu Monika, Callie, dan Vonia.
Sebuah prestasi besar bagi Vino yang seorang perjaka dari kehidupan sebelumnya.
Tepat ketika Vino mengambil tas di atas kasurnya dan ingin keluar dari kosan.
Sebuah nada dering panggilan telepon berbunyi dari kantung celananya.
"Vonia?"
Melihat ponselnya, sebuah panggilan masuk dari Vonia ditampilkan di layar.
Tanpa banyak berpikir panggilan Vonia diangkat dan ponsel didekatkan ke telinganya, dan Vino berkata, "Halo, sayang. Ada apa meneleponku?"
"Sayang, aku ingin ikut denganmu!!"
Suara Vonia yang nyaring dan hampir melengking meletus dari lubang pengeras suara ponsel, sedikit membuat telinga Vino sakit.
Mengusap telinga kanannya, Vino kembali mendekatkan ponselnya seraya menjawab, "Oke, kamu siap-siap sekarang, aku akan menjemputmu."
"Baiklah, aku akan bersiap."
Vonia menyetujui suruhan Vino, tak lama panggilan tersebut berakhir, sengaja ditutup oleh Vino agar wanita ini cepat bergerak melakukan persiapan.
Sehabis mendapatkan telepon dari Vonia, kaki Vino kembali melangkah, keluar dari kamar dan menguncinya dengan benar.
Sangat tidak enak menjadi pria yang tak memiliki uang.
Vino melihat saldo rekeningnya masih sedikit, pekerjaan ini memang cepat mendapatkan uang, tetapi tidak secepat apa yang dibayangkan.
Terlalu banyak membaca novel Sistem kekayaan membuat Vino kecewa dengan harapannya sendiri.
"Semoga saja Sistem bisa memberikan aku kekayaan banyak yang instan," kata Vino penuh harapan di matanya.
__ADS_1
Menggelengkan kepalanya, Vino meninggalkan rumah kosan dan pergi menuju jalan raya besar di depan gang.
Sosok Vino yang rapi dan tampan mengenakan jaket hitam serta celana hitam membuat semua wanita yang berpapasan teralihkan perhatiannya.
Mau tua ataupun muda, setiap wanita yang melihat wajah Vino pasti menjadi berdenyut cepat jantungnya, seolah jatuh cinta datang setelah sekian kalinya.
Tidak memedulikan hal itu, Vino berjalan cepat menuju ke rumah Vonia yang jaraknya sekitar hampir 2 kilometer dari tempat kosannya.
Terbilang jauh, tetapi bagi Vino tak begitu terasa karena dia memesan ojek online.
"Antar saya ke Jalan Rawa Kelinci, Bang." Tepuk bahu sopir ojek online sambil menaiki sepeda motornya.
Sopir ojek memberikan tanda jempol dan helm.
Setelah melihat Vino berhasil memasang helm, sopir ojek menarik gas dan melaju cepat ke tempat tujuan Vino.
Setibanya di kosan Vonia, helm yang dikenakan Vino diberikan kepada abang tukang ojek, kemudian memberikan uang sebesar 30 ribu rupiah, lebih 10 ribu sebagai tip atau imbalan atas kebaikan dan keramahtamahan sopir terhadap pelanggan.
"Terima kasih, Mas!"
"Ya, hati-hati di jalan."
Abang ojek sepeda motor itu pergi meninggalkan Vino di depan kosan Vonia sendirian.
Berdiri di depan pintu, Vino mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar kosan Vonia.
Tok! Tok! Tok!
Setelah suara ketukan terdengar, sebuah suara dari seorang wanita muncul di dalam kamar.
"Tapi —"
"Tidak apa-apa."
Segera Vino membuka kamar Vonia dan melihat sesosok wanita cantik dengan pakaian rapi sedang duduk di atas kasur sambil memegang cermin.
Wanita itu adalah Vonia, dia sudah mengenakan pakaian kaus biru muda lengan pendek dan celana jeans, terlihat sangat cantik dan cerah.
Melirik Vino yang masuk ke dalam kamar, Vonia meminta dia untuk menutup pintu dan duduk di sampingnya.
Tangan Vonia meletakkan lipstick di kotak riasan, menatap Vino di sebelahnya dan bertanya, "Ada apa dengan di sana sampai kamu mendadak pulang?"
"Sesuatu telah terjadi pada orang tuaku, dia memintaku untuk pulang sekarang," jawab Vino sambil memandang dua buah pepaya Vonia yang besar.
Mengetahui arah pandangan mata Vino, kedua tangan Vonia memegang kepala Vino dan ditarik hingga masuk ke belahan buah pepaya.
Vino yang mencium sesuatu yang kenyal dan lembut terpana untuk beberapa saat, kemudian tangannya menyambar benda bulat tersebut dan meremasnya.
"Nakal!" Kata Vonia sedikit mencubit pinggul Vino.
Menahan rasa sakit dari cubitan Vonia, tangannya makin berulah, sengaja masuk dari bawah baju untuk berkontak fisik langsung dengan sesuatu yang lembut.
__ADS_1
Vonia akhirnya tidak berbuat apa-apa, dia melanjutkan memakai riasan di saat Vino memainkan buah pepayanya.
"Apakah ada sesuatu yang buruk pada orang tuamu?"
Kepal Vino bergeleng beberapa kali. "Tidak tahu. Maka dari itu, aku ingin pergi ke sana sekarang. Mudah-mudahan saja tak ada hal yang buruk."
"Semoga saja." Vonia mengangguk sambil mengecek riasan tipisnya dari cermin. "Um, apakah aku tidak masalah ikut denganmu ke sana? Bagaimana kalau orang tuamu menganggapmu sebagai pacar?"
Melepaskan isapan di buah pepaya, Vino duduk tegak menatap Vonia di depannya dan memiringkan kepalanya. "Bukannya itu bagus?"
"Eh ... aku masih takut dan malu." Vonia menundukkan kepalanya sambil menutupi kembali buah pepayanya yang besar.
Dengan perasaan gemas dan sayang, Vino mengangkat tubuh Vonia dan meletakkannya di atas pangkuan, kemudian berkata dengan suara yang lembut, "Tidak perlu takut, mereka pasti menerima kamu. Intinya, kamu harus memperlihatkan sikap baik dan ramah tidak lupa dengan kesopanan ketika berkunjung. Aku yakin mereka akan senang denganmu sebagai calon."
"Um ... aku paham." Vonia memeluk Vino dan mencium pipinya.
Tanda tipis bergambar bibir tercetak di pipi putih Vino, hal itu membuat Vonia terkejut dan menutup mulutnya sebelum tertawa.
"Haha, pipimu ada tanda ciuman!" Jari Vonia menekan pipi Vino yang terdapat cetakan bibir.
Vino dengan cepat menghapus tanda itu di pipinya, tiba-tiba menyambar mencium dahi Vonia dengan hati yang gemas.
"Makan ciuman brutalku!"
"Ih, curang!"
Mereka berdua bercanda bersama selagi ada waktu beberapa menit sebelum pergi ke stasiun kereta api.
Jurusan kerta yang mereka naiki adalah jurusan Garut, rumah orang tua Vino ada di daerah itu.
Rata-rata waktu tempuh perjalanan kisaran 5 jam, bisa saja lebih dan bisa kurang dari perkiraan.
Kereta mereka berdua berangkat di jam 8 pagi dan akan tiba di jam 1 siang.
Kemungkinan besar mereka akan pulang malam.
Di kereta ekonomi yang terkenal murah ini, mereka berdua menjadi perhatian orang-orang yang melewati kursinya, penampilan Vino yang tampan dan Vonia yang cantik membuat semua orang terpesona dan tertarik untuk terus melihat sosok keduanya.
Vino dan Vonia mengabaikan mata semua orang, mereka fokus melihat layar ponsel Vino yang kecil untuk menonton film.
Ponsel Vino belum diganti karena belum sempat untuk beli.
Mereka berdua selama beberapa jam di sana, dengan sabar menunggu kereta sampai di stasiun kereta api tujuan.
Beberapa hal mereka lakukan, dari bermain gim bersama, menonton film, bercerita, dan tidur sejenak. Upaya itu dilakukan agar tidak bosan.
Tepat di jam setengah 2 siang, Vino dan Vonia sampai di sebuah desa di dekat Kota Garut, masih banyak persawahan dan lahan kosong.
Baru saja mereka berjalan di jalan yang hanya muat untuk satu mobil, seorang wanita yang terlihat sedikit tua berdiri di depan rumah.
Begitu Vino melihat ini, dia tiba-tiba berlari ke arah wanita tersebut lalu memeluknya.
__ADS_1
Air mata mengalir dari pipi Vino, dia benar-benar memeluk erat wanita tersebut.
"Siapa kamu?! Mengapa tiba-tiba memelukku?!"