Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 22: Kebingungan Pertama Vino


__ADS_3

"Aku tidak tahu ... pertanyaanmu benar-benar sulit untuk aku jawab sekarang," jawab Vino dengan wajah yang rumit.


Alih-alih marah mendengar jawaban langsung dari Vino, sebuah sentuhan hangat datang di dagu Vino disusul dengan gerakan Kim Lanly yang Vino perhatikan perlahan duduk di atas pangkuannya.


Tubuh Vino tidak menentang dan menerima semua tindakan Kim Lanly kepadanya.


Berikutnya, ciuman lembut mendarat di bibir Vino dengan perasaan yang berbeda.


Jika pertama kali mereka berciuman terasa senang dan gembira, ciuman di kesempatan kali ini terasa menyedihkan dan pasrah.


Tak ada gairah yang memuncak, hanya ada perasaan sedih dari gerakan bibir Kim Lanly.


Vino yang merasakannya ikut merasakan apa yang Kim Lanly rasakan.


Sayangnya, Vino tetap tidak bisa memutuskan secepat ini. Hubungan cinta bukan suatu drama atau permainan. Cinta bukan untuk dimainkan.


Pasalnya, perasaan cinta yang dimain-mainkan akan membuat masa depan tidak berjalan dengan baik.


Akan banyak sekali masalah yang datang dan itu sangat-sangat sulit untuk diselesaikan karena ada hubungannya dengan kata "Karma" atau "Pembalasan" yang datang karena bermain-main dengan cinta.


Untuk saat ini, Vino berpikir seperti itu. Vino menginginkan cinta pertamanya indah dan tidak berakhir dengan suatu hal yang menyakitkan.


"Aku mengerti. Ini memang begitu cepat. Namun, aku akan tetap menunggu sampai kamu menjawabnya. Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu sudah masuk ke dalam hatiku dan aku sama sekali tidak akan membiarkan kamu lepas begitu saja," kata Kim Lanly dengan sorot mata yang serius dengan pupil mata yang bergerak ke kedua mata menawan Vino.


Helaan napas terdengar di telinga Kim Lanly, mata Vino fokus ke mata Kim Lanly dengan ekspresi wajah yang berat.


"Lanly, kamu tahu apa pekerjaanku sekarang, kan? Pekerjaan ini mungkin tak bisa aku lepaskan dalam waktu yang singkat. Apakah kamu masih mau menjadikan aku pasanganmu sedangkan aku tetap berkerja seperti ini?"


"Kamu keluar dari pekerjaan ini dan berhenti menjadi pacar sewaan lagi. Memangnya tidak bisa?"


Kim Lanly belum sepenuhnya menyimak kata-kata Vino yang keluar barusan.


Dengan kesabaran dalam hatinya, Vino tersenyum dan menjelaskan lagi, "Tidak bisa, sama sekali tidak bisa untuk sekarang. Mungkin di tahun depan aku belum tentu sudah keluar dari pekerjaan yang aku lakukan ini, terlalu rumit dan rahasia untuk aku perjelas lebih dalam lagi. Pada intinya, aku tidak bisa berhenti dari pekerjaan ini karena sesuatu yang tak bisa kamu berhentikan. Tidak peduli dengan orang tua kamu yang kaya, itu sulit untuk membuatku berhenti dari pekerjaan sekarang karena ada sesuatu yang sulit untuk digapai."


Sistem tidak ada yang bisa menghalanginya. Vino sudah terikat dan tak bisa melepaskan Sistem yang sudah ada dalam dirinya. Jika melawan, Vino juga tidak tahu bagaimana melawannya karena wujud Sistem saja tidak ditampilkan secara fana.


Tidak tahu juga kapan Sistem membuatnya terus berpura-pura berpacaran dengan banyak wanita ini. Tak dijelaskan juga kapan dia akan pensiun dan tidak digunakan lagi.


"Aku paham, ada sesuatu yang memaksamu yang bahkan aku dan keluargaku saja tidak bisa menahannya. Kuharap yang kamu sebut 'Sesuatu' itu bukan hatimu sendiri," kata Kim Lanly sambil tersenyum.

__ADS_1


Senyum yang ditunjukkan Kim Lanly terasa berbeda, ada perasaan sedih yang tersirat.


Vino memeluk tubuh Kim Lanly dan mendekatkan wajahnya secara bersama.


Keduanya terlihat sangat romantis dan panas sekarang.


"Dengarkan aku baik-baik, aku berjanji akan memberikan jawabannya secepat yang aku bisa. Jika kamu ingin menunggu aku sangat bersyukur, dan memang kamu tak kuat, aku sama sekali tidak menyesal. Ini bukan masalah hati, ada sesuatu yang lebih rumit. Aku meminta pengertianmu," terang Vino dengan wajahnya begitu dekat dengan wajah Kim Lanly.


Sementara itu, Kim Lanly menjadi meleleh dihadapkan dengan wajah tampan dan selembut ini terlalu lama. Jadi, dia mencoba melunak dan memilih untuk mengalah.


Sebenarnya, pernyataan Vino sangat jelas dipahami oleh Kim Lanly, tetapi keegoisan di dalam hatinya yang membuat dirinya sulit untuk menerima penjelasan Vino.


Sekarang dia sudah sungguhan mengerti.


"Vino," panggil Kim Lanly dengan suara yang lembut.


Alis Vino terangkat sebelah, dan menyahut, "Ya, kenapa?"


"I love you."


Setelah melontarkan kalimat tersebut dari hati yang terdalam, Kim Lanly mencium Vino sekali lagi dengan gairah yang melonjak.


Setelah beradu mulut itu selesai, Vino berkata dengan suara yang lembut, "I love you too."


Kim Lanly memeluk Vino dengan perasaan yang tak ingin dilepaskan.


Kedua tangannya memeluk leher Vino begitu erat, seolah menunjukkan suasana hatinya saat ini.


Pelukan dari Vino membuat Kim Lanly makin tidak mau melepaskan pelukan ini. Kalau memang bisa, Kim Lanly ingin dirinya terus melekat bersama Vino selamanya.


Sayang sekali, itu terlalu menyeramkan untuk dibayangkan.


Mereka tidak bisa berlama-lama di luar karena suhu makin dingin, keduanya masuk ke hotel dan pergi ke dalam kamar masing-masing dengan perasaan yang tak bisa diucapkan.


Pertama kalinya Vino bisa tidur di hotel sebagus ini, dia menikmati perasaan berada di dalam kamar hotel sembari memikirkan tentang pernyataan cinta Kim Lanly di taman.


"Kupikir ini akan menjadi terlalu rumit," gumam kecil Vino terbaring di atas kasur memandang ke atas langit-langit ruangan.


Kalimat terakhir Vino sebelum mandi dan tidur.

__ADS_1


Pada pagi buta esok harinya, mereka berdua keluar alias Check-out dari hotel dengan terburu-buru, cahaya Matahari saja belum terlihat sepenuhnya dan masih ada gelap di langit.


Alasan mereka pergi lebih awal karena mengejar waktu mereka bersenang-senang karena di jam delapan nanti Vino pergi, durasi waktu sewa selesai.


Sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Vino kemarin, keduanya bersenang-senang di jam-jam terakhir bersama.


Mereka pergi ke pantai selama setengah jam berdiri di sana, dilanjutkan dengan naik taksi hingga tiba di Kota Seoul lagi.


Di Kota Seoul, mereka hanya berjalan-jalan di trotoar mengobrol dan menikmati menghabiskan waktu bersama, sesekali membeli beberapa makanan yang sudah buka di pagi hari, kemudian ke taman kota untuk melihat pemandangan indah.


Waktu berjalan begitu cepat, mereka akhirnya berhasil untuk menghabiskan waktu bersama dengan baik.


Namun, di saat Vino ingin mengantarkan Kim Lanly kembali ke apartemennya, di perjalanan dia dihadapkan oleh banyak pengawal keluarga Kim Lanly.


[Ding! Pesanan berhasil diselesaikan!]


[Anda diperbolehkan pergi dan menunggu pesanan berikutnya datang.]


Mendengar pemberitahuan dari Sistem, Vino tahu apa yang harus dilakukan.


Mengabaikan pengawal yang menghalangi mereka berdua di jalan, pandangan mata Vino beralih ke wajah Kim Lanly.


"Sudah waktunya aku pergi," Vino berkata dengan senyum terindah bagi Kim Lanly.


Wajah Kim Lanly kecewa pada awalnya, kemudian dia tersenyum dan menerima. "Baiklah, aku akan menunggu kamu datang lagi. Jaga kesehatan dan tubuh kamu baik-baik, ingat untuk tidak menyakiti hati perempuan."


"Pasti!" Vino mengangguk tegas. "Kalau begitu, aku pergi sekarang. Tetap semangat dan jangan menyerah. Juga ...."


Tangan Vino membentuk isyarat telepon. Hal ini langsung dimengerti oleh Kim Lanly.


Vino tersenyum lebar lalu melambaikan tangannya sembari berjalan menjauh di bawah tatapan Kim Lanly dan pengawalnya.


Mereka semua melihat Vino bergabung dengan ramainya orang-orang di jalan dan menghilang sepenuhnya.


Pengawal Kim Lanly baru berani mendekati Kim Lanly karena dia masih ingat jelas dengan tendangan Vino.


Di dalam gang sempit antara bangunan gedung, sosok Vino menghilang dan kembali ke rumah.


[Ding! Misi Sewa Berhasil Diselesaikan! Silakan memilih satu hadiah permanen!]

__ADS_1


__ADS_2