
Melihat moncong pistol diarahkan ke dadanya, reaksi waspada muncul, kemudian Vino tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya.
"Santai, tenang, aku tidak akan berbicara banyak lagi," kata Vino dengan nada suara yang stabil. Tak ada rasa takut di tubuhnya.
Menarik moncong pistolnya, Alex menyimpan pistolnya kembali ke dalam jaket.
Mata Vino bergerak ke pistol yang dimasukkan Alex ke jaketnya, senyuman aneh terukir sesaat di mulutnya.
"Sayang, kamu ingin makan apa di sana?" tanya Vino pada Fransisca seperti seorang pacar sungguhan.
Kepala Alex hendak bergerak melihat Vino, tetapi tidak jadi saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Vino.
Menoleh melihat wajah Vino, senyum manis terbentuk dan Fransisca menjawab, "Aku ingin memakanmu di sana, di depan bos mereka."
Kalimat pernyataan Fransisca memasuki telinga Alex dan pria botak, urat di leher mereka menonjol kuat dan darahnya melonjak ke kepala.
"Bajingan! Apa yang kamu bilang?!"
Kedua pria ini secara bersamaan mengarahkan ujung pistol ke Vino dan Fransisca, wajah mereka yang menyeramkan menjadi lebih ngeri.
Mata mereka memerah seperti diteteskan cat merah.
Sebelum mereka bereaksi, kedua tangan Vino bergerak cepat dengan teknik seni bela dirinya.
Bug! Bam!
Pukulan keras mendarat kedua tangan pria tersebut, mengincar titik lemah yang membuat cengkeraman tangan mereka mengendur.
Tangan Vino bergerak ke bawah, mengambil dua pistol tersebut dengan cepat, gerakannya mengalir begitu saja seakan sudah terbiasa.
Ciitt!
Mobil yang dikendarai pria botak itu melenceng dan hampir terguling.
Dengan cekatannya, pria botak menekan rem untuk memberhentikan mobilnya sebelum kendalinya benar-benar hilang.
"Fiuh!"
Kedua pria itu menghela napas lega setelah melihat mobilnya berhenti.
Namun, wajah mereka berdua berubah saat mendengar bunyi yang keras.
Dor! Dor! Dor!
Bunyi tembakan beberapa kali terdengar dalam waktu beberapa detik saja.
Hampir bersamaan keduanya melirik ke belakang dan melihat Fransisca dan Vino menghilang, padahal pintu sudah terkunci.
__ADS_1
Alex dan pria botak tidak mengerti bagaimana caranya mereka bisa kabur.
Ciett!
Suara ban mobil yang terseret di jalan aspal dan meninggalkan jejak hitam bau terbakar muncul di depan tatapan Vino.
Empat mobil terlihat menepi di jalan dengan ban yang berasap, posisi mobilnya sangat berantakan seolah habis tabrakan.
Vino meniup dua pistol di tangannya, menghilangkan jejak asap yang keluar dari moncong pistol.
Berdiri di belakang Vino, mata Fransisca membulat dengan kejutan di wajahnya.
Apa yang sudah ia lihat sangat mengejutkannya.
Pistol di tangan Vino pegang mengeluarkan peluru yang melesat tepat mengenai ban semua mobil milik kartel.
Dengan beberapa peluru di kedua pistol, tembakan Vino sangat akurat untuk melumpuhkan semua mobil kartel hingga berhenti.
Namun, yang membuat Fransisca terkejut adalah bagaimana caranya Vino membawanya keluar dari mobil.
Saat dirinya berkedip, Vino dan dirinya ada di tepi jalan menghadap mobil kartel yang meluncur cepat di jalan.
Sebuah pemandangan Vino menembak mobil kartel dengan epik terjadi begitu cepat, hal itu membuat otaknya tak bisa mencerna dengan baik.
Tatapan Vino jatuh pada mobil-mobil hitam yang berhenti di tengah jalan tak beraturan.
Ban mobil pecah dengan satu kali tembakan, membuat belakang mobil kehilangan kendali dan berhenti.
Melihat mereka semua ingin keluar dari mobil, Vino berbalik dan berniat untuk pergi.
"Ayo pergi!" Vino menarik tangan Fransisca, kemudian mengaktifkan kemampuan teleportasinya ke suatu tempat.
Cahaya putih muncul sekilas menyelimuti mereka berdua, kemudian menghilangkan mereka di tempat.
Saat ini, Alex dan pria botak keluar dari mobil dengan wajah yang geram.
Ketika melihat mobil mereka semua oleng dan ban mereka pecah, dada Alex kembang kempis bagai pompa ban.
Pria botak itu buru-buru memeriksa temannya di dalam mobil karena melihat ada sesuatu yang tak biasa di dalam mobil.
Benar saja, beberapa temannya terlihat sangat tidak baik karena darah mengalir dari tubuh mereka. Wajah pria botak itu menjadi panik dan dia buru-buru memanggil Alex untuk meminta bantuan.
"Alex! Telepon markas! Kita butuh orang untuk membawa mereka kembali!!"
Alex telah melihat kondisi semua teman-temannya langsung mengangguk, kemudian menelepon orang markas untuk meminta bantuan.
"Sialan! Bagaimana mereka bisa lolos?! Bukankah pintu sudah tertutup rapat dan rapi?!" Alex benar-benar tidak bisa menebak bagaimana mereka berdua bisa keluar dari mobil.
__ADS_1
Tidak ada kerusakan pada pintu mobil belakang, bahkan kaca jendela pun tidak dibuka.
Melihat Alex yang marah setelah memanggil bantuan, tangan pria botak mengambil batu di atas aspal dan melemparkannya ke kaki Alex, kemudian berkata, "Kamu masih ingat dengan apa yang pamanmu katakan?"
"Pamanku? Dia bukan pamanku!" Alex protes dengan wajah yang gusar. "Jelas-jelas dia pria tua yang suka ke rumahku untuk makan."
"Aku mengingat salah satu ucapannya, pria Asia memiliki banyak budaya yang mengandung mistis. Kemungkinan pria itu berasal dari Asia, orang di sini wajahnya tak seperti itu meski ada beberapa titik mirip wajah orang barat," terang pria botak dengan kulit yang kusam.
Wajah Alex menjadi stagnan. Ia sendiri ingat dengan ucapan pria aneh itu, memang benar perkataannya.
"Sudah-sudah, tidak mungkin mereka memakai teknik mistis." Alex menggelengkan kepalanya, ia menahan rasa takut di dalam hatinya.
Tempat mereka berada ada di tengah jalan yang sepi dan gelap, sisi kiri dan kanan banyak pepohonan.
Keduanya memeluk tubuh sendiri, merasa kedinginan, berusaha mencoba untuk tidak takut.
Pada saat yang sama, tepat di jam 12 siang waktu Indonesia, sosok Vino dan Fransisca muncul di kamar kosan yang cukup rapi.
Melihat ruangan kecil yang sangat padat oleh barang, Fransisca cukup bingung, kemudian menatap Vino seraya bertanya, "Kita ada di mana?"
Merasa malu dengan kediamannya, Vino tersenyum canggung dan membalas, "Ini tempat tinggalku di Jakarta."
"Sungguh?! Bagaimana kita bisa ke sini?!"
Fransisca sangat kaget mendengar jawaban Vino, matanya terbelalak sambil memandangi seluruh ruangan kecil ini.
Apa yang dikatakan Vino kemungkinan besar adalah benar, ini berbeda dengan di Kota New York.
Barang-barang kecil di sini pun ada beberapa yang tidak ada di tempat tinggalnya.
Jelas, ini ada di luar negeri.
Namun, bagaimana caranya mereka berdua bisa ke sini dalam satu kedipan mata? Sangat membingungkan Fransisca.
Vino melirik Fransisca sesaat, duduk di atas kasur dan bersantai sambil merilekskan tubuhnya.
Mengambil dua pistol di kantung jaketnya, Vino berkata, "Ada sebuah rahasia yang harus aku ungkapkan kepadamu."
Salah satu pistol di tangannya diberikan kepada Fransisca yang juga ikut duduk di sebelahnya.
Tangan Fransisca menangkap pistol tersebut, lalu disimpan di bagian belakang tubuhnya, matanya tetap terpaku pada wajah tampan Vino.
"Apa yang kamu lihat sekarang," ucap Vino yang mendadak melakukan teleportasi tepat di tengah ruang kamar, "adalah sebuah kemampuan spesialku, aku bisa teleportasi ke mana saja yang aku mau."
Setelah mengatakan itu, Vino kembali ke atas kasur lalu terbaring tersenyum di bawah tatapan terkejut Fransisca.
"Kamu bercanda, kan?"
__ADS_1