
Mata Vino menjadi lesu mendengar perkataan ayahnya yang nyeleneh dan ke mana-mana.
"Ayah, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, apakah kamu memiliki keinginan untuk menikahi istri kedua?!" tanya Vino dengan mata yang serius penuh.
Seketika wajah ayah Vino menjadi melebar, dan dia berdiri dari duduknya untuk melihat istrinya yang ada di dapur bersama Vonia.
"Sutt!" Ayah Vino mengisyaratkan Vino untuk diam. "Jangan mengatakan itu kencang-kencang, ibumu pasti akan berubah menjadi macan jadi-jadian kalau tahu."
Vino diajak ayahnya ke luar rumah dan berdiri di sana.
Mereka berdua disuguhkan pemandangan malam di desa yang sunyi dan sepi, hanya ada suara serangga yang berbunyi dan cukup bising.
"Ayah, aku tidak tahu kamu mendapatkan ide itu dari mana, aku harap kamu tidak benar-benar ingin menikahi istri kedua. Poligami itu tidak boleh ayah. Lagi pula, untuk menikahi seorang wanita butuh dana yang besar dan belum lagi menafkahinya setelah menikah, harus menyediakan uang banyak. Paling tidak, ayah harus memiliki penghasilan tetap," tegur Vino dengan intonasi yang lembut dan enak didengar.
Ucapan Vino jelas didengarkan oleh ayahnya karena sikapnya menjadi diam. Tampaknya ayah Vino tengah termenung dan memasuki pikirannya sendiri sambil berdiri.
Melihat ayahnya yang diam dengan pandangan mata ke arah bawah, Vino menggelengkan kepalanya tak tahu harus mengatakan apa lagi tentang masalah ini.
Jujur saja, pria memiliki sifat binatang yang sulit dikuasai atau dikendalikan. Namun, bukan berarti kita sebagai wanita memaklumi sifat binatang tersebut.
Sekali kita ini adalah manusia dan bukan binatang, adanya akal di otak kita merupakan tanda bahwa kita tidak sama dengan binatang dan hewan.
Vino tidak mau ayahnya sendiri menjadi seorang pria yang tak bertanggung jawab.
Menikahi seseorang bukan sekadar meminangnya begitu saja. Ada sebuah tanggung jawab yang besar setelah perayaan kebahagiaan tersebut.
Pernikahan tidak hanya sekadar persoalan cinta, melainkan tentang bagaimana caranya hidup berdua bersama sampai tua dengan kisah yang indah.
Menatap pemandangan hening dan gelap di depannya, Vino menunggu ayahnya sadar dari renungannya sendiri.
Tap!
Tepukan bahu terdengar di telinga Vino, dan menemukan ayahnya memegang bahunya dengan satu tangan, dia berdiri di sebelah kanan Vino, memandangi keindahan yang sama.
Embusan napas panjang keluar dari mulut ayah Vino. Bisa didengar Vino bahwa ada sesuatu beban yang dikeluarkan dari helaan napas tersebut.
__ADS_1
Menoleh untuk menatap anaknya, ayah Vino berkata, "Ayah mengerti, Vino. Tidak seharusnya ada sebuah keinginan seperti itu pada diri ayah. Maafkan ayah sudah berpikir yang tidak-tidak."
"Tidak mengapa, Ayah. Berikutnya kamu tak boleh seperti itu. Kasihan ibu, dia pasti lelah mengurusi rumah tangga, dan ayah juga pasti capek. Setidaknya, ayah jangan menambah beban lagi bagi keluarga ayah sendiri. Vino akan membantu keuangan keluarga, kalau ada uang lebih, Vino akan merenovasi rumah atau mungkin membeli rumah baru di kota," tutur Vino dengan senyum lega di bibirnya.
Vino senang ayahnya mudah untuk kembali lurus. Meskipun konteks ucapan ayahnya hanyalah sebuah candaan, tetap saja itu ada peluang candaan tersebut menjadi serius lalu berubah menjadi kenyataan.
Tidak ubahnya seorang geh, di mana mereka pada awalnya bercanda, gejala-gejalanya seperti itu. Sehabis itu, mereka akan terbawa suasana dan lelucon tersebut dijadikan sebuah tindakan nyata.
Terdengar mengerikan kalau memang terjadi pada ayahnya sendiri. Sebuah candaan berevolusi menjadi kenyataan.
"Terima kasih, Nak. Ayah paham sekali maksud kamu." Ayah Vino membalas senyum dan menghentakkan bahu Vino.
Gerakan seorang ayah dalam merangkul ayahnya pasti ada hentakkan agar terasa lebih dekat.
Setelah obrolan malam itu, mereka berdua kembali ke dalam rumah, di sana sudah ada Vonia bersama ibu Vino yang baru keluar dari ruang dapur.
Ibu Vino dan Vonia terheran melihat ayah Vino dan Voni masuk ke dalam rumah, mereka bertanya-tanya habis ke mana kedua pria ini.
"Sayang, dari mana kamu tadi? Beli rokok lagi?" tanya ibu Vino dengan curiga. "Jangan bilang kamu mengajari Vino untuk merokok, ya?"
Dengan cepat ayah Vino menggelengkan kepalanya dan menyanggah, "Tidak, aku dan Vino hanya mengobrol tentang bisnis."
"Bukan, bisnis belut goreng. Rencananya Vino akan memberikan modal dan ilmu tentang membangun usaha kecil."
Ayah Vino buru-buru memberi tahu hasil obrolan yang lain dengan Vino.
Mereka berdua memang sempat membicarakan tentang bisnis. Jadi, Vino akan membiayai kedua orang tuanya dalam berbisnis.
Rasa belut goreng yang dibuat ibunya lumayan enak dan berpotensi untuk dijual.
Mendengar ucapan suaminya, ibu Vino tertegun beberapa saat. "Kamu yakin ingin berjualan? Siapa yang mau beli?"
"Pasti ada yang beli, kita akan menjualnya melalui media sosial," celetuk Vino dengan yakin.
Ada sebuah rencana yang Vino buat tentang bisnis ini agar ramai.
__ADS_1
Vino memiliki kepastian yang tinggi dengan rencananya ini akan berhasil dan sukses dalam mengembangkan bisnis.
Semoga saja semua rencananya berjalan dengan baik.
Berbincang di malam hari sampai jam 9 malam, mereka berempat pergi ke dua ruang kamar yang berbeda.
Ayah dan Vino ke ruang kamar tidur bekas Vino masih sekolah, sedangkan ibu dan Vonia tidur di kamar tidur orang tua Vino.
Mustahil Vino diizinkan untuk tidur satu kasur dengan Vonia. Padahal, Vino dan Vonia sudah melakukan hal itu.
Keesokan harinya, di pagi buta, mereka berdua telah berangkat menuju stasiun terdekat dan membeli tiket menuju Kota Jakarta untuk pulang.
Perpisahan berlangsung dengan tangisan dari ibunya yang cukup berat berpisah kembali dengan anaknya yang tampan.
Ibunya merasa kehilangan seorang model hebat, dia menjadi tak bisa pamer dengan tetangganya bahwa anaknya tampan.
Namun, sudah ada banyak cadangan foto Vino yang dijepret oleh ibunya, itu akan menjadi bahan pamer dalam jangka panjang.
Tidak tahu harus berkata apa dengan keluarganya, mereka unik, dan Vino sendiri juga tak ada bedanya.
Di siang harinya begitu Vino sampai di Jakarta dan sudah mengantarkan Vonia ke kosannya, Vino buru-buru pergi menuju ke rumah seseorang.
Perbedaan bisa Vino rasakan dalam dua hari ini, Sistem tidak mengeluarkan pesanan sama sekali.
Biasanya, sistem akan memberikan pesan sewa di pagi hari, tetapi kemarin dan hari ini tak ada pemberitahuan sama sekali tentang pesanan sewa.
Terasa hampa rasanya. Untungnya, Vino ingat bahwa dia punya tugas untuk mengajari seni bela diri Muay Thai ke dua orang yang pernah berseteru dengannya.
Sekarang Vino berada di perjalanan menuju ke rumah Geri, salah satu muridnya yang sudah ingin sekali bisa melakukan seni bela diri.
"Terima kasih, Bang."
Vino menepuk bahu mas ojek yang mengantarkannya ke rumah Geri sambil menyerahkan uang 50 ribu rupiah.
"Terima kasih juga, Mas." Sopir ojek itu mengangguk dan tersenyum gembira. Ada kembalian 25 ribu, dan itu untuk sopirnya.
__ADS_1
Setelah melihat ojek itu menghilang, Vino berdiri di depan gerbang besar dan memandangi rumah mewah dengan saksama.
"Sial, Geri ternyata orang kaya. Kalau tahu begitu aku minta lima juta rupiah dalam sekali latihan."