
Di sebuah restoran cepat saji, mereka bertiga duduk bersama dengan makanan di atas meja.
Vino dan Monika menatap wanita yang hendak bunuh diri ini dengan pandangan hati-hati.
Sosok wanita ini masih sangat malu-malu, perasaan canggung masih bisa keduanya rasakan dari wanita ini.
Tubuh wanita ini cukup berisi, sedikit aneh jika wanita ini bunuh diri. Keperluan perut tampaknya bisa terpenuhi.
Kemungkinan untuk mengakhiri diri karena alasan ekonomi lebih kecil, ada alasan lain yang lebih kuat.
Melihat wanita ini masih menundukkan kepalanya tidak berani menatap mereka berdua. Mereka berdua saling memandang, untuk berdiskusi dalam diam, dan Vino mengangguk mengerti memahami arti tatapan mata Monika.
Menangkupkan tangan di meja, Vino menatap wanita ini dengan senyuman di wajahnya, bertanya dengan suara yang ramah, "Bolehkah aku mengetahui siapa namamu?"
Ada keheningan sesaat, wanita itu diam untuk beberapa detik, menjawab dengan suara yang sedikit gagap, "Ak–aku ... namaku Sarah."
"Sarah? Nama yang bagus." Vino mengangguk dan masih tersenyum. "Bisakah kamu melihat wajahku? Apakah aku terlihat aneh?"
Permintaan Vino tidak langsung dijawab, wanita ini menggosokkan kedua kakinya dengan malu-malu sembari berpikir di hatinya.
Monika mengulurkan tangannya untuk mencubit tangan Vino, wajahnya tampak sangat cemburu dengan bibir menekuk.
Serangan tiba-tiba ini membuat Vino terkejut, kemudian dia menatap Monika dengan menyipitkan matanya.
"Kata orang-orang wajahku aneh, apakah itu benar? Apakah kamu bisa menolong aku dengan memeriksa wajahku?" Vino meminta tolong kepada Sarah.
Dengan kalimat permintaan Vino yang terlontar untuk kedua kalinya, Sarah memberanikan diri untuk menatap wajah Vino secara langsung.
Sarah duduk di kursi sebelah Vino, begitu mengangkat kepalanya, dia langsung menemukan wajah dari seorang pria muda.
Untuk kedua kalinya wajah tampan ini hadir di dalam penglihatan Sarah. Wajah yang ada di depannya adalah wajah pria yang ia peluk barusan dan yang menggendongnya dengan gaya romantis.
Tidak ada keanehan pada wajah Vino, melainkan cuma ada ketampanan dan pesona yang luar biasa.
Membayangkan kejadian barusan, pikiran Sarah menjadi dipenuhi wajah Vino.
Kedua pipi Sarah yang sedikit gembul dengan cepat memerah dan memanas sampai mengeluarkan asap.
Senyuman Vino membuat Sarah lupa dengan segalanya, seolah-olah hanya ada wajah Vino di dunia ini.
Melihat kesempatan ini, Vino mengambil kentang goreng dan mengarahkannya ke mulut Sarah.
Tanpa disadari Sarah mengigit kentang goreng yang diberikan Vino sampai habis.
"Kamu cantik, tetapi wanita secantik kamu memiliki keinginan untuk pergi," kata Vino dengan wajah yang berubah menjadi sedih sambil menatap makanan.
__ADS_1
Dalam sekejap, pembicaraan ini tidak lagi membahas wajah Vino yang aneh.
Wajah Sarah berubah, dia kembali menundukkan kepalanya tanpa niatan ingin memakan makanan yang telah dipesan di atas meja sekarang.
Monika melotot ke arah Vino dan memberi gestur meminta Vino menyuapi dirinya seperti yang dilakukan kepada Sarah.
Mengerti maksud Monika, satu burger diambil oleh Vino, memakan dengan sedikit gigitan, kemudian diberikan kepada Monika.
Bekas gigitan Vino terlihat jelas pada burger yang dipegang Vino.
Pacarnya sendiri memberinya makanan bekas dimakan. Namun, kecemburuannya ini telah mengalahkan gengsi Monika, dia akhirnya mengigit burger tepat di gigitan bekas Vino.
Vino menahan tawa sambil menarik burger kembali ke depan wajahnya. Membuka mulutnya, Vino juga memakan bekas gigitan Monika.
Pemandangan ini disaksikan oleh Monika dengan jelas, membuatnya tersipu.
"Kamu tahu, Sarah? Aku dahulu juga tidak memiliki apa-apa, bahkan teman pun tidak punya. Aku yang dahulu tidak sebaik yang sekarang. Beruntung, kedua orang tua masih ada dan menyemangatiku untuk tetap hidup. Dengan dukungan mereka, aku menemukan sesuatu yang menjadikan sebuah pegangan untuk bahan bakar semangat agar aku terus hidup dan menghadapi ujian kehidupan yang sulit ini," ucap Vino dengan suara yang dalam.
Kalimat Vino ditelan oleh Sarah dan dicerna baik-baik di dalam pikirannya.
Tidak disangka pria setampan ini punya kehidupan yang sudah, tetapi Sarah skeptis terhadap apa yang dikatakan Vino.
Menurutnya, pria tampan itu punya kehidupan yang mudah dan masa lalu yang indah. Dengan begitu, sosok pria tampan yang ada di sampingnya ini begitu baik.
Vino mengambil kartu identitasnya dan diletakkan di dekat Sarah.
Dengan rasa ingin tahu yang besar, Sarah memutuskan untuk mengambil kartu identitas Vino dan melihat wajahnya di kartu.
Pupil mata Sara terbelalak, tubuhnya sedikit tersentak dengan hati yang tak percaya.
"Namaku Vino Bleki ...."
Ketika Sarah melihat kartu identitas Vino, penjelasan dilontarkan dari mulut Vino agar Sarah percaya.
Ketidakpercayaan di dalam hati Sarah memudar, kartu identitas ini memang milik Vino. Tidak mungkin orang lain bisa tahu identitas seseorang begitu detail dan memang sesuai dengan data kartu.
Monika membantu Vino membenarkan ucapannya. Monika sendiri yang memverifikasi bahwa Vino yang sekarang adalah Vino yang ada di dalam kartu identitas.
Bukti hasil pemeriksaan diberitahukan kepada Sarah yang telah dimakan rasa penasarannya sendiri.
"Kamu percaya sekarang?" tanya Vino sambil mengambil kartu identitasnya yang dikembalikan lagi oleh Sarah.
Terjadi sentuhan ringan di antara keduanya yang sengaja Vino lakukan.
Begitu sentuhan jari mereka terjadi, perasaan nyaman yang tak terhingga membuat Sarah mulai berani melihat Monika dan Vino tanpa dipancing kembali.
__ADS_1
Pada akhirnya, wanita itu mulai terbuka dengan Vino dan Monika, menjelaskan mengapa dia berani melakukan tindakan percobaan bunuh diri.
Alasan terbesarnya karena lingkungan sosial yang tidak sehat, penghinaan fisik di tempat kerja, dan kekerasan seksual.
Benar, kekerasan seksual di tempat kerjanya.
Vino dan Monika tidak menduga Sarah mendapatkan kekerasan seksual, mereka sontak terkejut.
Bukan karena apa-apa, Vino menyelamatkan Sarah dengan cara kontak fisik sampai memeluknya dengan jelas.
Keringat mulai muncul di dahi Vino. Dia takut aksi heroiknya barusan dianggap kekerasan seksual oleh Sarah.
Melihat wajah pucat Vino sekarang, membuat Monika tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Lihat wajahnya! Seperti orang yang ingin BAB! Hahaha!" Monika memegang perutnya dan tertawa.
Sarah melirik wajah Vino yang pucat pasti, seketika merasa kasihan dan curiga.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sarah kepada Vino.
Mendengar pertanyaan Sarah di telinganya, Vino langsung menjawab, "Aku baik-baik saja. Namun, aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu."
"Apa itu?"
"Apakah aku dianggap melakukan kekerasan seksual padamu saat menyelamatkan kamu tadi?"
Tatap Vino pada wajah Sarah yang agak bulat. Ada kepanikan di ekspresi muka Vino.
Mendengar ini Sarah langsung mengerti.
Tersenyum kepada Vino di sampingnya, Sarah menggelengkan kepala.
"Tidak, aku tak menganggap itu kekerasan seksual. Lagi pula itu hanya pelukan dengan tujuan yang baik."
Jawaban Sarah meredakan kepanikan dan kecemasan Vino.
"Kalau begitu, masalah kamu bisa diselesaikan dengan cepat. Monika, dia seorang polisi wanita, kamu bisa melaporkan kasus tersebut ke kantor polisi, aku juga akan membantumu. Namun, kamu harus berjanji ada kita berdua, kamu takkan pernah ingin mengakhiri hidup lagi," kata Vino dengan wajah yang sungguh-sungguh.
Manik mata Sarah bergetar mendengar ucapan Vino, kemudian dia mengangguk kejam. "Aku mengerti, terima kasih banyak!"
Setelah makan siang bersama, mereka bertiga pergi untuk bermain ke Temzon, dilanjutkan pergi ke gym.
"Hahaha, pria kurus ingin menjadi mentor gym! Ada-ada saja beliau ini!"
"Hai, Wanita Cantik! Lebih baik bersama kami saja belajar olahraganya, pria ini tidak ada harapan. Modal tampan saja, tubuhnya kurus kering! Hahaha, Banci!"
__ADS_1