Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 56: Kecanduan


__ADS_3

Vino ingin mengambil hadiah Pisang 30 cm, tetapi untuk sekarang tak begitu diperlukan, ukuran 23 cm saja sudah cukup bagi wanita.


Bukan Vino asap menebak, bisa diketahui bahwa Vonia saja berkali-kali memuntahkan mata air dari tubuhnya saat mereka bertempur.


Oleh karena itu, ukuran pisang dengan sebesar itu tak begitu diperlukan untuk sekarang.


Hadiah yang Vino barusan pilih yang lebih penting.


Tidak tahu mengapa Vino merasakan firasat buruk usai menghajar pria yang datang ke rumah Monika tadi siang.


"Kuharap pria itu tidak datang ke rumah Monika lagi, aku bisa beristirahat dan memulihkan luka di tubuhku," kata Vino bergumam sambil duduk di atas tempat tidur.


Tubuhnya masih ada bekas luka dari pukulan tongkat kayu sapu yang patah, itu tampak biru dan menghijau, menandakan memar yang menempel di kulitnya.


Tangan Vino membuka pakaiannya, dia hendak memeriksa luka-lukanya.


Vino melihat luka-luka memarnya sudah mulai berkurang, tidak begitu nyeri lagi.


Dipikir-pikir lagi mungkin pemulihan luka pada tubuhnya lebih cepat dari orang biasa. Mengingat tubuh Vino beberapa kali lebih kuat dari manusia rata-rata atau normal.


"Rasa sakitnya berkurang," Vino bergumam. "Sebaiknya aku mandi sekarang."


Tepat setelah Vino mengambil handuk dan peralatan mandi, kemudian dia membuka pintu kamar, ada sesuatu keanehan di ujung lorong rumah kosan yang gelap, tempat kamar mandi berada.


Di dalam pandangan mata Vino, bayang-bayang putih tiba-tiba muncul di ujung lorong, membentuk sebuah sosok wanita berbaju putih dengan rambut hitam panjang menjuntai ke depan wajah, menutupi seluruh wajahnya.


Bulu kuduk berdiri begitu Vino melihat ini, semua orang Indonesia tahu apa sosok tersebut, dan ini tampaknya bukan bohongan, bukan Vonia yang berpura-pura menjadi makhluk tersebut.


Sangat tidak mungkin manusia muncul bagai angin seperti itu, manusia bukan makhluk halus.


Glup!


Vino masuk kembali ke dalam kamar dengan wajah yang memucat, dia baru ingat kalau di Indonesia sekarang sudah jam 12 malam, atau pertengahan malam.


Sangat tidak baik untuk mandi di jam itu. Jadi, Vino mengurungkan niatnya untuk mandi malam ini.


"Sial, makhluk itu menampakkan diri lagi," batin Vino sambil menatap layar ponselnya.


Beberapa pesan telah diterima di ponselnya, ada yang berasal dari Vonia, Monika, dan Callie, mereka menghubungi Vino dari aplikasi yang berbeda.

__ADS_1


Dengan jari-jarinya yang bergerak cepat, Vino membalas pesan mereka semua dengan pedang yang tegang.


Vonia dan Monika tidak berbeda, keduanya mengiriminya video dan foto aneh, yaitu gambar tubuhnya yang tak mengenakan pakaian dalam, dan hanya mengenakan pakaian yang berbayang. Bisa dilihat dengan mata orang normal bentuk buah pepaya dan kue apem mereka yang membuat Vino merasa ngeri.


Mata Vino menyala setelah membalas pesan mereka.


"Hahaha, aku tahu harus mandi di mana." Vino tersenyum aneh sambil mengetik cepat.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponselnya dan Vino menampilkan senyum lebarnya usai membaca pesan masuk dari Monika.


Dengan cepat Vino mengambil sikat gigi dan handuk, memasukkannya ke dalam tas bersama satu set baju.


Sebuah gambar ditampilkan di layar ponsel Vino, itu adalah gambar gang kecil dekat rumah Monika.


Memusatkan konsentrasinya, sebuah cahaya tiba-tiba muncul menyelimuti Vino dan sosoknya menghilang di detik berikutnya.


Kurang dari lima menit berlangsung, Vino menekan bel rumah Monika sambil mengirim pesan pemberitahuan tentang kedatangannya.


Pintu rumah Monika terbuka, sosok wanita cantik dengan gaun mini yang seksi keluar dari rumah.


"Ayo masuk!"


Monika mengajak Vino masuk dengan gaya yang centil dan menggoda. Jari telunjuknya bergerak, matanya yang cantik itu tertutup sebelah.


Usai mengatakan itu, Monika berbalik ke dalam rumah dengan sosok belakangnya diperlihatkan secara gamblang di hadapan Vino.


Tanpa sadar Vino menelan ludahnya, kemudian dia berlari di halaman depan rumah Monika dan masuk ke dalam rumah.


"Aaa! Jangan mulai sekarang, Vino! Ingin aku patahkan barangmu?!"


Suara teriakan berbunyi di dalam rumah, terdengar ambigu dan nyeleneh.


Di malam itu, Vino benar-benar mengalahkan Monika begitu ganas, membuat tubuh Monika sulit untuk bergerak lagi karena telah kehilangan banyak air.


Mengalahkan wanita bukan lagi hal yang sulit bagi Vino, sekarang dia memasuki mode gila bertarung atau kecanduan, tak ada orang yang bisa menghentikannya.


Vino mengalahkan Monika selama 3 jam lebih tanpa henti, telah memakai puluhan gaya dengan durasi beberapa menit setiap gayanya.

__ADS_1


Ada gaya yang disukai Monika, yaitu gaya wanita di atas sehingga Monika merasa dirinya memegang permainan.


Di pagi hari, Vino dan Monika keluar dari rumah bersama sepeda motor, melaju cepat membelah jalanan kota Jakarta.


Terlihat sosok Monika yang mengendalikan sepeda motor, pakaiannya begitu tertutup, sedangkan Vino duduk di belakang jok dengan santai sambil memeluk tubuh ramping Monika.


Keduanya tetap taat aturan, mengenakan helm untuk keselamatannya sendiri.


Beberapa menit kemudian, Vino muncul di dalam kamarnya, pakaiannya sudah berganti karena di rumah Monika dia sempat mandi.


Vino berteleportasi di dekat kantor polisi, Monika membawanya ke sana lantaran hari ini bekerja. Jadi, tak perlu Vino naik ojek dari rumah Monika supaya biaya ongkosi lebih murah.


Sayangnya, ojek tidak dibutuhkan lagi oleh Vino, teleportasi lebih murah dan efisien. Dengan begitu, dia diam-diam pergi ke tempat sepi dan berteleportasi.


"Wanita memang sumber kebahagiaan, aku tak munafik tentang hal itu." Vino tersenyum mengingat hari kemarin yang panjang dan seru.


Triring!


"Aku tak mau bila aku ditusuk~ ...."


Baru saja Vino mengeluarkan barang-barang dari tasnya, tiba-tiba ponselnya mengeluarkan nada dering yang aneh.


"Sejak kapan nada dering ponselku diganti?" tanya Vino sambil mengambil ponselnya dari atas tempat tidur.


Melihat siapa yang meneleponnya, mata Vino menjadi lebih besar dan ekspresinya menjadi panik.


Ibu jari Vino menakan tombol terima panggilan dan Vino mengangkat ponsel ke telinganya.


"Nak, bagaimana kabar kamu di sana? Kamu baik-baik saja?"


Sebuah suara wanita yang terdengar sangat khawatir keluar dari lubang pengeras suara ponsel, tangan Vino sedikit bergetar dan bibir bawahnya bergetar halus.


Rasa rindu yang tak tertahankan meletus di dalam tubuh Vino, kemudian menjawab dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya, "Bu, ak–aku sehat di sini, bagaimana ibu dan ayah di sana?"


Nada suara Vino sangat hati-hati, dia benar-benar tidak ingin menyakiti kedua orang tuanya hanya karena perkataannya sendiri.


Setelah Vino mengeluarkan kata-katanya, ibu Vino terdiam untuk waktu yang singkat, suara embusan angin terdengar di telinga Vino, suara ibu Vino kembali muncul dengan suara yang berbeda.


"Vino, ayahmu sekarang tidak baik-baik saja. Boleh kamu pulang hari ini?"

__ADS_1


Wajah Vino menjadi stagnan, pupil matanya menyusut, dan tubuhnya menjadi tegang. "Baik, Bu! Aku akan pulang ke rumah hari ini."


__ADS_2