
Sontak Vino yang mendengar ini segera melirik ke sumber suara yang ramai berteriak.
Kepala Vino dan Monika bergerak hampir bersamaan menoleh ke arah timur.
Mereka berdua menemukan seorang wanita sedang berusaha naik ke atas pagar pembatas lantai mall.
Pemandangan ini langsung diketahui oleh semua orang yang ada di sekitar, beberapa ibu-ibu menahan wanita ini untuk tidak naik dan melewati pagar pembatas.
Jelas, wanita bodoh ini mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari ketinggian.
Tanpa banyak bicara, Vino melepaskan tangan Monika dan berlari untuk membantu ibu-ibu tersebut menahan tubuh wanita yang ingin menyelesaikan kehidupannya.
"Jangan! Kamu masih muda, Nak!"
"Sadar, Nak!! Hidup kamu masih panjang, kasihan dengan orang tuamu di rumah!"
"Kumohon jangan melompat, kamu akan menyesali perbuatan ini!"
"..."
Tampaknya, wanita ini memiliki kekuatan dan niat yang besar sehingga sulit untuk ditahan. Kebulatan niat atau tekadnya sudah benar-benar kuat sehingga omongan para ibu rumah tangga yang sedang berbelanja tidak digubris.
Whoosh!
Sosok Vino tiba di belakang ibu-ibu, mencari celah untuk mencoba menarik wanita yang tidak ingin melepaskan diri dari pagar pembatas lantai.
Kedatangan Vino yang tak terduga itu membuat semua orang menjadi ramai yang menonton.
Ibu-ibu yang berusaha menahan wanita yang hendak mengakhiri hidup terkejut dengan kedatangan Vino yang tampan.
Vino menatap ibu-ibu itu dan memberikan kode sambil mengangguk. Dia butuh ruang lebih untuk bisa menarik paksa wanita ini agar tidak melompat dan terjun bebas ke bawah.
Mengetahui apa maksud dari isyarat Vino, satu per satu ibu-ibu itu melepaskan tangannya, tidak lagi menahan tubuh wanita keras kepala itu.
Merasakan tidak ada beban yang menahannya untuk bundir, wanita itu terus memanjat dengan pakaian yang agak ketat.
Semua orang terkejut dengan tindakan Vino yang membiarkan wanita itu naik ke atas pagar.
Mengetahui dirinya ada di atas pagar besi pembatas lantai, wanita tersebut mendorong tubuhnya dengan kaki dan tangannya untuk terjun dari atas.
"Maaf," ucap wanita tersebut untuk terakhir kalinya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Wanita itu sudah sangat pasrah dengan kehidupan yang dijalaninya ini, sudah tidak kuat bertahan lagi. Cobaan hidup yang ada di dalam hidupnya terlalu berat.
Menunggu rasa sakit luar biasa datang ke tubuhnya, wanita ini tiba-tiba merasakan dua tangan memeluk pinggangnya, itu terasa lembut dan nyaman.
Ketika sadar, wanita itu segera membuka matanya dan melihat apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
Apa yang wanita itu lihat pertama adalah baju dari seorang pria yang sangat dekat di depan matanya.
Sontak wanita itu tahu di mana dirinya berada, dia sedang berada di dalam pelukan seorang pria.
Pupil mata wanita ini membulat, kemudian hatinya merasakan suatu perasaan hangat yang membuat matanya yang terkejut memerah.
Dengan kedua tangannya yang ragu-ragu, wanita tersebut memeluk pria yang belum dia kenal dan menangis di dalam pelukan pria asing.
Pemandangan yang tidak disangka-sangka ini langsung divideokan oleh ibu-ibu dan para pengunjung mall yang berkerumun. Mereka sudah punya niatan untuk membagikan peristiwa luat biasa ini ke kerabat dan akun media sosialnya.
Mereka semua tidak tahu bahwa Vino akan menangkap tubuh wanita yang agak berisi ini di udara. Awalnya, mereka mengira Vino membiarkan wanita itu mati karena terjun dan mati.
Ternyata mereka semua salah.
Para pria yang sempat melihat adegan tersebut memuji kekuatan fisik Vino. Tidak semua orang bisa menangkap tubuh orang dengan reaksi tubuh secepat itu.
Monika hendak marah melihat prianya dipeluk wanita lain, tetapi dia sadar bahwa wanita yang memeluk Vino membutuhkan kehangatan dan kepedulian orang.
Orang yang tepat itu memang Vino sendiri, Monika mengakui itu, pelukan Vino sangat menghangatkan hati dan jiwa, ditambah juga membuat cinta tumbuh dengan cepat.
"Apa kamu merasa lega sekarang?" tanya Vino dengan suara magnetis yang lembut.
Wanita yang ada di dalam pelukannya sedikit tersentak begitu suara Vino memasuki lubang telinganya.
Dalam hatinya wanita itu berkata, 'Suara ini ... suara ini sangat enak untuk didengar ... aku ingin mendengar suara ini di sepanjang hidupku, tetapi itu tidak mungkin. Aku pecundang! Aku benar-benar bodoh yang gemuk! Aku sangat payah!'
Kedua tangan wanita itu mencengkeram kuat pakaian Vino, bisa dirasakan sendiri oleh Vino sekarang.
Berpikir bahwa wanita ini masih menangis dan emosinya belum keluar sepenuhnya.
Namun, Vino tak bisa menunggu seperti ini terus. Jadi, Vino memutuskan untuk melakukan sesuatu.
"Apa aku boleh menggendong dan membawamu ke tempat yang lebih baik dari ini? Seperti restoran dan yang lain?" tanya Vino dengan suara yang pelan agar orang-orang tidak mendengar jelas ucapannya.
Wanita itu terdiam sesaat untuk menahan tangisan dan kekesalan di hatinya.
__ADS_1
Butuh waktu sekitar 2 menit untuk Vino mendapatkan jawabannya.
Sebuah anggukan kecil dirasakan oleh Vino, tanda bahwa wanita setuju.
"Maafkan aku sebelumnya, aku akan menggendongmu agar lebih cepat ke tujuan, siap untuk menutup wajahmu sendiri."
Setelah Vino membisikkan perkataannya di dekat telinga wanita yang tingginya hampir sama dengan Monika, kedua tangan Vino mengambil kedua kaki dan tubuh wanita.
Semua orang terkejut dengan gerakan Vino dan bertanya-tanya.
Vino mendekat ke ibu-ibu dan membisikkan sesuatu dengan ucapan yang samar-samar didengar para kerumunan.
Ibu-ibu itu mengangguk mengerti, kemudian menepuk tubuh Vino sambil memuji di dalam hati.
Di bawah tatapan semua orang, Vino berjalan menuju ke salah satu restoran tanpa berbicara.
Monika berdiri di depan kerumunan sambil menunjukkan tanda kepolisian di dompetnya.
"Aku polisi, serahkan masalah ini pada polisi dan aku sarankan bapak ibu sekalian untuk kembali beraktivitas sesuai dengan tujuan kalian berada di sini. Terima kasih atas perhatiannya."
Setelah kata-kata Monika keluar, semua orang berhenti dan rasa ingin tahu mereka tertahan.
Wanita cantik yang ada di depan mereka semua seharusnya bisa menyelesaikan masalah ini dan mereka tidak perlu ikut untuk mengetahui lebih lanjut.
Lagi pula, mereka juga punya urusan masing-masing di sini.
Dengan begitu, kerumunan memisahkan diri, kembali ke tujuan mereka datang ke mall ini.
Peristiwa ini sudah selesai dan mereka tidak perlu memperpanjang masalah menghebohkan ini.
Melihat semuanya pergi, Monika berlari mengikuti Vino dan berjalan di belakangnya sembari memandang sosok Vino yang heroik.
Monika menyaksikan dengan jelas bagaimana cara Vino menyelamatkan wanita yang putus asa ini.
Orang yang ingin mengakhiri diri biasanya memiliki sifat yang keras kepala. Vino membiarkan wanita itu sampai melompat dan ditangkap di detik-detik krusial.
Semua orang memang tidak semuanya bisa melakukan hal itu, membutuhkan refleks cepat dan gerakan tubuh yang cekatan.
Salah sedikit saja bisa menimbulkan dampak yang besar bagi reputasi Vino dan nyawa wanita tadi.
"Pria yang kuat," gumam kecil Monika dengan pipinya memerah sambil melirik punggung belakang Vino yang gagah.
__ADS_1