Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 47: Vonia Datang Kembali


__ADS_3

[Ulasan bintang lima telah diterima! Tuan rumah mendapatkan 1 kesempatan lagi untuk memilih hadiah permanen!]


[Hadiah yang Tersedia: Tinggi 185 cm, Temperamen Lembut, Tubuh Powerlifter, Wajah Sempurna Dasar, Kulit Bersih dan Putih, Senyum Memesona, Suara Magnetis, Sentuhan Nyaman, Ciuman Master, Muay Thai Master, Bermain Piano Master, Lari Cepat Master, Reaksi Cepat, Mata Tajam, Beatbox Master, Mengendarai Sepeda Motor Master]


Hadiah yang sudah Vino pikirkan salah satunya adalah Muay Thai lantaran dia sudah berjanji akan menjadi mentor dari dua pria berotot itu.


Jadi, hadiah Muay Thai sudah pasti dipilih.


Tersisa satu kesempatan memilih hadiah lagi, ini membuat Vino bimbang dan gelisah.


Ada dua pilihan, yaitu Suara Magnetis dan Temperamen Lembut.


Kedua hadiah itu cukup berguna untuk dapat memperoleh kesukaan terhadap pelanggan, sama-sama menarik perhatian wanita.


Vino juga ingin melengkapi seluruh penampilannya hingga ke dalam tubuhnya juga, seperti senyuman memesona dan lainnya.


Senyuman memesona tidak dipertimbangkan. Untuk mengaktifkannya butuh tenaga, tidak mungkin Vino tersenyum selalu, mulut akan kaku.


Setelah berpikir beberapa menit, keputusan sudah ia buat, dan Vino memilih hadiah Suara Magnetis dengan alasan suaranya tidak terlalu bagus di mode normal.


Suara Magnetis sangat membantu saat melakukan panggilan dan berkomunikasi secara langsung.


Menambah kesan baik juga saat bertemu.


[Ding! Suara Magnetis sedang diintegrasikan ....]


[Ding! Seni bela diri Muay Thai sedang disematkan ....]


Aliran hangat timbul di sekitar kerongkongan hingga ke pangkal lidah Vino, terasa nyaman seolah dia sedang memakan permen rasa mint.


Proses integrasi berlangsung cepat, memerlukan 1 menit waktu untuk benar-benar menanamkan Suara Magnetis di dalam tenggorokan dan pita suaranya.


"Sudah selesai?" Vino bertanya-tanya tentang keberlangsungan proses integrasi.


Namun, wajahnya tertegun setelah mendengar suaranya.


Suara pria yang lembut, jantan, nyaman, dengan intonasi yang terdengar enak masuk ke dalam gendang telinga Vino.


Seketika suara lamanya diubah dan ditingkatkan menjadi suara idaman para wanita.


Tidak ada yang bisa membenci suara Vino yang sekarang. Suara Magnetis Vino tidak dibuat-buat, sangat natural dan apa adanya.


Berbeda dengan suara pria yang sengaja dibuat-buat agar terdengar bagus dan menarik perhatian wanita.


Tidak lama kemudian, Vino samar-samar merasakan sensasi memanas pada tubuhnya, terasa familier.


Dengan sekuat tenaga Vino menahan rasa panas yang bergejolak di dalam tubuhnya.

__ADS_1


Beberapa ingatan muncul di otaknya dan ditanam secara permanen oleh Sistemnya.


"Fiuh! Cukup menyakitkan," kata Vino yang berdiri di depan cermin sambil membuka seluruh pakaian atasnya.


Tubuhnya yang ditumbuhi otot kuat kini menjadi basah karena keringatnya sendiri.


Vino benar-benar panas, tubuhnya sangat seksi dan menggairahkan bagi wanita yang melihatnya.


"Aku harus mandi selagi belum terlalu malam."


Mengambil handuk, alat mandi, dan pakaian atasnya yang telah dikenakan hari ini, Vino berniat untuk mandi sambil mencuci pakaian kotornya.


Mencuci baju memakan waktu sekitar setengah jam sekaligus mandi, lumayan lama.


Setelahnya, dia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya, tubuh bagian atasnya sengaja dibebaskan dan dibiarkan terbuka.


Namun, di perjalanan ke kamar, dia menemukan sosok wanita yang berdiri di tengah-tengah lorong dengan pakaian hantu kuntilanak lagi.


Vino tahu siapa ini, kemudian dia berjalan mendekati wanita itu sambil menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi seluruh wajahnya.


Begitu rambut hitam menjuntai dikaitkan ke telinganya, wajah cantik dari seorang wanita ditampilkan di depan wajah Vino.


Wajah wanita ini sangat manis dan imut, membuat Vino hampir mabuk karena asupan nutrisi manisnya telah berlebihan.


"Vonia? Mengapa kamu mengenakan kostum ini lagi?" tanya Vino dengan aneh.


Menahan rasa malunya, Vonia menjawab, "Aku ingin ke sini untuk bertemu denganmu."


"Kamu rindu aku?" Alis mata Vino naik sambil melirik mata Vonia.


Kalimat Vino membuat Vonia makin tersipu, dia tak sanggup lagi menatap langsung wajah Vino, terlalu besar dampaknya.


Hati Vonia sudah berdegup begitu cepat.


'Tunggu, mengapa suara Vino terdengar berbeda? Apa perasaanku saja?' Vonia sadar akan suatu perubahan pada Vino, tetapi dia bertanya di dalam hatinya kepada diri sendiri.


Melihat Vonia hanya menurunkan pandangannya, Vino menganggap Vonia tidak merindukannya.


Pasti ada kerinduan di dalam hatinya, sampai-sampai Vonia datang ke kosan untuk bertemu dengannya secara langsung.


"Kukira kamu merindukan aku."


"Um, aku rindu kamu."


Tiba-tiba Vonia membalas ucapan Vino dan mengubah suasana menjadi hening.


Saat ini, Vino menjadi patung, dia diam tidak bergerak sambil memandangi wajah Vonia yang mulai memerah, kini menyebar hingga ke seluruh kulit wajahnya.

__ADS_1


Tak disangka wanita ini benar-benar merindukannya, padahal mereka berdua baru beberapa kali bertemu.


Merasa canggung, Vino menggaruk kepalanya sambil berjalan miring mengubah posisinya di belakang Vonia.


Tidak enak kalau dirinya tak mengenakan pakaian atas dan mengumbar tubuhnya yang berotot di depan seorang wanita.


"Kamu ingin apa di sini? Hanya bertemu saja?" Vino bertanya kembali dan memastikan tujuan Vonia datang ke sini.


Vonia membalikkan tubuhnya menghadap Vino yang ada di belakangnya, kemudian memberanikan diri menatap lurus ke mata Vino yang tampan dan jernih.


"Aku ingin makan bersama denganmu malam ini, tolong izinkan aku!" Vonia membungkukkan tubuhnya menunjukkan dirinya memohon kepada Vino.


Tersentak melihat tindakan Vonia, dengan cepat Vino memundurkan tubuhnya agar kepala Vonia tidak terpentok otot tubuh.


Itu akan menjadi canggung dan memalukan.


Mengangkat tangannya, Vino menggaruk-garuk pipinya sambil merenung, mempertimbangkan permintaan Vonia sekarang.


Akan tetapi, begitu Vino termenung sambil melihat ke belakang lorong tempat di mana kamar mandi berada, wajah Vino berubah seketika, kemudian dia mengambil tangan Vonia dan menariknya.


Vonia hampir saja berteriak karena operasi Vino yang tiba-tiba ini.


Melihat Vino yang tergesa-gesa, memutuskan untuk menutup mulutnya dan membiarkan Vino membawanya pergi ke kamar kosan.


Di dalam kamar kosan Vino, Vonia bisa melihat wajah Vino yang tampak salah.


Dengan rasa ingin tahu yang besar, pertanyaan terlontar dari mulut Vonia, dan dia bertanya, "Vino, ada apa kamu menarik tanganku begitu mendadak?"


Vino meletakkan alat mandi dan ember yang berisikan baju yang sudah dicuci manual, kemudian berbalik ke arah Vonia dengan wajah yang agak ketakutan.


"Aku melihat ada kembaran kamu di ujung lorong. Maka dari itu, aku cepat-cepat membawa kamu ke dalam sini. Kamu tahu? Di rumah kosan ini sering terdengar suara wanita menangis, asalnya dari ujung lorong dekat kamar mandi," jawab Vino sambil menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Kulit wajah Vonia menjadi putih, tubuhnya mulai bergetar dan terasa lemas.


Vino yang melihat Vonia seperti ini langsung tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pasalnya, Ayumi memiliki tanda yang sama ketika ingin pingsan.


Benar saja, Vonia tiba-tiba memperlihatkan dirinya ingin terjatuh.


Kedua tangan Vino dengan cepat menangkap tubuhnya supaya tidak jatuh ke bawah lantai, dan membentur dengan keras.


Perlahan Vino menggendong tubuh Vonia dan dibaringkan di atas kasur lantainya.


Masih dengan metode yang sama, kaki Vonia ditinggikan melebihi tinggi kepalanya saat terbaring.


"Ternyata semua wanita mudah untuk pingsan," gumam Vino sambil menatap wajah manis Vonia.


Namun, mata Vino terbelalak saat memindahkan pandangannya, ada dua pucuk merah muda menampakkan diri dari kostum kuntilanak yang dikenakan Vonia pada bagian dada.

__ADS_1


"Sial, wanita ini tidak mengenakan pakaian!"


__ADS_2