
Baru saja mereka membayar uang untuk kedatangan mereka menggunakan alat-alat gym ini, suara tak menyenangkan tiba-tiba muncul dari belakang mereka semua.
Suara yang terdengar meledek dan meremehkan masuk ke dalam telinga Vino dan kedua wanita yang bersamanya, membuat terkejut ketiganya dan marah.
Monika dengan amarah yang meledak membalikkan tubuhnya dan melihat siapa yang mengatakan kalimat kasar itu kepada pacarnya.
Begitu berbalik, mata Monika menemukan dua pria besar dengan tubuh bagian atas dipenuhi otot yang membengkak, berdiri di barisan belakang.
Tatapan mata kedua pria ini terasa merendahkan dirinya dan Vino. Amarah Monika makin bertambah melihat wajah mereka berdua.
"Apa yang kamu berdua bilang barusan?!" Monika berdiri tegak di depan dan memasang ekspresi yang marah besar.
Menatap Monika di depannya, kedua pria berotot ini melirik penampilan Monika dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Ketika mereka berdua memandang sosok Monika yang cukup seksi, lidah keduanya sempat keluar sekilas, ekspresi mereka tampak sangat liar.
"Ya, paha yang bagus, Cantik," kata salah satu pria berotot sambil menggosok tangannya melirik wajah Monika.
Pria yang satunya mengangguk, dan menambahkan, "Aku menyukai belahan itu, pasti belum pernah didaki oleh pria. Pria kurus di belakangmu, kurasa tak pernah menyentuhmu."
"Sialan! Apa maksud kalian! Ingin bertarung?!" Monika maju satu langkah sambil mengangkat tinjunya ke dua pria berotot. Mencoba mengancam mereka.
Alih-alih takut, keduanya mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat lebih dekat wajah Monika yang manis.
"Aku suka wajahmu, aku dengan senang hati menerima tawaranmu untuk bertarung di ranjang," ucap pria itu dengan seringai jahat.
Pria di sebelahnya merangkul pria yang berbicara dan mengangguk membenarkan. "Kamu tidak mengajak aku untuk bertarung bersama? Bertiga lebih seru kupikir."
Sudut mulut Monika berkedut, wajahnya benar-benar merah sekarang, penuh oleh amarah yang memuncak.
Kepalan tangan kanan Monika sangat kencang, hingga kuku jarinya hendak menusuk kulit telapak tangan.
"Bajingan!"
Kepalan tinju Monika terangkat dan meluncur cepat ke arah wajah pria yang mengedepankan tubuhnya.
Whoosh!
Begitu tinju keras Monika ingin menyentuh hidung pesek pria yang menggodanya, sebuah tangan menyambar sikut tangan Monika dan menahan kepalan tangan Monika maju ke depan.
"Berhenti, biarkan mereka berdua berkata apa pun, ayo pergi."
Vino menarik lembut tangan Monika yang terangkat di udara, kemudian menggendongnya di depan kedua pria tersebut menggunakan satu tangan saja.
Tanpa berkata apa pun, tangan lain Vino mengangkat tubuh Sarah ke dalam pelukan tangan kanannya.
Satu tubuh menggendong dua wanita di kedua tangannya.
__ADS_1
Pemandangan ini membuat rahan kedua pria yang menghina Vino terjatuh karena tidak menyangka tubuh kurus Vino bisa mengangkat beban seberat itu tanpa banyak usaha.
"Apa yang kamu lihat, bodoh?!" Pria yang merangkul itu menampar pelan kepala belakang temannya. "Ayo ikut pria kurus itu!"
Mendengar ini, temannya mengangguk dan mereka berjalan bersama mengikuti Vino menuju ke sebuah ruangan di dalam Gym.
Mereka masih tidak percaya Vino bisa mengangkat dua tubuh wanita yang masing-masing berat tubuhnya ada di rentang 45 sampai 60 kilogram ini.
Jika kedua wanita itu diangkat, beban yang digendong Vino ada di sekitar 100 kilogram.
Tubuhnya yang terlihat kecil bagi mereka berdua akan sulit untuk bisa menggendong beban sebanyak itu.
Lihat kaki ramping yang ditutupi celana bahan itu, kelihatan tidak ada benjolan otot, mereka yakin Vino pria kurus.
Namun, tebakan mereka salah, begitu Vino meletakkan kedua wanita di tangannya di atas lantai, tiba-tiba Vino membuka jaketnya sekaligus kaos yang ada di dalamnya.
Tubuh yang mereka kira kurus itu memiliki otot padat dan sedikit membengkak.
Begitu Vino merilekskan tubuhnya, otot-otot pada tubuh Vino membengkak dan itu terlihat besar dan kokoh.
Massa dan kepadatan otot yang dimiliki Vino jauh melebihi kedua pria yang menghina itu.
Dari bagian otot perut saja, mereka sudah merasa ditampar oleh sendal mama. Tubuh Vino punya 8 bungkus otot perut yang terlihat tegas dan jelas, murni otot yang ada sedikit sekali lemak.
Senyum miring terbentuk di ujung bibir Vino, kemudian dia memunggungi kedua pria itu, melakukan pelebaran punggung, memamerkan otot-otot bagian punggung belakangnya.
Glup!
Sebagai seorang yang melatih ototnya, mereka tahu betapa kuatnya otot Vino itu. Berapa lama Vino bisa membentuk otot yang menonjol tanpa tertutupi banyak lemah.
Namun, mereka tidak merasa ingin menyerah, kedua wanita yang ada di belakang Vino sangat cantik, dan mereka menyukainya.
"Cih, maksudmu apa melakukan itu?" Salah satu pria itu menghampiri Vino sambil membuka kaus oblong di tubuhnya.
Ikut pamer otot-otot tubuhnya dengan jelas yang tampak membengkak dan besar.
Temannya juga ikut memamerkan otot-otot tubuh bagian atas, melakukan beberapa pose yang berguna memperjelas lekukan otot pada tubuh.
Vino yang melihat ini segera mengabaikan mereka, menyuruh Monika dan Sarah sedikit bergeser untuk menjauhi mereka berdua yang sombong pada ototnya. Jelas sekali otot di tubuh mereka tidak murni, ada tambahan suntikan hormon.
"Sarah, aku akan membantu kamu untuk mengurangi berat badan dengan cara berolahraga."
Menunjuk ke suatu alat yang tidak jauh dari mereka bertiga, Vino meminta Sarah untuk berdiri di atas alat bernama treadmill.
"Awali olahraga dengan yang ringan terlebih dahulu agar tubuhmu tidak tegang dan terkejut dengan latihan ini. Larilah dengan rileks dan naikkan energimu perlahan untuk berlari."
Setelah mengatakan itu, Monika yang kerap ke gym 2 kali dalam seminggu mulai mengajari Sarah dalam menggunakan alatnya dan juga bagaimana cara berlari dengan baik.
__ADS_1
Monika juga berlari di alat treadmill di samping sambil memberikan materi singkat tentang olahraga dengan cara menggunakan alat satu ini.
Treadmil mampu untuk mengecilkan paha dan betis kaki dengan intensitas normal, agak memakan waktu yang lama.
Dengan begitu mereka berdua berlari bersama tanpa melihat ke belakang.
Di belakang mereka ada Vino yang melirik ke dua pria berotot tepat di hadapannya.
Wajah dua pria ini kelihatan sangat marah, bola mata mereka memerah seakan ingin memukul wajah Vino.
Vino sangat malas mencari masalah, dia masih teringat dengan kejadian melawan preman. Nantinya dia akan ditangkap lagi oleh polisi.
Tidak menghiraukan keduanya, Vino berjalan santai menuju ke bagian angkat beban.
Mengambil barbel dua tangan, tangan Vino mengambil roda besi dengan berat yang besar. Total beban yang akan diangkat Vino lebih dari 450 kilogram.
Saat ini, Vino berniat menguji tubuh powerlifter dari Sistem.
Melihat pemandangan Vino yang ingin mengangkat beban besi begitu banyak, mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal saat mengetahuinya.
Pria berotot yang tidak suka Vino ini tak tahan untuk berkomentar.
"Sial! Lelucon hari ini sangat banyak, kali ini pria itu ingin mengangkat beban seberat itu, hahaha!"
"Taruhan denganku, kalau dia tidak bisa mengangkatnya, aku akan tidur dengan wanita cantik yang seksi itu. Namun, kalau dia bisa, kamu yang akan tidur bersama wanita yang satunya."
"Bedebah, pilihan taruhannya tidak berbeda!"
Tepat ketika mereka sedang berkomentar sambil memandang Vino, di dalam penglihatan mereka berdua kedua tangan Vino mulai membengkak dengan otot dan urat yang besar memegang pegangan besi barbel.
Di detik berikutnya, tubuh Vino yang memiliki otot besar mengangkat beban 450 kilogram dengan kokoh dan stabil.
Saking stabil dan kokohnya, beban berat itu diangkat sampai ke atas kepala selama beberapa detik.
Bam!
Dengan kuat barbel itu menghantam lantai berlapiskan karpet, suara yang keras membangunkan keterkejutan kedua pria.
"Aku juga bisa!"
Kedua pria itu tidak mau kalah dan mencoba mengangkat beban yang sama dengan Vino.
Sayangnya, mereka berdua tidak kuat dan memuntahkan isi makanan di perutnya.
"Hoek!"
Vino tertawa melihat ini sambil menahan bau dari muntahan kedua pria tersebut.
__ADS_1
Namun, suara tertawa Vino membuat amarah mereka berdua memuncak, keduanya berlari menuju Vino dengan tubuh yang terdapat bekas muntahan makanan.
"Makan tinjuku, Brengsek!"