
Benar apa yang dia tebak. Daging yang dimaksud Callie adalah pedang Vino yang tengah dirabanya sekarang.
Perlahan pedang itu bertumbuh besar dan menjadi pedang keras dan tajam. Satu tusukan dapat membuat lubang yang begitu dalam.
Setelah makan dan semua piring bersih dari makanan, Vino diajak Callie untuk pergi ke sofa ruang keluarga sambil sesekali meraba tonjolan yang ada di antara kedua kaki Vino.
Terasa aneh, tetapi Vino berusaha diam dan menuruti permintaan Callie.
Pikiran Vino sekarang mengarah ke judul pemesanan Callie, dia membutuhkan pacar untuk menghabiskan waktu berdua bersama-sama.
Omong-omong, waktu di Indonesia dan di sini memiliki perbedaan 11 jam, di mana saat dirinya masih di kosan baru jam 9 pagi, dan di tempat apartemen Callie jam 10 malam.
Waktu di Manhattan, New York ada di belakang waktu Indonesia, bisa dibilang minus 11 jam. Sekarang di New York masih hari Kamis, sedangkan di Jakarta sudah masuk hari Jum'at.
Tak heran kalau Callie membuatnya makan malam barusan, di sini memang masih malam, bahkan bisa dikatakan waktu dinner terlewat, telah masuk waktu supper atau makan malam yang mendekati jam tidur.
Di sofa mereka berdua sedang menonton film dari aplikasi berbayar yang menyediakan banyak sekali film, terutama film layar lebar.
Callie sangat menikmati kebersamaannya dengan Vino, mengelus tonjolan tersebut dan masih belum berani untuk mengeluarkan pedang yang disimpan.
Selain itu, Callie juga mencium pipi dan bibir Vino sesekali kalau memang sedang mau. Lebih enaknya lagi, Vino dituntun untuk mengusap bola air yang dimiliki Callie.
Jujur saja, ukuran bola airnya besar dan sangat lembut meski masih dibungkus oleh pakaian gaun putih agak transparan.
Setelah film habis, Callie tiba-tiba naik ke pangkuan Vino sambil menatap terpaku pada kedua mata menawannya.
Vino sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba Callie, sama sekali tidak bisa menahan tangannya untuk tak menyentuh pinggang ramping Callie.
Meskipun ramping, dibawah pinggul itu terdapat Roti'E atau adonan kenyal dan mengembang besar, sangat enak untuk dimainkan dan diremas.
"Sayang, aku ingin meminta sesuatu padamu, tetapi sebelum itu, aku ingin bertanya tentang peraturan pacar sewaan. Pasalnya, keinginan ini menyangkut peraturan yang aku lihat di rental pacar Jepang," ujar Callie dengan ekspresi yang serius.
Vino terdiam sesaat, dia merasakan sesuatu itu akan terjadi tak lama lagi.
Menganggukkan kepalanya, Vino tak mempermasalahkan ini. "Tanyakan saja, aku akan menjawab dengan jawaban yang seharusnya."
Senyum terbentuk di sudut mulut Callie, kemudian dia mengambil napas panjang dan dikeluarkan secara perlahan, terlihat permintaan ini akan begitu berat, membuat Vino agak khawatir.
Mulut Callie yang tertutup perlahan terbuka, bertanya dengan suara yang jelas, "Apakah aku boleh meminta kamu untuk melakukan kegiatan berkembang biak?"
Jantung Vino hampir berhenti, matanya yang membulat menatap Callie penuh kejutan. "Tunggu, apa yang kamu bilang barusan?"
__ADS_1
Vino tampaknya salah mendengar. Bagaimana mungkin Callie yang kaya mau melakukan itu dengan dirinya yang miskin. Kemungkinan mau, tetapi Vino masih tak percaya.
"Aku ingin melakukan itu denganmu, apakah itu tidak melanggar peraturan?!" tanya Callie sekali lagi dengan suara yang lantang.
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan pertama Callie, sama sekali tak ada kesalahan dan Vino mendengar dengan baik.
Glup!
Menelan ludahnya, Vino memandang sosok Callie yang sangat berisi di bagian-bagian tertentu, bagian bumper depan dan belakangnya.
Tidak tahu kenapa, air liur Vino hampir keluar dari mulut.
Menggelengkan kepalanya dengan cepat, Vino memaksa pikiran untuk tetap lurus sesaat karena dia harus bertanya lagi pada sistem.
[Ding! Kegiatan itu diperbolehkan, tetapi Anda harus menanggung semua risiko yang ada.]
"Um, baiklah, aku tak masalah dengan itu. Memang sudah seharusnya aku menanggung semua risiko yang aku perbuat sendiri," jawab Vino di dalam hatinya.
Berikutnya, Vino menatap lurus ke wajah Callie dan berkata, "Tidak masalah, tetapi risiko setelah ini kita berdua selesaikan bersama-sama."
"Aku sama sekali tak keberatan memiliki suami seperti kamu," balas Callie dengan senyuman manis, "bahkan kalau kamu memang menginginkan puluhan anak."
Dalam sekejap, sesuatu yang aneh meletus dahsyat dari dalam tubuh Vino.
Di sofa, keduanya melakukan berbagai gaya dan posisi yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, mereka berdua terkunci pada posisi di mana Callie berada di atas Vino. Bisa dikatakan Callie yang ingin mendominasi pertempuran meski sudah kalah berkali-kali.
Meskipun Callie sudah berumur, tak ada bedanya dengan serangan yang lebih muda. Vonia dan Callie sama-sama kuat.
Pertempuran yang berlangsung 3 jam tanpa berhenti itu berakhir dengan epik di mana Vino tidak menembakkan jurus pamungkasnya di tubuh Callie bagian itu, tetapi di bagian yang lain.
Dua lubang pink itu telah dimasuki oleh satu pedang yang sama.
Tubuh Callie sempat bergetar, dampak jurus Vino sangat kuat, kemudian dia memeluk tubuh Vino dengan lemah.
"Terima kasih, aku merasa lega sekarang."
Kata-kata itu jatuh, Callie tidak berbicara lagi karena pingsan akibat kelelahan.
Vino terkejut dan menjadi panik karena dia tahu seseorang tidak akan tidur secepat ini, kurang dari 1 detik.
__ADS_1
Dengan demikian, tubuh Callie dibawa Vino ke kamar dan diletakkan di atas kasur dan tubuhnya ditutup selimut tebal.
Tak ada yang bisa Vino lakukan sekarang selain menunggu Callie sadar.
Namun, sebelum Vino ikut tidur, dia harus menyiapkan teh hangat dan beberapa makanan.
Tepat ketika Vino baru saja terbaring, dia ingat bahwa waktu di sini berbeda dengan di Indonesia.
Lebih baik dia kembali kosan untuk melakukan sesuatu daripada ikut tidur di sini.
Vino sudah mengecek semua apartemen, sudah aman dan peluang kecelakaan sangat minim.
Sosok Vino menghilang dan dia muncul di dalam kosan dengan penampilan yang tidak berbeda saat tiba di apartemen Callie.
Triring!
Dering panggilan telepon berbunyi dari ponsel Vino.
Dengan cepat Vino angkat dan menjawab panggilan telepon tanpa melihat siapa peneleponnya.
"Vino, aku butuh bantuan kamu sekarang." Suara Monika terdengar di ponsel, agak aneh nadanya, tetapi Vino tidak menyadari hal ini.
Vino lebih fokus pada apa yang dikatakan Monika.
"Ada apa, Monika?" tanya Vino dengan nada yang agak cemas.
Monika di telepon menjawab, "Um ... kamu ke sini saja. Aku akan mengirimkan lokasinya, aku di rumah sendirian, arh!"
Tubuh Vino tersentak mendengar ujung ucapan Monika. Wanita ini tidak sedang baik-baik saja.
"Oke, aku akan datang dalam lima menit!" kata Vino dengan terburu-buru.
Panggilan terputus dan Monika mengirimkan sebuah lokasi ke Vino. Lokasi itu adalah lokasi rumah Monika.
Sebelum 5 menit habis, sosok Vino sudah berpindah di jalan dekat rumah Monika.
Tepat di mana Vino muncul ada di gang buntu yang ternyata itu merupakan ruang kecil antara dua bangunan yang bersebelahan.
Keluar dari gang sempit itu, Vino pergi ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tetapi tetap mewah, kemudian menekan tombol bel rumahnya.
Berikutnya, sosok Monika yang hanya mengenakan gaun hitam agak tembus pandang keluar dari dalam rumah, berjalan ke pagar untuk menyambut Vino yang datang.
__ADS_1
"Kenapa sangat cepat? Bagaimana kamu bisa sampai di sini begitu cepat?"