Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 30: Wanita Pemaloe


__ADS_3

Vino membaringkan tubuh Ayumi di atas kasur lipat lantai, sama sekali Vino tidak menyentuh ke bagian sesuatu yang vital dari tubuh Ayumi.


Jujur, Vino tidak tahu harus berbuat apa untuk menyadarkan kembali Ayumi yang pingsan ini.


Sebuah ide terlintas di benak Vino.


Untungnya, di zaman sekarang ini sudah ada telepon seluler atau ponsel dan internet sehingga informasi yang diinginkan ada di sana semuanya.


Dengan begitu, ponselnya digunakan untuk mencari cara merawat dan menyadarkan orang pingsan.


Pupil mata Vino bergerak dari kiri ke kanan layar ponsel, membaca semua tulisan pada artikel yang ia temukan.


Melihat sumber dan situsnya yang kredibel dan dapat dipercaya, Vino mulai melakukan sesuai dengan tuntunan atau cara menolong orang pingsan.


Pertama-tama, tubuh Vino harus berdiri dahulu supaya bisa berjalan dan mengambil beberapa barang. Jelas, tidak menyalakan sepeda motor dahulu.


Setelah berdiri tegak, Vino mengambil bantal lain yang ada di dekat tempat tidur.


Dengan hati-hati, kedua kaki Ayumi diangkat, kemudian diletakkan di atas bantal.


Bantalan ini terus Vino tambah hingga tingginya hampir 30 cm. Berguna untuk mengalirkan kembali darah ke otak.


Setelahnya ... Vino harus melonggarkan pakaian, tetapi melihat pakaian Ayumi yang tidak ketat, hal itu tak perlu dilakukan.


Kondisi Ayumi baik-baik saja, dia masih bernapas dengan baik dan benar.


Semuanya sudah dilakukan, tinggal Vino membuat teh manis hangat dan juga makanan yang baik untuk orang pingsan.


"Teh manis? Kurasa teh kantung lebih bagus untuk Ayumi sekarang."


Vino sadar bahwa teh di Jepang biasanya tidak manis, sedangkan orang pingsan setelah sadar membutuh gula untuk menambahkan energinya kembali.


Teh Indonesia lebih cocok untuk dipakai sekarang. Oleh karena itu, Vino memutuskan untuk kembali ke kosan dan mengambil persediaan teh kantung miliknya.


Ngomong-ngomong, di dalam kamar kosan Vino tersedia beberapa bungkus kopi instan dan juga teh kantung. Pengganti rokok, Vino sama sekali tidak merokok, bahkan dari janin sekalipun.


Sosok Vino menjadi berbayang dan menghilang, beberapa hitungan detik muncul dengan membawa dua kantung teh dan seikat sayuran bayam.


Sengaja dia membawa dua kantung teh, satu untuk dirinya sendiri, dan satunya lagi untuk Ayumi.


Satu ikat bayam ini akan Vino masak untuk membuat sup bayam bening.


"Aku meminjam dapur kamu, maaf kalau lancang," kata Vino kepada Ayumi yang masih pingsan.

__ADS_1


Berikutnya, Vino pergi ke dapur milik Ayumi yang minimalis, mengambil panci sedang dan beberapa bahan masakan.


Pengetahuan tentang memasak ada di otak Vino, hanya perlu mengikuti ingatannya dan secara otomatis tubuhnya bergerak sesuai dengan langkah-langkahnya.


Lebih dari 5 menit Vino di dalam ruang dapur, dia berhasil memasak makanan sup sayur bayang bening satu panci berukuran medium.


Kedua teh kantung masih belum Vino buat karena menunggu Ayumi sadar.


"Aku kenapa?"


Sebuah suara wanita memasuki telinga Vino yang sedang mengaduk sup, kemudian dia berbalik dan melihat Ayumi yang sudah terbangun.


Dengan cekatan, Vino menghentikan mengaduk sup dan langsung mematikan kompor, kemudian dia berlari mendatangi Ayumi.


Kedatangan Vino dari dapur membuat Ayumi kembali terkejut, tetapi sekarang dia merasakan pusing dan mengabaikan keterkejutannya ini.


Duduk di samping Ayumi, Vino segera bertanya tentang kondisinya, "Kamu tidak apa-apa?"


"Aku merasa pusing sekarang," jawab Ayumi tanpa sadar.


"Jangan banyak bergerak, aku akan membuatkan teh untukmu," pinta Vino dengan suara yang lembut.


"Um, aku mengerti." Ayumi mengangguk sedikit, dan masih menundukkan kepalanya.


Setelah mendengar respons Ayumi, buru-buru Vino membuat segelas teh manis hangat dan mengambil semangkuk sup bayam bening.


Merasa ragu dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang, Ayumi bergumam di dalam hatinya, 'Apakah dia benar-benar pacar yang aku pesan barusan di aplikasi aneh itu? Bagaimana bisa? Dari mana aplikasi tersebut bisa mengirimkan pria ini. Dari wajahnya, terlihat bukan orang Jepang. Aku tidak tahu harus apa, aku belum pernah berhubungan dengan seorang pria.'


Ayumi bergumam dalam hatinya dengan tatapan masuk terpaku pada sosok Vino yang sibuk di dalam dapur.


Tak lama menunggu, sosok Vino kembali dengan membawa satu mangkuk dan satu gelas di tangannya.


Pemandangan Vino yang sudah keluar dari ruang dapur tak disadari oleh Ayumi sendiri, tetapi matanya masih mengikuti Vino bergerak, bahkan ketika sudah ada di depannya.


"Sup bayam untukmu dan juga teh manis hangat. Ambil ini dan minum teh dahulu," ujar Vino sambil menyerahkan segelas teh kepada Ayumi.


Mendengar suara Vino yang lancar berbahasa Jepang, kesadaran Ayumi seketika kembali, secara naluriah ia mengambil gelas yang diberikan oleh Vino.


"Aw, panas!" jerit pelan Ayumi karena merasa panas di jarinya.


Melihat ini, Vino tersenyum lebar di bibirnya lalu meletakkan teh manis di bawah.


"Sini tanganmu, aku tiup.".

__ADS_1


Setelah Vino mengatakan itu, dia mengambil kedua tangan Ayumi dan meniupnya dengan hati-hati.


Merasakan keduanya dipegang oleh pria tampan di depannya, rona merah memenuhi seluruh wajah Ayumi yang imu, dan asap mulai keluar dari atas kepalanya.


"Apakah itu sudah baikan?" Vino melirik Ayumi yang sedang tersipu dan bertanya dengan senyuman menawan.


Senyum pria ini benar-benar manis, paling manis dan memesona yang pernah Ayumi lihat di dalam hidupnya.


"Ak–aku, aku merasa ba–baik."


Suara Ayumi terdengar terputus-putus, melihat ini Vino menjadi cemas dan segera memeluk Ayumi dengan penuh kehati-hatian. "Jangan pingsan lagi. Tenangkan dirimu, anggap saja aku pacar kamu yang sudah berhubungan lama."


Vino sungguh khawatir Ayumi pingsan lagi. Takut Ayumi tidak puas karena terlalu banyak membuang waktu akibat pingsan.


Melihat Vino yang cemas, perasaan hangat mengalir masuk ke dalam hati kecilnya.


Dengan anggukan kecil, Ayumi mencoba untuk tidak terlalu malu, dia berusaha untuk melihat Vino biasa saja.


Setelah melihat wajah Ayumi yang tak begitu memerah, dengan cekatan Vino mengambil sup sayur bayam bening dan segelas air putih hangat.


"Minum dahulu, kamu butuh air."


Sesuai dengan perintah Vino, tangan Ayumi mengambil gelas yang diberikan dengan kedua tangannya, kemudian menyesap sedikit demi sedikit air putihnya.


Dalam sekejap, tubuh Ayumi terasa lebih baik.


Selanjutnya, Ayumi meminum teh manis dan sup bayam bening yang dibuat oleh Vino.


Rasa sup bayam sangat lezat, sesuai dengan selera lidahnya, rasa gurih dan asinnya sudah pas di lidah orang Jepang.


Dengan demikian, Ayumi percaya bahwa pria ini adalah pacar yang dipesannya.


Namun, Ayumi merasa canggung berinteraksi dengan Vino, dia berbicara sedikit dan tampak malu-malu.


Terlihat seperti bukan dirinya.


Apa yang terjadi sekarang adalah pengalaman pertamanya berhubungan dengan seorang pria sedekat ini.


Tentu, Ayumi tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan seorang pria.


Belajar dari pesanan sebelumnya, Vino berpikir untuk berinisiatif untuk memulai sesuatu dengan Ayumi.


Mengingat tujuan Ayumi memesannya, sebuah ide masuk ke dalam otaknya, dan Vino berkata, "Apakah kamu ingin bermain denganku?"

__ADS_1


"Bermain?" Ayumi terkejut pada awalnya, kemudian pipinya makin memerah.


Melihat reaksi Ayumi, Vino dengan segera mengonfirmasi tentang ucapannya tadi agar tidak terdengar ambigu. "Bermain gim, bukan bermain di ranjang. Bukankah kamu mencari pacar yang bisa bermain gim?"


__ADS_2