
Vino menggelengkan kepalanya dengan cepat, guna menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya, bergegas membukakan pintu untuk Monika.
Ceklek!
Pintu di depan Monika akhirnya terbuka, menampilkan sosok Vino yang terlihat berbeda dari yang semalam.
Wajah Monika seketika memerah tanpa sebab begitu melihat senyuman yang ada di wajah Vino.
Senyumnya begitu memesona, sangat tampan sekaligus membuat hati deg-degan tidak karuan.
Semalam senyumannya tidak begitu berdampak besar bagi hatinya, sekarang benar-benar menyentuh hati, seolah senyuman Vino memanjakan hati Monika.
Bergerak melihat kedua mata Vino, Monika merasa tatapan mata Vino sangat tajam, seakan tatapannya ini bisa melihat ke hatinya.
"Kamu ... kamu Vino, kan?" tanya Monika dengan hati-hati sambil menyentuh wajah Vino.
Saat mendekat, Monika merasakan kelembutan di dalam hatinya, tidak tahu apa alasannya dia bisa merasakan itu.
Vino tersenyum lebar, dan mengambil tangan Monika yang menyentuh pipinya, kemudian menjawab, "Aku pacarmu."
Sentuhan dan suara Vino membuat tubuh Monika tersentak, wajahnya tercengang menatap Vino di depannya.
Kenyamanan yang luar biasa ditambah dengan suara indah di telinganya, membuat Monika dihujani segala serangan cinta.
Pluk!
Tubuh Monika jatuh ke pelukan Vino, kedua tangannya melingkari tubuh Vino dengan erat.
Sama sekali Vino tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Monika, melihat wanita ini memeluknya, Vino membalas Monika dengan pelukan.
Tangan Vino terulur ke kenop pintu, menariknya supaya tertutup.
Perlahan Vino membawa Monika ke tempat tidur dengan posisi duduk.
Tubuh Monika yang ramping mengenakan pakaian santai berupa celana jeans ketat dan kaos hitam ketat dengan jaket kulit hitam, duduk di atas pangkuan Vino sambil memeluk tubuhnya.
Perasaan memeluk wanita memang sangat luar biasa menakjubkan, Vino sangat menyukai perasaan lembut ini.
"Vino, aku mau ciuman di bibir." Monika mendongak ke atas dan menatap Vino dengan mata yang manis.
Vino mengangguk, kemudian dia sedikit menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Monika.
Keterampilan Ciuman Master diaktifkan, gerakan Vino menjadi jauh lebih andal dan lihai, mengejutkan Monika yang mendapatkan kecupan ini.
Pikiran Monika menjadi kosong selama beberapa detik diserang oleh bibir lembut Vino. Jantungnya terus berdetak cepat selama bibir lembut pria menempel di mulutnya.
Proses ciuman pagi berlangsung selama 7 menit lamanya.
Monika yang galak itu kembali menjadi gadis kecil pemalu usai ciuman berakhir.
Dengan inisiatifnya, tangan Monika menyeka air liur Vino dan miliknya dengan tisu yang diambil dari dalam tas kecilnya.
"Um, mengapa kamu terlihat berbeda dengan semalam?" tanya Monika dengan penasaran.
Vino memiringkan kepalanya, menatap wajah Monik di depan matanya dengan tatapan bingung, kemudian menjawab, "Aku masih sama dengan yang kamu lihat semalam, apa yang berbeda?"
Tangan Monika terangkat, menunjuk ke bibir, tenggorokan, dan sudut mata kanan milik Vino.
__ADS_1
"Mata kamu berbeda, terlihat begitu tajam, suaramu lebih bagus dari yang aku dengar semalam, senyuman kamu lebih tampan, pelukan dan sentuhan kamu benar-benar membuatku nyaman," terang Monika dengan singkat dan tepat pada poinnya.
Kepala Vino mengangguk menandakan dirinya mengerti apa yang diterangkan Monika.
Mengecup kening Monika secara mendadak, Vino berkata, "Sebenarnya, aku memang seperti ini, tetapi kalau di malam hari, aku sangat malas menampilkan semuanya."
"Sungguh?"
"Benar." Vino mengangguk meyakinkan ucapannya sendiri. "Kamu menyukainya?"
"Um ... hari ini aku menyukaimu," balas Monika dengan wajah yang memerah.
Penampilan Monika yang sekarang benar-benar menggemaskan, sisi lembutnya ditampilkan sekarang di depan Vino.
Sebagai pria yang perjaka, Vino tak bisa menahannya lagi.
Bibirnya menyerang Monika dengan ganas, mencium sambil membawanya ke posisi tidur.
Bola mata Monika membulat, terkejut dengan gerakan Vino yang tiba-tiba ini.
Alih-alih menolak, Monika memegangi rahang tajam Vino, membelainya dengan jari-jari yang lembut.
Mereka berdua melakukan adu mulut yang liar karena bukan mulut mereka saja yang bermain, kedua tangan mereka juga bergerak ke mana-mana.
Kedua tangan Vino bahkan meremas dua roti besar dan kedua paha Monika, sesekali menamparnya hingga mengeluarkan bunyi yang membuat penghuni kosan yang melewati depan kamar Vino berhenti sejenak.
Plak!
Kepala pria yang berjalan di lorong kosan berhenti melangkah dengan wajah yang terpana. "Suara apa itu?!"
Pria tersebut mendengar suara yang familier di telinganya.
Plak! Plak! Plak!
"Sial, aku harus cepat ke kamar mandi!"
Suara yang didengar oleh pria itu makin sering, tidak boleh berdiri diam diri di sana, terlalu berbahaya.
Di dalam kamar kos, Vino dan Monika saling memandang dengan dua pipi yang merah merang bagai kepiting rebus.
"Hum! Awas saja kamu lakukan itu lagi!" Monika menampilkan kepala tangannya ke depan wajah Vino.
"Apa?" Kebingungan terlintas di wajah Vino. Mendadak saja Monika menjadi galak lagi.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kamu menamparku terlalu keras, Sialan!"
Tangan Monika sudah diangkat tinggi, ingin memukul Vino di depannya.
Vino menjadi mengerti apa yang dimaksud Monika.
Cup!
Ciuman kecil mendarat di hidung Monika, sebuah senyuman memesona ditunjukkan oleh Vino.
Kemarahan di dalam hati Monika mereda. Kepalan tinjunya melemah dan akhirnya terlepas.
Monika mencium pipi Vino dengan kuat, kemudian berkata dengan bibir mengerucut, "Lain kali jangan melakukan itu dengan keras. Awas saja! Tinjuku tidak segan-segan terbang ke wajahmu."
__ADS_1
"Aku mengerti, Sayang." Vino mengangguk mengerti.
Ucapan Vino membuat Monika tertegun sesaat.
"Sayang? Siapa yang kamu panggil sayang, Playboy!"
"Kamu."
Dalam sekejap Monika terdiam dengan satu kata yang dikeluarkan oleh Vino.
Beberapa saat kemudian, sosok Vino dan Monika keluar dari gang sempit dengan sepeda motor R6 milik Monika.
Pada kesempatan kali ini, Vino yang mengendarai bukan Monika lagi.
Keterampilan Mengendarai Sepeda Motor berguna untuk kencan hari ini.
Tangan Vino bergerak menarik tangan Monika ke depan, meminta Monika untuk memeluk pinggangnya dengan erat.
"Bu Polisi, kamu harus memeluk pinggangku agar tidak jatuh, demi keamanan dan keselamatan," ujar Vino dengan suara yang serius.
Monika ingin menampik, tetapi ucapan Vino sangat benar. "Jangan panggil aku Bu Polisi! Aku pacarmu sekarang, panggil aku dengan panggilan sayang."
"Katanya tidak mau?"
"Tak berlaku untuk sekarang. Ayo jalan!" Monika menepuk bahu Vino.
"Oke, Sayang."
Mereka berdua meninggalkan tempat tinggal Vino, pergi menuju ke arah selatan.
Tujuan mereka berdua adalah mall yang terkenal di Jakarta Selatan.
Kecepatan sepeda motor R6 Vino naikkan sampai menyentuh 70 kilometer per jam di jalan raya Jakarta yang cukup padat.
Vino bertindak biasa saja karena dia percaya dengan keterampilannya sendiri.
Berbeda dengan Monika yang memeluk erat tubuh Vino dengan perasan yang takut.
Monika takut Vino tidak bisa mengendarai sepeda motor dengan baik.
Setibanya di tempat parkir bawah tanah mall, Monika tersadar dengan Vino yang bisa membawa sepeda motor begitu lihai.
Pria ini membohonginya semalam.
Mereka berdua berjalan berpegangan tangan ke dalam mall.
Monika tersenyum melihat Vino di sampingnya.
Melakukan hubungan pacaran rasanya tidak buruk, selama berpacaran ini Monika merasakan perasaan gembira bersama Vino.
Kencan ini diawali dengan bermain gim bersama di Temzon, kemudian Monika membawa Vino menuju ke suatu tempat.
Namun, di tengah perjalanan, mereka mendapati peristiwa yang tidak terduga.
"Jangan!!"
"Tidak!"
__ADS_1
"Mamah, takut!!"