
"Apa?! Apa yang ibu bilang barusan?" Vino tercengang dan tidak yakin dengan ucapan ibunya tadi.
Pasti dia salah dengar, tidak mungkin ayahnya seperti itu.
Ibu Vino menunjuk ke sosok ayah Vino di sawah yang masih sibuk mengorek-ngorek lubang kecil berair. "Ayahmu selalu bermimpi dan mengigau dirinya ingin sekali menikahi wanita untuk dijadikan istri kedua. Dia tidak tahu bahwa aku mengetahui niat di hatinya yang paling dalam. Tolong beri tahu ayahmu, Vino. Jangan biarkan dia memiliki dua istri!"
Saat ini, ayah Vino tidak mendengar ucapan istrinya, seluruh fokus pada tubuhnya ditanamkan ke lubang tanah di sawah.
"Miaw, miaw!" ucap ayah Vino berusaha memancing belut di dalam lubang untuk keluar.
Sudut mulut Vino sedikit berkedut melihat cara aneh ayahnya dalam menangkap belut-belut di dalam sarangnya.
Bagaimana bisa belut dipancing dengan suara anak kucing? Terkadang kedua orang tuanya bertingkah acak, tak bisa dijelaskan.
Namun, mata Vino dikejutkan dengan ayahnya sendiri yang ternyata berhasil menangkap satu belut dengan ukuran sedang.
"Ini??" Vonia menatap Vino dengan ekspresi keheranan.
Vino menaikkan bahunya sambil memiringkan kepala, menunjukkan bahwa dia sebagai anaknya tidak tahu bagaimana caranya belut itu bisa tertangkap.
Apa yang Vino lihat sebelumnya cuma ayahnya yang entah kapan memegang belut di tangan kanannya.
Pasalnya, ayah Vino membelakangi mereka semua ketika detik-detik belut berhasil didapatkan.
"Baiklah, Bu, aku akan memberikan pengingat kepada ayah," balas Vino dengan senyuman lembut.
Mau bagaimana lagi, Vino tidak bisa menolak permohonan ibunya sendiri, ini juga menyangkut dirinya secara tidak langsung.
Sudah jelas ibunya tak mau ayahnya memiliki dua istri. Ibu Vino ingin menjadi istri satu-satunya untuk suaminya.
Ibu Vino melompat ke tubuh Vino, kemudian dia berseru senang sambil mencium pipi anaknya.
Sebagai wanita, Ibu Vino tidak tahan untuk tidak mencium pipi Vino yang mulus.
"Terima kasih, anakku!"
__ADS_1
"Iya, sama-sama, Bu."
Vino hanya diam dan sengaja membiarkan ibunya menciumi pipinya. Ciuman pipi dari ibu sangat menenangkan hati, rasa sayang sebagai seorang ibu tersampaikan ke hati.
Pemandangan ibu dan anak saling berpelukan di depannya membuat Vonia memperlihatkan senyuman paling tulusnya. Sungguh sangat cantik.
"Kalian! Ayah sudah mendapatkan tiga belut! Ayo kita pulang ke rumah dan menyantap belut goreng!" panggil ayah Vino sambil menggoyangkan makhluk mirip ular yang berlendir dan licin di tangannya.
Vino dan yang lainnya mengangguk, dan keempatnya tersenyum satu sama lain atas kebahagiaan kecil yang diperoleh di sore hari.
Sepulangnya di rumah, Vino duduk di depan kedua orang tuanya yang sudah kenyang menyantap makan malam.
Vino membelikan mereka pizza dan beberapa makanan cepat saji di aplikasi ojek online, ibu dan ayahnya mendadak ingin dibelikan makanan tersebut. Goreng belut juga tidak lupa dimakan.
Ayah Vino memakan pizza dengan nasi, alasannya agar kenyang.
Wajar, orang tua memang memiliki suatu keinginan kepada anaknya. Lagi pula, jarang-jarang Vino kembali ke rumah, tanpa banyak berpikir dia membelikan makanan yang diidamkan orang tuanya.
"Bu, uang yang aku kirimkan masih ada?" Vino menatap mata milik ibunya dengan penasaran.
Ibu Vino mengangguk dan berkata, "Masih ada banyak, kami baru memakai uangnya dua ratus ribu, masih tersisa empat juta tiga ratus ribu. Ada apa memangnya, nak?"
Sekitar 4 juta lebih uangnya yang Vino kirimkan ke kedua orang tuanya. Uang sebanyak itu hanya dipakai beberapa ratus ribu.
Menyesap air minumnya, ibu Vino malah melepaskan senyuman khasnya yang manis. "Ibu masih belum yakin dengan uang yang kamu berikan, Vino. Tidak biasanya di bulan normal ini kamu memberi kami uang yang banyak. Uang sebesar ini kamu berikan hanya di bulan tertentu saja."
"Benar, kamu mencurigakan," tambah ayah Vino sambil mengambil sepotong pizza terakhir.
Pupil Vino membesar sekilas mendengar alasan orang tuanya. Ternyata ibu dan ayah ragu-ragu memakai uang yang dikirim olehnya, takut berasal dari cara yang tidak baik.
Dipikir lebih dalam lagi, pekerjaan pacar sewa ini agak ambigu dan berada di ambang-ambang.
Vino sendiri tidak bisa memastikan apakah uang yang dihasilkannya baik atau buruk.
[Ding! Sistem bisa menjamin uang dari sewa pacar adalah uang baik. Sistem bisa mengatakan hal tersebut karena satu alasan, yaitu Anda memberikan kebahagian untuk wanita dengan tujuan bukan untuk merusak mereka. Meskipun kenyataannya pelangganmu yang ingin dirusak.]
__ADS_1
"Oke-oke, aku paham, Sistem," kata Vino dalam hatinya.
Sebenarnya, penjelasan Sistem juga terdengar rancu dan tidak jelas. Mengetahui kesimpulan dari Sistem, Vino mengikutinya tanpa banyak berpikir lagi.
Wajah Vino menjadi tegas dan dia menjelaskan, "Ibu, Ayah, uang yang aku berikan bukan uang kotor, semuanya didapatkan dari usaha dan jerih payah Vino. Tidak perlu dikhawatirkan lagi. Pakai saja uangnya."
"Namun ... ibu takut kamu tidak memiliki tabungan untuk menikah nanti kalau menggunakan uang punyamu terlalu banyak, Nak." Ibu Vino memiliki alasan lain kenapa tidak ingin memakai uang Vino.
Menghela napas, Vino sudah mengetahui sifat ibunya, tak berbeda dengan sifat ibunya di dunia sebelumnya.
Ibunya memang sangat perhatian dan selalu memikirkan dirinya, padahal dia sudah besar dan mandiri, tahu bagaimana caranya menjaga diri.
Namanya seorang ibu, beliau akan menjadi ibu selamanya meski anak-anaknya sudah tua.
Vino menggelengkan kepalanya dengan lembut dan menjawab, "Bu, jangan khawatirkan tentang pernikahanku, aku sudah memiliki rencana tentang pernikahan di masa depan nanti. Pakai saja uangnya."
Melihat anaknya yang bersikeras, ibu Vino tidak bisa menolak lagi. Maka dari itu, ibu dan ayah Vino mengangguk untuk memberi tanda mereka mengerti.
Vonia menjadi makin senang memiliki hubungan dengan Vino. Kebimbangannya beberapa hari ini akan terjawab sebentar lagi.
Setelah berhasil meyakini ayah dan ibunya, Vino berencana untuk menanyakan ayahnya tentang keinginan memiliki istri dua.
Ayah Vino telah menyelesaikan semua makanannya, sekarang dia duduk menghadap televisi yang sudah digital.
Tontonan ayah Vino adalah berita, dia memang senang menonton berita sambil memakan camilan kecil.
Melihat ayahnya sudah memasuki mode santai, Vino bertanya, "Ayah, apakah kamu ingin —"
"Sialan, aktivis-aktivis tidak tahu rasanya menjadi korban pembegalan! Seenaknya saja menolak hukum mati untuk para pembegal! Hak Asasi Manusia ini malah cenderung melindungi pelaku daripada korban!" kata ayah Vino dengan wajah yang menghitam kemerah-merahan.
Amarah yang meledak-ledak keluar dari mulut ayah Vino.
Vino tersentak mendengar omelan ayahnya kepada layar televisi.
"Mereka menolak hukuman mati atas alasan pelanggaran HAM, padahal sudah jelas para pelaku bukan lagi manusia dan perlindungan HAM secara otomatis tidak berlaku lagi! Memang aneh dunia ini di zaman sekarang! HAM dipakai di tempat yang sangat salah!"
__ADS_1
"Ayah, sudah-sudah, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," panggil Vino kepada ayahnya.
Dalam sekejap ayah Vino menampilkan wajah lemah lembut penuh keramahan. "Ada apa, Nak? Kamu ingin belajar pada ayah bagaimana caranya mendapatkan wanita lebih dari lima puluh orang?"