
Pemberitahuan Sistem memasuki telinga Vino, memberikan peringatan bahwa pesanan sudah diselesaikan dan Vino harus pergi mengakhiri cerita cintanya bersama Ayumi sekarang.
Ciuman berhenti setelah Vino berinisiatif untuk melepaskan bibir lembut Ayumi yang manis.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain, perasaan cinta bisa dilihat dari kedua mata mereka.
"Maafkan aku, Ayumi. Waktu pacar sewa sudah habis, aku—"
Bibir Ayumi menahan mulut Vino untuk kedua kalinya. Kedua tangan Ayumi menuntun tangan Vino untuk menyentuh beberapa bagian tubuhnya, seperti buah melon, roti, dan pinggulnya.
Sebagai pria perjaka, gerakan Ayumi ini membuat senjata Vino berdiri. Senjatanya yang sudah ditahan-tahan oleh Vino agar tidak bangun untuk bertempur, sekarang tak bisa lagi ditahan.
Ayumi yang fokus mencium bibir Vino menjadi terganggu dengan adanya sesuatu tonjolan yang mengusap bagian di bawah perutnya.
Melepaskan ciumannya, Ayumi langsung melihat kurus ke bawah, menemukan sesuatu menonjol dari celana Vino.
Glup!
Ayumi menelan ludahnya melihat sesuatu yang menonjol di balik celana Vino.
Kedua pipinya makin merah, saking merahnya itu terlihat seperti apel yang sudah matang.
Dengan hati yang gelisah, tangan Ayumi bergerak dengan sendirinya, mengusap dan meraba tonjolan besar tersebut.
Vino yang perjaka langsung diam, perasaan tersengat aliran listrik dirasakan pada tubuhnya, sama sekali tak bisa bergerak, membiarkan Ayumi terus mengusap senjatanya.
Gerakan ini makin intens sehingga Vino gemetar tak kuasa menahan muntahan senjatanya.
Hal yang tidak disangka-sangka terjadi, Ayumi berjongkok, kemudian membuka celananya untuk mengeluarkan senjata besar milik Vino.
Tindakan Ayumi tertahan sejenak begitu melihat ukuran senjata Vino yang ada di atas rata-rata pria Asia, panjang dan besar, serta berurat.
Vino bisa merasakan sesuatu yang lembut menelan senjatanya yang sudah mengeluarkan cairan putih kental. Setiap sentuhan lembut itu terasa ke ujung kepala senjata, tubuh Vino bergetar kegelian dan penuh rasa nikmat.
Untuk kedua kali Vino mengeluarkan cairan yang banyak. Kali ini dia mengeluarkan di dalam mulut Ayumi.
[Peringatan! Dimohon untuk tuan rumah kembali ke rumah karena evaluasi hasil pesanan akan dilakukan!]
Ayumi menyeka mulutnya, dia menjilat jari-jarinya yang basah sambil memandangi Vino dengan wajah tersipunya.
__ADS_1
Begitu Vino menurunkan pandangannya, dia bisa melihat bahwa senjatanya benar-benar bersih dari cairannya sendiri, bahkan Ayumi menyempatkan diri untuk mengelap sampai kering celana Vino yang basah.
"Barusan adalah pengalaman pertama aku melakukan itu, maaf jika tidak lihai," kata Ayumi dengan wajah yang malu. Mata Ayumi tidak berani bertemu dengan kedua mata Vino.
Apa yang dikatakan Ayumi membuat Vino tak percaya, pertama kalinya saja sudah sehebat itu.
Kejutan terlihat di wajah Vino, dia tak percaya Ayumi baru melakukan kegiatan tersebut.
"Anu, aku kerap menonton itu, tetapi tenang saja, aku tidak memasukkan sesuatu ke barangku sendiri," lanjut Ayumi sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Helaan napas terdengar dari mulut Vino, ternyata karena sudah tahu banyak teori dan materinya.
Vino memeluk tubuh Ayumi untuk terakhir kali sebelum pergi kembali ke kosannya.
Tidak lupa untuk mengenakan celananya lagi.
Menatap Ayumi berdiri di depannya, Vino mengelus pipi kiri Ayumi dan menjelaskan, "Aku harus kembali sekarang, ini akan malam sebentar lagi, ada sesuatu yang harus kerjakan."
"Aku mengerti, Sayang." Ayumi mengangguk sembari memegang tangan Vino.
Selanjutnya, dia memeluk Vino atas inisiatifnya sendiri dan berbicara tentang sesuatu.
"Jangan lupa untuk beristirahat, aku tahu bekerja itu melelahkan karena aku juga merasakannya. Beristirahatlah sejenak dan hubungi aku jika kamu merasa lelah, aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak mempermasalahkan pekerjaan ini, asalkan kamu menyukainya aku mendukungmu. Kuharap aku bisa memesanmu lagi, Cinta Pertamaku."
Pada akhir kalimat, sontak Vino memeluk Ayumi dengan erat. Ketika wanita sudah mengatakan hal yang memiliki makna yang mendalam seperti itu, sudah bisa dipastikan wanita ini menginginkan cinta dan kasih sayang.
Namun, Vino masih bingung mengenai masalah cinta.
Sekarang dia terjebak di antara cinta palsu dan cinta asli.
Tidak tahu apa yang akan dipilihnya sekarang karena semuanya membingungkan dia.
Sesungguhnya, hati Vino sendiri sulit membedakan antara perasaan cinta yang tulus dan cinta yang sandiwara.
Vino melakukan pekerjaannya dengan dua perasaan cinta ini yang digabungkan. Alhasil, Vino merasa pusing sendiri.
"Selamat tinggal, aku menunggu ulasan bintang lima darimu," ucap Vino sambil melambaikan tangannya dan berjalan pergi dari bangunan kontrakan Ayumi.
Berdiri di depan pintu, Ayumi melambaikan tangannya dan mengangguk beberapa kali.
__ADS_1
Perlahan sosok Vino menghilang di tangga untuk turun ke lantai bawah, perasaan bahagia dan kesepian beradu di dalam hati Ayumi.
"Aku pasti merindukanmu, Vino. Aku harap kamu baik-baik saja di dalam pekerjaanmu."
Setelah mengatakan itu, sosok Ayumi masuk ke dalam pintu kontrakan, bersandar di balik pintu sambil menyentuh bibirnya.
"Apa ukuran pria rata-rata sebesar itu? Aku baru tahu rasa cairan milik pria lumayan enak."
Pipi Ayumi merona memikirkan peristiwa spesial yang terjadi di antara keduanya.
Di sisi lain, sosok Vino telah kembali di kamar kosannya yang sempit.
Sekarang dia sedang berdiri di tengah kosan sambil melirik ke celananya, dengan wajah yang penuh kejutan, Vino bergumam, "Perasaan tadi benar-benar luar biasa."
"Tunggu." Wajah Vino berubah seketika setelah memikirkan lagi hal barusan. "Apakah aku sudah terbebas dari status perjaka?"
[Ding! Misi Sewa Berhasil Diselesaikan! Silakan memilih satu hadiah permanen!]
[Ulasan bintang lima telah diberikan oleh pelanggan! Silakan memilih satu hadiah permanen yang tersedia!]
Ujung bibir Vino naik sedikit, senyuman tipis muncul mendengar suara Sistem yang datang di kepalanya.
"Halo, selamat malam juga, ini siapa?"
Di jam 5 sore Waktu Indonesia Barat, Vino mendapatkan sebuah panggilan telepon dari nomor telepon yang belum disimpan.
Setelah mengucapkan pertanyaan itu, pihak telepon memberi tahu tentang identitasnya.
Pihak telepon ternyata dari kepolisian, memberi tahu tentang preman yang berhasil menjadi tersangka, Vino dimintai untuk memberikan keterangan saksi sebagai korban tentang video yang telah tersebar di internet.
Vino merasa aneh dengan ini. Polisi ingin meminta bukti saksi apalagi, sedangkan video awal detik-detik sebelum terjadinya perkelahian sudah dikirim oleh Vino dari warga di sini.
Mengingat pihak yang memintanya berasal dari kepolisian, sebagai warga yang taat, permintaan ini mau tidak mau diterima.
Malam hari nanti, sekitar 2 jam kemudian, Vino harus ada di kantor polisi lagi.
Tepat di jam 7 malam, sosok Vino sudah sampai di kantor polisi, di sana Vino diminta keterangan jelas tentang apa yang dilakukan oleh preman kampung ini. Selain Vino, ada banyak saksi baru yang juga dipertanyakan hal yang sama juga.
Saksi-saksi ini bahkan memberikan bukti kejahatan yang dibuat preman.
__ADS_1
Jawaban mereka dan Vino sesuai. Dengan begitu mereka diperbolehkan untuk pergi.
"Kamu, Vino! Kamu tidak boleh pergi!"