
"Kekuatan cinta, tentu saja itu alasannya." Vino masuk ke dalam halaman rumah Monika, berdiri di depan pintu dan memegang pinggul ramping Monika sambil menatap matanya begitu dekat.
Tangan Monika melingkari leher Vino, membalas menatap tatapan pria di depannya sambil tersenyum manis. "Aku merindukan kamu ...."
"Aku juga." Perlahan Vino memajukan wajahnya, memberikan kode untuk berciuman dengan Monika.
Saat bibir keduanya ingin bertemu, bunyi suara kenalpot mobil terdengar di telinga keduanya, mengganggu mereka ingin berciuman
Boom!
Cittt!
Mobil Ferrari 813 Superfast berwarna hitam berhenti di depan rumah Monika, seseorang yang mengenakan kemeja kotak-kotak perpaduan warna merah dan hitam, memakai celana bahan panjang berwarna cokelat keluar dari pintu mobil, tampilannya cukup tampan, tetapi tidak lebih tampan dari Monika.
Berikutnya, pria itu berjalan sambil menggulung lengan kemejanya dengan memasang ekspresi tampan, menurutnya sendiri.
Pria itu memandang pagar dengan aneh, berpikir tidak biasanya pagar rumah Monika terbuka. Dia memilih masuk ke dalam tanpa melihat ke depan dan fokus membenahi penampilannya.
Begitu pria itu masuk ke dalam halaman rumah Monika, dia terkejut terhadap apa yang dilihatnya sekarang, pacar idamannya tengah bermesraan dengan pria lain.
"Ka–kamu!" Pria itu menunjuk Vino dengan wajah penuh kejutan dan tangan bergetar.
Jelas terlihat pria itu mendapatkan serangan patah hati yang kuat, wajahnya mulai memerah, dia tidak terima dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Alih-alih melepaskan pelukan, Monika mencium bibir Vino dengan ganas sambil meminta Vino menggendong tubuhnya agar terlihat lebih jelas mereka berdua melakukan ciuman yang panas.
Pupil mata pria itu membesar dan menyusut dengan getaran yang jelas, perasaan tidak percaya, tidak terima, kekecewaan, penyesalan, amarah, dan kesal menyatu di dalam satu sorot matanya yang sekarang sedang menyaksikan Monika dan Vino berciuman.
Diserang oleh kenyataan yang pahit, pria ini tidak menunduk dan pasrah, melainkan bangkit dengan amarah yang memuncak.
"Bajingan, lepas Monika sekarang!!"
Pria itu berlari dengan mode gila menuju Vino dan Monika.
Melihat gerakan itu, Vino melepaskan ciumannya, mendorong Monika masuk ke dalam rumah dan langsung menutupnya.
Gerakan Vino begitu cepat kurang dari 3 detik berlalu.
Swoosh!
Bam!
Sebuah pukulan kuat menghantam pintu rumah Monika yang keras, menimbulkan bunyi yang nyaring.
Vino berhasil mengelak dari pukulan pria yang baru datang ini dengan memiringkan kepalanya tepat waktu.
"Matilah!"
Kepalan tangan kiri melambung ke wajah Vino dengan cepat.
__ADS_1
Menangkap serangan tiba-tiba ini, gerakan pertahanan dilakukan Vino, dengan cepat dia mengangkat sikut tangan kirinya dan memblokir tinju kuat lawan.
Pria itu terkejut, kemudian dia menarik kedua tangannya, sedikit memiringkan tubuh ke belakang lalu menerbangkan tendangan membidik perut Vino yang terbuka.
Swoosh!
Tendangan ini sudah diantisipasi Vino, lutut kakinya terangkat dengan reaksi cepat menahan tendangan tersebut.
Namun, tubuh Vino mundur ke belakang karena gaya dorongan yang kuat.
Bam!
Tembok rumah menahan tubuh Vino dengan keras, Vino kurang memperhatikan medan sekitar.
"Aku takkan membiarkanmu hidup, keparat!"
Pria itu berlari sambil ancang-ancang melemparkan pukulannya lagi.
Teras rumah Monika memiliki pagar pembatas, sebuah ide terlintas dan Vino bergegas melompati pagar.
Melihat Vino berguling di halaman depan rumah Monika.
Lari pria itu berganti arah, kembali ke halaman depan sambil memegang sapu di tangannya.
Sapu yang selalu diletakkan Monika di teras rumah diambil pria yang tiba-tiba marah ini. Digunakan sebagai senjatanya.
Mengangkat tongkat sapu tinggi-tinggi, pria itu berlari ke Vino dengan darah yang mendidih.
Swoosh!
Vino secara naluriah menahan itu dengan tangan dan kakinya secara bersamaan, melindungi bagian tulang rusuknya.
Krek!
Tongkat sapu itu patah bertemu tubuh Vino menjadi dua bagian.
Namun, hal itu tidak membuat pria itu berhenti menyerang Vino.
Terlihat dari kecepatan lambaian tangan pria yang menyerang Vino, tampaknya pria itu memiliki ilmu bela diri yang lumayan bagus.
Pukulan tinju, tendangan kaki, pukulan sapu, diterima Vino yang sedari tadi hanya melakukan defensif dibandingkan menyerang.
Pria itu sudah lelah karena diajak Vino berlari mengitari halaman depan rumah Monika. Butiran keringat yang tak terhitung jumlahnya sudah menetes dari dahinya.
Saat ini, keduanya saling memandang berhadapan, terpisah oleh jarak lebih dari 2 meter.
Tubuh pria yang mengamuk tanpa henti selama 10 menit terlihat terengah-engah, energinya terkuras sampai habis, pakaiannya yang rapi dan bersih sudah acak-acakan.
Di beberapa bagian pada pakaian dan tubuhnya dinodai tanah yang lembap. Penampilannya benar-benar tidak karuan.
__ADS_1
Tak jauh berbeda dengan Vino, dia bahkan terdapat luka memar di tangan dan betisnya, luka sayatan karena bekas patahan tongkat kayu sapu yang tajam yang menjalar di beberapa tempat di tangannya.
Jelas, darah keluar dari tangannya itu, terasa perih dan sakit.
Akan tetapi, Vino tidak menghiraukan rasa sakit ini karena sudah terbiasa menerima luka dan pukulan orang lain.
"Sayang sekali, kamu tidak akan bisa mendapatkan Monika, dia sudah menjadi milikku sepenuhnya, kamu lihat barusan? Bahkan dia memakai gaun hitam transparan hanya untukku. Sudah dua hari aku telah melakukan itu dengannya, aku suka dengan goyangannya," ujar Vino tersenyum lebar sambil berjalan mendekati pria di depannya.
Mendengar ucapan Vino, hati pria itu sekali merasakan sakit yang luar biasa, seolah ditusuk oleh ratusan pedang samurai.
Wajah kelelahannya digantikan oleh ekspresi marah yang tak tertahankan.
Sayangnya, pria itu tidak memiliki banyak stamina untuk melakukan serangan kepada Vino.
Sosok Vino yang berjalan perlahan tidak tahu kapan ada di depan tubuh pria itu.
Sebelum sempat pria itu menghindar, pukulan kuat tangan kiri Vino mendarat tepat di perut pria yang dari awal sudah melakukan serangan.
Tubuh pria itu membungkuk ke belakang dengan mata yang melotot hampir keluar.
"Uhuk!"
Sedikit darah keluar dari mulutnya, mendarat di tanah dalam noda merah.
Dampak dari tinju Vino cukup besar karena mengeluarkan kekuatan hantaman yang setara ditabrak sepeda motor sport dengan kecepatan 120 kilometer per jam.
Selepas menerima pukulan telak Vino, tubuh pria itu bergetar dan merosot jatuh di bawah dengan rasa sakit yang luar biasa.
"Arghh!"
Raungan terdengar dari mulut pria itu, tangannya memegang perut untuk menahan sensasi runyam dari hantaman kuat Vino.
Vino tidak bergerak, dia berdiri di samping pria yang berlutut itu dengan senyum yang tidak luntur sama sekali.
"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran lagi," kata Vino dengan suara yang dingin.
Begitu kalimat Vino memasuki telinganya, pria itu memaksakan diri untuk berdiri.
Berjalan tertatih-tatih, seperti bayi yang baru bisa berjalan, pria itu pergi dari rumah Monika, meninggalkan kalimat ancaman yang biasa pecundang katakan.
"Ak–aku akan kembali ... untuk me–menghabisimu dan melenyapkanmu da–dari dunia ini!"
Usai ancaman itu keluar, suara mobil sport terdengar keras sebelum melaju cepat untuk keluar dari kompleks rumah Monika.
Melihat pria itu pergi, Vino menatap ke depan rumah Monika, memberikan jempolnya sebagai kode.
Monika yang memasang wajah cemas keluar dari rumah sambil memegang ponsel.
"Tidak-tidak, kamu tidak bisa seperti ini terlalu lama, masuk ke rumahku, aku akan mengobatimu," kata Monika sambil menarik Vino ke rumah.
__ADS_1
"Aduh, jangan pegang bagian situ! Aah!"