
Suara Sensei Oda membuat Giono tersadar dari lamunan terkejutnya.
Masih ada waktu 3 menit lagi untuk membalikkan angka skor.
Giono membungkukkan tubuhnya ke Sensei Oda, kemudian dia menatap Vino dengan keseriusan yang tinggi.
"Aku tidak akan kalah!"
Berikutnya, Giono dan Vino kembali berhadap-hadapan satu sama lain sembari memegang Shinai masing-masing.
Mata Giono bergerak cepat mencari kemungkinan untuknya mencetak skor memukul bagian kepala, tubuh, tangan, dan leher Vino.
Mereka berdua masih belum bergerak setelah puluhan detik berselang.
Bola mata Giono menangkap titik penyerangan, kemudian dia melakukan ayunan cepat membidik sisi kanan perut Vino.
Swoosh!
Plak!
Sebuah benturan pedang bambu yang keras pada pelindung tubuh terdengar oleh telinga semua orang.
Para kendoka yang melihat sosok keduanya bertarung langsung terkejut ketika suara pelindung yang dipukul berbunyi.
Saat ini, Sensei Oda melihat Vino menebas perut kanan Giono jauh lebih cepat dari yang bisa Giono lakukan.
Giono terlihat memberhentikan ayunan pedangnya di udara setelah mendengar suara pukulan yang keras.
Mengangkat bendera, Sensei Oda berkata, "Skor untuk Vino!"
Semua orang yang menyaksikan pertandingan ini berseru senang melihat Vino mendapatkan skor lagi.
"Sangat cepat! Aku tak bisa melihat bagaiman Vino mengayunkan pedang bambu!"
"Benar, padahal aku sudah melebarkan mataku, tetap saja tidak bisa melihat jelas bagaimana pedang bambu Vino bergerak!"
"Aku tidak tahu apakah Vino memiliki kecepatan yang sama jika di atas ranjang?"
"Kemungkinan besar Vino dapat menaklukkan wanita dengan tangannya yang cepat."
"Pacarnya pasti bahagia mendapatkan Vino. Tunggu, bukankah pacarnya itu Ayumi?"
"..."
Diskusi mulai terdengar aneh yang berasal dari kendoka wanita.
Ayumi yang duduk bersama mereka menjadi memerah karena malu. Vino dan dia sama sekali tidak melakukan apa pun, apalagi melakukan kegiatan seperti itu.
Membayangkan dirinya melakukan kegiatan itu dengan Vino, rasanya terlalu indah dan cuma angan-angan saja.
Pipi Ayumi makin memerah sambil menurunkan wajahnya ke bawah.
Ayumi menepuk-nepuk pipinya, menyadarkan diri untuk tidak berfantasi tentang hal yang tak senonoh itu.
__ADS_1
'Tidak mungkin itu terjadi, aku sama sekali tak pantas,' gumam Ayumi dalam hatinya.
Pada saat ini, Vino berdiri di depan Giono dengan postur tubuh yang siap memukul Giono.
Para penonton menjadi tak sabar melihat Vino mencetak skor ketiganya.
Giono sudah dipenuhi oleh emosi, dia benar-benar tidak menerima dirinya sendiri kalah, terlebih lagi dikalahkan oleh Vino.
Dengan emosi di dalam hatinya yang memuncak, Giono mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang bisa ia lakukan.
Semua orang yang melihat gerakan Giono menjadi terkejut, Giono melakukan tebasan Men yang menargetkan kepala.
Mereka melihat ujung pedang bambu Giono sudah dekat dengan pelindung kepala Vino, sudah bisa dipastikan Giono yang mencetak skor.
Tiba-tiba, Sensei Oda mengibarkan bendera di tangannya, meraung menyatakan skor.
"Satu skor untuk Vino! Pertandingan ronde pertama selesai!"
"Pertandingan dimenangkan oleh Vino dengan skor tiga poin, kekalahan nol poin untuk Giono!"
Mendengar pernyataan yang keras ini, para penonton terkejut dan melihat dengan jelas apa yang terjadi di tengah lapangan.
Mereka bisa melihat Vino yang menusuk bagian leher Giono yang sedang ingin menebas.
Gerakan Vino begitu cepat, mereka sulit untuk mengikuti gerakan Vino ini.
Tahu-tahu sudah melancarkan serangan dan memberikan hasil yang mengejutkan mereka semua.
Ayumi juga terkejut melihat performa Vino yang luar biasa, bahkan membuat Ayumi ragu untuk bisa menang melawan Vino.
"Bagaimana, apakah kamu puas dengan itu?" Vino menarik kembali pedang bambunya dari leher Giono yang terlindungi.
Pandangannya menyorot ke wajah Giono, tak ada perasaan membenci, Vino hanya memberikan sebuah pandangan yang santai dan sedikit main-main.
Namun, bagi Giono yang melihat ini, kemarahannya meledak kuat. Tangannya yang memegang Shinai atau pedang bambu terkepal erat.
"Lihat saja nanti di ronde dua, Bedebah!"
Emosi marah ditahan ketika Sensei Oda menatapnya, Giono tak berani memukul Vino di dalam Dojo, terlebih diawasi oleh Sensei Oda.
"Oke, aku akan lihat ... kekalahanmu."
Vino berbalik setelah mengatakan kalimat itu, berjalan ke tempatnya tadi, mengabaikan Giono yang terpancing emosi karena ucapannya.
Sensei Oda tidak memberikan mereka waktu untuk beristirahat karena pertandingan ini saja cukup singkat.
Dengan begitu, pertandingan Vino dan Giono dimulai untuk ronde kedua.
"Skor untuk Vino!"
"Satu skor untuk Vino!"
"..."
__ADS_1
"Pertandingan ronde kedua selesai, kemenangan penuh untuk Vino!"
Setelah Sensei Oda menyatakan kemenangan pertandingan dengan suara yang lantang, semua kendoka bersorak, merayakan kemenangan Vino.
Di pertandingan kedua ini Giono masih sama hasilnya, sama sekali tidak bisa melawan Vino, bahkan 1 poin skor pun tidak bisa ia dapatkan.
Saat ini, Giono bersimpuh dengan kekecewaan yang mendalam akan dirinya sendiri.
Kedua tangannya mencubit hakama dengan kekesalan dan kekecewaannya terhadap kekalahan yang ia dapatkan ini.
Dunianya terasa runtuh, kemampuan Dan 2 terasa tidak ada apa-apanya di hadapan kemampuan raksasa Vino.
Hanya ada ketidakmampuan yang ada di hatinya sekarang. Dia lemah, dia bukan apa-apa, dia pria yang hanya besar mulut, jauh dari pria yang pantas bagi Ayumi.
Air mata menetes dari kelopak matanya, celana yang berbentuk rok itu dibasahi oleh beberapa tetes air mata.
Vino yang berdiri di dekat Giono langsung menyadari air mata yang menetes.
Sebuah perasaan kasihan dapat Vino rasakan, tidak tahu mengapa Giono yang sekarang mirip dengannya beberapa hari yang lalu.
Tidak berdaya, tak bisa melawan, hanya ada kepasrahan yang dalam, semua itu pernah dirasakan oleh Vino.
Dengan empati yang aktif, Vino menghampiri Giono, kemudian dia menepuk bahunya. "Jangan menangis, kamu seorang pria, aku yakin kamu bisa menjadi lebih kuat dari sekarang. Jangan jadikan tujuanmu belajar Kendo untuk mengejar wanita, jadikan tujuanmu itu untuk melindungi orang yang kamu sayang."
Giono tertegun mendengar ucapan Vino, air matanya seketika tertahan dengan pupil mata yang membulat.
Setelah mencerna apa yang dikatakan Vino, Giono tiba-tiba bersujud di depan kaki Vino.
"Maafkan aku, maafkan sikapku!!"
Sembari menangis, Giono meminta maaf kepada Vino dengan perasaan yang menyesal.
Apa yang telah ia lakukan sebelumnya benar-benar tidak mencerminkan seorang kendoka yang menjunjung tinggi etika dan nilai moralitas sebagai manusia.
Sensei Oda dan yang lainnya menghela napas melihat Giono yang tertampar oleh kekalahan dan langsung berubah.
Semuanya tersenyum melihat pemandangan ini, temannya yang arogan akhirnya berubah.
Setelah pertandingan ini selesai, pertandingan Ayumi dan Vino dilaksanakan.
Pertandingan dimenangkan oleh Vino dengan skor 3-1yang cukup jauh. Ayumi senang dengan hasil ini, ternyata Vino benar-benar pria yang ideal untuknya.
Pulang dari Dojo di sore hari, Vino dan Ayumi kembali ke kontrakan yang disewa Ayumi dengan senyuman di wajah mereka berdua.
"Terima kasih, Sa–sayang." Ayumi melingkari leher Vino dan memandang kedua mata Vino dengan wajah yang merang.
Vino memegang pinggang Ayumi dengan senyuman yang menawan. "Sama-sama, Sayang."
Keduanya saling bertatapan dan diam, perasaan cinta terlontar dari tilikan mata mereka.
Detak jantung Ayumi memompa lebih kencang, begitu melihat wajah Vino terlihat lebih dekat.
Padahal, Vino masih diam dan masih menatap mata Ayumi yang manis.
__ADS_1
Berikutnya, bibir Ayumi menyambar mulut Vino dan mereka berdua melakukan ciuman penuh rasa cinta yang bermekaran.
[Ding! Pesanan Selesai!]