
Pengamen itu meminta penonton memberikan tepuk tangan kepada Vino sebagai bentuk apresiasi terhadap niat Vino.
Prok! Prok!
Semua penonton bertepuk tangan dengan keras sambil tersenyum senang, penampilan Vino yang tampan memberikan kesan yang baik ke semua orang.
Dengan begitu, orang-orang tidak keberatan memberikan tepuk tangannya kepada Vino.
Vino mengangguk sambil sedikit membungkuk sebagai rasa terima kasihnya sudah diberikan penghargaan kecil dari mereka. Senyuman Vino juga menginfeksi semua orang menjadi lebih senang suasana hatinya.
Melihat respons semua penontonnya, pengamen itu tersenyum senang. Mereka sudah menerima kehadiran Vino dan itu bukan tanda yang buruk sebelum memulai penampilannya.
Setelahnya, pengamen mengangguk ke arah Vino yang sudah mengatur dan memeriksa senar gitarnya dengan singkat, kode bahwa mereka akan memulai menampilkan pertunjukan nyanyiannya.
Jari-jari Vino dengan lincah dan lentur memetik senar gitar. Ayunan irama lagu yang santai dan agak sedih tercipta dari gitar tersebut.
Pengamen dan Vino akan membawakan lagu dari penyanyi terkenal Eed Shiran yang berjudul "Sempurna".
"Aku temukan cintaku. Sayang, cukup Selami aku dan ikuti aku."
"Well, i found the girl, cantik dan manis."
Suara dari pengamen ini cukup bagus, lumayan enak didengar dan bisa diterima oleh telinga semua orang.
Permainan gitar Vino sangat bagus dan itu tidak begitu sama dan bahkan membuat lagu menjadi lebih baik.
Penampilan Vino sangat membuat mereka semua terasa segar dengan lagu lama dan enak ini, melodi lagu dari gitarnya menyentuh hati.
"Sayang, aku menari dalam gelap, bersamamu di dalam pelukku."
"Tak beralas kaki di atas rumput, mendengarkan lagu kesukaan kita."
"..."
Tanpa sadar, mereka semua yang menonton pertunjukan nyanyian jalanan ini bergoyang sesuai nada yang keluar dari gitar.
Tidak ada kata yang tepat selain "Hebat" untuk penampilan Vino dalam memainkan alat musik gitar.
Selama lagi itu dinyanyikan pengamen, tidak ada nada yang salah sehingga memengaruhi pertandingan, semuanya sangat tepat dan nada tangganya dilakukan dengan benar.
Melihat penampilan Vino yang bisa memainkan gitar, Callie yang berdiri sebagai penonton menjadi bahagia, senyuman di wajahnya sudah mewakili rasa senangnya dia terhadap apa yang dilakukan Vino untuknya.
__ADS_1
"Kamu terlihat sempurna malam ini."
Lantunan lirik terakhir dinyanyikan dan lagu resmi berakhir tepat dengan petikan gitar Vino yang sangat indah.
Prok! Prok!
Priwit!!
Semua orang bertepuk tangan dan ada yang bersiul untuk memeriahkan apresiasi kepada mereka berdua yang berhasil membawakan lagu romantis tersebut.
Callie ikut bertepuk tangan dengan hati yang sangat gembira, bahkan sedikit melompat-lompat.
Setelah melakukan pertunjukan itu bersama pengamen, mereka berdua mengobrol sesaat dan saling memuji.
"Permainan gitarmu sangat hebat, kawan!" Pengamen itu mengajak berjabat tangan ala pria.
Mengambil tangan pengamen, Vino mengangguk seraya berkata, "Haha, terima kasih. Tidak seberapa permainan gitarku. Suara kamu juga bagus, permainan gitar kamu juga sangat baik."
"Jangan merendah seperti seorang sepuh." Pengamen itu menepuk bahu Vino sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah berterima kasih ke penonton karena telah banyak memberikan uang ke pengamen, Vino pergi bersama Callie dari kerumunan yang menonton nyanyian pengamen tersebut. Tidak lupa Callie memberikan uang beberapa dolar untuk pengamen itu.
"Dia bilang apa kepadamu, Sayang?" tanya Callie kepada Vino.
Tangan Vino terulur memeluk bahu Callie dan mengusap sambil mencium kepalanya, kemudian menjawab, "Dia memberi saran padaku untuk tetap terus menyayangi kamu karena kamu adalah berlian langka."
Kedua pipi Callie memunculkan warna merah, merasa malu setelah mendengar kalimat Vino.
Jelas itu adalah pujian.
"Sayang, aku sedang serius." Callie memeluk Vino sambil berjalan dan terlihat cemberut.
"Aku tidak bercanda, dia memang mengatakan hal itu dan aku setuju dengan dia. Kamu memang harus disayangi dan dijaga karena kamu merupakan berlian merah yang sangat mahal," kata Vino dengan senyuman menawan.
Tidak bisa, Callie tidak bisa menahan lagi dan meminta Vino untuk mempercepat jalannya menuju ke apartemen.
Sekarang baru jam 11 siang lewat beberapa menit setelah berbelanja bersama di mall dan juga bermain gitar, masih ada beberapa waktu sebelum Vino pergi karena telah menyelesaikan tugas pesanan Callie.
Namun, Callie tiba-tiba meminta Vino untuk menggambarkan dirinya yang tidak mengenakan pakaian sedikit pun usai tiba di dalam apartemen.
Keterampilan Menggambar Realistis benar-benar terpakai karena permintaan Callie.
__ADS_1
Dengan senang hati Vino membuat gambar tubuh Callie yang seksi di dalam satu lembar kertas khusus menggambar.
Ternyata Callie juga suka menggambar, tetapi tidak begitu ditekuni dan keahliannya biasa-biasa saja.
Tidak heran kalau dia menginginkan Vino bisa menggambar, ada keinginan yang tak bisa Callie capai.
Jujur saja, menggambar dalam keadaan pedang menjadi tegak sangat sulit mendapatkan konsentrasi.
Setelah menyelesaikan gambarnya dalam waktu setengah jam, Vino mengambil tubuh Callie dan melakukan pertempuran brutal.
Pertempuran berlangsung sampai jam setengah 1 siang waktu New York karena sesuatu ada yang mengetuk-ngetuk pintu apartemen.
Menahan tubuh Vino dengan kedua tangannya supaya tetap di kasur, Callie menggelengkan kepalanya dengan wajah yang panik dan ketakutan.
Ada sesuatu yang aneh pada Callie setelah suara ketukan dan bell tersebut terdengar.
"Ada apa? Mengapa kamu melarang aku membukakan pintu apartemen?" tanya Vino dengan heran.
Tubuhnya yang masih memiliki tanda memar akibat luka bertarung terekspos, sudah disadari oleh Callie dan Vino berkata dia habis bertarung kemarin.
Callie tidak menanyakan lebih jauh lagi tentang pertempuran tersebut dan memberikan nasihat untuk tidak bertarung lagi. Alasannya sangat berbahaya.
Memandang wajah Vino di atas kepalanya dengan mata cemas, Callie menjawab, "Jangan, kamu akan bertemu dengan pria yang selalu mengejarku."
"Ada pria yang mengejar kamu?!" Vino terkejut mendengar ini.
"Benar, beberapa hari ini sejak kita bertemu, tiba-tiba penghuni apartemen sebelah mencoba mendekati aku dan langsung memberikan pengakuan cintanya padaku. Saat itu aku ingin memesan kamu, tetapi jadwal kamu penuh. Jadi, aku hanya bisa menghindar. Aku merasa risih, aku sayang kamu, Vino."
Penjelasan diberikan Callie kepada Vino dengan wajah penuh kecemasan dan rasa takut.
Usai mendengar ini, Vino menjadi mengerti mengapa Callie di awal pertemuan kali ini begitu berbeda.
Alih-alih mengikuti ucapan Callie untuk tidak keluar dari apartemen, Vino keluar dengan keadaan tanpa mengenakan pakaian atas, cuma tubuh bagian bawah saja yang ditutup.
Callie sudah melarangnya, tetapi Vino tak bisa dihentikan.
Lebih baik beri tahu bahwa Callie sudah punya pacar daripada diam dan risiko hal yang tak baik akan terwujud di masa depan.
Tangan Vino menarik gagang pintu dengan tegas, menampilkan sosok pria berkulit gelap dengan tinggi hampir setara dengan Vino.
Namun, tubuhnya ini lebih besar, ototnya lebih mengembang dibandingkan Vino.
__ADS_1
Kehadiran Vino yang membuka pintu membuat pria itu tersentak dan terkejut. Namun, wajahnya berubah ketika mendengar kata-kata Vino.
"Maaf, aku sarankan kamu jangan ke sini lagi untuk bertemu Callie, dia sudah menjadi wanitaku sekarang."