Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 64: Kabur ke New York


__ADS_3

Setelah melambaikan tangannya beberapa saat kepada beberapa pria yang mengejar di belakang, Vino fokus ke jalan dan mengendarai sepeda motor dengan andal.


Sepeda motor BMW seri ini sangat enak dibawanya. Mampu dikendarai di berbagai medan, memang diciptakan untuk bertualang ke alam liar.


Maka dari itu, Vino tidak perlu khawatir mengenai kenyamanan Fransisca yang duduk di jok belakang.


Wanita ini memeluk pinggangnya dengan erat tanpa sedikit pun berbicara.


Melihat dari kaca spion, wanita yang jelas berwajah orang barat ini memejamkan matanya dan tersenyum dengan kepala disandarkan di punggung Vino.


Vino tidak ingin mengganggu waktu dia saat ini, biarkan saja Fransisca menikmati momen santainya dengan baik.


Dengan tarikan pedal gas, Vino mengarahkan sepeda motornya ke Kota New York yang tak jauh jaraknya dari tempat Fransisca dijemput.


Waktu untuk bisa ke kita New York hanya beberapa jam, bahkan kurang dari 2 jam lamanya di jalan.


Namun, sebelum ke sana, tentunya harus mengenakan helm dan perlengkapan berkendara lainnya.


Demi menghindari tilang dan polisi lalu lintas setelah.


Vino berhenti sejenak di tepi jalan raya yang tak terlalu besar, mengambil helm dari tas khusus sepeda motor yang sudah satu paket dengan sepeda motornya.


Helm juga termasuk ke dalam paket sepeda motor yang diberikan Sistem.


"Sisca, tolong bangun sebentar, kamu harus memakai helm demi keselamatan." Vino menepuk paha Fransisca dengan lembut guna membangunkannya.


Fransisca yang tak sadar kalau dirinya tertidur segera terbangun, kemudian dia melirik Vino yang sudah mengenakan helm dengan kondisi bingung.


Kebetulan mata Vino menangkap tatapan heran Fransisca, segera dia berkata mengingatkan, "Aku pacar sewaan yang kamu pesan, namaku Vino, kamu ingat, kan?"


Pupil mata Fransisca membulat sesaat, kepalanya mengangguk sekali menandakan dirinya ingat dengan identitas Vino. "Mengapa kamu lama sekali?"


Melihat tatapan mata Fransisca yang tajam, Vino merasa canggung dan bersalah.


Seharusnya, dia tak perlu bersiap-siap hingga menghabiskan waktu 5 menit yang disediakan.


"Maaf," kata Vino sambil sedikit membungkuk menyamping. "Aku tidak tahu kamu dalam situasi yang berbahaya."


"Ya, lain kali kamu harus tepat waktu. Lebih baik kamu datang sebelum waktu yang dijanjikan," balas Fransisca sambil menarik helm di tangan Vino.


Namun, Vino menahan helm di tangannya, kemudian memakaikan helm kepada Fransisca.


Perilaku kecil ini sangat berdampak bagi hati Fransisca. Lemak di pipi putihnya menimbulkan rona merah.


Setelah Fransisca dan Vino menyelesaikan mengenakan perlengkapan berkendara roda dua, sepeda motor Vino lajukan menuju ke arah jalan tol.

__ADS_1


Mereka tak bisa terlalu lama di sana takut pria-pria barusan mengejar Vino sampai tempat berhenti ini.


Dengan begitu, mereka berdua kembali pergi dengan laju sepeda motor yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.


Di perjalanan di atas sepeda motor, Vino merasa penasaran dengan identitas Fransisca sebenarnya.


Pada informasi dasar Fransisca di aplikasi pacar sewaan Sistem, disebutkan bahwa Fransisca adalah seorang wanita yang memiliki hubungan dengan kartel di Amerika.


Akan tetapi, tak jelas apa identitas aslinya.


Vino segera bertanya kepada Fransisca selagi dia terbangun dan memeluk tubuhnya sambil melihat pemandangan.


"Mengapa kamu berhubungan dengan kartel di negara ini, apa identitas kamu sebenarnya?"


Pertanyaan Vino didengar Fransisca, wanita ini hanya diam dan tak menjawab.


Keheningan hadir di antara mereka berdua usai Vino melontarkan pertanyaan atas dasar rasa ingin tahunya.


Rasa ingin tahu di hati Vino tak cepat luntur, kemudian kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Akan aku beri tahu setelah kamu membawaku ke apartemenmu," jawab Fransisca dengan lemah, kemudian dia memejamkan matanya dengan pelukan pada pinggul Vino.


Vino mengangguk, dia takkan bertanya lagi mengenai itu, Fransisca sudah berjanji akan memberi tahu tentang identitasnya.


Kurang dari 1 jam 30 menit mereka di perjalanan, keduanya tiba di apartemen Vino yang diberikan Sistemnya dalam pesanan kali ini.


Jujur saja, tak pernah Vino berpikir Sistem akan memberikan apartemen di Kota New York.


Apartemen Vino berada di sebuah gedung apartemen yang terbilang besar dan tinggi.


Memiliki apartemen di Kota New York sudah pasti tidak mudah karena butuh banyak sekali seleksi dan persyaratan yang harus dipenuhi.


Tidak tahu bagaimana sistemnya memberikan apartemen di Kota New York.


Fransisca saja cukup terkejut dengan Vino setelah dirinya dibawa ke apartemen.


Banyak sekali orang di berbagai dunia yang ingin tinggal di apartemen atau rumah Kota New York, tetapi sulit untuk diwujudkan meski sudah punya uang.


Namun, Vino yang sudah pernah mendapatkan masalah di kota ini menganggap Kota New York tak baik untuk ditinggali lama, atau menjadi kediaman utama.


Lingkungannya terlalu berbahaya, sesuai dengan fakta dan data yang ada, tingkat kriminalitas di Amerika memang tinggi.


Dengan begitu, jika disuruh memilih lebih baik tinggal di Kota Jakarta atau Kota New York, pilihan Vino sudah pasti Kota Jakarta.


Di sana lebih aman dan masih layak untuk dijadikan tempat tinggal utama.

__ADS_1


New York hanya untuk dijadikan tempat liburan dan belanja karena di sini banyak sekali barang-barang mahal yang dijual.


Akses untuk berbelanja sangat mudah.


Duduk di sofa, Fransisca memijat kepalanya sambil menyandarkan diri ke sandaran sofa.


Vino membuka kulkas dan memeriksa ada apa saja di apartemen ini.


Tak disangka ada banyak makanan dan minuman. Persediaan perut ada di apartemen ini.


Sistemnya cukup baik.


Duduk di samping Fransisca, sekaleng Coco Lala minuman soda diserahkan, kemudian Vino menyesal minumannya.


Tangan Fransisca mengambil minuman soda dari Vino, meletakkannya di atas meja. Tiba-tiba dia memeluk tubuh Vino dengan kencang.


Vino hampir tersedak karena gerakan Fransisca. Dengan cepat dia menahan minuman di tangannya agar tidak jatuh.


"Ada apa?" Merasakan ada yang aneh dengan Fransisca, Vino mencoba untuk bertahan tentang keadaannya.


Fransisca mendongak melihat wajah Vino dan menjawab, "Aku ingin kamu memanjakan aku."


"Manja? Oke."


Tanpa banyak basa-basi, Vino menaruh minumannya, dan segera memeluk Fransisca dengan erat


Merasa tak puas, tubuh Fransisca diangkat ke pangkuannya.


Namun, baru saja Fransisca ditaruh di atas pangkuannya, sebuah ciuman mendarat di bibir Vino.


Serangan mendadak ini langsung mengaktifkan monsternya yang sedang tertidur.


Dengan pengalamannya, ciuman Fransisca dibalas dengan teknik yang andal.


Kedua tangan Vino juga bermain untuk meningkatkan suasana panas di antara mereka berdua.


Alih-alih meredakan suasana yang terus memanas, Fransisca menyalakan api di dalam tubuh Vino dengan buah pepayanya yang besar.


Tak mampu Vino menahan buah besar tersebut.


Setelah melakukan ciuman dan memakan buah Fransisca.


Bisik-bisik dilakukan Fransisca untuk memberi tahu tentang keinginannya.


Membelai bibir bawah Vino, Fransisca berkata dengan tatapan seduktif, "Berikan cintamu sekarang ...."

__ADS_1


__ADS_2