Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 65: Pengungkapan Identitas


__ADS_3

Selanjutnya, mereka berdua melakukan kegiatan itu makin dalam dan makin mesra, penuh keagresifan yang tinggi.


Vino menjadi sangat liar, kebuasannya ditampilkan sekarang dalam memberikan pelayanan yang puas.


Di sisi lawan, tubuh Fransisca menggeliat saat dirinya dimainkan Vino, buah pepayanya habis dijadikan bahan permainannya.


Gerakan mulut Vino sangat andal, mudah menemukan titik lemah Fransisca pada buah pepayanya.


Tak lama berselang, tubuh wanita itu kejang-kejang dan celananya basah.


Merasa lemas dan hilang akal, Fransisca mendekati wajahnya kepada Vino, tatapannya sangat dalam melihat mata tampan pria di depannya, berkata dengan nada yang lembut, "Kamu melakukannya dengan baik, beri aku lebih dari itu."


Dengan dorongan nafsu yang besar, Vino melakukan pertempuran ke intinya.


Fransisca secara inisiatif membuka seluruh pakaian yang dikenakan, kemudian Vino memakan semua yang disuguhkan di depan matanya.


Pedang panjang itu mengobrak-abrik sarung pedang yang masih tersegel.


Darah sempat menempel di bilah pedang, itu diseka oleh sarung secara alami. Vino benar-benar sangat dimanjakan Fransisca dalam pertempuran ini.


Tak perlu Vino bergerak, biarkan wanita yang liar ini melakukan serangan beruntun.


Pada akhirnya, Fransisca kalah dengan sendirinya, tidur di atas tubuh Vino sambil melakukan ciuman mesra.


Merasakan kelembutan jatuh ke tubuhnya, kedua tangan Vino memeluk Fransisca sembari merespons ciumannya.


Melepaskan ciuman, tatapan mata mereka berdua bertemu dengan jarak yang dekat.


Tangan Fransisca mengusap wajah tampan Vino dan tersenyum dengan mata yang sipit karena kelelahan.


"Kamu sangat luar biasa, pengalaman pertama yang hebat, tetapi ... kamu belum keluar sama sekali." Memandang mata Vino dengan tatapan seduktif, memberikan perasaan yang menggelora. "Sekarang, aku akan membuatmu keluar untuk pertama kalinya di dalam tubuhku."


Bergerak dengan cepat, kedua tangan Fransisca mengarahkan pedang Vino ke sarung yang ada pada tubuhnya.


Fransisca mengigit bibirnya, menahan sensasi aneh yang membahagiakan, kemudian ia meracau bagai anak kecil yang bahagia mendapatkan mainan baru.


Pada akhir pertempuran ronde kedua, sarung pedang alami pada tubuh Fransisca menyemburkan mata air yang banyak hingga membasahi lantai.


Vino sedikit pun tidak kalah dan mengeluarkan semburan dari pedang besarnya.


Suara Fransisca menarik napas yang berat terdengar jelas, ia memeluk Vino setelah menggelinjang hebat hampir jatuh dari sofa.


Tubuh mulus Fransisca dilapisi air keringatnya sehingga terasa licin saat dipeluk, sedangkan tubuh Vino yang sudah tak mengenakan pakaian apa pun sama licinnya.


Beruntung, dekapan Vino sangat kuat hingga dapat menahan tubuh Fransisca yang ingin jatuh.


Dengan wajah yang seduktif dan kuyu, Fransisca hendak berjongkok untuk membersihkan bilah pedang milik Vino.


Namun, Vino tak mengizinkannya karena dia terlalu lemas.


Bergegas ia memeluk Fransisca ke dalam kamar dan membersihkan tubuhnya sebentar di kamar mandi.


Mereka berdua tidak melakukan pertempuran lagi, sebagai gantinya mereka berpelukan dan bercumbu mesra satu sama lain.


Di saat ini, sebuah cerita mengenai identitas Fransisca terungkap.

__ADS_1


Setelah selesai memberi tahu, mereka berdua masuk ke sesi bermesraan sambil beristirahat.


Menyentuh hidung dan bibir Vino, mata Fransisca yang tepat berada di depan pandangan Vino menatap keseluruhan paras wajahnya yang tampan.


Dalam momen sekarang, Fransisca yang terlihat garang menjadi gadis kecil penasaran.


Mau itu Vino dan Fransisca, mereka tak mengenakan pakaian apa pun, berpelukan miring di dalam selimut.


"Makin kulihat makin aku sadar bahwa kamu berbeda dengan pria yang pernah aku lihat dalam hidupku," kata Fransisca dengan intonasi yang rendah dibungkus suara yang halus.


Wajah Vino di depannya sangat tampan, memiliki ketampanan yang berbeda dari pria lain.


Menatap kembali Fransisca di depannya, Vino membalas dengan suara yang lembut, "Tidak ada yang berbeda, semua pria punya pedang."


"Bukan itu maksudku. Lagi pula, pedangmu terlalu besar dan tajam. Mampu mengalahkanku dari awal pertempuran." Menatap Vino, jari Fransisca bergerak menyentuh hidung mancungnya sambil tersenyum manis. "Ketampananmu dan sesuatu di dalam tubuhmu, kamu terasa berbeda, dapat membuatku jatuh cinta dalam sekali pelukan."


Vino tersenyum mendengar ucapan Fransisca.


Alih-alih menjawab, tangan Vino ikut bergerak dan menyentuh buah pepaya milik Fransisca.


"Kamu juga berbeda, milikmu terlalu mancung dan menggoda. Wajahmu juga cantik, aku menyukaimu."


Kalimat terlontar beberapa detik setelah Vino memainkan buah pepaya Fransisca.


Wanita itu juga memainkan pedang milik Vino.


"Mulutmu semanis madu. Kamu ingin memakan buah punyaku?"


Merasakan sensasi aneh dari bagian sesuatu yang besar di tubuhnya, sorot mata Fransisca menjadi lebih menggoda.


"Ada syaratnya, kamu buatkan aku makan malam terlebih dahulu. Sehabis itu, aku akan melayanimu sampai aku puas."


Alis Vino tersentak, kemudian ia mengangguk setuju dengan permintaan Fransisca.


Namun, Vino juga memiliki kondisinya sendiri. "Aku buatkan makan malam, tetapi kamu harus memberikan buahmu saat aku masak."


"Bagaimana caranya?" Fransisca terlihat bingung menatap Vino.


Saat selanjutnya, suara aneh muncul di ruang dapur apartemen.


Terlihat Vino dan Fransisca tengah melakukan pertempuran ringan dengan cara santai dan posisi yang berbeda.


Vino menaruh meja dekat dapur dekat dirinya bergerak untuk membuat makanan. Sesekali Vino akan bergerak untuk mengisap buah pepaya Fransisca.


Makanan yang dibuat Vino sangat mudah, yaitu sup ayam, nasi goreng sampah, sosis, daging, dan makanan kaleng.


Kemampuan memasak Vino tidak terlalu tinggi. Ia memanfaatkan kemampuannya yang terbatas untuk membuat makanan sederhana.


Setengah jam berlalu, mereka berdua sudah berganti tempat, kini keduanya duduk di atas kursi yang sama di ruang makan.


Fransisca duduk di atas pangkuan Vino, pedang Vino masuk ke dalam sarung yang ada pada tubuhnya.


Makan malam sembari makan daging yang berbeda.


"Mmhh ... enak," kata Fransisca sembari mengunyah nasi goreng di mulutnya, tubuhnya terlihat sedikit bergoyang dengan ekspresi wajah yang tidak normal.

__ADS_1


Mengambil sosis di meja, tangan Vino bergerak memasukkannya ke dalam mulut. "Apa yang enak?"


"Pedangmu dan masakanmu ...."


Tiba-tiba tubuh Vino tersentak, memberikan dorongan kuat pada tubuh Fransisca.


"Aaa!"


Setelah merasakan kekuatan pedang Vino, Fransisca mencubit paha Vino dan mendengus, "Kamu benar-benar nakal! Belum saja aku mengeluarkan semua potensiku."


"Keluarkan sa —"


Tok! Tok!


Sebuah ketukan pintu terdengar, tak sengaja memotong ucapan Vino.


Mendengar ini, Vino memeluk tubuh Fransisca dan membawanya bersama ke pintu apartemen.


Sebelum membuka pintu, Vino mengintip melalui lubang yang biasanya tersemat di pintu apartemen atau hotel.


Vino menemukan dua orang, wanita dan pria berseragam rapi berdiri di depan pintu.


Kedua orang ini harusnya adalah petugas apartemen.


"Turun dahulu, tolong bawakan aku jubah mandi."


Berjalan dengan hati-hati, Fransisca pergi ke kamar mandi untuk mengambil jubah mandi.


Tok! Tok!


Krieet!


Pintu apartemen Vino terbuka, sosok Vino mengenakan jubah mandi berwarna putih dengan tubuh bagian atas sedikit terbuka perlahan keluar dari apartemen.


Kedua orang itu terkejut melihat penampilan Vino secara dekat.


Petugas wanita berambut pirang tersipu dan menurunkan pandangannya ke bawah.


"Tuan Vino, ada beberapa orang mencari wanita yang dibawa olehmu," lapor petugas pria dengan wajah yang sedikit panik.


Vino menangkap sesuatu yang aneh, kemudian bertanya, "Apakah mereka memiliki baju yang sama di tubuhnya dengan logo tengkorak berpistol berwarna ungu?"


"Ya! Bagaimana Tuan Vino tahu?"


Wajah Vino berubah, sesuatu telah diketahui olehnya. "Kalian semua bersembunyinya di tempat aman setelah memberi tahu bahwa aku akan ke bawah menemui mereka."


"Kenapa?" Kedua petugas tersebut menjadi bingung.


"Lakukan saja, demi nyawamu sendiri."


Setelah kata-kata itu jatuh, Vino kembali ke dalam apartemen dengan sikap yang terburu-buru.


"Ada apa, Sayang?"


"Tidak baik, mereka ke sini untuk mencarimu."

__ADS_1


__ADS_2