Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 26: Salah Tangkap


__ADS_3

Vino memundurkan tubuhnya ke belakang, menjauhi polisi wanita yang memajukan tubuhnya ke depan.


Jika tidak menjauh, Vino khawatir polisi wanita ini menciumnya karena terlalu dekat dengan wajahnya.


Mendengar ucapan dari polisi tersebut, jantung Vino berdetak cepat karena ia lupa bahwa kartu identitasnya belum sempat diubah lagi.


Penampilannya yang sekarang dengan yang dahulu jauh sekali sehingga para polisi tidak menganggap Vino yang sekarang adalah Vino yang ada di dalam kartu identitas.


Sama sekali tidak sama wajah yang mereka lihat di aslinya dengan kartu identitas, membuat para polisi di sini tidak percaya dan menganggapnya menipu.


"Tidak, aku sama sekali tidak menipu, itu adalah aku." Vino melambaikan tangannya dan mencoba membela diri.


Namun, polisi wanita ini tidak percaya karena perbedaan antara dua wajah Vino begitu jauh.


"Kamu berbohong! Kamu akan aku masukkan ke dalam pidana memalsukan identitas dan data diri! Beri tahu aku siapa kamu sekarang!"


Polisi wanita makin agresif dan melototi Vino dengan amarah yang tak tertahankan.


Makin dia marah, makin maju juga polisi wanita ini, bahkan Vino bisa melihat belahan dua roti besar itu.


Vino menggelengkan kepalanya dengan cepat dan masih membela diri karena memang tidak menipu.


"Aku sama sekali tidak menipu. Ini aku, Vino ... aku benar-benar Vino. Sebagai buktinya, aku akan menyebutkan silsilah keluargaku."


Setelah mengatakan itu, Vino mulai menyebutkan silsilah keluarganya dengan jelas dan lantang.


Wajah polisi wanita dan polisi yang melaporkan ini menjadi tercengang saat Vino memberi tahu semua silsilah keluarga.


Lambat lain, polisi wanita ini kembali marah dengan sudut bibirnya ditarik dan berdenyut.


Brak!


"Berhenti!"


Polisi wanita itu menggebrak meja dan meminta Vino untuk berhenti menyebutkan silsilah keluarga hingga ke nenek moyangnya.


Ketika Vino sibuk menyebutkan silsilah, polisi wanita ini menemukan kesamaan dari wajah Vino.


Ada ciri khas wajah Vino yang tidak bisa hilang dan ini memang terlihat jelas jika diperhatikan dengan baik-baik.

__ADS_1


Vino berhenti dan menatap wajah polisi wanita di depannya. "Apa kamu percaya sekarang?"


Alih-alih menjawab, polisi wanita ini menarik Vino keluar dari ruang interogasi dan pergi ke dalam mobil.


Bam!


Setelah menutup pintu mobil polisi, polisi wanita ini menyalakan mobil dan menginjak pedal untuk melaju menuju rumah sakit spesialis kecantikan dan kulit.


Mereka tidak berdua, dua polisi wanita yang lain ikut ke dalam mobil dan menjaga Vino agar tidak kabur.


Setelahnya diperiksa oleh dokter, wajah Vino memang mirip dengan wajah Vino yang ada di dalam kartu identitas.


Menurut medis, Vino memanglah Vino, bukan orang lain. Wajahnya mengalami perubahan alami tanpa adanya operasi plastik untuk mempercantik penampilan wajahnya.


Melihat hasil diagnosis dari beberapa dokter, wanita itu terdiam sembari melirik wajah Vino yang tampan.


"Pria ini memang dirinya sendiri yang telah mengalami perubahan karena pubertas yang menakjubkan. Menurut saya, wajah pria ini paling tampan yang pernah aku lihat, semuanya sempurna, tidak ada sedikit kecacatan pada wajahnya. Bisa dikatakan, bentuk wajah pria paling sempurna menurut medis adalah wajah pria ini," ungkap dokter wanita yang sudah ahli.


Setelah mendengar ucapan dokter, ketiga polisi wanita menutup mulutnya dan tak bisa berbicara sampai mereka semua kembali lagi ke kantor polisi.


Polisi wanita yang menginterogasi Vino bernama Monika. Polisi wanita tercantik di kantor polisi di sini ini memang terkenal galak dan tegas, bahkan sampai polisi pria tak berani membuat masalah dengan Monika.


"Kita mendapatkan banyak laporan dari internet dan beberapa warga yang secara langsung datang ke sini. Dalam laporan merekam bilang bahwa Vino bukan pelaku dari kasus penganiayaan ini, melainkan korban. Herman, pria itu adalah pelakunya."


Salah satu polisi menampilkan banyak laporan melalui kertas dan juga beberapa komentar di internet yang menegaskan bahwa Vino bukan pelakunya.


Video tentang penangkapan Vino telah tersebar, ada beberapa warga yang menyebarkan peristiwa Vino ditangkap.


Netizen dalam negeri sangat hebat, bisa mengenali pria yang ditangkap tersebut.


Beberapa warga yang sempat melihat kejadian Vino yang melawan Herman datang ke kantor polisi untuk memberikan laporan yang sebenarnya.


Mendengar pernyataan ini, Monika menjadi panik dan tergesa-gesa untuk melihat semua laporannya.


Sementara itu, Vino masih berada di ruang interogasi sendirian, menunggu polisi wanita datang kembali dan menginterogasi dirinya.


Kepala Vino masih mengingat apa yang dikatakan oleh beberapa dokter di rumah sakit. Sistemnya benar-benar mengubah penampilan Vino dengan cara alami dan natural.


Alat medis saja mengakui penampilan wajah Vino bukan berasal dari perbaikan melalui dokter atau tidak alami.

__ADS_1


Salah satu pernyataan juga terngiang di kepalanya sampai saat ini juga adalah mengenai wajah paling sempurna, sesuai dengan kecantikan medis.


Namun, Vino tidak percaya langsung dengan pernyataan tersebut.


Vino sangat bosan diam selama 1 jam di ruang kosong ini. Ingin sekali pergi dari sini menggunakan kemampuan teleportasi miliknya tetapi ada satu kamera CCTV yang mengawasinya.


Kemampuan teleportasi tidak bisa Vino gunakan jika kamera CCTV masih memantaunya. Ditakutkan Vino menjadi target para peniliti dan petinggi banyak sekali negara untuk ditangkap.


Ditangkap dengan tujuan pembedahan.


Teleportasi adalah mimpi semua manusia. Dengan kemampuan tersebut, umat manusia bisa menjelajah ke planet lain dengan mudah.


Umat manusia bisa memotong ruang atau melipat ruang sehingga mereka bisa cepat sampai ke planet yang sangat jauh untuk diambil sumber dayanya dan dijelajahi.


Vino tidak mau dijadikan bahan atau objek penelitian demi kemajuan teknologi manusia.


Lagi pula, Vino bukan memiliki kemampuan tersebut secara alami, tetapi diberi oleh Sistem yang agung.


Sistem bisa melakukan apa pun, bahkan mengubah wajahnya secara alami dalam waktu yang singkat. Tidak ada teknologi manusia yang bisa melakukan hal tersebut.


Dengan sabar menunggu di dalam ruangan kosong, polisi wanita yang Vino tunggu akhirnya masuk ke dalam ruangan.


"Kamu bukan pelakunya dan kamu dicabut atas dugaan pelaku penganiayaan," Monika berkata dengan mata yang masih tajam kepada Vino. "Kamu boleh pergi sekarang."


Suara Monika masih sangat dingin, tetapi Vino tak peduli dan dia tersenyum mendengar laporan polisi wanita.


Akhirnya, polisi wanita yang tidak ramah ini membebaskannya. Sekarang dia boleh pulang untuk menjalankan aktivitasnya.


Namun, tangan Vino ditarik kembali oleh Monika dan dipaksa untuk bersandar di dinding ruang interogasi.


"Meski kamu bebas, kamu tidak akan luput dari pengawasanku. Aku masih tidak mempercayaimu. Aku sudah menandai wajahmu. Aku akan terus mengawasimu, Penipu Kecil!"


Wajah cantik Monika benar-benar terlihat galak di depan mata Vino.


Reaksi Vino terhadap Monika hanyalah diam dan menahan libidonya agar tidak naik.


Pasalnya, Monika di depannya sungguh sangat dekat hingga tubuh mereka berdua saling berhimpitan.


Dua bola besar itu menempel di bagian bawah dada, atas perut Vino.

__ADS_1


__ADS_2