
[Nama Pelanggan: Ayumi Nasai]
[Permintaan: Menyewa pacar yang mampu memikat hati dan bertanding kendo]
[Syarat Pesanan: Tinggi 185 cm, Temperamen Berani, Wajah Tampan Dasar, Tubuh Kalistenik, Tubuh Wangi, Mata Lembut, Kulit Bersih dan Putih, Pelukan Nyaman, Keterampilan Kendo Master, Bahasa Inggris Master, Bahasa Jepang Master, Komunikasi Profesional, Menggambar Anime Master, Memasak Master, Humor Profesional, Bermain Gim Master,]
[Waktu sewa: 9 jam]
[Pembayaran: 1.250.000 rupiah]
Jendela sistem muncul di sudut retina mata Vino, menampilkan daftar permintaan tipe pacar yang diinginkan pelanggan.
Mata Vino melirik ke kolom nama pelanggan, dari nama sudah jelas ini bukan nama orang Indonesia.
Nama orang Indonesia tidak seperti ini, Vino tahu dari mana asal wanita yang memesan jasanya kali ini.
"Wanita Jepang? Kupikir pelanggan yang memesanku berasal dari Nippon," gumam Vino yang memikirkan nama pelanggan.
Pandangan Vino bergerak ke bawah dan melihat semua permintaan pelanggan yang cukup banyak, harga sewa saja melebih 1 juta rupiah.
Seharusnya, wanita yang memesan ini adalah orang yang mampu, bisa hidup mandiri.
Mungkin saja seperti Kim Lanly, dari keluarga kaya atau keluarga konglomerat.
Semua permintaan dari pelanggan ini tak ada yang aneh, itu terlihat normal dan tidak mencurigakan.
Dengan begitu, Vino memilih untuk menerima permintaan kali ini.
"Aku menerima pesanan keempat ini, Sistem," kata Vino dengan suara yang tegas tanpa keraguan.
[Ding! Mulai proses transformasi sementara!]
Berikutnya, perubahan terjadi pada seluruh tubuh dan temperamen Vino.
Pada saat yang sama, seorang wanita cantik dengan wajah yang malas sedang bersantai di atas kasur, tangannya memainkan alat kendali gim.
"Aplikasi tadi benar-benar nyata? Um, aku meragukannya, tetapi aku sudah memesan barusan," kata wanita tersebut sambil mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
Di dalam layar terpaku televisi menampilkan tulisan "Game Over" dengan gambar karakter wanita dalam gim yang mati dibunuh oleh monster mirip zombie.
Wanita ini sedang bermain gim konsol yang beralur. Bukan gim kompetitif, seperti Mobel Entog, Pabiji, Epep, Paloren, dan yang lainnya.
Menghela napas kebosanan, wanita ini melemparkan konsol ke kasur dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
Pada layar ponselnya terlihat antarmuka aplikasi Rental Boyfriend yang bertuliskan pesanannya sudah dikonfirmasi.
Jari-jari ramping wanita tersebut bergerak untuk melihat saldo rekeningnya terpotong.
Alis mata wanita ini tersentak, dan wajahnya menjadi sedikit panik. "Aplikasi ini benar-benar memotong uang di rekening tabunganku untuk pembayaran sewa pacar? Ini mahal sekali!"
Wanita ini adalah Ayumi, pelanggan keempat Vino.
Dia tidak begitu percaya dengan aplikasi yang tiba-tiba muncul di ponselnya. Persyaratan yang dia buat sangat jarang atau bahkan sulit untuk ditemukan.
Baginya, menemukan pria yang sesuai dengan permintaannya sangatlah susah.
Hal yang membuatnya terkejut adalah aplikasi ini dengan mudah menemukan karyawannya yang punya kemampuan atau semua keinginan tipe pria idealnya.
"Tenang, aplikasi ini sudah memberi tahu bahwa pria yang aku pesan akan datang dalam lima menit." Ayumi mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Pada saat ini, dia sangat takut ditipu oleh aplikasi pacar sewa, dan tidak mau uangnya yang sebanyak itu lenyap begitu saja.
Ayumi mencoba untuk percaya dengan aplikasi aneh di dalam ponselnya.
Berikutnya, dia berdiri berniat untuk membersihkan tempat tinggal atau kamar yang ia sewa ini.
Banyak sekali barang-barang tergeletak di mana-mana, buku komik, kaset gim, bungkusan makanan, beberapa pakaian dalam, dan masih banyak barang lainnya yang ada di atas lantai.
Rambut Ayumi yang panjang itu diikat menjadi pendek, dan beberapa helai rambut sengaja digerai untuk menutupi dahinya.
Beberapa piala dan piagam dibersihkan juga diletakkan dengan rapi, kaset gim dan barang-barang berserakan di lantai dirapikan sesuai dengan jenis barangnya.
Pakaian pribadinya tidak langsung ia letakkan karena berniat untuk dipindahkan nanti ketika semuanya selesai.
Dalam 5 menit menunggu, Ayumi berhasil membersihkan lebih dari setengahnya, masih ada setengah lagi barang-barang yang harus dirapikan.
Ting-tong!
Suara bel terdengar dari pintu kontrakannya, membuat Ayumi memberhentikan tangannya yang tengah menyapu lantai.
Dengan gegas Ayumi berlari seraya berkata, "Tunggu sebentar!"
Ayumi mengibas piyama berwarna kuning yang sedang ia kenakan sekarang, bertujuan untuk membersihkan pakaiannya dari kotoran dan debu.
Tangan Ayumi terulur dan dia membuka pintu dengan hati-hati.
Begitu pintu terbuka, jantung Ayumi berhenti sesaat, memandang sosok yang menekan bel kontrakannya dengan mata yang membulat.
__ADS_1
"Halo, apakah kamu Ayumi?"
Seorang pria tampan dengan tubuh tinggi mengenakan pakaian rapi dan bersih berdiri di depan pintu sembari tersenyum.
Senyuman hangat dan tatapan mata yang lembut itu memberikan dampak besar bagi hati Ayumi yang tak memiliki perasaan cinta kepada seorang pria sebelumnya.
Pria tampan ini adalah Vino, bukan orang lain.
Di dal pandangan mata Vino, pelanggan keempat ini memiliki sosok yang lucu.
Sosok wanita yang mengenakan piyama adalah sebuah pemandangan lucu dan menggemaskan.
Berlaku kepada wanita yang cantik saja. Lucin Taluna tidak akan berlaku.
Wajah oval kecil ini ingin sekali Vino pegang, memiliki mata sedikit sipit berkacamata, tubuhnya pendek, sekitar 160 cm, dan tampaknya tak memiliki bola besar, bagian area dada begitu datar. Secara keseluruhan, wanita ini sangat imut, ditambah dengan gaya rambutnya itu. Tidak ada wibu yang tak menyukainya. Wanita ini waifuable.
"Kamu ...."
"Ehem! Benar, aku pacar yang kamu pesan." Vino tersenyum kembali sembari mengangguk.
Senyuman dan tatapannya sangat sulit untuk ditahan, membuat Ayumi sedikit pusing dan tidak bisa menahan.
Melihat tubuh Ayumi yang sedikit kehilangan seimbangan, refleks tubuh Vino aktif dan dia segera menangkap tubuh Ayumi dengan hati-hati.
Memeluk Ayumi yang kehilangan keseimbangan, Keterampilan Pelukan Hangat diaktifkan tanpa disadari oleh Vino sendiri.
Tubuh Ayumi yang sedikit pusing mulai merasakan kehangatan dari pelukan Vino, tetapi masalah baru datang.
Suhu tubuh Ayumi terus menjadi hangat, bukan karena pelukan Vino, melainkan karena tubuh Vino terlalu dekat, hidungnya bisa mencium wangi alami tubuh seorang pria, ditambah dengan melihat pahatan wajah tampan yang luar biasa.
Wajahnya mulai dipenuhi oleh rona merah, bak kepiting yang dimasak dalam panci.
Kepala Ayumi terasa kosong. Tidak bisa memikirkan apa pun, isinya hanya Vino.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Vino dengan khawatir.
Melihat Ayumi yang tampak lemah dan lemas, kecemasan muncul di dalam hati Vino, takut pelanggannya sakit karena dia.
Dengan suara yang terbata-bata dan menahan rasa malunya, Ayumi menjawab, "Ak–aku ... aku baik-baik sa—"
Sebelum Ayumi menyelesaikan ucapannya, kesadarannya menghilang dengan penyebab rasa malu yang terlalu berlebihan. Sebenarnya, Ayumi pingsan karena terlalu malu.
Ekspresi wajah Vino menjadi panik, kemudian dia mencoba menggoyangkan tubuh Ayumi berharap kesadarannya kembali.
__ADS_1
Dengan kepanikan di hatinya, Vino masuk ke dalam kontrakan Ayumi dan menutup pintunya.
"Sial, wanita ini pingsan tidak bilang-bilang. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"