Sistem Sewa Pacar

Sistem Sewa Pacar
Bab 39: Keanehan Vino


__ADS_3

Rudal Nuklir yang besar dan panjang keluar dari markas besar, terlihat sangat gagah dan kuat, siap untuk meluncur.


Namun, Monika yang melihat ini langsung berteriak terkejut wajah dipenuhi warna merah.


Dengan tangan yang cepat, rudal tersebut dibatalkan untuk meluncur, disimpan kembali ke dalam markas besar.


Dalam sekejap, kecanggungan terjadi di antara mereka berdua.


Peristiwa yang tak mereka sangka benar-benar membuat suasana di dalam kamar menjadi hening, diselimuti oleh kebingungan dan kekakuan.


"Mengapa kamu berbohong seperti tadi?" Monika bertanya tanpa mau melihat wajah Vino, dia masih merasa malu.


Vino mengusap sikutnya sambil duduk di atas tempat tidur, tampilannya begitu kikuk akibat peristiwa barusan. Melirik Monika, Vino menjawab, "Aku hanya bercanda. Tak disangka kamu benar-benar percaya."


"Bercanda?" Monika mendongak dan menatap kedua mata Vino. "Kamu tahu? Aku khawatir milikmu sungguhan patah. Kalau benar patah dan punya kamu tak bisa bangun, bukankah aku harus bertanggung jawab?"


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Juga, aku minta kamu jangan asal memukul seperti itu. Untung saja barangku kuat, jika tidak, mungkin kamu sudah dihukum dan dimasukkan ke penjara."


Kalimat Vino terdengar ambigu di telinga Monika. Pipinya makin memerah hingga mengeluarkan asap karena suhu wajahnya menjadi panas.


Membayangkan rudal besar Vino, tak disangka milik pria tinggi dan tampan ini sangat besar.


Monika belum pernah melihat rudal secara langsung. Peristiwa barusan sangat berkesan bagi hidupnya.


Namun, Monika tidak terima mendengar ucapan Vino, dan dia membalas dengan membela diri, "Kamu yang memulai terlebih dahulu, kalau saja kamu mengatakan kalimat itu dengan jujur dan bukan untuk sarang laba-laba, mungkin peristiwa barusan takkan pernah terjadi."


Mata besar Monika menatap wajah Vino dengan serius, bibirnya mengerucut karena kesal.


Ingat aturan pertama di dunia ini, wanita tak pernah salah. Jadi, jangan menyalahkan wanita akan sesuatu karena semua masalah datang dari pria.


Sekarang Vino merasakan ini dan dia malas untuk berdebat menuduh satu sama lain.


Dengan begitu, suatu ide muncul di kepalanya dan Vino tersenyum.


Whoosh!


Mata Monika berkelebat, ia melihat Vino yang ada di tempat tidur bergerak cepat ke arahnya.


Tepat ketika Monika ingin melakukan pertahanan, sebuah ciuman sekilas datang di bibirnya.


Di depan wajahnya, Monika melihat wajah Vino dengan senyuman menawan tengah menatapnya.


Sorot mata Vino terlihat memesona, menatap Monika dengan lembut, kemudian dia berkata, "Kamu sangat cantik malam ini."

__ADS_1


Deg!


Jantung Monika berdenyut cepat, pupil matanya membulat memandang dua mata Vino, kedua pipi putihnya yang mulus mulai menjadi merah.


Dalam sekejap, Monika melupakan identitasnya sebagai seorang polisi wanita.


Dengan wajah yang merah dan mata tegasnya, Monika memiliki niat untuk membalas Vino tanpa memedulikan perasaan malu di hatinya.


Sebuah terkaman datang dari Monika, mendorong Vino hingga terjungkal dan terbaring di atas tempat tidur.


Bibir merah muda Monika menggigit bibir bawah Vino sembari tubuhnya menduduki tubuh bagian bawa Vino. Posisi keduanya sangat ambigu dan romantis.


Wanita ini tak mau kalah dalam segala aspek, bahkan dalam menggoda.


Dalam posisi ini, secara naluriah Vino mencengkeram roti belakang milik Monika sambil sesekali membalas ciumannya.


Gerakan Vino membuat tubuh Monika tersentak sesaat, tetapi dia mengabaikan ini dan terus memberikan ciuman terbaiknya.


Kedua mulut itu berpisah, Monika sambil menyibakkan rambutnya menatap Vino dengan ekspresi yang seduktif.


Air liur mereka berdua masih menyatu dan terhubung ketika Monika menegakkan tubuhnya sambil melirik Vino.


Seorang perjaka mudah untuk digoda, melihat wajah ini membuat Vino tak mau berhenti, kemudian dia bangkit untuk duduk sambil memeluk tubuh Monika.


Monika mendongak mengamati wajah Vino dari dekat, wanita ini berubah menjadi pendiam setelah dipeluk oleh Vino.


Wajah mereka berdua perlahan saling mendekat, Monika memejamkan matanya, menunggu ciuman Vino datang.


Namun, setelah ia menunggu beberapa detik, sentuhan lembut tidak dirasakan pada wajahnya, melainkan pada rotinya.


Mengetahui ini, Monika membuka matanya dan melihat Vino yang diam menatap dirinya dengan ekspresi aneh.


Dengan amarah yang muncul di hatinya, kedua tangan Monika mendorong Vino menjauh lalu ia berdiri untuk meninggalkan tubuh Vino.


"Aku akan melaporkan peristiwa ini sebagai kasus pelecehan seksual terhadap wanita," ucap Monika dengan suara yang dingin.


Monika berdiri sambil melipat tangannya dan memunggungi Vino.


Sebuah senyuman muncul di wajah Vino. Sebagai pria yang sudah dekat dengan Monika selama beberapa saat ini, ada hal yang Vino ketahui tentang sifat wanita ini.


Berdiri dari tempat tidur, perlahan Vino berjalan di belakang Monika, membuka tangannya untuk melingkari pinggang Monika.


Hidung Vino menghirup aroma rambut hitam Monika sambil mengusap pipi ke kepala Monika.

__ADS_1


Tubuh Monika tersentak sesaat, tangannya bergerak sendiri untuk memegang kedua tangan Vino yang memeluk tubuhnya dari belakang.


Amarah dan rasa kesal di dalam hatinya mereda.


Tidak tahu kenapa, tubuhnya menikmati sentuhan nakal Vino, bahkan Monika mencium leher Vino dengan kelembutan yang luar biasa.


Mereka berdua berpelukan dan berciuman selama beberapa menit, kemudian Monika menghentikan gerakan mesra mereka karena melihat jam sudah menunjukkan pukul jam 10 malam.


"Sudah, Vino. Ini sudah larut malam," kata Monika dengan nada suara yang lembut dan tenang.


Kedua tangan Vino dilepas oleh Monika, ia berbalik menghadap Vino dan melotot ke matanya. "Jangan terlalu keenakan, akan aku laporkan kalau kamu macam-macam padaku lagi!"


"Sungguh?" Vino memiringkan kepalanya tampak ragu dengan ucapan Monika.


Wajah Monika yang tegas menjadi menyusut, dia menatap Vino dengan kebingungan di hatinya. "Itu, aku ...."


"Kalau memang begitu, aku takkan macam-macam padamu lagi." Vino mengangkat tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan!" Monika memeluk tubuh Vino dengan hati yang tidak mau.


Alis Vino tersentak bersama, senyuman muncul di sudut bibirnya, dan dia membalas memeluk Monika.


Setelah berpelukan, Monika dan Vino duduk saling berhadapan.


Di tengah-tengah mereka ada ponsel milik Monika yang menampilkan antarmuka aplikasi Rental Boyfriend.


"Apakah pacar yang aku pesan adalah kamu?" Monika masih ingat dengan pertanyaannya awal di kafe.


Vino tersenyum dan balik bertanya, "Kalau aku jawab iya, apakah kamu marah?"


"Tidak, aku hanya sedikit terkejut," jawab Monika dengan wajah sedikit tersipu.


Mendengar ini, Vino memilih untuk mengakui tentang dirinya bekerja sebagai orang yang disewa untuk menjadi pacar. "Sebenarnya, aku memang seorang pria yang disewa untuk menjadi pacar wanita dalam beberapa jam atau beberapa hari. Aku bekerja sebagai seorang pacar sewaan."


Monika memandang Vino dengan wajah yang tercengang. "Jangan bilang kamu sudah melakukan itu —"


"Jangan aneh-aneh, aku disewa bukan untuk melakukan itu. Aku disewa untuk memberikan perasaan cinta dan kenyamanan pada pelanggan wanita yang menyewaku," potong Vino agar tidak ada kesalahpahaman. "Dengan kata lain, hari besok, kamu menjadi pacarku dan aku menjadi pacarmu."


"Um, itu benar." Monika mengangguk sedikit dengan sikap yang malu-malu.


Vino mencondongkan tubuhnya, menatap Monika yang pemalu, kemudian berkata, "Jadi, jangan bermain kasar denganku lagi."


Sekali lagi bibir Monika dicium tiba-tiba oleh Vino.

__ADS_1


Kali ini Monika tidak tahan dengan sikap Vino yang makin berani.


Dia mendorong Vino sehingga kembali ke tempat duduknya dan mengepalkan tangannya ke arah Vino. "Sekali lagi kamu diam-diam menciumku, aku akan membalasmu dengan ciuman kepalan tinjuku!"


__ADS_2