
Kapas putih menyentuh kulit Vino yang memar dan menampilkan warna ungu sedikit hijau.
Monika sebagai penyebab Vino terluka ini harus bertanggung jawab, dia mengobati luka Vino dengan hati-hati.
"Pelan-pelan, jangan ditekan di bagian itu, Monika," rintih Vino yang merasakan sakit dari sentuhan tangan Monika.
Gerakan Monika memang terlihat hati-hati, tetapi begitu kapas mendarat di kulit yang memar, jari-jarinya menekan memar itu dengan sedikit kekuatan.
Melihat Vino yang bersandar di sofa dengan wajah kesakitan, Monika sangat cemas dan dia mencoba berkali-kali untuk tidak memberikan rasa sakit pada Vino.
"Aduh-aduh, jangan tekan di situ, itu terasa sakit!" keluh Vino sambil menutup matanya menahan sakit.
Namun, suara pekikan Vino membuat Monika kesal.
Menaruh obat-obatan yang diambil dari kotak obat untuk pertolongan pertama, Monika naik ke atas kedua paha Vino dan mengambil dagunya untuk mencium bibir lembutnya.
Vino terkejut dengan gerakan Monika yang tak izin terlebih dahulu kepadanya.
Kejutan itu menghilang kurang dari 3 detik, bibir Vino bergerak untuk membalas ciuman Monika.
Mereka berdua melakukan adu mulut selama lebih dari 10 menit, suasana ruangan menjadi aneh dengan suhu yang naik agak hangat.
Begitu mereka melepaskan ciuman bibirnya, mereka berdua tanpa berbicara mulai melakukan pertempuran inti.
Di antara mereka berdua tidak ada yang menahan, keduanya menggebu-gebu memulai pertarungan satu lawan satu.
Dengan pakaian Monika yang menunjukkan bagian tubuhnya karena tembus pandang mendorong keinginan terbesar Vino dalam melakukan penyerangan besar-besaran.
Kurang dari 1 jam Monika meminta untuk berhenti karena dia tidak kuat lagi dan butuh istirahat.
Pasalnya, nanti sore dia akan pergi bekerja untuk menjaga lalu lintas di suatu jalan, menggantikan polwan yang lain.
Mereka menjadikan kamar mandi sebagai medan pertempuran agar lebih mudah dan bisa dihilangkan secara singkat jejaknya.
Gara-gara Vino bertempur dengan Vonia di kamarnya, kasur harus dijemur dan disemprotkan cairan pembersih kuman.
Memang merepotkan, Monika lebih memilih untuk di kamar mandi saja, mereka menjadi sangat bebas karena ada bathtub tempat pengganti kasur.
Berkali-kali Monika mengerang kesakitan dan karena nikmat yang dirasakan, biasa disertai pancuran mata air yang deras.
Kue apem Monika berwarna pink memiliki titik kekalahan yang hampir sama, hanya beda sedikit.
__ADS_1
Sebelum pergi dari rumah Monika karena teringat dengan tugas yang belum diselesaikan, Vino meletakkan Monika di kasur dalam keadaan rapi dan cantik.
Monika memahami alasan Vino pergi, dia sama sekali tak bisa memaksa Vino untuk tetap di sini dan melakukan tanding ulang.
"Aku pergi dahulu, ingat untuk telepon aku kalau pria itu kembali lagi kepadamu," kata Vino memberikan pesan penting pada Monika.
Mengangguk tegas, perintah Vino dipahami dengan benar oleh Monika.
Memasang pandangan mata yang seduktif sambil senyum mesra penuh arti, Monika masih ingin melanjutkan lagi pertempuran, berkata dengan lembut, "Di malam hari, aku ingin bertempur lagi, kamu bisa?"
Posisi Monika sekarang berada di kasur sambil bersandar di kepala depan ranjang, pakaiannya sama sekali tidak tertutup, belahan buah pepayanya terlihat jelas, belahan kue apemnya pun sama.
Vino tersenyum sambil mengangguk satu kali. "Aku akan ke sini di jam dua belas malam lebih beberapa menit. Aku akan memberimu pesan saat aku sampai."
"Oke, aku memegang ucapanmu. Awas saja kalau tidak datang! Aku tak segan untuk mematahkan pedang panjang kamu menjadi tiga bagian!" ucap Monika yang kembali menjadi wanita garang penuh kengerian.
Melihat ekspresi Monika yang mengancam membuat Vino sedikit ketakutan, kemudian dia mengangguk dengan cepat. "Oke, aku akan menepati omonganku."
Sehabis obrolan mereka itu dilakukan, Vino keluar dari rumah Monika sambil melirik ke ke arah kiri dan kanan jalan.
Pria yang menyukai Monika sangat berbahaya, aura busuknya bisa Vino rasakan karena pengalaman dihina dan disakiti orang-orang munafik juga pengecut.
Melihat tidak ada orang yang mencurigakan, Vino kembali berlari ke sela kosong di antara dua rumah besar, kemudian melakukan teleportasi ke rumah untuk mengganti pakaian.
Pakaian yang sebelumnya sudah kotor dan tidak rapi akibat pertarungan tak terduga dengan pria aneh.
Saat Vino melihat sosoknya di dalam cermin, tubuhnya yang berotot memilki tato memar baru, bagian depan tak begitu jelas, punggung sedikit lebih banyak, tetapi masih samar-samar.
Kebanyakan ada di bagian paha dan tangan, tato di bagian keduanya merupakan alat Vino menahan serangan pria gila.
Ada dua beberapa luka berdarah di tangan, Vino harus menutupi dengan plester luka.
Mengabaikan tentang pemandangan ini, Vino bergegas mengenakan pakaiannya dan berteleportasi ke kamar Callie.
Begitu kembali ke kamar Callie, sosok Callie yang masih terbaring terlihat di tempat tidur, tetapi posisinya sudah berbeda dengan sebelum Vino tinggalkan kurang lebih satu jam lamanya.
Vino memperhatikan begitu dekat wajah Callie dan menemukan bahwa Callie sudah sadar, tetapi dilanjutkan dengan tidur.
Di sini sudah jam 2 malam, tidak heran kalau Callie tidur.
Akan tetapi, ada sebuah ide terlintas di benak Vino, kemudian dia langsung mewujudkan idenya.
__ADS_1
Bergegas Vino masuk ke dalam selimut, kemudian dia memeluk tubuh Callie dari belakang sambil membuat serangan diam-diam yang kuat.
Dahi Callie mengernyit karena merasakan keanehan, alisnya bertautan dan bergerak tak karuan.
Pada akhirnya, Callie yang tertidur kembali sadar dan dia mulai bertempur lagi dengan Vino.
Keesokan harinya, mereka berdua pergi ke Kota New York di jam 8 pagi waktu setempat, bertujuan untuk berbelanja.
"Sayang, apa sebenarnya pekerjaan kamu hingga mendapatkan uang banyak?" tanya Vino sambil menoleh ke Callie yang sibuk memeluk tangan kanannya.
Peristiwa semalam membuat Callie makin lengket dari sebelumnya. Bagaimana tidak, kebutuhan biologisnya sudah terpenuhi, sangat terpenuhi.
Callie menyentuh bibir bawahnya sambil berpikir, kemudian dia menjawab, "Aku bekerja sebagai manajer sebuah perusahaan."
"Sekarang sedang libur?"
Kepala Callie mengangguk sekali dan tersenyum lebar, menunjukkan tebakan Vino benar.
Mereka berdua masuk ke salah satu mall di New York, membeli beberapa barang untuk keduanya.
Vino sekali lagi diberi beberapa pakaian, sekitar 2 set pakaian dan 1 sepatu. Vino tidak meminta banyak-banyak, itu saja sudah kebanyakan baginya.
Tak enak juga dia dibelikan baju oleh wanita, bukan dirinya yang membelikan barang untuk wanita yang disukainya.
Mau bagaimana lagi, sudah aturan dari Sistem dan itu bebas sebenarnya, tidak begitu mengekang.
Memang Callie ingin memberikan banyak barang untuk Vino dengan tujuan agar dirinya selalu diingat.
Tepat setelah mereka keluar dari bangunan mall, mereka berdua menemukan pengamen yang bernyanyi dengan gitar di trotoar.
Banyak sekali orang yang lewat menjadi berkerumun untuk mendengarkan nyanyian pengamen.
Hal ini juga membuat mereka berdua dan tertarik.
Callie yang menyukai musik tiba-tiba meminta Vino bermain gitar untuknya.
Dengan begitu, Vino menyetujui permintaan Callie yang mendadak itu.
Di bawah pandangan orang-orang, sosok Vino menghampiri pengamen yang sudah menyelesaikan nyanyinya, kemudian berbicara beberapa patah kata.
"Aku akan menyanyikan lagu yang diminta pria tampan ini. Dia ingin memamerkan keterampilan gitarnya, tolong diberi tepuk tangan dahulu."
__ADS_1