
Setelah pertemuan berakhir, Flora yang akan bersiap makan siang dikejutkan dengan panggilan pak Surya padanya. "Iya pak? Bapak perlu sesuatu?" Tanya Flora pada atasannya itu.
"Kau bukan sekretaris atau OB Flora. Aku ingin bicara mengenai sesuatu padamu. Setelah makan siang." Flora berpikir sejenak mengenai ucapan itu.
"Saya tidak masalah pak, tapi bapak mungkin akan makan siang dulu." Tapi respon pak Surya justru tertawa kecil.
"Aku justru memikirkan mu Flora, kau sudah bekerja cukup keras karena proyek ini. Karena itu aku meminta pertemuan kita setelah makan siang."
"Baiklah pak, aku akan menemui bapak setelah makan siang." Pak Surya mengangguk dan tak lama Flora segera menuju restoran tak jauh dari perusahaan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Selamat datang nona." Baru saja Flora mendaratkan kakinya, ia sudah disambut dengan senyuman seperti yang lainnya. Sambil melihat meja yang kosong, flora juga bertemu dengan beberapa rekan kerjanya, tapi karena tidak ada lagi kursi, Flora duduk di meja sendiri.
"Ini menunya Nona, silakan." Flora menerima buku menu itu dan memilih menu favoritnya.
"Aku pesan nasi bakar dan juga cumi pedas. Juga jus lemon nya."
"Baik nona." Sambil menunggu pesanan nya datang, Flora melihat chat nya dengan kepercayaannya nan jauh di sana.
'Nona, Nyonya Bena tengah mencari Nona sekarang ini. Aku harap Nona sudah mempersiapkannya dengan baik.'
'Baik, terimakasih informasinya. Aku tunggu informasi berikutnya, dan jaga dirimu, wanita itu licik.'
__ADS_1
'Nona jangan khawatir. Jaga diri nona.' Beriringan dengan berakhirnya chat itu. Pesanan Flora datang, dan perutnya yang sudah lapar langsung saja ia eksekusi.
"Carilah aku Bena, kau bisa mencari ku ke manapun. Tapi kau tidak akan menemukan ku, kau tidak akan pernah berpikir, aku disini. Dan walaupun kau mengetahuinya, maka itu sudah terlambat."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Tak jauh dari posisi Flora, seorang pria bermanik coklat muda tengah membiarkan piring makanannya yang belum dihabiskan.
"Tuan, sebentar lagi tuan besar akan datang. Sebaiknya tuan muda segera makan, takutnya...."
"Oh ayolah Bry, aku akan makan dalam waktu lima menit. Kau jangan cemas seperti itu, aku tau apa yang harus ku lakukan." Jawabnya dengan enteng dan belum melepaskan ponselnya.
Ketika asyik dengan ponselnya, piring di hadapannya itu bergerak dan tiba wajahnya. "Bry aku sudah bilang....." Pria itu langsung diam setelah melihat sosok yang memegang piring itu untuk nya.
"Apa satu jam lagi? Atau sebaiknya bawa saja piring nya dalam perjalanan kita? Begitu Morgan?"
" Aku memang memiliki urusan yang tidak akan ada habisnya, terutama mengenai cucu ku ini. Bahkan makanan pun belum bisa ia habiskan meskipun sudah besar."
"Bukan begitu kek, aku merasa sudah kenyang. Dan....."
"Morgan! Habiskan makanannya, jangan mengelak lagi. Kita tengah memiliki hal yang penting saat ini, untuk model saja cucuku ini tidak bisa, entah kriteria apa yang kau inginkan."
"Kakek, mereka semua hanya menampilkan tonjolan mereka saja, aku tidak suka dengan itu. Jangankan kriteria, bakat pertama saja mereka tidak punya. Kakek pikir aku main-main?"
__ADS_1
"Bagaimana mereka tidak menunjukkan tonjolan mereka, wajahmu itu sangat menakutkan. Sampai sekarang, belum ada tanda-tanda wanita darimu."
"Astaga kek, kita tengah bicarakan model. Kenapa berubah ke arah sana?"
"Tentu saja hari dibicarakan."
"Aku sudah selesai makan, ayo kita segera pergi kek." Merasa jengah dengan pembicaraan yang pasti ia tau ujung-ujungnya, lebih baik pergi saja.
"Iya-iya, kau selalu saja begitu." Sambil berdiri, pria itu berjalan beriringan bersama cucunya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Lihat itu, semuanya menatap Tuan muda, Tuan besar. Pastinya tidak sulit menemukan pasangan Tuan muda." Seorang pria yang merupakan kepercayaan pria bernama Omar itu berbincang mengenai hal yang tidak akan ada habisnya dan menganggu pikiran atasannya itu.
"Kau tidak mengerti, semuanya mungkin menatap Morgan. Tapi aku bukan mencari yang seperti itu, aku ingin hatinya, pemikirannya. Bukan wajahnya, setiap kuningan yang berbalut dengan emas bisa disebut dengan emas, tapi nyatanya itu tetap kuningan."
Tidak tau mata pemilik tubuh itu kemana, sehingga bisa menabrak orang lain. "Astaga!" Ujar keduanya bersamaan.
Dari kepala yang berbenturan, sepertinya ikut merambat menuju mata yang saling menatap. Tapi sepertinya sepasang mata berbeda beriringan dengan tubuh pemiliknya.
"Aku tau, wanita seperti mu....."
"Kau tidak punya mata? Apa kau menggunakan mata kaki mu? Atau kau hidup dalam ponsel?" Wajah pria itu serta pria disebelahnya tidak percaya dengan perkataan yang keluar dari bibir wajah cantik itu.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.