
Flora tidak menyangka akan mendapatkan surat yang menyatakan dirinya langsung mendapatkan hasil kerja nya selama beberapa waktu ini serta hadiah kecil yang dimaksud oleh pak Surya.
"Hadiah kecil dariku." Ujar pak Surya sambil tersenyum melihat reaksi Flora.
"Pak, ini... Aku..."
"Aku tidak terima penolakan."
"Pak, terkadang aku merasa kau tidak seperti atasan ku."
"Jadi kau menganggap ku seperti apa? Apa itu buruk?" Tebak pak Surya yang membuat Flora menggeleng cepat.
"Bukan, kau seperti ayah. Seorang ayah." Flora tidak melanjutkan ucapannya karena sekuat tenaga ia menahan air matanya.
"Kalau begitu kau bisa memanggilku ayah. Kebetulan aku tidak memiliki Putri. Dua putraku sudah berkeluarga semua, jadi aku tidak memiliki seorang putri yang akan menunggu kepulangan ku atau bermanja-manja." Sepertinya tidak ada gunanya Flora menahan sekuat tenaga air matanya, karena akhirnya jatuh juga.
"Aku tidak menyangka akan memiliki seorang ayah disini." Pak Surya mengelus rambut indah gadis cantik itu.
"Setiap hidup adalah kejutan Flora. Sejak aku melihat bakat mu di Italia, aku merasa kau memiliki keistimewaan yang sengaja kau sembunyikan. Aku tidak berhak mengulik itu. Ini adalah hadiah kecil untuk putriku, apa itu cukup?"
"Sangat, bahkan tidak bisa ku katakan." Flora menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.
"Dalam beberapa bulan ini, kau berhasil membuat investor tertarik dengan cara kerja mu dan juga hasilnya. Kau istimewa Flora, aku merekrut karyawan ku bukan dari wajah, tapi dari kemampuan. Aku tidak peduli dari mana ia berasal." Flora hanya bisa mengangguk karena suara nya terganggu akibat sesi tangis nya.
"Karyawan Tuan Omar pasti sudah mengirimkan jadwal pemotretan padamu. Aku berikan ini, bukan berarti kau tidak akan bekerja lagi disini. Jadi jangan berpikiran seperti itu."
"Terimakasih Ayah." Pak Surya akhirnya memeluk tubuh Flora meskipun sebentar saja.
__ADS_1
"Aku akan pulang, apa ada lagi yang harus...."
"Tidak, pulanglah. Jaga kesehatan dan tidur yang cukup, hari yang baru akan menyambut mu besok." Flora tersenyum sambil melangkah keluar, meskipun Flora sudah menghilang dari pandangan nya, tapi tetap saja ia masih menatap kepergian Flora.
"Kau mengingatku pada seseorang.... Tapi sepertinya tidak."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Makan malam sudah siap disajikan, begitu juga dengan beberapa kursi yang sudah terisi itu. "Daddy, akhirnya Daddy pulang. Apa semuanya baik-baik saja?" Jessi yang baru melihat Antoni tentu bertanya dan membuat Bena tersenyum dengan tindakan putrinya.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Jessi agar Antoni menjawab.
"Tidak, Daddy hanya sibuk. Bagaimana kuliah mu?"
"Baik, sebentar lagi aku akan wisuda. Daddy dan mommy harus datang."
"Ya, tentu." Ibu dan anak itu tersenyum sambil memandang.
"Kalau begitu, ayo kita makan." Bena melayani Antoni yang meskipun menjawab pertanyaan mereka, tetap saja ada sesuatu yang menjanggal dari pria itu.
'Aku tau yang kau pikirkan. Akan aku hapus sosok itu dari rumah ini dan juga pikiran mu. Aku berharap dia menderita dan kesulitan dimana pun ia berada!'
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Suasana hati wanita blonde itu tampak baik, ia tersenyum tak menentu membuat sosok yang masuk ikut bahagia. "Putriku terlihat bahagia, apa ada sesuatu?"
"Ya mommy, dan aku sangat bahagia sekali!" Jawab Jessi sambil terus naik turunkan layar ponselnya.
__ADS_1
"Apa itu? Mommy ingin tau apa yang membuat putriku yang cantik ini, begitu bahagia."
"Mommy tidak tau?" Pertanyaan putrinya membuat Bena menggeleng cepat.
"Tidak, apa memangnya?"
"Mommy, tak lama lagi ada launching perhiasan terbaru. Sebuah kalung yang dari rancangan ternama. Aku mendengar iklan dan modelnya akan segera muncul berserta wujud kalung nya. Aku ingin itu mommy, aku ingin itu untuk hadiah kelulusan ku." Jessi terlihat sangat berharap dan mendusel pada Bena.
"Oooo, begitu ternyata. Tentu saja, apapun untuk mu. Mommy akan belikan, dan hanya putriku yang akan memakai nya." Jawaban itu membuat Jessi tersenyum sumringah.
"Mommy yang terbaik!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ketika Bena kembali ke kamar nya, sepertinya Antoni masih terjaga. "Ada apa? Butuh sesuatu? Kau sakit Antoni? Katakan padaku."
"Jessi sebentar lagi lulus, Flora juga begitu kan?" Bena memutar bola matanya mendengar nama itu.
"Tentu saja, tapi Flora tidak mungkin datang. Maksud ku.... Pihak kampus mengatakan bahwa ia tidak layak untuk lulus.... Aku...."
"Tidak layak?" Tampak wajah Antoni kaget mendengar ucapan Bena.
"Iya, aku.... Antoni jangan marah, kita tau bagaimana Flora. Tapi aku yakin dia akan bisa melalui nya, kita hanya perlu memberikan dukungan..." Bena tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Antoni sudah pergi dan terlihat tidak baik.
"Ya, itulah yang aku inginkan. Sepertinya memang sulit menyingkirkan nama anak itu darimu. Tapi aku akan terus meracuni pikiran mu Antoni, aku tidak akan membiarkan anak wanita desa itu bertahta di sini. Tidak akan! Hanya putriku yang berhak! Aku akan membuat kebencian mu semakin besar dengan drama yang sudah ku persiapkan dengan Henny."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.