
Ditengah asyiknya Morgan tengah berendam sejenak, ada aktivitas lain yang tidak ia sadari. Dibalik pintu antara tempat dirinya berendam dan melepaskan penat dengan mata terpejam.
Tampak sepasang tangan itu mengotak-atik apa yang melekat di tubuhnya. Seperti merasa tak nyaman, dengan mata tertutup tangan itu meraba-raba bagian tubuhnya sendiri dari depan hingga belakang.
"Lega..." Setelah mendapatkan apa yang menjadi penghalang, tangan itu seenaknya melempar ke sembarang arah. Dan tak lama kembali merebahkan tubuhnya memeluk apa saja didekatnya.
Setelah dirasa cukup untuk menyegarkan diri pada dini hari ini, Morgan segera bangkit dari bathtub dan memakai jubah mandi yang tersedia, sambil melihat ponselnya yang menghubungi kakek atau asistennya.
Tetapi ketika ia baru saja membuka pintu, maniknya langsung tertuju pada sosok di ranjang yang masih asyik tertidur dengan posisi yang sudah berubah.
Pandangan yang melekat pada Flora, membuat kakinya bergegas menuju meja daya pengisi ponselnya tetapi mata yang tidak mengawasi membuat kaki itu tersandung sesuatu yang mengikat kakinya.
"Astaga!!" Tentu saja reflek Morgan melihat apa yang menyangkut di kakinya.
"Ini....." Tampak tak asing bagi Morgan dan membuat maniknya membola melihat benda yang berfungsi menutupi hal berharga itu.
Belum selesai keterkejutan Morgan, tampaknya suara teriakan itu membuat sosok yang sedang tertidur pulas tampak terganggu. "Kenapa berisik sekali! Bibi Anju tutup pintu dan segera keluar ya."
Merubah posisi dengan berbagai macam posisi membuat dress dengan tali spaghetti itu langsung meluncur bebas dan menunjukkan yang membuat darahnya menjadi panas.
"Pakai selimut mu!" Reflek Morgan langsung mencari kain tebal untuk menutupi tubuh Flora.
"Bantal ku...." Ditengah melakukan pencarian, pintu tampaknya terbuka dan membuat Morgan reflek memeluk Flora sambil memperbaiki dress Flora.
"Morgan!" Sepasang telinga Morgan langsung bekerja dengan manik yang melihat sosok di depan pintu.
"Kakek.... i...." Antara melepas dan melanjutkan, Morgan tampaknya memilih bertahan dengan posisi itu.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Antoni yang tidak kunjung tidur terus menunggu kabar mengenai putrinya. "Bagaimana?" Dengan segera, Antoni berdiri menuju informannya.
"Tuan, ada kabar. Mari ikut segera." Mengerti dengan baik, Antoni langsung mengikuti informannya yang langsung membawanya entah kemana.
Tidak ada pembicaraan, hingga mobil itu berhenti di depan hotel yang membuat Antoni menatap lekat nama hotel itu. "Putriku disini?" Tanyanya yang membuat sang informan mengangguk.
"Iya tuan, mari...." Dengan langkah tergesa Antoni tak sabaran menemui putrinya yang pastinya beristirahat disini karena belum mau menemuinya.
"Nomor berapa? Katakan!"
"Tuan, nona Flora dia..... bersama..."
"Kenapa terlihat ramai? Dan itu...." Manik Antoni menangkap dari lorong menuju sebuah kamar yang terlihat sosok yang dikenalnya.
"Tuan Omar?" Sosok yang dipanggil akhirnya menoleh dan ada raut kaget yang terlihat, tetapi ia samarkan.
"Tidak, aku sedang mencari putriku.... Tuan sendiri?"
"Aku sedang menjemput cucuku, dia...."
"Begitu rupanya." Melihat raut kekhawatiran, Omar bertanya balik.
"Kau tampak khawatir, mungkin aku bisa bantu."
"Ya, ini putriku ..... Apa tuan pernah melihatnya?" Ponsel yang dihadapkan kepada wajah Omar membuat manik yang telah melihat banyak hal beberapa dekade itu langsung memperbesar layar ponsel.
__ADS_1
"Dia putrimu?" Tanya Omar kembali.
"Iya, apa tuan pernah melihatnya?" Tidak ada jawaban, tetapi Omar hanya membuka pintu yang memperlihatkan sosok pria muda nan gagah berjubah mandi yang tengah bersama dengan seseorang di ranjang, dan ketika dilihat lagi....
"Flora!" Antoni langsung mendekat dengan Morgan yang telah membaringkan tubuh Flora kembali.
"Kau... Kau apakan putriku!" Dengan amarah yang terpancar melihat keadaan putrinya saat ini membuat kepala Antoni mendidih serta tangannya terasa gatal.
"Tuan Antoni! Tunggu!" Omar segera masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"Tuan Omar, ini.... Aku menunggu penjelasan."
"Ya, aku juga. Kita akan mendapatkan jawabannya segera, Morgan...." Sekarang keduanya menatap Morgan seperti mangsa yang siap dimakan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sedangkan di luar, tampak ada beberapa penjagaan dengan pakaian seperti tamu pada umumnya. "Untung saja, tepat waktu. Kau sangat bagus nak."
"Iya ayah, ketika aku kesini aku cukup kaget melihat Tuan muda Morgan dengan seorang gadis yang merupakan modelnya. Dan ditambah dengan rencana resepsionis itu untuk memanggil wartawan."
"Kau membantu pekerjaan ayah, terimakasih putraku Andre." Ada senyum bangga di wajah pria yang merupakan salah satu pria yang bertugas melayani tuan Omar.
"Itu adalah tugasku ayah."
"Wartawan sudah dibereskan dan resepsionis itu juga akan segera diurus. Mereka salah bermain dengan tuan kita.
"Jadi jawaban mu Morgan....."
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.