Skala Kecantikan Flora

Skala Kecantikan Flora
Tangisan Morgan


__ADS_3

Menembus jalanan yang ramai, Morgan memeluk tubuh istrinya yang tengah dialiri cairan merah di antara dua pahanya.


Flora meringis kesakitan sambil mencengkram erat tangan Morgan. "Kita akan segera sampai." Ujar Morgan dengan rasa khawatir bukan main.


"Morgan,anak-anak kita akan baik-baik saja kan?" Manik Morgan dapat melihat jelas kesakitan istrinya, tetapi pertanyaan yang terlontar justru mengenai anak-anak mereka.


"Mereka akan baik-baik saja, dan kau juga. Tidak akan ada yang terjadi, bersabarlah Flo. Lebih cepat!" Morgan berteriak keras kepada supir.


"Iya tuan, kita sebentar lagi sampai."


"Jangan menangis." Hanya itu yang Flora katakan ditengah rasa yang teramat sakit.


"Kita sampai." Morgan langsung mengangkat tubuh istrinya yang telah mengalir darah saat ini.


Berteriak memanggil dokter, membuat dokter yang tengah melintas langsung mengambil alih. "Tolong istriku! Cepat!"


"Dia terjatuh, lakukan sesuatu. Istriku kesakitan..." Sambil menuju ruang UGD, Morgan tak henti-hentinya bicara sambil memegang tangan istrinya.


"Tunggu di luar Tuan, kami akan menanganinya." Morgan hanya bisa mengalah meksipun ia ingin masuk saat ini.


Setelah pintu tertutup, ia memukul kepala nya karena tidak bisa cepat menyelamatkan Flora yang jatuh di depannya. "Aku b0d0h! Aghh!" Tak lama seorang pria yang merupakan sekretaris Morgan datang.


"Tuan...."


"Cari wanita itu! Dia mendorong istriku! Aku melihat nya! Temukan dia!" Morgan sungguh marah mengingat wajah wanita itu yang mendorong istrinya.


"Sudah kami temukan tuan."


"Dimana? Katakan!"


"Tuan tenanglah dulu..."


"Jawab aku! Dimana wanita itu!"


"Dia tertabrak ketika melarikan diri dari kami tuan, dan telah tiada. Tubuhnya hancur karena truk besar yang menabraknya." Morgan antara bingung dan senang mendengar ucapan sekretarisnya.


"Siapa dia? Aku yakin dia bukan seseorang yang tidak memiliki alasan melakukan nya." Sekretaris itu tampak diam dan tak lama dokter keluar membuat Morgan langsung mencerca nya dengan pertanyaan.


"Dokter, bagaimana keadaan istriku? Katakan sesuatu!"

__ADS_1


"Maaf tuan, sepertinya posisi jatuhnya lebih dulu menghantam perut. Ini sangat berbahaya, terlebih lagi usia kehamilan yang sudah tua. Ini sangat beresiko."


"Lakukan apapun! Kau dokter kan? Selamatkan istri dan anak-anak ku!" Dokter itu tampak mengerti emosi seorang suami yang meledak-ledak di depannya saat ini.


"Iya tuan, dan karena itu kami harus melakukan tindakan operasi. Karena, pendarahan yang sudah terjadi, dan keadaan ibu hamil serta kondisi bayi di dalamnya. Kami meminta persetujuan tuan."


"Ya, lakukan itu. Selamatkan istri dan anak-anak ku."


"Baik, kami akan segera melakukan nya." Morgan sekilas melihat istrinya yang terbaring di dalam sana.


"Aku mohon berjuanglah Flora. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Morgan meneteskan air matanya dan terduduk lemah.


"Semuanya akan baik-baik saja tuan. Percayalah."


"Morgan!"


"Kakek!" Morgan langsung memeluk tubuh yang sudah menua itu dan menjadi sandaran nya saat ini.


"Flora, dia.... Aku tidak bisa melakukan apapun. Dia jatuh, dia kesakitan.... Kakek aku..."


"Tenanglah Morgan, tenang dulu. Semuanya akan baik-baik saja. Kau seorang pria! Kau harus kuat! Kau tidak seperti ini, yakinlah... Flora akan baik-baik saja, dan anak-anak mu juga." Omar memberi ketenangan kepada cucunya yang tampak kacau itu.


"Dia akan baik-baik saja, kalau kau menangis dan bersikap seperti ini. Menurutmu Flora bagaimana?" Omar tidak lagi mendengar tangisan cucunya, dengan gerakan mata, beberapa orang yang bersamanya langsung mengerti dan meninggalkan mereka berdua.


"Kakek telah menghubungi orang tua mu, dan juga mertua mu." Morgan tampak diam melihat pintu dimana istrinya berjuang saat ini.


"Siapa wanita itu? Kakek tau kan?" Morgan masih bertanya tentang sosok yang mencelakai istrinya.


"Kita pikirkan itu nanti. Makan dulu, kau harus siap menyambut kedatangan anak-anak mu nanti dan juga kesadaran Flora." Mendengar kata-kata itu, Morgan teringat dengan percakapannya bersama Flora.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Menurut mu anak-anak kita laki-laki atau perempuan? Atau sepasang?" Tanya Flora di dalam dekapan Morgan.


"Apapun itu, aku tidak masalah. Yang terpenting mereka sehat dan juga dirimu sayang." Flora terkekeh ketika Morgan mengigit hidung nya.


"Kalau aku lebih suka anak-anak kita mendapatkan manik seperti mu dan juga senyuman mu. Itu sangat manis." Ujar Flora menatap wajah suaminya.


"Mereka akan menjadi perpaduan sempurna kita. Mendapatkan rambut seperti mu, hidung mungil mancung ini dan kulit seperti mu." Sekarang giliran Morgan yang berangan-angan tentang anak-anak mereka.

__ADS_1


"Kau mau nama apa? Kita harus mempersiapkan nya bukan?" Tanya Flora yang membuat Morgan tampak berpikir sejenak.


"Aku mau....."


"Morgan! Morgan!" Panggilan itu membuat Morgan tersadar dan ketika membuka matanya ia melihat kedatangan orang tuanya.


"Mama!" Wanita itu langsung menyambut pelukan putranya yang sangat dibutuhkan saat ini.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Flora kuat."


"Gantilah pakaian mu dulu nak, kau juga belum makan." Morgan tampak menggeleng karena sebelumnya kakek nya sudah mengatakannya tetapi ia menolak.


"Jika anak-anak mu lahir, bagaimana pikir mereka nanti. Daddy mereka terlihat buruk, mereka bisa ragu nantinya." Tampak wanita itu tersenyum mencoba menghibur putranya.


"Mama....."


"Aku tidak lapar."


"Makan, atau Mama tidak izinkan kau melihat istri dan anak-anak mu nanti." Dan benar ancaman itu membuat Morgan menurut.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sedangkan di sisi lain, Antoni yang tengah berada di pesawat mengepalkan tangannya ketika mendapatkan informasi. "Jessi kau tidak membiarkan putriku hidup tenang."


"Bahkan kematian mu, tidak mampu menebus jika terjadi sesuatu pada putri dan cucu-cucu ku!" Menyesal, hanya itu yang ada di hati Antoni.


Seharusnya dia tidak menganggap remeh Jessi yang menjadi seperti mommy nya yang sangat berbahaya.


"Papa datang sayang, papa tau kau kuat!"


Bersambung......


Sambil menunggu episode berikutnya, yuk mampir ke karya baru author!


Rosalina Untold Story


Ditinggalkan oleh calon suami sehari sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.


"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya?


__ADS_2