Skala Kecantikan Flora

Skala Kecantikan Flora
Khawatir


__ADS_3

Tangan Flora terus bergerak membuka pintu itu ditengah kegelapan, tapi beberapa kali ia lakukan tetap saja tidak membuahkan hasil. "Astaga! Kenapa bisa mati lampu? Aku baru ingat, pintunya otomatis dan membutuhkan aliran listrik. Aku juga tidak bawa ponsel!" Flora hanya bisa menggerutu kesal karena terjebak.


"Ada orang disana? Sely? Sely? Kau dengar aku?" Flora memanggil nama pria tulang lunak beberapa kali dengan suara keras.


"Sely, aku terkunci! Kau di sana? Sely!" Tapi seolah semuanya hening dan membuat Flora memutar otaknya melihat sekitar.


Tapi semuanya hanya gelap yang ia lihat, tidak ada apapun selain tangannya yang meraba-raba sesuatu yang bisa membuat dia keluar. "Apa yang terjadi? Perusahan sebesar ini mengalami hal seperti ini? Yang benar saja!"


Karena banyak bergerak dan ditambah dengan kegelapan membuat Flora menginjak sesuatu yang membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.


"Aghh! Astaga!" Flora memegangi punggungnya yang terbentur di ruangan yang tidak terlalu besar itu.


Tidak mau terjebak lebih lama, dengan kakinya dia, mengeluarkan suara yang mungkin di dengar oleh orang lain. Ketika asyik melakukan adegannya, Flora justru berhenti setelah beberapa saat karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat.


"Ada orang...." Ujarnya dengan pelan, sambil mendengarkan lebih lekat lagi.


"Siapapun di luar, bisa bukakan pintunya? Aku terjebak!" Flora kembali berteriak bertepatan dengan suara langkah kaki yang berhenti di depan ruangan gantinya.


Tampak terdengar suara beberapa kali seolah membuka pintu ruangan. "Ya, tolong buka pintu nya!" Dengan bantuan alat, pintu itu terbuka tapi ketika Flora ingin mengucapkan rasa terima kasih, justru ia dibuat kaget dengan sosok didepannya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Jessi masih menangis karena melihat mommy nya terbaring tak berdaya dengan beberapa luka goresan kaca. Tak terlihat siapapun disana yang membuat Jessi meraung sendirian dan tak lama pelayan rumahnya datang menghampiri.


"Bagaimana keadaan mommy ku?" Tanya Jessi sambil melihat dokter yang baru saja selesai memeriksa Bena.

__ADS_1


"Sepertinya pasien tertekan, selebihnya tidak ada masalah. Dan hanya ada beberapa luka di kaki pasien. Dalam beberapa jam akan segera sadar." Penjelasan dokter membuat Jessi merasa sedikit tenang.


"Sungguh?" Tanya Jessi memastikan.


"Ya Nona, anda tidak perlu khawatir. Saya akan memberikan resepnya, bisa diminum untuk membantu pasien tenang dan yang penting, jangan biarkan pasien banyak pikiran." Setelah dokter pergi, Jessi menggenggam tangan Bena dan berharap mata itu terbuka kembali.


"Apa yang terjadi mommy? Kenapa bisa begini? Dan Daddy?" Dengan bertanya-tanya, Jessi keluar dan mencari keberadaan Antoni yang tidak terlihat.


"Dimana Daddy?" Tanya Jessi pada pelayan yang dilihat olehnya.


"Tadi tuan bersama dengan Nyonya. Dan setelah itu ada keributan besar, satupun diantara kami tidak ada yang berani masuk karena Tuan sangat marah. Setelah terdengar beberapa barang yang dirusak dan juga kaca, setelah itu tuan langsung pergi dan kami tidak tau lagi. Baru kami melihat Nyonya dan Nona." Jessi yang ingin mencari keberadaan langsung Daddy nya langsung menuju ruangan yang biasanya ditempati Antoni.


"Daddy? Daddy?" Jessi memanggil Antoni beberapa kali sambil memeriksa setiap ruangan.


"Dimana Daddy?" Jessi bertanya pada dirinya sendiri karena tidak berhasil menemukan Antoni.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Flora langsung menendang kaki yang mencoba bertindak kurang ajar padanya, beberapa kali Flora disini ia tentu tau wajah para pekerja disini. Dan dapat Flora pastikan wajah ditenagai kegelapan itu bukanlah wajah yang bekerja disini.


"Sejak awal, aku sudah menanti saat ini. Sosok cantik yang aku impikan, akhirnya datang dihadapan ku. Ayo Nona cantik, Nona bule yang manis!"


"B@jingan gila!" Flora yang memilih kemampuan yang tidak bisa diremehkan langsung menghajar pria yang kurang ajar itu padanya. Sepertinya pria itu sengaja dan sudah memperhitungkannya dengan matang.


🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


"Cepat nyalakan lampu nya! Kenapa lama?" Morgan tampak mengamuk karena selain tugasnya yang hilang karena belum disimpan di laptop nya, ia juga mendapatkan kabar bahwa ada orang asing dan bisa saja berbuat buruk pada perusahaan nya.


"Maaf tuan, tapi kabelnya digunting."


"Cepat urus! Aku bayar kalian!" Seumur hidup pria itu, ia baru mendapatkan kesialan besar saat ini.


"Baik tuan." Para petugas listrik itu langsung mengeluarkan kecepatan mereka karena mendapatkan semprotan seperti ini.


Sedangkan diantara senter itu, Morgan mendapatkan kabar yang lebih kacau lagi. "Tuan, orang asing itu menuju tempat pemotretan."


"Apa! Cepat cari!" Morgan tentu takut jika peralatan perusahaan nya rusak atau dicuri. Dirinya juga ikut bergegas karena tidak mau kena semprot oleh kakeknya.


Setelah berlarian dengan tangga yang hampir membuat kaki mereka copot. Suara teriakan campuran terdengar dan terlihat pria dengan keadaan yang cukup kacau menghampiri mereka.


"Tunggu, kau...." Morgan menghentikan orang-orang yang berpikir bahwa sosok ini adalah tersangkanya.


"Aku Sely tuan, aku bersama Flora." Mendengar nama itu entah mengapa Morgan sadar karena tidak melihat keberadaannya.


"Dimana dia?" Tanya Morgan.


"Seorang pria dengan senjata tajam menuju ke ruangan ganti Flora, dia memukul ku karena aku mendengar teriakan Flora...." Tanpa mendengar penjelasan lebih lagi, Morgan langsung berlari secepat mungkin menuju kesana.


Tidak peduli ditengah kegelapan tanpa cahaya, bermodalkan mata seperti kucing, Morgan menuju posisi Flora.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2