
Tubuh dengan wajah cantik itu masih termangu dengan apa yang terjadi. Dirinya tidak pernah mendapatkan hal seperti ini, baik di negara manapun dan juga transportasi manapun.
Tak lama telinganya menangkap suara pintu mobil yang kembali tertutup dan begitu juga dengan kursi pengemudi. "Kakiku terasa lelah menunggu seperti itu, kau dengar? Entah apa yang kau lakukan hingga begitu lama." Flora yang sejak tadi masih membeku melirik wajah dengan bibir yang berbunyi itu.
'Kalau aku tidak butuh, aku cekik lehernya!' Sungguh tangan Flora saat ini sudah sangat gatal ingin mengacak-acak Morgan yang memasukkannya seperti kucing peliharaan.
"Apa? Kau menatap ku tanpa bicara, kau mengatakan hal buruk ya?"
"Ya, aku ingin bertanya.... Kemana kita? Dan aku tentu sangat terkejut melihat kedatangan tuan Morgan ke apartemen ku." Dengan senyuman palsu dan nada bicara yang lembut Flora mengatakan keinginan nya berbalut sopan.
"Kau akan lihat nanti, duduk tenang. Jangan buat ulah apalagi bergerak seperti hewan dilindungi." Flora membulatkan matanya menatap Morgan yang membuat pria itu tau.
"Maksudnya.... Kau duduk tenang saja."
"Sepertinya anda pernah membawa penumpang seperti itu, sehingga terbawa pada penumpang lain. Aku cukup mengerti, dan tidak menyangka dengan kejadian yang anda alami membawa penumpang seekor hewan." Sekarang giliran Morgan yang menatap dengan manik membola ke arah Flora, tapi Flora justru tersenyum manis.
'Kau salah melawan ku dalam bicara dan bertindak, dasar arogan!' Meksipun saat ini tidak tau kemana dia akan dibawa, tapi setidaknya Flora percaya pada pria ini.
'Dia pandai juga.' Tatapan kali ini tidak terlihat oleh Flora yang tengah menatap jalanan.
Flora yang dapat melihat dengan jelas arah serta tulisan yang menempel estetik pada bangunan itu membuat dirinya mengerti.
"Ayo turun." Morgan lebih dulu keluar dan sebelum ada adegan aneh lagi, Flora membuka dan menutup pintu sendiri.
"Cepat, kita tidak punya waktu! Dasar!" Sungguh hati Flora harus seluas luasnya saat ini menghadapi Morgan.
Tidak tau Morgan makan apa atau memiliki bakat khusus, tampak jalannya sangat cepat membuat Flora tergesa-gesa mengejarnya. "Apa dia itu cheetah?" Mengambil napas beberapa kali, Flora kembali mengejar Morgan.
Keduanya memasuki dan menyusuri butik terbesar di sana yang memiliki tiga lantai dengan pakaian yang berkelas dan terkenal. "Ayo masuk! Segera pilih, aku tidak mungkin membawamu dengan penampilan yang akan membuat diriku menjadi bahan pembicaraan nantinya."
"Tidak tau bagaimana istrinya nanti. Tidak, jangankan istri.... Kekasih pun tidak akan betah dengan nya! Akan ku buat kau tidak bisa bicara nanti!" Morgan kembali menghilang dan Flora memilih pakaian segera daripada dirinya mendengar ucapan yang membuat dirinya yang memiliki kesabaran semakin menepis nanti.
__ADS_1
"Silakan Nona." Flora disambut dengan seorang pelayan yang begitu ramah. Apalagi melihat dirinya datang bersama Morgan dan tentunya dengan wajah cantiknya yang membuat dirinya semakin disambut dengan baik.
"Aku tidak peduli kemana dia, ah.... Rasanya sudah lama tidak belanja." Sambil dengan perasaan bahagia Flora memilih beragam pakaian yang membuat dirinya akan semakin cantik dan mempesona.
Ditengah asyiknya dirinya memilih, ada sepasang mata dengan tangan yang sibuk membesarkan layar menangkap dirinya. "Sangat cantik, dan begitu menarik. Lihatlah, tubuh indah itu.... Wow.... Barang yang sangat bagus dan menjadi koleksi ku...." Sosok itu menjadi terganggu karena tepukan di bahunya yang membuat dirinya beberapa kali mengeluarkan ucapan yang menandakan dirinya terganggu.
"Astaga siapa yang....."
"Hapus! Atau kau ingin merasakan dinginnya lantai penjara?" Maniknya menjadi membesar melihat sosok yang menyapa dirinya.
"Kau punya telinga kan?" Dengan ekspresi yang begitu menakutkan, pria itu masih membeku.
"Sekali lagi kau ulangi, dan kepada wanita manapun. Aku pastikan kau di penjara, lihat kamera? Wajahmu sudah tertangkap."
"Maaf, aku tidak akan ulangi lagi!"
"Urus dia!" Pria dengan ponselnya itu langsung terjerembab ke dalam dekapan panas dua penjaga toko.
"Baik tuan." Tentu ada beberapa manik yang melihatnya dan menjadi titik kumpul. Selain terpesona dengan ketampanan yang menjadi pahlawan itu. Mereka juga sibuk berangan-angan dan bermain tebak-tebakan wanita yang bersama sosok tampan itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Apa? Aku masih memilih. Kalau kau ganggu terus, kapan selesainya?" Flora sudah jengah sekarang, melihat keabsurdan yang dilakukan Morgan.
"Coba ini!" Satu tangan Morgan menjulurkan dress.
"Aku tidak mau! "Penolakan Flora membuat Morgan tak suka dan mendekat sambil kembali memerintah.
"Aku bilang coba, ini bagus!" Morgan memerintah Flora mencoba dress pilihannya.
"Aku tidak mau!" Tolak flora dengan kekeh.
__ADS_1
"Kenapa memang nya?"
"Bagaimana aku akan coba, ini baju pengantin! Kita mau ke acara pesta, bukan menikah!" Flora yang kesal tentu meledak dan membuat Morgan tampak langsung menoleh dress pilihannya.
"Aku hanya mengetes saja, ternyata kau tau bedanya. Baguslah! Kalau begitu ayo cepat coba!" Dengan buru-buru Morgan meninggalkan Flora yang menepuk jidatnya yang mengalami drama ini.
"Astaga..... "
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Pegawai itu, beraninya dia mengambilkan dress yang salah! Membuat ku.... Aghh! Mana pegawai itu!" Manik Morgan dengan wajah yang sudah merah, melihat mencari pegawai toko yang membantunya mengambil dress.
Setelah cukup lama mencari, Morgan akhirnya menemukan pegawai yang ia maksud.
"Kau!"
"Ya Tuan, bagaimana? Apa kekasih anda suka?" Dengan senyum ramahnya ia menyambut Morgan.
"Suka? Kau salah! Kenapa kau mengambil baju pengantin? Aku kan minta yang lain."
"Tapi saat saya tanya. Tuan bilang iya..." Morgan tampak mengingat adegan yang dimaksud oleh pegawai itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Di salah satu hotel ternama, ada senyum yang begitu merekah menatap jendela kamarnya yang memperlihatkan jalanan ramai. "Akhirnya... Aku kembali menginjakkan kaki ku lagi. Kau mau kemana Flora? Aku disini, menjawab tantangan mu.... Ayo kita lihat, bagaimana reaksi mu setelah melihat kedatangan ku ini."
"Sedang apa?" Bena langsung menormalkan kembali ekspresi nya setelah melihat Antoni yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku hanya melihat jalanan. View nya sangat indah." Antoni tidak membalas senyuman itu atau tertarik. Ia langsung duduk sambil mengeringkan rambutnya dan lebih tertarik melihat notifikasi di ponselnya.
'Pesan dari siapa?' Bena yang awalnya biasa saja, sekarang tampak penasaran melihat sang pengirim.
__ADS_1
Bersambung ......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih