Skala Kecantikan Flora

Skala Kecantikan Flora
Pilihan


__ADS_3

Setelah cukup lama berdiri dengan telinga yang begitu aktif bekerja. Flora langsung mengetuk pintu sebelum ada yang menyadari kelakuannya.


"Masuk!" Pintu terbuka memperlihatkan Flora yang melangkah masuk sambil memberikan sapa.


"Selamat pagi menjelang siang tuan Omar." Sapa Flora dengan senyuman.


"Juga Flora. Duduklah, aku ingin membicarakan sesuatu." Dengan perlahan, Flora menduduki sofa bergaya dan harga pohon uang itu.


"Morgan, kau juga." Setelah Flora, sekarang Tuan Omar juga meminta cucu laki-lakinya.


"Ya, kek." Sebelum melanjutkan pembicaraan, manik yang sudah melihat berbagi hal hampir 70 tahun itu menatap sepasang anak manusia.


"Baiklah, sebelumnya aku mengucapkan selamat dan terimakasih atas keberhasilan dan kerja keras dirimu Flora dan cucu ku Morgan. Dan tak lepas juga dari para kru yang membantu atau karyawan." Tepuk tangan diberikan memberikan Flora dan Morgan tiba-tiba saling memandang beberapa detik saja.


"Dan dengan ini, aku juga berpikir agar kita bisa bekerja sama lagi Flora." Flora menaikan alisnya sejenak mendengar arah pembicaraan.


"Maksudnya, untuk produk berikutnya. Aku ingin kau.... Flora, bekerja sama kembali." Flora cukup kaget, karena tidak berpikir akan hal ini, sedangkan Morgan juga ikut merubah raut wajahnya mendengar ucapan kakeknya.


'Yang benar saja, kami akan bertemu lagi?' Sungguh Flora tau ekspresi itu yang membuat dirinya hanya menatap sejenak dan kembali melihat ke arah lain.


Tentu saja tidak ada pembicaraan, apalagi penolakan meksipun dirinya tidak setuju. Melihat tidak ada jawaban selain persetujuan Flora secara tidak langsung, Omar tersenyum manis. "Selamat Flora, kita akan bekerjasama dalam waktu lama." Flora membalas jabat tangan dan tentu tersenyum.


Sedangkan diantara dua orang yang salah tersenyum itu justru ada orang ketiga yang tidak suka dan berharap ini mimpi buruk. Jujur saja, meskipun ada rasa kekaguman dan ingin tau dalam dari Morgan, tapi tetap saja rasanya menyebalkan dan naik darah ketika bertemu dan berinteraksi dengan gadis macam Flora.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Morgan, ingat mengenai yang kakek katakan, dan kalian bisa beristirahat." Omar segera pergi meninggalkan keduanya yang masih belum mau beranjak dari sana.


"Kau....."


"Aku akan membatalkan kerja sama ini jika kau menyepakati sesuatu bersama ku!" Morgan yang belum menyelesaikan ucapannya cukup kaget dengan ucapan Flora.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Morgan yang sekarang menatap Flora.


"Aku tidak suka bertele-tele, jadi langsung saja. Aku ingin pergi ke acara yang akan kau hadiri itu. Hanya itu, sebagai gantinya aku akan membatalkan kerjasama ini! Aku pastikan!" Morgan menatap dengan lekat Flora yang mengatakan hal yang tidak terduga sama sekali.


"Kau tau apa yang kau bicarakan?" Tanya Morgan yang turut terbawa suasana keseriusan.


"Ya, aku sadar! Tidak minum atau dibawah pengaruh obat atau tekanan. Aku sangat sadar! Sangat sadar Tuan Morgan!" Dengan duduk manis penuh anggun dan berkelas. Flora mengutarakan keinginannya.


"Dan... Aku butuh jawaban segera! Aku tidak suka pengulangan." Morgan terkekeh tak lama kemudian.


"Astaga..... Kau meminta kepadaku tapi kau seperti orang yang tidak begitu, Nona Flora. Apa jaminannya....."


"Aku bisa tanda tangan sekarang! Atau aku bisa membuat video untuk pembuktian jika kau berpikir akan berkilah nantinya. Pikirkan, semalam saja bisa merubah hari mu yang berikutnya tuan Morgan. Setelah itu kita tidak akan bertemu lagi. Aku akan memberikan alasan yang tidak akan membuat dirinya dicurigai oleh tuan Omar. Aku pastikan!" Kali ini Flora menatap jendela dengan pemandangan mobil yang berlalu lalang di jalanan yang begitu lancar.


Morgan tampak diam sambil otak nya berpikir memberikan jawaban atas apa yang ditawarkan oleh Flora. Ketika dirinya masih berpikir matang-matang, sebuah tangan datang meminta dijabat. "Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, du..."


"Setuju! Satu malam."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Jika di jalanan tengah mobil yang berlalu lalang, maka disini ada seorang wanita yang berlalu lalang dengan kecemasan. "Aku berjanji Antoni. Setelah ini aku tidak akan meminta apapun padamu lagi, aku aku mematuhi dirimu. Aku akan berdiam diri di rumah aku tidak akan keluar! Aku janji Antoni! Aku mohon! Sekali ini saja, aku ingin kau mengizinkan aku pergi bersama dengan mu..... setidaknya terakhir kalinya kau membawaku sebagai istrimu." Sungguh jika dilihat saat ini, Bena sudah menjadi pemenang Oscar saat ini.


Antoni yang mendengar permintaan istrinya dibuat campur aduk saat ini. Kesalahan yang dibuat oleh pengirim surat membuat dirinya berada di situasi ini. "Berdirilah Bena!" Bena yang tengah menangis, bangkit perlahan tapi air matanya tidak pergi juga.


"Kau akan melakukan apapun jika aku izinkan?" Tanya Antoni dengan tegas.


"Ya, apapun." Antoni mengangguk dan menuju salah satu laci dengan sebuah surat di tangannya.


"Kalau begitu tanda tangani ini! Jika kau melanggar maka tanggung konsekuensinya!" Manik Bena membaca surat yang entah kapan dibuat oleh Antoni.

__ADS_1


Tampak dirinya termenung sejenak, dia menatap wajah Antoni berharap Antoni tidak sungguh-sungguh, tapi sayangnya hanya harapan belaka. "Aku tidak punya waktu, setuju atau tidak!"


"Baiklah, aku setuju."


'Aku akan menandatangani kontrak bersama iblis sekalipun, asal keinginan ku tercapai.'


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Selamat datang Tuan besar." Omar yang baru saja mendaratkan kakinya di rumah mewah miliknya langsung disambut oleh pelayan rumah nya.


"Aku ingin jus pokat tanpa susu." Pelayan segera melakukan titah majikannya.


"Baik tuan." Tak lama Omar duduk, jus pokat perminggunya langsung datang.


"Letakkan disana, terima kasih." Meksipun sudah hidup dengan bergelimang harta, tidak membuat sebuah kata sederhana tertelan oleh uang dan kemewahan itu.


"Sama-sama tuan."


Baru saja Omar menikmati jus kesukaannya, sebuah panggilan video masuk dari putranya. "Putraku, akhirnya kau menelpon juga. Pastinya sudah ada keputusan atas apa yang kita bicarakan bukan?" Tampak wajah yang tak jauh darinya dan diwariskan kepada Morgan tengah memberikan ekspresi datar.


"Iya ayah, aku dan menantu... Maksudnya putri kesayangan mu ini. Kami sudah memutuskan nya." Ketika panggilan itu berlangsung sebuah notifikasi muncul membuat Omar yang asyik mendengarkan ucapan putranya menjadi terbagi dan tak lama tertawa.


"Kenapa Ayah? Apa yang lucu?" Tanya Matthew.


"Tidak, aku punya sesuatu untuk kalian. Jujur saja, dari beberapa kandidat sepertinya tidak akan lulus."


"Ayah sungguh-sungguh? Ini adalah yang terbaik!"


"Tapi putramu sepertinya memiliki terbaik versinya sendiri! Lihatlah!"

__ADS_1


Bersambung ......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2