
Morgan melepaskan kepalanya dan terjepit karena layanannya kepada sang istri. Setelah Flora merasakan kenikmatan pertamanya. Ia tampak mengambil napas karena dada nya berdebar kencang.
Melihat ekspresi sang istri, Morgan tersenyum dan kembali di depan wajah istrinya yang tampak berkeringat. "Manis..."
"Kau suka aku cekik di sana?" Tanya Flora sambil mengelus rahang suaminya.
"Suka, kenapa tidak?" Balas Morgan membuat Flora tersenyum dan tak lama Flora yang memimpin permainan sekarang.
"Kalau begitu giliran ku!" Flora langsung menyerang leher yang sejak tadi belum terkena lukisan indahnya yang akan ia isi di leher suaminya itu.
Lenguhan Morgan terdengar bertepatan dengan cap stempel yang Flora berikan di lehernya. Rambut lembut itu menjadi jalur lintasan tangan Morgan sembari istrinya tengah berkarya.
Puas dengan leher suaminya, Flora menuju sebidang dada keras itu. Dirinya menelan ludah sejenak sambil menatap pahatan sempurna miliknya itu. "Flo...."
"Keras dan hangat. Aku suka..." Flora mengatakannya dengan nada sensu@l ditambah dengan wajah yang seksi.
"Milikmu sayang... aghhh!" Ketika bibir mungil Flora mendarat di satu tombol choco chips nya, Morgan hanya bisa menikmati sambil menatap langit-langit.
Memejamkan matanya, Morgan merasakan dengan jelas, ada aktivitas berupa naik turun dan juga kecupan serta adegan makan lolipop yang tampak digeluti oleh Flora.
"Cukup!" Sentak Morgan sambil bangkit dan membuat Flora ikut bangkit. Keduanya kembar beradu lidah membuat Flora perlahan berbaring di ranjang.
"Kenapa melihatnya begitu?" Goda Morgan yang melihat ekspresi istrinya pada rudal balistik miliknya itu.
'Perasaan tidak sebesar itu, apa aku salah lihat? Astaga, itu melebihi ukuran di film panas yang aku tonton!' Manik Flora belum lepas dari rudal Morgan yang siap berpetualang di sarang miliknya.
"Sayang..."
"Ahhh." Flora melenguh ketika bibir tebal Morgan seperti vacum cleaner di bongkahan padat nya.
"Aku tidak tahan Flora." Deru nafas Morgan juga tak beraturan.
"Aku juga, lakukanlah!" Ujar Flora yang telah merasakan gesekan tidak Morgan lakukan.
Mendapatkan persetujuan dari isterinya, Morgan yang telah memastikan goa istrinya basah, perlahan menggerakkan pinggulnya.
"Ahhh..." Ujar Flora yang menatap wajah Morgan.
'Ayo Morgan, lakukan dengan baik!' Morgan memberikan semangat kepada dirinya sendiri untuk memasukkan rudalnya ke sarang nya.
__ADS_1
'Sebelumnya sudah pernah bukan? Aku rasa tidak akan sakit.' Flora berusaha menetralkan perasaan nya yang diliput rasa khawatir akan rudal yang bersiap menerobos gerbang sucinya.
"Aghh! Morgan!" Flora memekik ketika ia merasakan ada benda tumpul yang memasuki dan menerobos gerbang sucinya.
"Morgan.... Kau!" Flora tampaknya ingin mengatakan sesuatu, tetapi Morgan langsung menyumpal nya dengan bibir nya membuat lenguhan Flora berubah menjadi kenikmatan tiada tara.
"Sangat ketat, dan menjempit ku! Flora, ahhh!"
"Morgan, sesak.... Ahh!" Keduanya bersahutan ketika melakukan penyatuan mereka dalam ikatan yang sah.
Merasakan miliknya terjepit, Morgan memainkan satu gundukan kenyal dengan tangannya membuat Flora semakin tak terkendali.
"Aku keluar.... Morgan!"
"Flora!"
Sepertinya satu ronde sudah cukup, karena wajah cantik dengan keringat itu tampak mengerucut kesal sambil membelakangi tubuh kekar yang polos sepertinya.
"Kau berbohong?" Tanya Flora.
"Tidak sepenuhnya." Morgan menjawab sambil menelusupkan wajahnya ke leher Flora.
"Rasanya sangat perih. Karena kau berbohong padaku!" Ujar Flora dengan wajah yang masih bersungut-sungut.
"Aku minta maaf." Flora merasakan ranjang mereka bergerak dan Morgan tidak berada di sisinya.
Manik Flora tampak mencuri-curi pandang karena suaminya pergi. Dan benar, Morgan tidak ada di sana. "Dia pergi?" Ujar Flora dengan rasa tidak percaya.
Merasa kesal karena tingkah Morgan, Flora mengambil napas dan memejamkan matanya karena pertikaian kecil ini. Beberapa saat matanya terpejam, Flora merasakan sesuatu yang basah di area sucinya. "Aa..."
"Apa masih sakit?" Morgan mengelus area suci istrinya dengan air hangat yang membuat Flora tak menyangka dan diam merasakannya.
Selain membersihkan, Morgan juga meniup-niup area sucinya yang membuat Flora memejamkan matanya. "Terimakasih, maaf.... Aku tidak menyalahkan mu. Aku hanya..."
"Aku mengerti, mungkin aku kurang pelan."
"Tidak, kau sangat pelan." Flora merentangkan tangannya seolah ingin dipeluk dan Morgan mengerti dengan segera.
"Aku mencintaimu, dan aku tidak akan melakukan seperti ini lagi. Tidak ada yang akan ku sembunyikan, maaf sayang." Ucapan permintaan maaf Morgan diterima oleh Flora dan dirinya tersenyum sambil memeluk erat tubuh suaminya.
__ADS_1
"Aku juga." Hanya itu yang Flora katakan, dan maniknya terpejam karena rasa lelah dan kantuk yang mendera. Keduanya tertidur pulas setelah pertempuran satu ronde yang dapat terlaksana itu.
Suara debur ombak tampak mengisi pendengaran Flora. Wanita itu terbangun lebih dulu, dan langsung menatap sosok suaminya yang masih tertidur. Sepertinya ia bangun kepagian, meskipun matanya masih mengantuk, tapi Flora berusaha membukanya sambil menelusuri wajah berahang tegas itu.
"Hidung seperti Pinokio, mata yang tajam. Dan..... Bulu-bulu tipis ini, kau sangat sempurna. Aku tidak menyangka mendapatkan pahatan bak dewa menjadi suamiku." Ujar Flora sambil terus memainkan jarinya.
Hingga jarinya mendarat di bibir tebal Morgan. "Lalu ini.... Seperti vacum cleaner, aku jadi kesulitan, tapi... Aghh!" Flora kaget karena jarinya dicelupkan dalam bibir tebal itu.
"Manis...." Morgan membuka matanya dan tersenyum menatap wajah istrinya yang bermain-main dengan wajahnya.
"Aku tau aku tampan, benar kan?"
"Kau membuatku kaget!" Flora menarik kembali jarinya yang menjadi cemilan sejenak Morgan.
"Cantik! Apalagi seperti ini."
"Ya, dan semuanya mengatakan seperti itu. Aku ini cantik!" Balas Flora sambil tersenyum manis.
"Dan aku beruntung! Aku mendapatkan mu." Morgan memeluk pinggang Flora, membuat wanita itu cukup kesulitan bernafas.
"Morgan, jangan terlalu erat ..... Aku kesulitan.." Morgan melayangkan kecupan di berbagai titik membuat Flora diserang rasa geli.
"Sayang, sudah! Hahaha. Sudah!" Karena asyik bergerak menjauhkan dirinya dari sang suami, tampaknya tangan Flora mendarat di rudal balistik itu.
Melihat terdiamnya sang istri, Morgan yang tentu tau, apa pemicu memilih bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. "Aku mandi duluan." Morgan melayangkan kecupan kecil di kening istrinya, yang masih terpaku. Dengan memperlihatkan semua anggota tubuhnya bahkan yang sudah bangkit maskimal Morgan melenggang ke kamar mandi.
Flora tentu melihat dengan jelas, rudal yang memporak-porandakan gua nya semalam. "Ternyata memang sebesar itu." Gumam Flora dengan pemikirannya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sedangkan Morgan yang sudah berada di dalam, hanya bisa mengambil napas karena tidak bisa melakukan seperti yang dipikirkannya. "Tidak apa, istirahat sebentar. Kediaman suci mu belum pulih, nanti kita coba lagi. Sekarang pakai ini saja." Morgan mengajak rudal balistik bicara sambil memulai tahap bermain sendiri.
Sambil membayangkan kelembutan kulit dan keindahan tubuh istrinya, Morgan mengurut dengan arah atas bawah agar miliknya kembali off. "Sayang ku, Flora... Ahhh, kau sangat....."
"Sangat keras dan panas." Morgan yang tadi memejamkan matanya membayangkan istrinya, langsung membuka matanya secepat mungkin dan kaget melihat istrinya yang telah berada di depan rudal nya.
"Sayang, aku bisa..... Ahhhh!" Morgan langsung bersandar di dinding kamar mandi karena merasakan layanan di rudal miliknya.
Flora yang sudah terlatih di film panas, langsung kembali memanjakan milik suaminya yang membuat Morgan berdesis kenikmatan. "Masuk! Sayang, gerakkan! Aku terasa sesak!" Setelah melihat istrinya telah menancapkan rudal ke dalam kediaman sucinya, Morgan langsung mengambil alih dan keduanya saling bersahutan melantunkan kenikmatan tiada tara.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.