
"Kontrak Pernikahan?" Ulang Flora yang membuat Morgan menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku akan.... Maksudnya kita bisa menuliskan poin-poinnya. Tetapi, sekarang ikuti dan setujui, ok?" Flora tampak terdiam sejenak dan tak lama mengangguk.
"Baik, aku setuju. Tidak buruk. Setidaknya jalan tengahnya." Morgan menuntun Flora kembali ke ruangan yang masih terdapat kakek dan Papa Flora.
"Apa yang kalian bicarakan? Atau kalian pergi karena tidak sabaran?" Goda Omar membuat keduanya hanya diam sambil tersenyum kecil.
Antoni tidak bicara, cukup tatapannya saja yang berbicara membuat Morgan kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku dan Flora membicarakan tentang tanggal nya, benar kan?" Mengetahui pembicaraan tertuju padanya membuat Flora mengangguk-angguk dengan ekspresi imutnya.
"Iya, kami membicarakannya terlebih dahulu."
"Jadi tanggal berapa?" Tanya Antoni.
"Itu tanggal.... 30 Desember ini!" Rasa keterkejutan Flora segera ia sembunyikan karena ucapan Morgan yang langsung mengatakannya.
'Dia tidak membicarakannya padaku, seenaknya saja.'
"Aaa... Itu bagus, jujur saja Tuan Antoni. Aku dan orang tua Morgan belum memilih tanggal, tapi kalau Morgan dan Flora setuju dengan itu, tidak masalah."
"Itu menjelang tahun baru, akan kurang baik... Melaksanakan pernikahan di tanggal itu. Lebih baik dua minggu sebelumnya, dan setelahnya untuk liburan keluarga kita."
"Itu sangat bagus! Aku tadinya berpikir hanya aku yang akan memikirkan tanggalnya, tetapi sepertinya bukan begitu. Jadi, aku setuju... Morgan?"
"Ya kakek aku setuju." Antoni menatap putrinya yang berada di sebelahnya.
"Flora?"
"Ya papa, aku setuju."
"Selamat! Kita akan segera mempersiapkan nya." Omar segera bangkit dan bersiap memeluk, melihat itu Antoni ikut bangkit dan keduanya langsung berpelukan.
Sedangkan baik Morgan dan Flora justru saling adu pandang, dengan Flora yang tampak membutuhkan penjelasan. Sedangkan Morgan sendiri, hanya memainkan matanya seolah memberikan jawaban.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Dari ruang tamu, sekarang Flora dan Morgan justru berada di dalam mobil. "Baik, katakan apa maksudnya sehingga kau mengatakan tanggal itu? Kau tau kan, itu kurang dari sebulan. Hanya tiga minggu lagi, bagaimana secepat itu?"
"Papa mu yang mempercepat nya. Lagipula kita akan membuat kontrak pernikahannya, jangan bereaksi seperti itu." Morgan melajukan mobilnya, hingga mereka sampai di sebuah restoran.
"Kenapa kesini?" Tanya Flora.
"Aku lapar, kau tidak? Kita bicarakan disini. Atau kau mau kita ketauan sebelum memulai?" Bergegas Flora keluar dan mereka memasuki restoran bersama.
Meja yang berada di sudut menjadi pilihan keduanya, pelayan langsung memberikan menunya dan mereka langsung memesan segera.
"Jadi.... Poinnya."
"Kau tidak sabaran, setidaknya minumlah dulu. Kau tidak haus berbicara sejak tadi?" Setelah mendengar ucapan itu, Flora sadar ia memang haus dan meminum minuman di depannya.
Tidak tau kenapa, Flora memalingkan wajahnya sehingga menjadi tontonan bagi Morgan. 'Unik!' hanya itu yang terpikirkan oleh Morgan, jika gadis lain. Maka mereka akan tersenyum dengan gaya manisnya menyedot minuman itu, tetapi Flora justru tampak tidak tau menahu dan justru terlihat cantik, buktinya ada beberapa mata yang melihatnya membuat Morgan sadar.
__ADS_1
"Kenapa? Terlalu manis?" Ujar Flora yang mendengar deheman Morgan.
"Tidak, ini pas. Baiklah, langsung saja. Untuk masa kontraknya..."
"Satu tahun." Ucap Flora cepat.
"Dua tahun." Ujar Morgan.
"Apa? Kenapa lama sekali?" Sanggah Flora.
"Menghindari kecurigaan. Lagipula.... Itu bisa menimbulkan kecurigaan nantinya dari pihak manapun, aku tidak ingin itu terjadi, jadi dua tahun." Baiklah, setelah Flora pikir itu ada benarnya dan Flora setuju.
"Setuju."
"Selama pernikahan kita, aku bebaskan kau segala hal. Tetapi jangan sampai merusak nama baik keluarga."
"Aku setuju, dan kau juga."
"Baik, berikutnya.... Kita tidak sekamar, setidaknya saat kita berdua saja."
"Kau memiliki rumah sendiri kan?"
"Tentu, kau meragukannya?"
"Bukan, aku tidak bisa tinggal bersama kedua orang tua mu atau Kakek mu."
"Itu yang aku bicarakan saat ini."
"Kau hanya bilang kamar, bukan rumah!" Terkadang Morgan bingung dengan wanita dihadapannya ini. Sehingga membuatnya mengalah.
"Aku tidak masalah, mau sekamar atau tidak. Setidaknya kau tidak menyentuh ku!" Jelas Flora yang membuat Morgan merasakan denyut di kepalanya.
"Aku memutuskan tidak."
"Baik!"
"Ada lagi?"
"Sudah, aku rasa sudah." Morgan menatap lekat membuat Flora mengulangi perkataannya.
"Sungguh, sudah cukup. Atau kau ingin menambahkan yang lainnya?" Tanya Flora balik.
Morgan menggelengkan kepalanya"Butir perjanjiannya bisa kita atur lagi nanti. Setidaknya poin utama sudah ada."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sedangkan di sisi lain, seseorang keluar dari ruangan putih dengan perawat serta dokter yang lalu lalang. Tampak wajah gadis itu terlihat suram dengan air mata.
"Tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi.... Ini...." Ada rasa frustasi di sana dan juga wajah nya yang begitu jelas menggambarkan.
"Maaf Nona, tapi jika dilihat dari kondisi pasien, maka akan lebih baik segera ditangani oleh dokter kejiwaan." Masih terngiang-ngiang dengan jelas, percakapan itu di telinga Jessi.
Malam dimana Bena berteriak sambil terus melangkah membuat dirinya terserempet mobil dan ketika dibawa ke rumah sakit,ia terus berteriak dan melukai dirinya bahkan ucapan Jessi tidak berpengaruh apapun padanya.
__ADS_1
"Mommy...." Bukan hanya masalah perpisahan mommy nya, otomatis Jessi juga menjadi bahan perbincangan di kampusnya yang membuat teman yang dia anggap adalah sahabat selamanya, nyatanya hanya omong kosong belaka.
Orang-orang yang dulunya dekat dan tertawa bersamanya, sekarang tidak ada satupun yang menjadi temannya. "Mereka semua si@lan! Si@@l! Aghh!" Berteriak, itulah yang Jessi lakukan. Meksipun ia memiliki rumah yang diberikan Antoni kepada mereka, tetap saja uang yang juga turut diberikan tidak bertahan lama karena terus dipergunakan.
"Aku harus menghubungi Daddy...." Tak ingin putus asa, Jessi menghubungi Antoni yang ia yakini akan membantu dengan keadaan Bena yang sekarang.
Tetapi nyatanya, Jessi tidak dapat menghubungi nomor Antoni yang membuat dia mengamuk besar. "Fuuu$ck!!!!" Rambut yang biasanya tertata rapi dan halus serta wangi sekarang begitu kacau, hingga sepasang mata yang tertutup dengan rambut itu terangkat ketika melihat majalah yang tak sengaja jatuh di depannya.
"Ee..." Pria yang membawa majalah itu tampaknya memberikan secara sukarela kepada sosok wanita dengan keadaan kacau di hadapannya dan memilih pergi segera.
Jessi yang masih membaca dengan jelas, langsung membaca tulisan disana. Seketika tangannya membulat sempurna dan menatap langit yang akan menurunkan hujan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Tuan, aku membawakan informasi."
"Katakan." Antoni yang duduk sambil memikirkan tentang pernikahan putrinya didatangi oleh informan setianya.
Wajah Antoni tampak berubah dan langsung bangkit segera menuju jendela. "Awasi, aku tidak ingin sesuatu mendekati putriku. Kau aku tugaskan, mengerti?"
"Baik tuan." Pintu ikut terbuka memperlihatkan Flora yang datang masuk cukup bingung menatap sosok pria yang bersama Papa nya.
"Permisi Nona." Antoni langsung tau dan berbalik sehingga melihat putrinya yang sepertinya baru kembali.
"Putri papa sudah kembali, bagaimana?"
"Apanya? Biasa saja. Papa sibuk?" Tanya Flora.
"Tidak, kenapa?"
"Bagaimana kalau kita keluar?" Ajak Flora yang membuat Antoni mengangkat alisnya.
"Apa putri papa ingin sesuatu?"
"Iya, papa mau kan?"
"Tentu sayang, katakan... Flora ingin kemana?"
"Aku ingin ke tempat dimana papa bertemu dengan Mama." Ucapan Flora membuat Antoni terdiam sejenak.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Apa ini kek?" Morgan yang baru saja kembali dibuat kaget dengan tubuhnya yang diseret dan langsung diukur seperti matematika.
"Untuk pakaian pernikahan mu, kau ini bagaimana?" Omar mengamati semuanya yang tampak membuat Morgan diam mematung.
"Apa? Cepat sekali. Papa dan Mama saja belum kembali."
"Begitu? Kalau begitu liat dengan baik, siapa yang menuju gerbang." Kekuatan ala byakugan itu langsung Morgan keluarkan,dan membuat dirinya akan mengasihani dirinya sendiri.
'M@ti aku...'
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.