Skala Kecantikan Flora

Skala Kecantikan Flora
Dimulai!


__ADS_3

Sesuai kontrak, Flora telah bersiap di tempat kerja barunya. Baru saja sampai, ia sudah disambut dengan pria tulang lunak itu. "Morning Flora." Sapa si tulang lunak itu.


"Morning juga Sely." Flora memberikan senyum manisnya dan langsung duduk di sofa yang sudah tersedia.


"Kau terlihat sangat segar."


"Seperti ikan yang habis ditangkap?" Kekeh Flora membuat Sely ikut tertawa seperti gadis perawan.


"Kau sangat menyenangkan. Sepertinya kita akan menjadi rekan yang baik." Flora hanya menanggapi dengan senyuman, dan tak lama tampak Sely memainkan tangan nya.


Pemotretan akan dilakukan setengah jam lagi, jadi sekarang kau harus dipersiapkan dengan sangat baik, dan tentunya elegan." Flora membiarkan jemari-jemari Sely menyapu wajah serta rambutnya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Ketika yang lainnya sudah bangun dan bersiap dengan rutinitas mereka, sosok pria penghuni ranjang besar itu masih terbaring.


Pintu dibuka dan terlihat sepasang kaki mendekat dan sang pemilik hanya bisa menghela napasnya melihat sang penghuni ranjang masih bersama dengan mimpinya.


Dia melangkah lagi dan membuka tirai yang menutupi jendela kaca yang bersih itu. Karena sang surya yang telah datang langsung masuk ke cela jendela yang dibuka dan membuat manik siapapun langsung terganggunya karena disapa.


Tampak lenguhan dan pergerakan terlihat di ranjang besar itu. Tak lama, maniknya terbuka karena mendapat sapaan. "Selamat pagi tuan."


"Astaga Bry, kenapa kau di kamar ku?" Tanya Morgan dengan atasan toples yang akan memanjakan mata wanita manapun.


"Maaf Tuan, tapi pagi ini kita akan ke perusahaan untuk melihat pemotretan yang akan dilakukan." Morgan yang masih mengumpulkan nyawanya merubah posisi tubuhnya.


"Memang jam berapa?" Sungguh, pria tampan itu masih mengantuk. Entah apa yang ia lakukan semalam dengan matanya yang membuat matanya kekurangan tidur.


"Jam delapan Tuan." Kepala Morgan mengangguk tapi tak bertahan lama, karena selanjutnya kakinya melakukan lompatan jauh yang memiliki selimut penghangat tubuhnya langsung berhamburan.


"Kenapa kau baru bilang?" Bry yang sudah bisa menebak alur cerita pagi ini hanya diam melihat tuannya pontang panting menyegarkan dirinya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di dalam kamar mandi mewah, Morgan membiarkan pancuran air memenuhi dirinya. "Aku bisa habis kalau ketahuan kakek. Si@l!" Morgan hanya bisa menggerutu sambung membersihkan dirinya dari busa yang serba dadakan itu.


Tak tenang, itulah yang Morgan rasakan. Semalam sebelumnya, kakek nya sudah menyampaikan bahwa dia yang aku ke perusahaan melihat jalan nya proses pemotretan perhiasan keluaran perusahaan mereka.


Dirinya langsung mengangguk secepat kilat, tapi sayangnya dia terlambat bangun dan jika kakek nya tahu, dia bisa mendapatkan amukan karena kakek nya begitu benci dengan keterlambatan seperti ini.


Pintu langsung terdengar dibuka kasar, dan Morgan yang tubuhnya dibalut dengan handuk segera menuju ruang gantinya. Untung saja seperti biasanya, pakaian Morgan sudah dipersiapkan. Sehingga ia langsung memakai pakaian segara, Bry yang masih berada di sana dan menunggu panggilan untuk segera ke kantor.


"Bry! Kau dimana? Ayo cepat!"


"Iya tuan, aku sudah siap!" Mengikuti langkah Morgan, Bry segera keluar sebelum ia terkena amukan lagi.

__ADS_1


Mobil yang sudah terparkir itu langsung tancap gas meninggalkan kediaman mewah nan besar menuju perusahaan.


"Aku harap kakek belum datang." Morgan hanya bisa berharap sambil melihat jalanan yang dilewatinya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Pancaran sinar kamera dengan harga mahal telah menyapa dan mengambil gambar yang dilakukan oleh Flora. "Bagus, lihat ke kamera." Flora menunjukkan pose terbaiknya sesuai arahan.


Wajah cantik serta kepiawaian dirinya membuat sang fotografer tersenyum dan tampak puas. "Baik, sentuh kalung nya." Flora mengikuti arahan dan Sely tampak tersenyum menyemangati.


"Good. Mau istirahat dulu?" Tanya fotografer kepada Flora.


"Berapa sesi lagi?" Tanya Flora yang akan mengambil jawaban dari jawaban sang fotografer.


"Kita memiliki beberapa sesi, ada lima. Ini baru satu set perhiasan."


"Kalau begitu, aku akan istirahat setelah sesi kedua."


"Kau yakin?" Bukan fotografer yang bertanya, tapi Sely yang bertanya.


"Ya, aku sangat yakin. Baru satu jam, aku masih bisa. Itu juga lebih efektif, bukan begitu?" Pernyataan Flora membuat yang lainnya setuju.


"Baiklah, itu juga bagus. Sely, siapkan Flora untuk sesi berikutnya."


"Tentu." Sely mengajak Flora menuju ruang rias untuk merias Flora agar senada dengan perhiasan berikut nya.


"Tidak." Jawab Flora, tak lama ponselnya berbunyi dan terlihat notifikasi pesan dari nomor kepercayaannya.


Melihat rambutnya masih ditata, Flora bisa membalas pesan. 'Nona, uang dari restoran diambil oleh nyonya Bena tanpa sepengetahuan tuan.'


'Untuk apa?'


'Aku sedang mencari tau nona, tapi sepertinya ia akan bermain panas karena terlihat pria bar bersamanya beberapa hari ini.' Flora tersenyum seolah ada sesuatu dipikirannya.


"Aku akan mengambil perhiasannya, sebentar ya." Flora mengangguk dan ini juga menjadi kesempatan baginya.


"Halo Nona."


"Lakukan sesuatu, aku ingin permainan untuk ular besar itu."


"Apa Nona?"


"Ambil uang nya, dan buat dia menjadi tontonan di hotel yang di singgahi. Ingat! Rekam dulu, ketika mereka saling membara...."


"Dan buka adegannya." Flora tersenyum ketika pria kepercayaannya itu mengerti dengan baik.

__ADS_1


"Bagus, aku ingin lihat wajah nya yang akan ia tutupi dan bibirnya yang akan berbusa meyakinkan papa."


"Tentu Nona. Sampai jumpa."


"Jaga dirimu." Panggilan berakhir, dan beriringan dengan Sely datang.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Ah honey, aku merindukan mu." Tampak wanita dengan dress selutut itu bergelantungan di tubuh pria yang kekar.


"Aku juga, aku sangat merindukanmu. Kau sudah tidak menemui ku beberapa waktu terakhir ini nyonya Bena ku, apa ada masalah?" Pria itu memeluk erat wanita yang menghujaninya dengan uang dan kemewahan.


"Kita akan menghabiskan waktu bersama, suami tercinta ku itu sibuk dengan uang untuk kita."


"Kita akan bersenang-senang?"


"Tentu, aku sudah mempersiapkan semuanya." Bena menunjukkan koper yang berisi uang yang ia ambil.


"Kau yang terbaik!" Bena merasa bahagia karena pria yang berbeda umur dengan nya itu akan membuat dirinya menuju surga dunia.


"Kalau begitu ayo." Ketika sejoli itu akan melangkah, seekor doggy datang dengan kecepatan tinggi dan menjadi orang ketiga diantara kemesraan itu.


"Astaga!" Tentu saja high heels yang menunjang penampilan Bena membuat dirinya menjadi tidak seimbang dan beriringan dengan koper berisi uang itu terlepas dari tangan nya.


"Kau tidak apa-apa honey?" Tanya pria muda itu menuju Bena.


"Uang kita!" Pria muda itu segera mencari koper yang tak jauh dari mereka dan segera mengambilnya.


"Ini, sudah aman." Rasa sakit Bena langsung hilang karena koper nya yang kembali.


"Ayo, kau harus memijat diriku dengan ekstra." Ujar Bena dengan nakal.


"Tentu saja." Keduanya segera memasuki mobil sambil tertawa bersama.


Diantara langkah kaki yang penuh kemesraan itu, sepasang mata menatap dengan bibir yang tersenyum bahagia. "Nikmatilah nyonya Bena, sebelum kau tahu kalau koper yang kau bawa itu adalah palsu. Dan bersiaplah dengan aktraksi berikut nya."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Baru saja ia membuka pintu yang terlihat adegan potret memotret itu tengah berlangsung. Maniknya tampak terpaku sejenak dengan sosok yang tengah dipotret saat ini.


Mata yang terbiasa menatap tajam itu berubah menjadi tatapan kagum dan terhipnotis dengan kecantikan sosok di depannya.


"Selamat datang Tuan." Ketika semuanya serempak bicara, manik Flora ikut tertuju pada sosok yang disapa.


'Dia datang juga.'

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2