Skala Kecantikan Flora

Skala Kecantikan Flora
Fitting baju


__ADS_3

Agenda liburan yang tengah berjalan harus terhenti karena panggilan, membuat Flora akhirnya pulang bersama Antoni. Bibir Flora sudah merasa gatal, untuk bicara. Tapi tampaknya, dia memilih diam untuk saat ini, dan menunggu papa nya sendiri mengatakan.


"Ayo sayang, kita turun." Flora melihat bangunan di depannya, keningnya langsung berkerut.


"Ini.... Kita tidak pulang pa, kita bertemu siapa?" Tanya Flora pada akhirnya.


"Kenalan papa, ayo...." Melihat papa nya yang sudah bergegas turun membuat Flora yang pertanyaannya belum terjawab memilih mengambil langkah mengikuti papa nya.


Antoni tampak bersiap menuju pintu, tapi pintu besar itu perlahan terbuka dan terlihat pelayan menyambut kedatangan mereka.


"Mari, silakan masuk tuan dan Nona."


Baru beberapa langkah memijak di lantai marmer itu, manik Flora langsung mengunci pigura di depannya. "Itu...."


"Selamat datang, ayo mari duduk." Dari beberapa orang yang mendekat, Flora dapat melihat ada sosok yang tidak dikenalnya.


"Apa kami terlambat?" Tanya Antoni pada Omar yang menyambut kedatangan mereka.


"Tidak, aku yang merasa cukup canggung untuk menghubungi mu."


"Tidak, aku tau ini lebih penting."


"Aku, tidak.... Lebih tepatnya, putra dan menantu ku akhirnya datang. Dan dari hasil pembicaraan.... Kami memutuskan, bagaimana kalau kita melaksanakan pertunangan terlebih dahulu.


"Apa ini Flora?" Tampak wanita dengan kecantikan yang masih bersinar itu mendekati flora dan tersenyum manis padanya.


"Senang bertemu dengan mu nyonya."


"Nyonya? Apa menantu ku ini belum bisa terbiasa? Panggil aku mama, kau akan menjadi putriku. Kau akan menikah dengan Morgan bukan?" Flora tersenyum sambil mengangguk kecil dan tak lama, tubuhnya terasa membeku ketika sebuah pelukan mendarat di tubuhnya.


"Calon menantu ku sangat luar biasa, bukan begitu suamiku?" Tanya Zoya pada suaminya.


"Kau akan menjadi bagian dari keluarga kami, jadi panggil aku mama." Flora cukup lama terdiam dan tak lama bibirnya bergerak menyebutkan kata itu.


"Mama...."


"Ya, itu benar sekali." Antoni tentu telinganya langsung berdiri mendengar kata yang diucapkan oleh putrinya. Sudah lama, kata itu tidak terdengar lagi dari bibir Flora semenjak kepergian istrinya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Jadi untuk pertunangannya, bagaimana kalau dilaksanakan di hotel xx saja?" Papa Morgan memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Ya, aku ikut saja. Bagaimana Flora? Kau setuju?" Tanya Antoni pada putrinya yang tampak duduk disebelahnya.


"Hmm, boleh saja papa."


"Baik, jadi persiapan akan dilakukan dari sekarang."


"Sebenarnya mertuaku sudah melakukan nya." Ujar Zoya dengan terkekeh.


"Ya, ini pernikahan cucu ku. Cucu ku satu-satunya, jadi aku sangat bersemangat sekali." Semuanya tersenyum dan sesekali tertawa bersamaan, tetapi bagi calon mempelai itu mereka justru menatap dengan pemikiran berbeda.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Kemana?" Tanya Flora, melihat Morgan datang menjemput dirinya.


"Ke butik, Mama sudah menunggu disana."


"Setidaknya beritahu dulu sebelumnya." Gerutu Flora.


"Kenapa? Apa kau merasa buruk dengan penampilan ini? Semuanya terlihat baik." Flora melihat Morgan yang memindai dirinya.


"Tentu saja tidak, aku ini sudah sangat cantik! Tidak perlu berias lama seperti yang lainnya, aku sudah mempesona." Dengan meraba tubuhnya sendiri, Flora mendeklarasikan kecantikan nya, yang membuat Morgan senantiasa menatapnya.


'Ya, kau memang sudah cantik.'


Keduanya menuju butik yang terkenal, dan tentu saja dengan Zoya yang telah sampai lebih dulu disana. Melihat kedatangan putra dan calon menantunya, wanita yang wajah dan tubuhnya masih terjaga itu tersenyum cerah.


"Akhirnya kalian sampai juga. Apa Morgan menunggu mu untuk berdandan sayang? Karena kau terlihat lebih cantik hari ini." Tanya Zoya pada calon menantunya itu.


"Mama juga cantik." Jawab Flora yang membuat Zoya semakin tersenyum manis.


"Aku langsung dilupakan." Morgan ditinggalkan sendiri, oleh kedua wanita cantik itu yang menuju dress untuk pertunangan.


"Ini calonnya, aku mau dress yang terbaik! Pertunangan putra dan menantu ku harus luar biasa!" Pemilik butik dan juga karyawan disana, tentu tersenyum mengiyakan permintaan pelanggan setia mereka dan ditambah dengan pujian yang terlontar melihat rupa calon mempelai wanita.


"Sangat cantik, membuat nyonya seperti kakak dan adik saja."


"Astaga, aku rasanya ingin menikah lagi." Morgan membulatkan matanya mendengar ucapan mama nya.


"Tentu dengan Papa mu, jangan berpikir macam-macam. Kau tampak seperti Papa mu itu."


"Mama bicara yang tidak jelas, tentu aku bereaksi seperti itu." Jawab Morgan.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo segera coba! Mama tidak sabar mau lihat!" Dengan santainya, Zoya mendorong tubuh putranya dan Flora sehingga membuat Morgan langsung menyambut tubuh Flora dan memeganginya dengan baik, sehingga membuat Zoya tersenyum.


"Jadi mau siapa dulu? Tuan atau nona?" Tanya karyawan yang mendampingi mereka.


"Dia!" Morgan dan Flora saling tunjuk membuat karyawan itu kebingungan.


"Kau saja dulu."


"Kau dulu, gaun untuk mu lebih dulu." Flora yang ingin melontarkan penolakan, memilih setuju karena melihat Zoya mendekat.


"Baik, aku lebih dulu."


"Mari nona." Flora mengikuti karyawan wanita itu memilih gaun untuk pertunangannya.


"Nona, mau yang mana dulu untuk dicoba?" Flora tampak berpikir mengamati deretan gaun di depannya.


"Aku pilih ini." Flora mengambil salah satu gaun, dan mulai mencobanya.


Sedangkan Morgan duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan panggung untuk memperlihatkan Flora dengan gaun yang dipakainya.


"Silakan Tuan." Tampak minuman datang untuk menemani penantian Morgan.


"Terimakasih." Dirinya yang merasa haus, meneguk minuman di tangannya dan tak lama tirai yang tertutup itu perlahan terbuka memperlihatkan Flora dengan salah satu gaun di tubuhnya.


"Bagaimana?" Tanya Flora yang ingin mendapatkan jawaban secepatnya. Tetapi sepertinya reaksi Morgan cukup lama untuk menghasilkan kata.


"Bagaimana tuan?" Tanya salah karyawan yang membuat Morgan tersadar dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, itu tidak cocok! Kau terlihat kurang baik."


"Bilang saja tidak cocok!"


"Coba yang lain, yang lebih bagus!" Tirai kembali ditutup, dan Flora mencoba dress berikutnya.


"Awas saja kalau ganti lagi." Tapi apa yang dipikirkan Flora tampaknya terwujud, hampir lima gaun, Morgan menolaknya dan membuat Flora sudah naik pitam.


"Apa dia ingin aku mencoba semua gaunnya?"


"Nona, kalau boleh saya bicara. Sepertinya calon suami nona meminta nona untuk memakai gaun yang tidak menunjukkan bagian yang hanya dilihat olehnya, bukan orang lain." Karyawan itu berbicara, karena Flora memakai gaun yang meskipun tidak menunjukkan bagian privat nya, tetapi menunjukkan punggung dan bahu mulusnya. Ucapan karyawan itu membuat Flora yang tadinya tampak berapi-api, berhenti sejenak.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2