Skala Kecantikan Flora

Skala Kecantikan Flora
Italia VS Campuran


__ADS_3

Entah mengapa, Morgan merasakan jantungnya sudah lomba lari saat ini. Ia juga mengambil napas beberapa kali sembari menunggu ucapan yang keluar dari bibir Flora.


Wanita itu perlahan mendekat, tetapi tidak melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Morgan. "Aku sedang bicara, apa seperti ini reaksi mu ketika orang lain bicara?" Ujar Flora yang sudah berada di belakang tubuh Morgan.


Tampak Morgan mengambil napas panjang dan membalikkan badannya sehingga Flora yang berbeda centimeter dengannya terlihat di depannya. Keduanya berhadapan, terlihat ada gerakan dari bibir Flora yang bersiap mengatakan apa yang dipikirkannya.


"Bicaralah." Hanya itu yang Morgan katakan dengan sebisa mungkin memperlihatkan dirinya baik-baik saja ditengah gempuran detak jantungnya.


"Aku merasa kaget dengan apa yang kau sampaikan, dan terutama alasan kontrak pernikahan itu. Dan karena itu, aku ingin mengatakan untuk tetap terikat dengan kontrak yang telah kita buat." Morgan menajamkan pendengarannya, apakah ia tidak salah mendengar ucapan Flora.


"Dua tahun, aku mengerti. Setidaknya kau berikan aku waktu." Morgan membalikkan badannya dan bersiap pergi.


Sungguh, Morgan tidak menduga. Bahwa itu yang akan disampaikan Flora padanya. Menutupi rasa kecewa yang seharusnya sudah ia wanti-wanti membuat Morgan sesegera mungkin pergi dari sana.


"Bukan dua tahun!" Ujar Flora membuat Morgan menghentikan langkahnya.


"Satu tahun? 10 bulan?" Tebak Morgan dengan perasaan tak karuan, sepertinya hanya dia yang memiliki rasa. Daripada ia merasakan rasa sakit yang lebih lagi, Morgan mengambil dua kali lipat langkah dengan kakinya.


"Kenapa kau memutuskan sendiri? Aku belum selesai! Kontraknya seumur hidup! Seumur hidup! Apa kau dengar?" Lagi, Morgan menghentikan langkahnya dan termenung sejenak setelah mendengar ucapan Flora.


"Apa?"


"Seumur hidup, apa kau tuli! Kalau bertanya lagi, aku tidak mau...." Ketika giliran Flora yang berbalik posisi, dia merasakan dekapan dari belakang tubuhnya.


"Katakan lagi, kalau tidak....." Hembusan nafas Morgan begitu kentara di leher Flora.


"Seumur hidup, Tuan Morgan. Aku akan menjadi istri mu seumur hidup. Hingga kita menua bersama, ketika gigimu sudah hilang, rambut mu berubah. Apa itu sulit?" Entah keberanian dari mana, Flora membalikkan tubuhnya dan menatap dalam wajah Morgan.


"Terimakasih! Aku mencintaimu!"


"Tia mo.... Morgan." Keberanian tadi menghilang dengan cepat dan tergantikan dengan wajah yang menunduk sambil mengatakan kata sakral itu.


"Aku tidak dengar, kalau kau mengatakan seperti itu." Flora sedikit berjinjit, sehingga tangannya berada di kepala Morgan dan mengelus rambut hitam itu. Bibirnya samping-sampingan dengan telinga pria itu.


"Tia mo!" Bagaikan alunan musik, Morgan memejamkan matanya mendengarkan pernyataan cinta Flora padanya.

__ADS_1


Kening Morgan perlahan menyatu dengan kening Flora. Sejenak mereka terdiam setelah mengatakan pernyataan cinta mereka masing-masing yang terasa sangat berat untuk disampaikan. Desiran angin menyapa tubuh mereka ditemani suara alam yang diciptakan oleh laut.


"Jadi...... Sejak kapan?" Morgan memulai pertanyaan berharap Flora mengatakan sesuatu.


"Apanya?"


"Tia mo..." Ujar Morgan ditambah dengan senyuman kecil.


"Sejak malam pernikahan kita." Jawab Flora yang membuat Morgan menduselkan hidung mereka yang saling menjulang itu.


"Tak apa, aku sangat bahagia mendengarnya.... Tadi aku berpikir .... Kau menolak ku."


"Apa kau terbiasa mengambil kesimpulan sendiri?" Ujar Flora yang kembali menatap manik Morgan.


Kepala Morgan menggeleng. "Tidak, tetapi entah mengapa mendengar kontrak itu, aku tidak sanggup. Sepertinya aku melemah karena mu...." Morgan juga turut menatap manik yang seolah menenggelamkan dirinya itu.


"Jangan melemah, aku ingin menjadi kekuatan mu. Kalau melemah, tampaknya mungkin..... Kita.... harus menunggu lagi."


"Menunggu apa?" Morgan jadi penasaran dengan ucapan Flora.


"Kau....." Flora tampak mengigit bibirnya sejenak.


"Sepertinya kita harus membuktikannya sendiri!"


"Morgan!" Flora spontan berteriak karena tubuhnya melayang dalam dekapan Morgan yang sekali tarikan membuat tubuhnya sudah berada diantara dada bidang itu.


"Siap sayang?" Morgan lagi-lagi meminta persetujuan Flora.


"Kenapa? Kau membuat ku jadi berpikir kalau kau...." Sambungan kalimat itu jadi berhenti karena indra bicara itu sudah diajak adu mulut saat ini.


Morgan yang merasa gemas dengan maksud Flora yang meragukan kemampuan nya, tentu langsung tertantang untuk membuktikannya. "Kau membuat ku sesak nafas!" Gerutu Flora yang ngos-ngosan setelah Morgan melepaskan ciuman maut nya.


"Apa kau tidak bisa ciuman Italia?" Tanya Morgan sambil mengusap bibir Flora.


"Kau meragukan wanita Italia, tuan campuran!" Flora langsung mulai menunjukkan ciuman ala negaranya yang membuat Morgan tersenyum tipis di sela-sela aktivitas permulaan mereka sebelum menjadi satu.

__ADS_1


Dan ya, Morgan sepertinya kewalahan sendiri, karena menantang istrinya itu. 'Dia sangat lihai!'


Flora merapikan cairan hasil adu lidah mereka di bibir basahnya. "Bagaimana? Aku hebat kan? Jangan memancing ku tuan campuran!"


Morgan mengelus bibirnya yang begitu basah. "Kalau begitu, sekarang kita lihat bagaimana kemampuan dan kekuatan suami campuran mu ini, Nona Italia!" Secepat kilat, Morgan yang sekarang memimpin pertarungan mereka membuat Flora melingkarkan tangannya di leher suaminya itu.


"Tentu saja!" Keduanya kembali menempelkan dan melakukan permainan bibir mereka, Morgan mulai menurun naikkan tangannya menelusuri kulit mulus istrinya.


Tampaknya angin lembut yang memberikan sisi kesejukan tidak berlaku bagi keduanya, perlahan-lahan aliran listrik yang mengalir membuat keduanya mulai terasa panas. Bahkan hembusan nafas keduanya terasa satu sama lain.


Flora membiarkan Morgan menjelajahi dirinya, selesai dengan tautan bibir mereka. Morgan menuju lehernya, tangan Flora hanya bisa mengelus rambut Morgan sambil mengeluarkan suara merdunya yang memacu semangat Morgan.


"Aku mencintaimu Flora, selama aku bernapas." Setelah mengatakannya di telinga Flora dengan satu tarikan napas, Morgan mendaratkan kecupan lembut di leher Flora.


"Aku akan menggenggam tangan mu dan melindungi mu. Menemani mu dalam keadaan apapun." Sungguh Flora mulai gelisah tak karuan merasakan campuran napas dan kecupan Morgan di tubuhnya.


Merasa istrinya mencari-cari pegangan. Morgan menyatukan tangan mereka berdua. "Apa kau nyaman?" Tanya Morgan sebelum melanjutkan penelusurannya hingga ke inti.


"Aku merasa nyaman sekaligus panas." Morgan tersenyum sambil mengecup sekilas bibir yang manis itu.


"Aku juga. Kita akan menyelesaikannya..." Dress bertali spaghetti itu lolos dari bahu Flora dan menampilkan gundukan kenyal berjumlah dua itu.


"Mor...."


"Mor or More?" Goda Morgan di sela-sela ia bermain mengitari dan mentoel-toel tombol yang belum mencuat itu.


"More!" Flora menenggelamkan wajah Morgan menandakan dirinya ingin lebih dari sekedar satu genggaman tangan Morgan di buah keramatnya.


Dengan senang hati, Morgan mengabulkan keinginan istrinya. Dirinya juga sengaja menggoda istrinya itu untuk memperlihatkan sisi lainnya. "Katakan dengan jelas sayang, aku suka dengan itu."


"Morgan! Ahh!" Mengikuti nalurinya, Morgan sampai di tahap perkenalan dengan sumber keindahan yang tersembunyi itu.


Penampilan Flora yang sudah acak-acakan membuat dirinya semakin seksi. Dengan lembut, Morgan mendaratkan kecupan kecil disana membuat Flora melenguh. Satu tarikan membuat Morgan melihat dengan jelas apa yang tersembunyi dan hanya menjadi miliknya seorang.


"Morgan!" Flora berteriak beriringan dengan sengatan listrik yang mengaliri seluruh tubuhnya karena inti tubuhnya tengah dimanjakan saat ini.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2