
Setelah lama memejamkan matanya, akhirnya ia membukanya. Terasa ada tangkapan cahaya yang menyapa maniknya membuat dia melihat sekitaran segera.
Tubuhnya yang tengah berbaring langsung duduk dan melihat keadaan sekitarnya. "Jam berapa sekarang, dan aku dimana?" Tampak berpikir dimana keberadaannya saat ini, Flora yang masih mengumpulkan nyawanya itu menerka-nerka sekarang.
Ditengah memikirkan yang terjadi, Flora dikejutkan dengan ingatannya. "Aku ke pesta, lalu... Ke kafe itu dan ...." Bayangan adegan dirinya tengah bergelut dengan Morgan teringat jelas hingga selesai di lantai dansa ia tidak ingat lagi.
"Apa yang terjadi setelahnya? Apa!" Flora menyingkap selimutnya yang memperlihatkan tubuhnya masih dengan dress semalam tetapi ada yang hilang dari sana.
"Mana penutup nya? Apa yang ku pikirkan tidak terjadi? Mungkin dia membawa ku pulang ke apartemen.... Tidak, ini bukan apartemen ku!" Bak kelinci, Flora meloncat hingga menapaki lantai dan melihat jendela yang sudah terlihat aktivitas disana.
"Dimana aku?" Tanyanya, hingga sebuah suara membuat dia cukup kaget.
"Flo, kau sudah bangun? Segera mandi. Papa sudah siapkan makanan untukmu."
"Papa? Aku di tempat Papa?" Merasa lapar dan juga bingung, Flora langsung menuju kamar mandi dan menyegarkan dirinya.
Pertanyaan yang begitu banyak mengintai di kepalanya akan terjawab nantinya, itulah yang dipikirkannya.
Selang beberapa menit, akhirnya Flora yang sudah segar langsung keluar menuju lantai bawah tempat Papa nya berada. Mendengar langkah kaki putrinya, Antoni menatap wajah putrinya yang sudah dalam keadaan baik.
"Selamat pagi sayang, bagaimana tidur mu?" Flora akui, ada rasa senang dihatinya tetapi juga ada rasa bingung yang melanda karena situasi saat ini.
Bukannya menjawab sapaan papa nya, Flora tampak mengedarkan pandangannya seolah mencari sesuatu. "Tidak ada siapapun selain kita. Jangan mencari hal yang tidak ada. Maafkan Papa, papa salah karena meragukan mu, Flora." Tentu Flora cukup kaget karena mendapatkan pelukan di pagi hari seperti saat dulu ia sekolah dasar.
"Papa minta maaf sayang, jangan pergi lagi. Hmm, sekarang kita seperti dulu. Hanya ada papa dan Flora, juga Mama. Tidak ada yang lain, tidak ada."
"Papa menceraikan nya?" Tanya Flora.
"Iya, seharusnya itu sudah dilakukan sejak lama. Kenapa?"
"Sungguh?" Antoni melepaskan pelukannya dan menatap wajah putrinya itu.
"Apa segitu tidak percaya nya Flora pada Papa, karena semuanya?" Sejenak Flora tidak menjawab, tetapi ia menatap wajah yang tidak ia lihat dengan baik beberapa waktu.
__ADS_1
"Aku percaya pada Papa, tapi Papa tidak. Aku sayang Papa, tetapi...." Antoni kembali memeluk putrinya lebih erat.
"Maaf sayang, Flora boleh marah pada Papa. Tapi jangan pergi dari papa, papa sangat takut. Papa memang b0d0h meragukan Flora. Maafkan Papa Flora, maafkan Papa. Jika janji Papa tidak dapat Flora percaya, setidaknya lihat dan rasakan tindakan Papa." Mendengar permintaan maaf serta penyesalan yang dapat Flora rasakan membuat gadis itu tersenyum kecil dan membalas pelukan Antoni.
"Flora sayang Papa, jangan tinggalkan Flora. Meksipun Flora dapat berdiri sendiri tetapi nyatanya Flora ingin bersandar. Meskipun Flora bertemu banyak orang, tetapi Flora merasa sepi dan ingin papa setelah Mama pergi." Antoni mendengarkan keluh kesah putrinya meskipun tanpa air mata yang tidak mengalir di bahunya.
"Tentu sayang, papa akan bersama Flora. Tidak akan pergi, ataupun meninggalkan Flora."
Suara yang berasal dari sistem pencernaan itu membuat Antoni tertawa kecil dan memecah adegan haru itu. "Putri papa sudah lapar, ayo kita makan."
"Papa salah dengar, itu suara kicauan burung di luar." Elak Flora yang membuat Antoni semakin tertawa.
Baik Flora dan Antoni tengah menikmati sajian makanan di depan mereka, tidak ada pembicaraan selain mengisi perut. Hingga setelah memastikan makanan di piring itu telah lenyap, baru Antoni kembali memulai pembicaraan.
"Jadi, semalam dengan Morgan apa yang terjadi?" Flora yang ditanyai tentu mengingat segera dan dapat ditebak ia masih bersamanya Morgan sebelum bersama papa nya.
"Aku bekerja di perusahaannya, dan kami pergi ke pesta bersama. Setelah itu.... aku, maksudnya kami nongkrong di kafe dan... Papa membawa ku pulang, iya kan?" Diakhir ucapannya, Flora tersenyum menampilkan gigi nya.
"Kau tidak ingat apapun? Bahkan mabuk?" Manik Flora cukup membesar karena Papa nya tentu tau aroma di mulutnya atau Morgan yang tidak bisa menjaga ucapannya atau sengaja.
"Kadar rendah, hingga tidur bersama... Flora? Jawab Papa, katakan yang sebenarnya. Apa kau tidak merasakan nya? Papa menemukanmu di hotel bersama Morgan, di tempat tidur yang sama dan tengah berpelukan bersama dengan... Papa tidak perlu lanjutkan, yang jelas iya atau tidak?"
"Aku, tidak...." Flora yang masih ingin menyampaikan pembelaannya, menjadi terhenti karena suara bel masuk yang berbunyi.
"Papa buka dulu." Flora melihat siapa yang datang, dan seolah lupa dengan interogasi nya, Flora lebih dulu berpikir bahwa Bena yang datang dan mencoba mengelabui Papa nya.
"Papa, aku saja! Aku saja." Antoni membiarkan putrinya yang membukakan pintu dan Flora yang sudah bersiap dengan ajian nya langsung kaget dengan sosok di balik pintu.
"Selamat pagi, Tuan Antoni dan flora. Aku harap kedatangan ku dan cucuku tidak kepagian."
"Apa?" Flora sungguh tidak percaya dengan kedatangan Omar dan Morgan yang berdiri menatap dirinya.
"Masuklah." Antoni yang sepertinya sudah menduga kedatangan keduanya langsing mempersilahkan masuk dan Flora menatap Morgan yang melewatinya.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan Antoni."
"Flo, ayo duduk disini." Mau tak mau, Flora turut duduk disana meksipun sangat bingung.
"Jadi, langsung saja. Kebetulan anak dan menantu ku belum datang. Jadi, aku mulai saja untuk lamarannya."
"Tunggu, lamaran? Papa apa maksudnya?"
"Kau dan Morgan akan menikah." Flora langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung menyeret Morgan, membuat pria itu kaget.
"Katakan apa maksudnya? Kita menikah?" Tanya Flora langsung.
"Kau punya telinga, aku yakin kau bisa dengar dengan jelas."
"Aku tidak ingin bermain saat ini, katakan apa maksudnya? Menikah apanya? Kita tidak berpikir itu. Maksudku..... Setelah pesta kita tidak bertemu lagi. Dan malam itu...." Sekarang giliran Flora yang terpaku karena Morgan membalik keadaan.
"Malam itu, kau minum. Kita tabrakan karena ulahmu dan juga kita bermalam di hotel bersama. Dan setelah itu, kau melepas..." Morgan spontan menatap dua bongkahan yang begitu menantang, lalu segera ditepisnya.
"Kau tau, yang terjadi antara pria dan wanita dalam keadaan seperti itu."
"Maksudnya kau....." Amarah Flora tampak berhenti ketika mengingat dimana mereka sekarang.
"Baiklah, anggap saja itu perpisahan. Aku anggap itu sudah terjadi dan tidak masalah, lagipula sekarang itu biasa kan. Lupakan saja, aku tidak butuh pertanggung jawaban mu, jadi tidak perlu menikah!"
"Begitu? Kau berpikir begitu? Tetapi aku tidak, setidaknya kau pikirkan Papa mu, keluarga dan Mama mu. Bagiku, itu adalah kesalahan dan harus aku pertanggung jawabkan."
"Heh? Kenapa kau bersikukuh?" Tanya Flora yang merasakan ada sesuatu.
"Bersikukuh? Apa wanita zaman sekarang ini bertingkah seperti mu? Seharusnya kau yang bertanggung jawab karena telah melakukan ini padaku. Dan kalau kau lupa, aku ingatkan! Karena kejadian itu, hampir saja kita bahkan keluarga kita masuk berita dan jadi sensasi, setidaknya pikirkan. Untung saja, Kakek yang datang lebih dulu, bagaimana jika wartawan? Apa kau akan berpikir yang sama?"
"Apapun itu, aku tidak mau menikah. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Aku tidak peduli dengan mu, tapi aku tidak bisa."
"Kalau begitu kita buat kontrak pernikahan." Ucapan Morgan membuat manik Flora tertuju pada maniknya dan mereka saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.