Skala Kecantikan Flora

Skala Kecantikan Flora
Orang Tua dan Anak


__ADS_3

Morgan langsung kaget melihat kedatangan kedua orang tuanya. Ditambah dengan sang Mama langsung saja memarahinya dengan sentuhan yang membuat Morgan berjingkat-jingkat.


"Ampun ma, aduh ma... Aku tidak tahan, ampun ma." Dengan gaya bak ulat bulu serta campuran dari ular membuat Morgan meliuk liuk tak karuan menghindari serangan Mama nya.


"Dasar anak nakal! Menikah seperti badai saja. Apa kau tidak tau, Mama seperti akan dirawat ke rumah sakit karena mendengar kabar ini, putraku akan menikah!" Sambil terus mengulek kulit putranya, wanita yang berusia 48 tahun itu terus mengeluarkan uneg-unegnya.


"Maaf mama, ampun... Sungguh hentikan Mama, papa tolong aku." Meksipun dirinya sedingin balok es, tetapi tetap saja jika bersangkutan dengan Mama nya, Morgan akan menjadi anak-anak pada umumnya.


"Sudah Zoya, dia bisa pingsan." Pria bermanik tajam itu menghentikan kegiatan istrinya.


"Biar saja, setidaknya seharian. Karena tingkahnya aku yang rasanya pingsan selama perjalanan kemari."


"Sudah Zoya, setidaknya anak nakal mu ini tetap fit dalam pernikahan nya."


"Katakan siapa dia? Apa dia gadis yang baik?" Morgan yang masih menyentuh tubuhnya karena rasa panas dari kulit nya.


"Dia baik ma, aku rasa Mama akan suka." Jawab Morgan yang membuat Zoya tersenyum kecil.


"Sungguh? Seperti apa dia?"


"Dia penuh kejutan.... Berbeda."


"Begitu? Tampaknya dirimu sangat penasaran sehingga langsung tancap gas saja!"


"Aghhh!! Mama..." Morgan tentu kaget dengan jeweran pada telinga nya.


"Dia sosok pekerja keras, dan terampil serta kreatif jika dari rupanya kau bisa lihat sendiri menantu ku." Ujar Omar yang membuat Zoya semakin penasaran.


"Tapi apapun itu, tidak akan bisa seperti mu sayang." Tampaknya Papa Morgan tak mau kalah dengan menonjolkan sisi istrinya yang membuat Omar tertawa melihat tingkah putranya itu.


"Dasar, kau sudah mulai menua."


"Aku ini masih muda papa, bahkan masih sanggup memberikan Papa cucu lagi!"


"Tidak! Aku sudah besar, mana mungkin aku akan menggendong adikku?"


"Kau sudah lebih pantas menggendong anak mu sendiri, jangan dengarkan Papa mu."


"Jadi dia putri Antoni?" Tanya putra Omar.


"Ya, kau pernah bertemu?"


"Tidak pa, tapi aku rasa tidak asing." Keduanya tampak berpikir dengan samar, sedangkan Morgan memikirkan Flora yang akan menjadi istrinya itu. Hanya dia sendiri yang tau, kenapa dia mengambil keputusan atas apa yang sebenarnya tidak terjadi.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Mobil yang dikendarai Antoni akhirnya berhenti juga. Tampak, sebuah danau dengan rerumputan yang menjadi warna hijau dengan gradasi warna yang berbeda, sehingga menyejukkan mata.


"Indah sekali!" Puji Flora dengan Antoni yang melangkah di belakang nya..


"Tidak berubah." Ujar Antoni yang membuat Flora penasaran.


"Apa ini tempat papa bertemu dengan Mama?"


"Ya, ini tempat papa pertama kali melihatnya."


"Sungguh? Ayo ceritakan padaku!" Pikiran Antoni melalang buana menuju tahun jauh sebelum Flora lahir.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Saat itu, pria berkebangsaan Italia itu baru saja menikmati liburan yang sesungguhnya. Setelah menjalani hari-hari dengan dokumen dan aroma keju membuat pria itu mengambil napas sebanyak-banyaknya di tempat yang indah ini.


"Bagaimana? Bagus sekali bukan?" Tanya pria yang merupakan temannya itu.


"Ya, sangat indah. Tidak salah banyak wisatawan asing kemari untuk berlibur."


"Ya, dan juga kemari menemukan tambatan hati mereka." Ucapan temannya membuat pria itu tersenyum.


"Ayolah An... Bagaimana hubungan mu dengan Clara? Kalian sudah cukup lama berhubungan."


"Aku bisa bilang apa. Dia menunjukkan sisi yang sebenarnya, aku merasa beruntung melihat itu."


"Kalian putus?" Pria bernama An itu langsung mengangguk.


"Wow! Pertama kalinya kau menjalin hubungan dan sudah dikecewakan? Antoni, temanku yang malang....."


"Hei! Jangan bicarakan itu lagi, kau merusak suasana hatiku, bung!"


"Baiklah, siapa yang tau. Kau bisa menemukan penggantinya disini." Antoni tidak menjawab, ia tampak fokus dengan kamera di tangannya.


Antoni memiliki hobi dalam dunia pemotretan, sehingga tak kadang dia mendapatkan keuangan dari itu. "Ini menjadi salah satu pemotretan terbaik ku!"


"Baiklah, aku akan membeli minuman dulu. Sepertinya tutup botol nya tidak menutup dengan rapat, sehingga bocor."


"Ya." Diantara kerumunan orang-orang yang turut menikmati keindahan danau yang berbalut dengan taman itu membuat Antoni beberapa kali juga dilirik oleh para wanita.


Antoni tidak terlalu mengindahkan nya, hingga ketika mencari angle yang pas, kameranya menangkap senyuman manis yang membuat dirinya terpesona. Antoni menyingkirkan matanya sejenak dari kameranya untuk melihat pemilik senyuman itu.

__ADS_1


"Cantik....." Tak ingin melewatkan momen yang tepat ini, Antoni segera memotret wajah cantik yang tengah bermain dengan anak-anak itu dalam permainan lempar bola."


Setelah mendapatkan jepretan yang terbaik, Antoni mendekati gadis pribumi itu yang membuat jantung nya berdetak bukan main. "Permisi." Dengan bahasa universal, Antoni memanggil sosok itu untuk membuat wajah yang tadinya cukup jauh, sekarang berada sangat dekat dengannya.


"Ya." Sungguh suaranya membuat Antoni ingin melayang.


"Ini... Aku tidak sengaja memotret mu." Dengan rasa gentar yang ia tepis sebaik mungkin, hasil foto itu berada di tangan cantik itu.


"Terimakasih, jika boleh.... bisakah mengambil gambar kami bersama?" Antoni tidak menyangka, ucapan itu keluar dari bibir tipis itu.


"Tentu..." Setelah berpose sebaik mungkin, Antoni mengambil gambar si cantik bersama anak-anak yang bersama nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Itulah pertama papa berinteraksi dengan Mama mu. Setelah pertemuan itu, papa mencari tau siapa dirinya. Meksipun tidak tau apapun, nyatanya usaha Papa menghasilkan juga. Mama mu seorang putri dari keluarga berada disini, dia sering bermain bersama anak-anak sambil mengajarkan mereka. Sepanjang liburan, papa berusaha mendekati dan kami sering bertemu dan berbicara. Hingga rasa yang papa yakini sebagai cinta membuat papa mengungkapkan nya, siapa sangka.... Mama mu juga merasakan hal yang sama, itu sangat membahagiakan. Hingga papa harus kembali ke Italia dan meninggalkan Mama mu disini, tetapi dengan janji papa akan melamar Mama mu. Hingga...." Flora tampak mendengarkan dengan seksama cerita Papa nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Jadi pernikahan putraku ini, kurang dari sebulan?"


"Ya, begitulah. Bagaimana?"


"Kami setuju saja Papa, asal Morgan bersungguh-sungguh mengenai ini. Dengar nak, ini bukan sekedar kau tanggung jawab, melainkan lebih dari itu."


"Aku mengerti ma."


"Apapun tindakan mu, akan kami dukung. Tetapi jika ada masalah, maka pikirkanlah dengan baik." Morgan tampak mengangguk saja.


"Baiklah, kapan Mama bisa bertemu dengan calon menantu itu? Mama harus bertemu secara langsung kan? Atau anggap saja ini pertunangan kalian lebih dulu? Bagaimana? Itu juga bagus kan?"


"Pertunangan?" Ulang Morgan.


"Ya, seminggu setelah ini pertunangan dan Minggu berikutnya pernikahan kalian." Zoya tampak bahagia mengutarakan pendapatnya.


"Ya, sepertinya ide yang bagus. Papa akan menghubungi calon besan kita."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Ponsel berdering membuat Antoni yang bersama putrinya tengah menikmati waktu bersama membuat Flora kepo tingkat tinggi. "Siapa pa?" Tanya Flora yang sangat penasaran, ditambah dengan ekspresi serius Papa nya.


Bersambung ...


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2