Skala Kecantikan Flora

Skala Kecantikan Flora
Masih Ragu


__ADS_3

Seperti yang telah disampaikan oleh Antoni. Dia akan kembali ke Italia, selain pekerjaan yang telah menanti dirinya. Dia juga harus memberikan ruang untuk putrinya dalam membina rumah tangga yang baru dijalaninya.


"Papa pergi, jaga dirimu sayang. Papa akan menghubungi mu, Flora juga kan?"


"Iya, apa papa pikir aku sejahat itu?" Sambil mengatakan itu, Flora juga memeluk tubuh papa nya yang akan jauh darinya sekarang.


"Tidak, papa hanya memastikan." Dalam pelukan putrinya, Antoni menatap wajah menantu nya itu.


"Aku percayakan putri padamu. Awas saja, kau berani menyakiti putriku. Aku akan melakukan sesuatu yang tidak bisa kau bayangkan." Sambil memberikan tepuk punggung perpisahan, Antoni menekankan ucapannya hingga masuk ke telinga Morgan.


"Papa bisa pegang janji ku." Balas Morgan dengan senyuman yang tidak terlihat dan terdengar jelas oleh Flora. Karena dirinya asyik membaca pesan yang masuk ke akun sosialnya. Entah ucapan yang baik atau buruk dan juga berita yang meliput pernikahan mereka.


"Astaga.... Jari ini.... Benar-benar berbahaya." Flora hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat apa yang dibaca nya.


"Sayang, Papa pergi hmmm ..."


"Hati-hati dan jaga diri Papa."


"Papa akan baik, selama dirimu baik-baik saja sayang." Antoni memeluk putrinya kembali dan dibalas oleh Flora dengan erat. Meksipun masalah yang pernah membuat dirinya menjauh dari sosok Papa nya, tetapi dirinya tidak memiliki dendam untuk itu.


"Aku sayang Papa."


"Papa lebih menyayangi mu, sangat!" Koper tanpa bantuan tarikan tangan itu, mengikuti langkah Antoni. Flora dan Morgan melambaikan tangan mereka hingga Antoni menghilang dari pandangan mereka.


Flora yang baru saja memasukkan ponselnya dibuat kaget dengan sentuhan Morgan yang menggenggam tangannya. "Kita pulang?" Tanya Morgan yang membuat Flora hanya mengangguk saja.


Dari bandara hingga ke parkiran, Morgan tidak melepaskan genggaman tangannya membuat Flora tanpa sadar tersenyum manis. "Kenapa berhenti?" Tanya Flora ketika mereka cukup lama berkendara.


"Aku merasa lapar, kau tidak?" Flora melihat mereka berhenti di sebuah deretan restoran dan jajanan.


Flora hanya melangkah keluar setelah pintu mobil dibukakan Morgan untuk nya. Lagi, Morgan menautkan tangan mereka.


"Bagaimana dengan ini?" Flora cukup lama terdiam sebelum menjawab pertanyaan Morgan dengan maniknya yang melihat kios jajanan.


"Kau mau yang mana?" Buku menu dengan hiasan plastik itu berada di meja mereka.

__ADS_1


"Aku mau takoyaki esktra dan juga cendol." Flora tampak bersemangat mengatakan keinginannya.


"Kami pesan itu." Sang pemilik kedai langsung membuatkan pesanan mereka.


Takoyaki esktra yang mengunggah selera Flora membuat dirinya langsung tancap gas sehingga Morgan yang berada di hadapannya tersenyum.


"Apa?" Tanya Flora sambil mengunyah makanannya.


"Enak sekali?"


"Iya, cobalah." Flora mengambil satu takoyaki yang berukuran besar itu dan langsung mendapatkan gigitan besar dari Morgan.


Beberapa kunyahan, membuat Flora sadar akan sesuatu. 'Apa dia sengaja mengajakku?'


"Morgan kau...."


"Kau suka.... Aku merasa sangat senang sekali."


"Kau juga harus makan." Flora tidak bicara lagi, dia mengerti maksud Morgan yang sepertinya memperhatikan kemana matanya selama mereka melewati tempat ini.


"Kau mau lagi?"


"Tidak, aku mau pulang." Jawab Flora, membuat Morgan mengangguk setuju dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Kau sakit?" Morgan mendaratkan tangannya di kening Flora.


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Kalau kau sakit, kita bisa batalkan....."


"Tidak! Aku mau pergi.... Maksudnya aku baik-baik saja, kita akan tetap pergi."


"Baiklah, kita pergi."


Malam sebelum keberangkatan mereka, Flora yang tengah berbaring di ranjang. Keningnya ikut berkerut saat ini, Morgan yang tengah sibuk dengan laporan yang diterimanya sebelum keberangkatan mereka tengah berada di sofa yang membelakanginya.

__ADS_1


"Nenek, bagaimana nenek tau kalau kakek mencintai nenek? Aku tidak melihat itu dari sikap kakek. Seharusnya Kakek memberikan bunga seperti yang papa berikan kepada mama bukan?" Flora yang saat itu berusia 12 tahun, tengah berada dalam dekapan sang nenek. Ibu dari Antoni yang setiap liburan akan mereka datangi.


"Cucuku yang cantik, cinta itu bentuknya beragam dan tidak semua perlakuannya sama. Lihat, bagaimana nenek mencintai mu dan cara nenek mencintai papa mu. Flora, terkadang cinta itu bukan berarti memberikan sesuatu seperti orang lain. Tetapi memberikannya dengan porsi tersendiri. Jika papa memberikan bunga pada Mama mu, maka kakek...."


"Kakek memberikan benang wol untuk nenek. Kau tau kenapa Flora?" Flora menggelengkan kepalanya.


"Karena setiap rajutan nenek akan terpasang dan terus bersama kakek mu setiap saat, kau juga mendapatkan nya. Flora, suatu saat kau akan mengerti bahwa pria memiliki cinta dan mereka mengungkapkan dengan cara mereka sendiri. Kau mungkin melihatnya dengan cara berbeda, tetapi hatimu nanti yang akan mengatakan bahwa itu adalah cinta. Kau akan mencintai dan juga dicintai dengan sepenuh hati Flora."


"Cuacanya cukup dingin. Aku tambahkan selimut, apa masih kurang?" Flora yang tersadar dari lamunannya dibuat kaget dengan matanya yang bertemu dengan manik Morgan.


"Terimakasih, ini sudah cukup. Kau juga akan kedinginan, selimutnya.... Maksudnya..... Kau tidak tidur? Ini sudah malam."


"Ya, sudah selesai. Aku akan meletakkannya."


"Tidurlah, ranjangnya cukup besar untuk kita berdua." Ujar Flora yang membuat Morgan terhenti memasukkan laptop nya.


Belum ada jawaban, membuat Flora memastikan pertanyaannya lagi. "Apa kau keberatan dengan ku?"


"Aku tidak akan melakukan hal yang tidak dapat izin dari mu."


"Kalau begitu, aku mengizinkan mu untuk tidur bersama ku!" Morgan perlahan mendekat dan akhirnya naik ke ranjang yang sama.


"Ayo tidur, aku sudah naik." Ujar Morgan.


"Apa kontrak nya menuliskan, saat tidur kita seperti virus?" Baru saja Flora berniat membalikkan badannya, sebuah tangan melingkar di perut nya.


"Sudah? Atau masih kurang?"tanya Morgan.


"Sangat cukup." Jawab Flora yang membuat Morgan merasa senang.


'Aku merasa sudah jatuh cinta padamu Morgan, aku harus memastikan perasaan mu juga. Aku tidak mau berjuang sendirian dengan batas kontrak itu.'


'Aku akan menghujani mu dengan cintaku Flora. Sehingga kau dapat merasakan nya, dan pernikahan ini akan terjadi selamanya.'


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2